parenting, Uncategorized

Titik Winarti : Konsisten Berdayakan Kalangan Difabel

Image
Ibu Titik Winarni (kiri) bersama Ucil, salah satu difabel yang udah jadi ‘tangan kanan’-nya

Tidak banyak kalangan yang menaruh perhatian kepada para penyandang disabilitas (difabel). Berbeda halnya dengan Titik Winarti. Ibu energik yang berdomisili di kawasan Sidosermo Indah ini punya cara yang amat kreatif, untuk memberdayakan para penyandang disabilitas (difabel). Di bawah bendera Tiara Handycraft, beliau merekrut sejumlah penyandang disabilitas (difabel) untuk sama-sama melahirkan produk-produk yang berkualitas.

Tak hanya dipasarkan di dalam negeri. Produk Tiara Handycraft juga telah diekspor dan diminati banyak konsumen di mancanegara. Di antaranya, Brazil, Spanyol, Belanda, Amerika Serikat serta Singapura. Jaringan pemasaran yang mengglobal ini merupakan buah dari prestasi yang diraih Titik di tahun 2005. 

Saat itu, Titik meraih penghargaan Microcredit Award dari pemerintah. Dia lalu berpidato di depan sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), saat mengikuti pencanangan Tahun Internasional Kredit Mikro di markas PBB di New York, Amerika Serikat.

Image
Yihaaa… Tas yang saya pakai itu hasil kreasi teman-teman difabel loh!

Inilah profil social-enterpreneur yang luar biasa. Semua prestasi dan kerja keras Titik itu diawali dengan modal yang aman minim: 500 ribu saja! Ya, Titik mendapatkan modal dengan berhutang di salah satu koperasi wanita di Surabaya. Dan, usahanya bergulir dan berkembang dengan begitu massif. Plus, memberdayakan kaum penyandang disabilitas.

Tentu banyak inspirasi yang bisa kita petik dari beliau. Dalam sebuah kunjungan hangat di rumah yang sekaligus berfungsi workshop-nya, saya asyik berbincang dengan beliau.

Di Indonesia, tidak banyak orang yang punya kepedulian pada penyandang disabilitas. Bisa Ibu jelaskan latar belakang mengapa Ibu memilih untuk fokus di pemberdayaan bagi mereka?

Sedari awal, saya punya spirit untuk menunjukkan kepada masyarakat umum, bahwa anak-anak ini sebenarnya juga bisa menghasilkan karya. Hanya saja, mereka memang tidak mendapatkan kesempatan sebagaimana orang kebanyakan. Dalam hal ini, saya ambil peran itu. Saya berdayakan mereka untuk menjadi pengrajin, penjahit, pembuat pola dan berbagai pekerjaan yang ada di Tiara Handycraft. Dengan memberikan kesempatan seperti ini, maka saya yakin bahwa anak-anak yang berkebutuhan khusus seperti mereka juga mampu berkarya. Ini tentu sekaligus bisa menjadi pelecut semangat bagi anak-anak normal, bahwa yang difabel saja mampu, masak yang anggota tubuhnya lengkap, malah malas-malasan dan ogah berkreasi?

Respon masyarakat bagaimana terkait pemberdayaan ini?

Memang awalnya ada yang berpikiran sempit dan cenderung under-estimate. ‘Anak cacat bisa apa sih?’ Ada juga yang menganggap, kalaupun anak difabel ini memproduksi suatu tas atau dompet, maka biasanya para konsumen membeli produk itu hanya karena belas kasihan. Padahal, kami menerapkan quality control yang amat ketat bagi produk handycraft yang kami hasilkan.

Bagaimana kontrol mutu yang Anda terapkan?

