parenting, Uncategorized

Demi Buah Hati: Sudahkah Rela Berpayah-Payah?

Disclaimer: Tulisan ini sudah mengendap di laptop sekitar setahun lalu. Waktu itu, umur Sidqi, anak saya masih 6 tahun, dan sudah saya “paksa” untuk masuk ke SD swasta  yang berjarak sekitar 700 meter dari rumah kami. Maksud hati pengin anak ‘lebih unggul’ karena sudah kelas 1 SD di umur yang amat muda. Lumayan Pede-lah dengan kemampuan kognitif Sidqi. Apa daya, ternyata, kondisi sekolah plus banyak hal lain justru membuat anak saya terjerembab dalam “depresi” dan berubah jadi sosok yang sama sekali nggak saya kenal 😦 Saya posting di sini. Semoga kita bisa ambil sedikit pelajaran. Bahwa, lebih cepat belum tentu lebih baik 🙂

Demi Buah Hati: Sudahkah Rela Berpayah-Payah?

Mewek saban denger kata "sekolah"
Mewek saban denger kata “sekolah”

Sudah beberapa hari belakangan ini, Sidqi, anak saya mogok sekolah. Tiap kali ditanya alasannya, Sidqi tidak punya jawaban yang memuaskan.

“Pokoknya aku ndak mau sekolah.”

“Kenapa? Apa temen-temenmu nakal?”

“Bosan. Aku capek sekolah. Aku lebih suka di rumah. Pokoknya, aku nggak mau sekolah.”

Ingin rasanya menjadi orangtua “semi-Hitler” yang langsung berteriak lantang,

”Ayooo sekolaaahhh! Kalo gak sekolah, mau jadi apa kamu, hah?!?!?”

Tapi, sekuat tenaga saya coba menahan amarah. Sabaar…. Sabaarrr…..

Anehnya, meski membolos beberapa hari, pihak sekolah tidak memberikan semacam “teguran” kepada kami. Tadinya saya berharap minimal wali kelasnya yang berkunjung ke rumah. Atau, paling tidak, menelepon dan menanyakan kabar Salman. Sama sekali tidak.

“Wong sekolah gratis, yo wis, jangan punya ekspektasi apapun,” suami saya sempat berujar demikian.

Ya. Beginilah akibat dari paradigma orangtua yang punya “awareness tinggi” dalam hal “financial-planning” (bahasa yang mudah dicerna: orangtua yang super-irit cenderung pelit). Dari sekian banyak sekolah Islam yang ada di kota ini, kami justru menjatuhkan pilihan pada sekolah X. Ya alasannya itu tadi. Karena Gratis.

Akibatnya bisa ditebak. Kalau ada idiom “Gratis kok njaluk slamet?” (Gratis kok minta selamat?) maka itulah yang kini tengah kami hadapi.

Saya putar otak menghadapi kemelut ini.

Apakah saya mau menegakkan disiplin, dengan “memaksa” anak sekolah? Muncul kekhawatiran, kalau-kalau nantinya Sidqi justru “trauma sekolah” dan benar-benar sama sekali tidak mau berhubungan dengan segala sesuatu yang bernama sekolah.

Yang lebih parah lagi, bisa-bisa saya diciduk Komisi Perlindungan Anak, gara-gara berbuat KDRT—Kekerasan dalam Rumah Tangga pada anak.

Tapiii, kalau saya terlalu lunak, dan tetap membiarkan Sidqi berasyik-masyuk dengan bolos-membolos? Hhhh… mau dibawa kemana hidup dia nantinya?

Dan, apa kata keluarga besar kami?

Apa kata adik ipar saya yang menggondol gelar PhD dari sebuah universitas ternama di London, Inggris?

Apa kata omnya Sidqi yang kini jadi dosen di ITB?

Apa kata tantenya Sidqi yang cum laude dari Fakultas Kedokteran di Unair dan kini lagi ambil spesialis di UI?

Oh, seluruh keluarga besar kami adalah para manusia brilian. Suami saya juga menggondol gelar Master dari ITS.

Apa kata mereka, kalau ada satu bocah di dinasti ini yang ogah sekolah? Oh, APA KATA DUNIA??

