Belum Pernah Berkunjung ke House of Sampoerna?

“Habis gini, belok kemana mbak?”

“Luruuuuusss aja dulu…. Pokoke, setelah kantor DPRD Jatim, luruuusss masih jauh…”

“Trus, belok ke mana?”

“Sik, siiiik. Kamu belum pernah ke House of Sampoerna (HoS) tho Mas?”

“Belum.”

“Gubraaakkkss!! Ya ampyuuun, padahal ini kan destinasi wisata utama Surabaya masssss… Orang2 bule dari seluruh penjuru dunia, kalo ke Suroboyo, jujugan pertama pasti ke HoS! Kok malah dirimu belum pernah siiih?” 

“Hihihiiiii….”

Waah waaah… ternyata, banyak sahabatku di kantor yang masuk khalayak #KurangPiknik!

Hihihi. Lebih tepatnya, kurang eksplorasi kota sendiri. Mereka tuh, udah stay di Surabaya selama beberapa tahun, tapi kok yaaa… belum pernah nangkring di HoS yang ketjeh badai itu 🙂

Saya sih, udah sering nongkrong di HoS. Secaraaa, dulu kan saya jadi public relations di pabrik rokok ntuh. Dan, di era itu, yang namanya hotel dan spot kafe/resto yang representatif di Surabaya, IMHO, jumlahnya masih belum terlalu banyak yah. Tentu saja, eksistensi HoS laksana oase di belantara gedung-gedung/spot kuliner di kotaku tercinta ini.

NH__5448

Buat yang belum tahu yah, HoS ini ada kafe dan juga ada museumnya. Kalo mau masuk ke museum, langsung cuss aja, GRATIS 🙂

Daaan, jangan bayangkan museum itu identik dengan koleksi kuno, berdebu dan ngebosenin akut. Di HoS, kita bakal disuguhkan aneka benda yang related dengan sejarah perjuangan bapak pendiri sampoerna. Siapa namanya? Googling pliss. Hihihi 🙂

NH__5417

Okeh, saya juga barusan googling 😀

Zaman masih jadi corporate slave di Sampoerna sih, kita udah di-briefing habis-habisan tentang siapa dan bagaimana filosofi pendirinya. Sekarang sih, udah lupa hihihi.

Nama pendiri pabrik rokok ini: Liem Seeng Tee. Tuh, ada foto doi ama sang belahan jiwa.

Banyak LEMARI kece yang bertengger di sini. Serba klasik. Keren!

NH__5418

NH__5419

NH__5422

Pas kami berkunjung di sini, beberapa bule juga kelihatan antusias dan amazed banget dengan segala koleksi yang tertata rapih di mari.

Yang lebih asyik lagi, HoS meng-hire sejumlah guide. Dengan cekatan plus kemampuan bahasa Inggris washhh-weshhh-wossshhh, guide itu sigap memberikan panduan kepada para bule.

NH__5424

NH__5425

NH__5426

NH__5432

***

Menginjakkan kaki lagi di HoS membuat saya terlempar ke memori 10 tahun silam. WHAT? Iyah nggak kerasa. Ternyata saya mengais rupiah di Sampoerna itu, udah tahun 2005. Pantesan, saya kok ngerasa kangen dan ada memori yang bertalu-talu di sudut hati, hahaha.

Padahal, duluuu… kalo mau bikin event di mari, saya yang bawaannya, “Hadeeeh, jauh amat?” Ya kan kantor (dan rumah) saya lokasinya di Rungkut, sementara HoS ini terletak di kawasan deket Jembatan Merah sono noh, udah masuk Surabaya Utara. Jadinya, jauuuh banget kan.

Tapi, demi melihat senyum para jurnalis yang demikian bersemangat menempuh perjalanan menuju HoS, membelah macetnya jalanan Surabaya, mengenyahkan rasa malas yang menerpa demi ketemu saya mengikuti press conference bareng para artis, oh well…. tiba-tiba rasa malas itu menguap begitu saja.

Dan sekarang, saya bisa melihat senyum mereka. Yang merekah begitu bungah.

Para wartawan entertainment, dulu sering nongkrong di sini, saban ada konser musik… Wartawan olahraga, wartawan ekonomi bisnis… oh well, MEMORY IS A WONDERFUL THING, IF YOU DON’T HAVE TO DEAL WITH THE PAST 🙂

Baiklah, segini dulu aja deh rendezvous-nya. Kita belum sempat eksplor secara maksimal, karena kemarin emang mendadak dan terburu-buru banget.