Apabila ada (calon) konsumen yang mempertanyakan kualitas produk kami, maka saya menjawab, “Ibu tahu merek Dannis Collections?” Tentu merek Dannis sudah punya branding image yang sangat kuat. Para penikmat fashion pasti sudah kenal merek ini. Nah, saya ceritakan pada mereka, “Anak-anak di Tiara Handycraft juga dipercaya untuk memproduksi beberapa items di Dannis.” Tentu mereka terkejut. Melihat standar jahitan Dannis yang rapih dan berkualitas, mungkin beberapa orang tidak percaya. Tapi, saya terus tunjukkan kepada masyarakat bahwa, ini lho, anak-anak difabel ini juga punya standar kerja dan output yang tidak kalah. Mereka bekerja dengan sungguh-sungguh, sehingga mendapatkan pengakuan dari brand fashion yang terkenal di negeri ini.

Image
Para karyawan difabel di Tiara Handycraft Surabaya

Setelah dipercaya menjadi vendor untuk Dannis, terobosan apa lagi yang Ibu terapkan pada Tiara Handycraft?

Sedari awal, saya berupaya mencari jalan untuk bisa mengakses pasar luar negeri. Kami terus membidik beberapa negara sebagai target market untuk produk-produk Tiara Handycraft. Alhamdulillah, sejumlah Negara memberikan respons positif. Produk kami diterima oleh konsumen di Brazil, Spanyol, Belanda, Amerika Serikat serta Singapura. Saat ini, tren yang berkembang adalah, para konsumen akan membeli suatu produk berdasarkan ‘personal story’ yang melekat di produk tersebut. Jadi, misalnya, dia beli tas produk Tiara. Nah, di label harga, kami jelaskan bahwa produk ini digarap oleh penyandang tuna daksa. Maka, ia akan dengan senang hati bercerita ke rekan-rekannya bahwa “Hei, ini lho, saya pakai tas yang dibikin oleh penyandang difabel.”

Jadi, saya bikin produk itu handmade, eksklusif, ada pencantuman identifikasi pembuat produk. Karena kalau lihat orang beli tas mahal bermerek, sudah banyak kan? Nah, kami lebih menyasar para peminat barang yang esklusif dan dibuat dengan sentuhan personal.

Saat ini ada 40-an pekerja difabel yang tinggal di rumah Ibu. Bagaimana keluarga Ibu merespons pilihan yang Ibu ambil?   

Memang pada awalnya dua anak saya, Ade Rizal dan Tamzis Aribowo tidak setuju dengan sistem workshop sekaligus asrama yang saya berlakukan di rumah. Mereka bilang, “Aku nggak punya privasi, nggak punya kamar sendiri.Teman-temanku yang lain pada punya kamar sendiri, ini aku disuruh tidur bareng orang banyak.”

Saya jelaskan pelan-pelan ke mereka, “Kalau punya kamar sendiri kan sudah biasa? Semua anak juga seperti itu kan? Kalau kamu, punya kehidupan yang LUAR BIASA, karena mau berbagi dengan puluhan orang lain. Difabel, lagi! Jadi, kenapa musti minder? Kan lebih baik jadi anak yang luar biasa.”

Alhamdulillah, pelan tapi pasti, anak saya ikhlas menerima kebijakan kami. Bahkan, sekarang mereka sudah terbiasa untuk “sedekah kamar”. Kan, sekarang ini mereka kuliah di Malang. Mereka mengajak satu rekan kuliah yang dhuafa untuk tinggal bareng di kamar kos mereka,dan anak saya yang bayarin. Alhamdulillah, tidak saya sangka, kebijakan tinggal bersama difabel, menjadi pemicu anak untuk cinta dan rajin sedekah.

Dari tadi, ibu menggunakan istilah difabel, bukan disabilitas. Apa makna “difabel” sejatinya?

Difabel itu kalau ditilik dari arti katanya : different ability, maknanya: kemampuan yang berbeda. Kalau disable atau disabilitas, artinya: dis = tidak ; able = mampu. Jadi, kalau mengatakan, disable, secara tidak langsung, kita menuding anak itu sebagai anak yang ‘tidak mampu mengerjakan apa-apa’. Padahal, kita lihat sendiri, di workshop saya, semuanya anak difabel! Justru dengan semangat ingin menjadi manusia yang bermanfaat, mereka sanggup melakukan banyak hal, yang mungkin belum tentu bisa dilakukan orang-orang yang mengaku “normal”. Karena, sesungguhnya “cacat” itu kan ada di hati dan di pikiran. Kalau seseorang sudah patah semangat dan tidak mau bangkit atau malas-malasan melakukan hal yang erbaik, maka itulah definisi orang cacat sebenarnya.(*)