BERTIGA: Sidqi, emak dan utinya
BERTIGA: Sidqi, emak dan utinya

Ini sudah menginjak hari ke-15 Sidqi membolos. Belum ada jurus cespleng yang bisa saya terapkan agar Sidqi mau kembali ke sekolah.

”Dek, kamu tahu kan kalau sekolah itu untuk masa depan dan kepentingan adik?”

“Ndak. Sekolah itu untuk kepentingan Ibu! Bukan kepentinganku!”

Jleb! Mak jleb jleb!

Mungkin Sidqi benar.

Akulah yang berambisi menyekolahkan dia.

Akulah yang punya keinginan besar untuk menjadikan Sidqi seorang yang punya gelar akademis berderet-deret.

Akulah yang punya kepentingan itu.

Akulah yang merasa malu kalau anakku tidak sepintar sepupu-sepupunya yang lain.

Akulah yang punya kepentingan untuk mendapatkan “kalungan medali” sebagai “ibu yang sukses mendidik anaknya sehingga melahirkan sosok yang amat-sangat brilian di dunia sains dan mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia.”

Akuilah…. Akuilah kalau aku yang ‘gila pujian’… Ingin memantaskan diri di hadapan manusia… Punya segudang ambisi agar muncul sebagai wanita hebat yang mampu menyeimbangkan antara karir dan keluarga. Preeettt! Kerdil sekali pikiran saya!

Ya Allah…

Terkadang saya begitu bersemangat mengejar pengakuan manusia… Tapi, saya lupa, kalau sesungguhnya, “sertifikat” dari Allah justru yang amat penting dan malah tak pernah kuhiraukan… Astaghfirullah, ampuni hamba ya Allah….

Sesaat, saya tenggelam dalam istighfar yang panjang…. Astaghfirullah hal ‘adzim…..

***

Ngacaaaaa muluuuuu :-P
Ngacaaaaa muluuuuu 😛

Pelan tapi pasti, saya mencoba menerima kondisi ini. Saya berdamai dengan situasi. Oke. Anak saya ogah pergi ke sekolah formal. Di satu sisi, ini memang masalah. Kendati demikian, toh masih banyak hal baik yang bisa saya temukan dalam diri Sidqi. Ia masih mau ngobrol dengan saya. Ia masih mau menulis. Ia masih mau bergaul dengan anak-anak kecil di kompleks rumah. Ya sudahlah. Mungkin inilah cara Allah supaya saya mau menundukkan hati, dan kembali bermunajat kepada-Nya. Kadang-kadang, Allah memang menunjukkan kasih sayang-Nya dengan mengirimkan “sedikit” cobaan dalam hidup kita.

Ketika anak kita tengah “bermasalah”, jangan buru-buru menuding dia sebagai “si biang onar”. Atau melabeli dia dengan ucapan yang sama sekali nggak enak didengar, “Kamu itu bisanya cuma ngrepotin papa-mama….”

Ternyata anak kita, meskipun tampak sebagai sosok yang “tidak tahu apa-apa”, mereka punya daya rekam yang sungguh kuat. Tiap kalimat yang meluncur dari bibir kita, akan menancap di otak mereka. Kalimat buruk yang menggores sukma, tentu akan sangat mudah diingat. Apalagi, bila kalimat itu meluncur dari bibir sang ibunda, “Dasar anak nakal! Nggak tahu diri!!” Detik itu juga, harga diri si anak akan runtuh, hancur berkeping-keping.

Yang jelas, setiap orangtua punya kewajiban untuk mendidik buah hati mereka berdasarkan Fitrah Ilahiah atau sifat bawaan dari Sang Pencipta. Mereka lahir laksana secarik kertas putih. Lingkunganlah yang kemudian memberinya warna, termasuk dalam hal ini pola asuh orang tua.

Untuk lebih bersyukur atas segala kondisi anak, marilah kita senantiasa Menyadari Semua Anak adalah Bintang. Semua anak PASTI hebat.

Allah, Sang Pencipta yang Maha Sempurna tidak pernah menciptakan produk gagal. Seorang anak yang dalam kaca mata fisik atau mental kerap kita labeli sebagai “si cacat” justru adalah “sebuah bintang” yang bisa menyinari lingkungannya.

