Nyalakan “Lilin” Penebar Terangmu, wahai PLN-ku!

Alhamdulillah, tulisan ini dinyatakan sebagai Juara 3 Lomba Blog PLN - Blogdetik 2013. Info di sini

Makin ke sini, gue makin geleng-geleng kepala kalo udah mantengin berita soal korupsi dan sebangsanya itu. Phew…demi melihat begitu banyaknya orang-orang yang terjerat korupsi, gue jadi mikir, jangan-jangan sebenarnya kita ini udah bebal dan nggak takut sama dosa kali ya? Ajaran-ajaran soal panasnya api neraka, siksa kubur, harta yang tidak berkah… Doh, kemana semua itu yak? Duit, duit, dan duit. Barangkali tren penghambaan sudah mulai bergeser. Jangan-jangan, kita udah mulai mengganti tuhan kita dengan duit, duit, dan duit? Astaghfirullahal ‘adzim….

Istighfar kayaknya nggak cukup. Harus ada progress yang kita canangkan bersama. Gerakan anti-maling ini sudah harus dibiasakan. Buat  semua, mulai dari TK, perlu juga tuh, kita kasih semacam ‘brainwashing’ biar anak-anak kita bisa membedakan “uang halal” dan “uang haram”. Ngeri banget kan, kalau sampai mereka makan harta haram?

Rasulullah, idola semua umat Islam bersabda, “Daging mana saja yang tumbuh dari sesuatu yang haram maka neraka lebih pantas untuknya.”

Sesuatu yang haram bukan hanya babi! Kalau duit buat beli tuh makanan asalnya dari harta haram, maka makanan itu juga haram hukumnya! Astaghfirullah…

Nyalakan Lilin Penebar Terang

Oke, oke. Sudah cukup ngomongin babi-haramnya. #Ngoook. Sekarang kita beralih ke sebuah quote yang saya nemu dari internet. Maknanya daleem banget.

It’s better to light a candle than curse the darkness”

Yang mana, kalau diterjemahkan bebas : Ketimbang mengutuk kegelapan, alangkah baiknya kita nyalakan lilin (penebar terang)

Siip. Dapat salam dari engkong2 jualan lilin. Hehehe.

Gini lho. Di tengah kacrut-carut-marut-nya kondisi para pejabat (atau penjahat) negeri ini, ternyata masih ada kok, beberapa kumpulan oknum yang berhati mulia, dan tetap mau mendarmabaktikan kemampuan terbaiknya demi bangsa.

Oknum itu adalah para keluarga besar PLN.

Hehe. Oknum biasanya identik dengan peran antagonis yak. Tapi, kali ini mau saya pakai buat membahas PLN. Gapapa ya? *lirik pak Dirut PLN

Cikal bakal PLN berkomitmen jadi BUMN yang lebih moncer, correct me if I’m wrong, sependek ingatan saya adalah, ketika Pak Dahlan Iskan jadi Direktur Utama di sono. Nih orang emang ajaib banget. Wong hatinya lho, udah kagak orisinil. Kok ya masih ndableg pengin ngurusin Negara?!? Mbok ya, dia itu diem anteng di rumah, momong cucunya, itu tuh, yang anaknya Azrul sama Ivo Ananda. Jangan keluyuran ngurusin PLN, napa?!?!

Eh, maap Pak D *sungkem sama Pak Dahlan*. Sebagai arek Suroboyo, kadang saya juga ngeri loh, kalau tiba-tiba sakit hatinya Pak D kumat.

*ini hati = liver ya, bukan sakit hati = galau gitu, hehe*

Kan Pak D gak boleh kecapekan tho? Udah diminum blum, obatnya??? Lho, lho… kok malah ngomel2in Pak Dahlan siih?! #salah fokus

Oke. Back to topik hidayat.

Intinya begini. Semenjak PLN di bawah komando seorang Dahlan, tiba-tiba terjadi perubahan yang amat radikal. Kinerja karyawan dipelototi satu-per-satu. Nggak boleh ada yang magabut alias makan gaji buta. Semua kudu, wajib, harus, fardhu ain, berkomitmen dan sungguh-sungguh bertransformasi jadi pekerja yang produktif. Pak D itu bagaikan “vampir” yang siap “menghisap darah” karyawan yang nggak mau diajak maju bareng-bareng.