Akhirnyaaaaa… ada satu temen kantor yang dapat “pencerahan”: sudah menginjakkan kaki di House of Sampoerna. Next time, mau ngajak yang lain juga aaah. Kayaknya asik deh, kalo bikin kumpul-kumpul hore di mari 🙂

House of Sampoerna (HoS)
Alamat: Taman Sampoerna No.6, Jawa Timur 60163
Jam buka · 09.00–22.00
Sebaiknya datang SEBELUM jam 13:00 yah. Karena kita bisa ngeliat aktivitas para pelinting rokok dari lantai 2 museum HoS

Semua foto di-capture oleh bapaknya Ibad yang baik hati dan tidak sombong 

Titik Winarti : Konsisten Berdayakan Kalangan Difabel

Image

Ibu Titik Winarni (kiri) bersama Ucil, salah satu difabel yang udah jadi ‘tangan kanan’-nya

Tidak banyak kalangan yang menaruh perhatian kepada para penyandang disabilitas (difabel). Berbeda halnya dengan Titik Winarti. Ibu energik yang berdomisili di kawasan Sidosermo Indah ini punya cara yang amat kreatif, untuk memberdayakan para penyandang disabilitas (difabel). Di bawah bendera Tiara Handycraft, beliau merekrut sejumlah penyandang disabilitas (difabel) untuk sama-sama melahirkan produk-produk yang berkualitas.

Tak hanya dipasarkan di dalam negeri. Produk Tiara Handycraft juga telah diekspor dan diminati banyak konsumen di mancanegara. Di antaranya, Brazil, Spanyol, Belanda, Amerika Serikat serta Singapura. Jaringan pemasaran yang mengglobal ini merupakan buah dari prestasi yang diraih Titik di tahun 2005. 

Saat itu, Titik meraih penghargaan Microcredit Award dari pemerintah. Dia lalu berpidato di depan sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), saat mengikuti pencanangan Tahun Internasional Kredit Mikro di markas PBB di New York, Amerika Serikat.

Image

Yihaaa… Tas yang saya pakai itu hasil kreasi teman-teman difabel loh!

Inilah profil social-enterpreneur yang luar biasa. Semua prestasi dan kerja keras Titik itu diawali dengan modal yang aman minim: 500 ribu saja! Ya, Titik mendapatkan modal dengan berhutang di salah satu koperasi wanita di Surabaya. Dan, usahanya bergulir dan berkembang dengan begitu massif. Plus, memberdayakan kaum penyandang disabilitas.

Tentu banyak inspirasi yang bisa kita petik dari beliau. Dalam sebuah kunjungan hangat di rumah yang sekaligus berfungsi workshop-nya, saya asyik berbincang dengan beliau.

Di Indonesia, tidak banyak orang yang punya kepedulian pada penyandang disabilitas. Bisa Ibu jelaskan latar belakang mengapa Ibu memilih untuk fokus di pemberdayaan bagi mereka?

Sedari awal, saya punya spirit untuk menunjukkan kepada masyarakat umum, bahwa anak-anak ini sebenarnya juga bisa menghasilkan karya. Hanya saja, mereka memang tidak mendapatkan kesempatan sebagaimana orang kebanyakan. Dalam hal ini, saya ambil peran itu. Saya berdayakan mereka untuk menjadi pengrajin, penjahit, pembuat pola dan berbagai pekerjaan yang ada di Tiara Handycraft. Dengan memberikan kesempatan seperti ini, maka saya yakin bahwa anak-anak yang berkebutuhan khusus seperti mereka juga mampu berkarya. Ini tentu sekaligus bisa menjadi pelecut semangat bagi anak-anak normal, bahwa yang difabel saja mampu, masak yang anggota tubuhnya lengkap, malah malas-malasan dan ogah berkreasi?

Respon masyarakat bagaimana terkait pemberdayaan ini?

Memang awalnya ada yang berpikiran sempit dan cenderung under-estimate. ‘Anak cacat bisa apa sih?’ Ada juga yang menganggap, kalaupun anak difabel ini memproduksi suatu tas atau dompet, maka biasanya para konsumen membeli produk itu hanya karena belas kasihan. Padahal, kami menerapkan quality control yang amat ketat bagi produk handycraft yang kami hasilkan.

Bagaimana kontrol mutu yang Anda terapkan?