Karena itulah, kita harus menjadi “Guru Terbaik bagi Anak”. Bukan berarti kita harus berstatus sebagai Profesor Anu, atau Doktor Fulanah, atau harus menyandang gelar yang panjangnya laksana gerbong Kereta Api. Bukan itu!

Coba kita lihat sejarah Imam Syafii dan Imam Ahmad. Ibunda beliau-beliau itu bukanlah sosok perempuan dengan kecerdasan di atas rata-rata. Sama sekali tidak! Yang mereka miliki adalah, ketulusan menjadi ibu, penerimaan tanpa syarat, cita-cita yang demikian agung dan memuliakan, serta kesediaan dan kesabaran untuk berpayah-payah dalam mendidik dan membesarkan anaknya.

Betapa banyak orang-orang sukses justru lahir dari ibu-ibu lugu. Carl Frederich Gauss yang berjuluk “The Princess of Matematics” lahir dari orangtua tak berpendidikan. Ibunya bahkan buta huruf.

Apakah Anda pernah membaca buku “EMAKNYA DAOED YOESOEF?” Mata kita pun akan segera terbuka bahwa Menteri Pendidikan pertama Indonesia yang luar biasa itu ternyata adalah anak dari seorang emak yang buta huruf, orang kampung biasa seperti orang kampung kebanyakan. Yang berbeda adalah, Emaknya punya jiwa dan doa yang tak pernah putus untuk kebaikan anaknya! Subhanallah….

Coba berdirilah di depan cermin. Tanyakan pada diri Anda. “Sudahkah aku punya keikhlasan dan rela berpayah-payah untuk mendidik buah hati?” Jawablah dengan jujur. Jangan sampai, pepatah “Buruk Muka, Cermin Dibelah” terjadi pada diri kita.(*)

Advertisements

40 thoughts on “Demi Buah Hati: Sudahkah Rela Berpayah-Payah?”

      1. Hehehe, it’s okay mak, Sidqi = Siddiq, artinya sama kok 🙂 Semenjak dia ga mau sekolah formal di SD X itu, saya gak paksain. Praktis, Sidqi ‘sekolah di rumah’ selama kurang lebih 8 bulan-lah.
        Sekarang, Sidqi masuk di SD Negeri deket rumah. InsyaAllah, moga-moga, betah 🙂 Thanks udah mampir, mak.

  1. Alhamdulillah anak sy dl sekul g da yg nyuruh, minta sdri pdhl usianya sbnrnya msh krg…tp semangatnya tinggi u sekolah…tujuan satu pingin bisa baca…kr mmg sedari kecil sdh sy perkenalkan dg buku…mgkn akirnya dia penasaran pingin bisa baca sdri, msk dibacaiin ibunya melulu…yg sabar ya mak…dibujuk sj pelan2…didongenging ttg anak2 yg malas belajar,dibelikan buku2 yg menarik ttg manfaat belajar…sekolah ya nak…biar puinterrr….bisa bikin pesawat…hehe

    1. Iyaaaa mak, emang tiap anak beda2 ya karakternya. Alhamdulillah, kejadian ini sudah setahun lalu siy. Sekarang anak saya mau sekolah formal lagi. Di SD Negeri deket rumah *teteup, cari yang gretong 🙂
      InsyaAllah, jadi ortu emang banyak “godaan kesabaran”-nya. Ikhlas, berdoa, tawakkal, sharing dgn sesama emak –> resep sehat ibu2 masa kini. 🙂
      Ma’aciiih udah silaturrahim di mari ya mak

  2. Ada yang bilang sebaiknya anak jangan terlalu cepat dimasukan ke sekolah karena ketika masuk sekolah, saat itu waktu bermainnya berkurang.

    Saya sendiri masuk SD umur 5 tahun dan itu pun karena ngerengek ke orangtua mau cepat-cepat sekolah. Cuma jaman dulu waktu sekolah gak gitu lama kayak sekarang. Masih bisa main di kebon belakang rumah, masih bisa main masak-masakan, masih bisa les piano pula. Menikmati banget yang namanya belajar. 😀

    Kalau sekarang, saya antara kagum dan prihatin melihat anak-anak sekolah yang jam belajarnya gak kalah sama anak SMP dan memiliki les yang segudang (les pelajaran, les musik, les nari, les bahasa).