Ternyata, somehow gaya radikal dar-der-dor itu dibutuhkan orang-orang yang terbiasa kerja lempeng. Walhasil, PLN menemukan jati dirinya *tsaaah. Manusia-manusia listrik (maksudnya pegawai PLN) mau nggak mau harus mengikuti gaya kerja Pak D. Seleksi alam berlaku. Yang nggak kuat, silakan minggir. Yang nggerundel, silakan keluar dari gelanggang. Yang punya semangat sama, menegakkan figur PLN sebagai institusi yang berdaya, ayo, bergandengan tangan, majukan PLN tercintaaah! *heroic mode on*

Heroik dan semangat membara itu nggak cukup. Harus dibarengi karya nyata dong. Beragam perbaikan digulirkan. Daerah-daerah yang seriiiiing banget kena pemadaman bergilir, sekarang sudah bisa mengelus dada. Lega. Ya, secara saya kan tinggal di Jawa. Di sini, jarang ada pemadaman bergilir. Tapi, saya bisa berempati sama saudara-saudara di Medan. Duluuuu (banget), saya pernah traveling dan menginap di Hotel N*v*t*l Medan. Pas asik-asiknya sarapan, peetttt! Lampu mati dong booo! Panas bangeettt… Cih, tapi Thanks God, saya lagi ada di resto. Lah, temen saya dong apes, kejebak di lift! *tepok jidat*

Perbaikan yang digulirkan itu nggak sekedar sporadis. Dilakukan dengan kontinuitas dan semangat istiqomah yang patut diacungi empat jempol  (pake jempol kaki juga dah). Buktinya? Begitu, Pak D lengser keprabon (dan sekarang jadi Men BUMN) pengganti Pak D tetep bisa memimpin PLN dengan gaya yang super-duper-cethar-membahana-badai-terkeren-sentosa-jaya-cihuy-okesip-dah-pokoknya.

Apa aja?

Seluruh karyawan PLN kaga boleh nerima suap, gratifikasi, uang terima kasih, endebre-endebre! Ini mutlak perlu banget Pak. Saya dukung 1000% dah! Dan, ini terbukti banget, sodara-sodara. Pada suatu hari menjelang sore,  tiba-tiba listrik di rumah saya ngalami gangguan gitu. Mungkin ada korslet atau apa, I dunno. Di rumah isinya cuman cewek-cewek geulis, dan satu bocah imut. Otomatis, nelpon dong ke PLN. Ke mana?

“Ada keluhan, ingin butuh pelayanan PLN, tambah daya, pasang baru, ganti nama, cukup telepon ke ,123 call center PLN, bisa juga lewat facebook PLN, bahkan PLN juga ada akun twitter yakni @PLN_123.”

Subhanallah, semudah itu!

Dan, ternyata, dalam waktu yang nggak lama blas, para petugas PLN yang ganteng, ciamik, ramah dan tidak sombong itu, langsung benerin instalasi! Kereeeennn!!

Nah, ibu saya kan emang doyan beramal yak. Otomatis, beliau mengangsurkan ‘ucapan terima kasih beramplop unyu-unyu’ gitu ke Mas-mas petugas. Eh, Gusti, si mas-mas bilang gini, “Mohon maaf, Ibu. Kami hanya menjalankan tugas. Maturnuwun, kami tidak menerima apapun dari pelanggan kami.”

*langsung speechless, sujus syukur, ada yaaaa….petugas jujur kayak begindang!*

Ahh, ternyata  corporate culture PLN udah merasuk ke jiwa-raga doi!

Kalo mampir ke website PLN, kita bakal tahu bahwa perusahaan keren ini lagi menggaungkan program PLN Bersih. Ada empat pilar loh yang jadi “nafas” PLN Bersih. Apa sajakah?