Apabila ada (calon) konsumen yang mempertanyakan kualitas produk kami, maka saya menjawab, “Ibu tahu merek Dannis Collections?” Tentu merek Dannis sudah punya branding image yang sangat kuat. Para penikmat fashion pasti sudah kenal merek ini. Nah, saya ceritakan pada mereka, “Anak-anak di Tiara Handycraft juga dipercaya untuk memproduksi beberapa items di Dannis.” Tentu mereka terkejut. Melihat standar jahitan Dannis yang rapih dan berkualitas, mungkin beberapa orang tidak percaya. Tapi, saya terus tunjukkan kepada masyarakat bahwa, ini lho, anak-anak difabel ini juga punya standar kerja dan output yang tidak kalah. Mereka bekerja dengan sungguh-sungguh, sehingga mendapatkan pengakuan dari brand fashion yang terkenal di negeri ini.

Image

Para karyawan difabel di Tiara Handycraft Surabaya

Setelah dipercaya menjadi vendor untuk Dannis, terobosan apa lagi yang Ibu terapkan pada Tiara Handycraft?

Sedari awal, saya berupaya mencari jalan untuk bisa mengakses pasar luar negeri. Kami terus membidik beberapa negara sebagai target market untuk produk-produk Tiara Handycraft. Alhamdulillah, sejumlah Negara memberikan respons positif. Produk kami diterima oleh konsumen di Brazil, Spanyol, Belanda, Amerika Serikat serta Singapura. Saat ini, tren yang berkembang adalah, para konsumen akan membeli suatu produk berdasarkan ‘personal story’ yang melekat di produk tersebut. Jadi, misalnya, dia beli tas produk Tiara. Nah, di label harga, kami jelaskan bahwa produk ini digarap oleh penyandang tuna daksa. Maka, ia akan dengan senang hati bercerita ke rekan-rekannya bahwa “Hei, ini lho, saya pakai tas yang dibikin oleh penyandang difabel.”

Jadi, saya bikin produk itu handmade, eksklusif, ada pencantuman identifikasi pembuat produk. Karena kalau lihat orang beli tas mahal bermerek, sudah banyak kan? Nah, kami lebih menyasar para peminat barang yang esklusif dan dibuat dengan sentuhan personal.

Saat ini ada 40-an pekerja difabel yang tinggal di rumah Ibu. Bagaimana keluarga Ibu merespons pilihan yang Ibu ambil?   

Memang pada awalnya dua anak saya, Ade Rizal dan Tamzis Aribowo tidak setuju dengan sistem workshop sekaligus asrama yang saya berlakukan di rumah. Mereka bilang, “Aku nggak punya privasi, nggak punya kamar sendiri.Teman-temanku yang lain pada punya kamar sendiri, ini aku disuruh tidur bareng orang banyak.”

Saya jelaskan pelan-pelan ke mereka, “Kalau punya kamar sendiri kan sudah biasa? Semua anak juga seperti itu kan? Kalau kamu, punya kehidupan yang LUAR BIASA, karena mau berbagi dengan puluhan orang lain. Difabel, lagi! Jadi, kenapa musti minder? Kan lebih baik jadi anak yang luar biasa.”

Alhamdulillah, pelan tapi pasti, anak saya ikhlas menerima kebijakan kami. Bahkan, sekarang mereka sudah terbiasa untuk “sedekah kamar”. Kan, sekarang ini mereka kuliah di Malang. Mereka mengajak satu rekan kuliah yang dhuafa untuk tinggal bareng di kamar kos mereka,dan anak saya yang bayarin. Alhamdulillah, tidak saya sangka, kebijakan tinggal bersama difabel, menjadi pemicu anak untuk cinta dan rajin sedekah.

Dari tadi, ibu menggunakan istilah difabel, bukan disabilitas. Apa makna “difabel” sejatinya?

Difabel itu kalau ditilik dari arti katanya : different ability, maknanya: kemampuan yang berbeda. Kalau disable atau disabilitas, artinya: dis = tidak ; able = mampu. Jadi, kalau mengatakan, disable, secara tidak langsung, kita menuding anak itu sebagai anak yang ‘tidak mampu mengerjakan apa-apa’. Padahal, kita lihat sendiri, di workshop saya, semuanya anak difabel! Justru dengan semangat ingin menjadi manusia yang bermanfaat, mereka sanggup melakukan banyak hal, yang mungkin belum tentu bisa dilakukan orang-orang yang mengaku “normal”. Karena, sesungguhnya “cacat” itu kan ada di hati dan di pikiran. Kalau seseorang sudah patah semangat dan tidak mau bangkit atau malas-malasan melakukan hal yang erbaik, maka itulah definisi orang cacat sebenarnya.(*)