    Siqdi apa kabar sekarang? 😀

    1. E ya ampuuun, ada jeung cK di mari *buru2 siapen teh anget ama cemilan* Ini curcol saya tahun lalu kok Chik. Nah, begitu tau ada perubahan kepribadian pada diri anak saya, langsung deh, saya resign-kan dia dari sekolah itu 🙂 Sidqi (bukan Siqdi, darling, hehehe…) hanya sempat sekolah selama 3 bln aja di SD X itu.
      Naah, begitu brenti sekolah, Alhamdulillah pelan tapi pasti, dia mulai kembali ke karakter asli. Walopun ya sometimes mengeluh bosen lah ya, karena ga ada aktivitas berarti.
      Saya ajarin di rumah aja sih. Homeschooling abal-abal lah ya 🙂
      Alhamdulillah, July 2013, anak saya udah umur 6,5. Udah boleh masuk SD Negeri deket rumah. Sampe sekarang, dia masih sekolah di situ. Moga2 betah dan bisa dapat ilmu, pembelajaran dll yang oke.

      Iya siy, jadwal anak SD sekarang padat-dat-daat. Emaknya aja kalah 😛 Tapi, saya belum daptarin ke kursus2 macem2 siy. Cuman kalo sore aja neneknya ajak Sidqi belajar terjemah Qur’an di Masjid deket rumah.

      Tengkiuuuu udah visit ke sini ya Chik.

      1. Hihihi, it’s okay jeung cK. Tengkiuuu udah mampir di mari yak. InsyaAllah aku bakal seriiiiing mampir ke rumah kamyu. Abis, rumahmu keren, lucu, imut-imut gitu Chik. Hehehe…. #fans-berat

    1. Hayyyuuuk mak, ke Ace Hardware, beli cermin, mumpung lagi diskon *kriuk*

      Iya mak. Sometimes kita diingatkan untuk lebih banyak mendekat pada Tuhan, dengan cara2 ajaib dan unpredictable semacam ini. Begitulah. Ujian buat emak2 supaya tambaaaah stok sabarnya. Semangaat! 🙂

    1. Butuh komitmen luar biasa dari orangtua kalau mau men-home-schooling-kan putra-putrinya, Pak. Dan, sepertinya saya belum masuk dalam jajaran orangtua “luar biasa” seperti itu. Nggak sanggup jadi ‘anti-mainstream’. Karena, bagaimanapun, tetangga dan temen2 selalu nanya, “Sidqi sekarang sekolah dimana?”

      Lha, kalau saya bilang “Homeschooling…” kesannya aneeehh bangeeet. Duh. *emak-emak insecure*

  3. anakku, kemarin 4 taun kurang udah masuk tk atas kemauan sendiri. karena uda 2 taun lebih di PAUD. kayanya ini juga jadi masalahku 2 taun ke depan mba.. so far sih, si anak masih enjoy dg sekolahnya.. tapi akunya yang was2, meski si anak sendiri yg minta. makanya, klo di rumah, aku gak terlalu maksa dia untuk belajar menulis, membaca atau sejenisnya, kecuali mengaji 😀

    maaf, malah curcol..hihihi..

    1. Kayaknya niy, IMHO yaaa, tiap anak itu ada siklus “curiosity” alias ‘keingintahuan yang meledak-ledak’. Anakku pas umur 2-3-4 itu juga luar biasa kadar kepo-nya.

      Naah, mungkiiiin *ini masih analisa cethek loh ya* saya sebagai emaknya terlalu bersemangat mewadahi ke-kepo-an anak saya. Walhasil, saya rada over-stimulus gitu lah. Ikut sekolah balita, banyakin buku, ajarin baca, dll.

      Sampai pada suatu masa. Saya enggak sadar kalo apa yang aku lakukan *over-stimulating itu tadi* berdampak pada kebosanan di diri anak.

      Ditambah lagiii, gara-gara masuk ke SD pinggir, dimana murid2nya mayoritas ‘agak kurang kasih sayang’ (huehehehe) plussss… gurunya galak bin cuek, anakku jadi Streeeeessss dewe mak.

      Anak stres –> ibu depresi –> yo wis, kumplit. Akhirnya aku resign-kan dari SD X itu. Begitulah mak, suka-duka motherhood. Siiiip!