  1. Partisipasi, maksudnya seluruh pegawai PLN dan stakeholders (termasuk pelanggan) berkomitmen, menjalankan dan mendukung program PLN Bersih dengan sekuat tenaga. Tenaaang, om! Semesta juga mendukung kalian kok!
  2. Integritas, apalah arti partisipasi tanpa integritas? Ya kan? Ya kan? Maka dari itu, integritas para pegawai dalam bekerja melayani masyarakat sangat penting artinya untuk membangun budaya PLN Bersih
  3. Transparansi, hare gene segala informasi kudu bisa diakses semua khalayak dengan sangat mudah dong! Selain itu, mutlak perlu sikap responsif terhadap permintaan informasi publik. Ini sangat menentukan dan penting dalam pembangunan budaya PLN Bersih
  4. Akuntabilitas, nah para pegawai PLN kudu selalu responsif terhadap setiap keluhan pelanggan. Ada customer yang minta bantuan, tenaaang… mas-mas PLN segera datang membantu! PLN juga mendukung implementasi wishtle blower system dan program pengendalian gratiikasi.

Wah, kalau cuman ‘pengendalian internal’ sih, kayaknya semua kantor juga bisa kaleee…

Apa dong, wujud konkret kalo PLN sudah terbuka dan siap di-bully di-komplain kalau terjadi kasus korupsi, kolusi dan nepotisme? *ihh, serasa kembali ke jaman eyang Harto yak?

Ternyata PLN sudah kerjasama dengan jaringan organisasi global anti korupsi Transparency International Indonesia (TII).  Prinsipnya, kudu ada Good Corporate Governance (GCG) dan anti korupsi dalam penyediaan tenaga listrik. Ini kata Direktur Utama PLN Nur Pamudji dan Ketua Dewan Pengurus TII Natalia Subagio.

Jadi, Bapak-Ibu sekalian, kerjasama ini tujuannya pengin memastikan, kalau PLN dalam menjalankan kewajibannya menyetrum mengalirkan listrik ke masyarakat luas, bener-bener menerapkan praktek GCG dan anti korupsi.

Ruang lingkup kerjasama ini meliputi reformasi dalam Pengadaan Barang dan Jasa (PBJ) serta reformasi di sisi pelayanan pelanggan. Selain bakal dilakukan studi pemetaan (mapping) dalam tahapan/proses PBJ dan administrasi proses pelayanan pelanggan, juga dilakukan perbaikan dan penyempurnaan kebijakan terkait dengan PBJ dan pelayanan pelanggan. Wualaahhhh, tambah sip ae, reek….

Nggak ada habisnya nih, kalau cerita soal semangat “PLN Bersih”. Eniwei, saya angkat topi dan salut banget sama semua progress yang dilakukan manusia listrik Indonesia.

Selamat Hari Listrik Nasional yak! Terus setrum kami dengan program-program terbaikmu, wahai PLN-ku!

Blog ini ditulis dalam rangka perwujudan kecintaan dan harapan saya sebagai satu dari jutaan manusia Indonesia, terhadap perusahaan listrik negara kebanggaan bangsa. Bravo PLN-ku! Jayalah selalu! Jangan bikin kami malu!

Advertisements

8 comments

  1. Iwan Yuliyanto · October 25, 2013

    Selamat Hari Listrik Nasional.
    Semoga kinerjanya makin baik.

  2. bukanbocahbiasa · October 29, 2013

    Betul Pak. Ketimbang nyinyirin BUMN, lebih baik kita doakan saja ya, supaya asset bangsa ini semakin menorehkan prestasi yang mengagumkan. Terima kasih sudah mampir di mari Pak. 🙂

  3. blogthewayitis · October 29, 2013

    Suka banget dg perspektif positifnya ttg PLN. Kalau kita hanya memandang sisi negatifnya, tak konstruktif

  4. bukanbocahbiasa · October 30, 2013

    Terima kasih sudah bersilaturrahim ke mari. Emang Pak, Capek ya kalau komplain melulu, hehe.

  5. 3dibafree · November 2, 2013

    selamet mak..jadi pemenang..uhuy..

    • bukanbocahbiasa · November 2, 2013

      Ikut lomba enih juga mak? Menang juga kan? *kedip-kedip* Selamat bwt kita semuaaaaaa 🙂 Dan semoga PLN makin bisa jadi BUMN teladan. Okesip!

  6. 3dibafree · November 4, 2013

    ngga ikut mak..soale aku have no idea ttg PLN..listrikku dari genset pabrik..maklum di kebon..

  7. Pingback: Managing Hope…. [ buat Petualang Belantara Blog ] | bukanbocahbiasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s