Advertisements

27 thoughts on “Titik Winarti : Konsisten Berdayakan Kalangan Difabel”

      1. udah pensiun sejak 2010 tapi..hihihii.. itu duluuuu taun 2008, waktu masih reporter di beritajatim.com

        wah… mari bertemu kita 😀

      2. Hayuuuuuk mbak. Beritajatim ya? hmmm, aku dulu pernah jadi reporter sctv siyy, tahun 2004-an gitu *udzur banget yak, akyuu? hihihi* udah plencing dari sctv tahun 2005-an. Hayuk mba, kalo ada event emak2 kopdar, insyaAllah kita ketemuaan yuuk… Aku juga ikut KEB niy 🙂

      3. 2004 masih kuliah sayah.. hihihi…
        skrg gawe di ITS mba… insha Allah, ya mba.. mudah2an ada jodoh ketemu.. KEB punya inih ^_^
        kabar2 aja.. btw, ada twitter?

      4. aku? dosen? hahaha..gak ada potongan mba 😀
        aku di bagian humas&protokol-nya..
        di poltek yah? kayanya gak kenal..udah pisahan sama ITS skrg polteknya 😀

        udah dipolo dan dipolbek..
        colek2 yah mba, klo ada kopdar.. makasiii

      5. Bukaaaann… produknya stikosa aws mba.. 😀

        Btw, mba yg dulu bawain liputan 6 jatim yak? Td djalan sempet inget2 gitu..hihi…
        Aku liputan klo ank sctv biasanya bareng dian, kadang boy n mas lempo …

      6. Ahhhaaiii, butuuuulll… Iiih, senaaaang ketemu sesama jurnalis yg juga emak blogger 🙂 Dian sekarang pindah ke Kompas TV Jakarta yak? Kalo Boy Bakamaro di SCTV Jkt juga. Lempo, hhhmmm… TVOne bukan? Eh, btw Lempo masih single ato dah merit ya jeung? *haus hosip-hosip*

    1. Hmm, kalo hasil browsing2, pemerintah RI make istilah penyandang disabilitas. Atau, istilah cepetnya sih: ‘disable’. Tapi, Bu Titik ini keukeuh pake istilah difabel, alias different ability. mereka punya kemampuan siy, tapi ya emang agak beda alias different.

  1. Satu kata: Keren!
    Satu lagi: subhanallah
    E tambah ya: masyallah…
    Semoga sukses selalu dalam menebar manfaat bagi sesama… semoga semangatnya nular ke emak lain. Aamiin

    1. Bu Titik emang keren-mantap-surantap mak. Eniwei, saya yakin banget deh, semua emak adalah bintang, tentu di bidangnya masing2 lah hay. Mak Noe kan excellent banget di backpackers, dan semoga proyek Monumental 2014-nya terwujud ya mak! Bikin buku backpacking with kids ya! *aaamiiiiiinnnn…*

  2. Subhanallah. Dunia akherat dapat nih ibu ini. Semoga menginspirasi emak2 sebanyak mungkin. Iya, istilah yang banyak dipakai orang lapangan memang difabel, different ability. Jadi ingat, Dannis memang memberi pengalaman yang sangat banyak terhadap pemilik konveksi pribadi di seputaran Sidoarjo dg sistem maklun. Setelah pede dg ilmu yg didapat selama kerjasama itu, banyak yang berusaha mandiri dengan merk sendiri. Ada saudara jauhku yang dapat manfaat juga tapi untuk busana muslim dan mukena. Tapi saya nggak terlalu mengikuti perkembangannya sekarang krn jauh.

    1. Betul Mak Lusi. Bu Titik Winarti ini inspiring banget emang. Dan yang saya suka dari beliau, meski udah go international, bu Titik teteuuuup stay humble. Sebelas-dua belas sama Bu Risma, walikota Sby sekarang itu loh. Duh, looove banget ama emak2 model begindang
      🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s