    2. Eh, mak, Sabtu ada acara Tangan Di Atas (TDA-Ladies) di Sutos? Ikutkah?
      Info lengkap:
      Hard Rock FM dan Prodia mengadakan Acara ”Community Surprise Stay Young & Healthy”

      Yang akan dihadiri oleh teman-teman dari TDA Ladies Surabaya ,

      Acara ini bertujuan untuk mensosialisasikan komunitas TDA dan TDA Ladies Surabaya yang akan diselenggarakan pada :

      Hari, Tanggal : Sabtu 30 November 2013

      Jam : 14.00 – 17.00

      Tempat : Hare & Hatter Sutos.

      Dresscode : Biru dan Putih

      Peserta : minimal 30 orang

      Acara
      – Succes Story oleh beberapa member TDA Surabaya
      – Sharing Bisnis oleh TDA Ladies Surabaya
      – Gathering TDA Ladies Surabaya

      Cara daftarnya gimana?? GAMPANG..
      * Tinggal reply postingan ini, atau
      * SMS ke 0877 5124 88 55
      dengan format : LADIES_NAMA_NO HP

      Untuk lebih jelasnya bisa join group whatsapp
      Nindia maya : 081 33 060 2885 ^^

      1. hmm… sabtu besok yah.. barengan acara kantor mba.. lembur tanpa libur 😦

        maap.. mungkin lain kali ya mba.. 🙂

        makasih infonya..

  4. mbak aku ikutan sedih nih baca artikel ini. jadi pengalaman buatku, mencari sekolah yg nyaman buat ananda. smg anak-anak kita bisa menjalani masa kanak-kanaknya dg penuh kegembiraan spt kita waktu kecil dulu..

    1. Sudah pastiiiiii —-> SD Al-Us**h hehehehe…. Iya mbak, ternyata memilih sekolah itu krusial banget buat anak-anak. Sebagai orang tua, sudah jadi kewajiban kita memberikan yang terbaik buat jundi-jundi yang lutchu nggemesin itu 🙂

      1. Butuuuulll, karena beberapa anak punya daya tahan tubuh yang tidak sama ya. Tadinya aku juga keukeuh masukkan sidqi ke full day school, tapi ngeliat tubuhnya yang kuyuuuuusss banget itu, kok ya jadi melas ya mbak? Wis, Bismillah, aku nurut pak suami aja untuk masukkan dia ke SD Negeri deket rumah. Dan, teteup sorenya dianter utinya buat ngaji + belajar tarjim (terjemah per kata) di Masjid Al-Muslimun, deket rumah juga. Bismillah, insyaAllah, selalu ada kemudahan yang diberikan Allah apabila kita pasang niat ikhlas utk mendidik anak ya mbak, aamiiiin… *bijak mode on*

      2. betul mbak. aku jadi belajar nih dr pengalaman mbak nurul. iya mbak bismillah aja. yg penting anak2 nyaman & nggak jadi beban. pendidikan terbaik tetep dari rumah bersama bunda, ayah, & uti kakung nya 🙂

  5. Terus skr sidqi sekolah dmn mak? Pertama pindah jawa timur anakku sempet mogok gini, untung bayar sekolah bru separuh hehehe.. Akhirnya kami muter2 cri sekolah yg nadia suka, Alhamdulillah akhirnya ktmu sekolah yg skr msk. Mungkin sidqi tipe yg suka sekolah alam mak, udah coba?

    1. Alhamdulillah, per July 2013 sidqi saya daftarin di SDN deket rumah. Nadia sekolah dimana mak? SDIT Sabilillah, bukan? Atau, apa itu ada SDIT Nurul Fikri ya di Sidoarjo? Kondang banget tuh SD, sering langganan juara gitu kan ya? Ada juga SD Al-Muslim, Al-Falah Darussalam, dll. Hmmmm, sekolah alam ya? Duluuuuu, pas hamil Sidqi, saya udah ngidam masukkin anak di sono mak. Tapi, ya gitu, karena SD-nya keren, gurunya asik, kurikulum cihuy, biayanya booo…. bikin bapaknya sidqi garuk2 tanah, hahaha…. pak swami gak setuju mak. Carinya SD yang murce aja. Gratis? Woohooo, lebih semangat lagi, beliau, hehehe….

  6. “Buruk Muka, Cermin Dibelah…” jleb banget mak .. berani jujur pada diri sendiri. jadi bahan interospeksi diri 😉

    kami (saya dan suami) juga sering mengobrol tentang rencana pendidikan untuk Adam kelak. kami melihatnya pendidikan formil yang ada sekarang ini, masih kurang tepat untuk memenuhi kebutuhan anak untuk berkembang. karena setiap anak itu unik, yang bisa kita lakukan ada menstimulasi agar anak itu bisa menjadi “berhasil” dengan apa adanya mereka, dengan kemampuan mereka sendiri. maka mereka akan tumbuh menjadi karakter yg kuat .. bagaimana caranya menstimulasi, ya itu sudahkah (kita) rela berpayah-payah 😉

    btw, jadi ikutan sedih liat wajah Sidqi yg mewek gituuh hihihi. jadi anak cerdas yo Lee!

    1. Ma’aciiiih tante, sekarang Sidqi saya sekolahin di SD Negeri deket rumah. Well, nasib doi dapat guru galak pulak di mari, hihihi… jadi, saban mau sekolah saya pukpuk terus tuh bocah, biar ga ngeri ama gurunya. Biyuhhh… guru SD zaman sekarang tuh mayoritas under-qualified gitu yak? Tapi, ha wong gretong, ya saya ga bisa protes 😦 Yang jelas, temen2 sekolahnya di SDN ini agak mendingan mak. Lebih santun gitulah, kalo dibandingin SD yg lama dulu. Terima kasih sudah mampir ke sini ya mak. Sukaaaaa banget dengan situs kopisusu. *nah loh,jadi pengin bikin n*sc*fe dah*

  7. sukaa tulisan ini. anak memang selalu punya keistimewaan sendiri ya mbak 🙂 btw Lubna anakku usia 5 tahun baru masuk TK lho mbak, sebelumnya dia ogah gitu masuk sekolah, saya gak maksa juga. belajarnya juga sesuka hatinya dia. paling suka dibacain buku cerita…
    jadi yaa ngikut maunya saja. masih 5 tahun ini, hehehe…
    insyaAllah nanti masuk SDIT saja.
    salam buat Sidqi yaa… jangan mewek lagi ah, hihihi…

    1. Iya maak, kadang ortu yang lebih ambisius *tunjuk diri sendiri*, anaknya mah woles ajah. Hehehe… Saya sebenernya juga lebih suka kalo Sidqi masuk SDIT, tapi ada sedikit jurang pendapat antara saya dan pak swami. Walhasil, apa boleh buat, drama debat soal pilihan sekolah harus kami hentikan dgn satu keputusan –> ikut opini pak swami utk masukkan ke SDN deket rumah. Bismillah,dengan rutin ajak Sidqi ngaji di TPQ Masjid Al-Muslimun, plus doa dari ortu, insyaAllah iman+aqidah+akhlak+keislaman Sidqi bisa ‘enggak kalah’ dgn anak-anak SDIT –> emak kompetitip, pilihan katanya teteeuuuup–> ‘enggak kalah’, hahahahaha….

  8. Ini menjadi pelajaran buat saya calon seorang emak…
    Gak salah juga kalau kadang kita memang mengjejar pengakuan manusia, karena di luaran sana yg punya anak ber prestasi akan banyak mendapatkan pujian, bukankah itu manusiawi? Lagi pula setiap manusia kan butuh pengakuan.

    Tapi, kita memang harus lebih mengerti kebutuhan anak, ya….

    1. Hai-hai, thanks udah mampir & comment di mari. Iya siy, tanpa ambisi, hidup kita tentu rasanya bakal hambar. IMHO, mendidik anak emang kayak main layangan gitu deh, tahu kapan kita kudu ngulur benang dan kapan musti narik. Jadi, ambisi ortu juga kudu di-adjust dgn kondisi anak juga kali ya? Hehehe….

      1. Benar, Mbak…
        Saya merasakan dulu di mana saya harus menjadi seperti kakak saya yg menjadi langganan juara kelas, karenanya orang tua yg mendapatkan pujian.
        Saya merasa lelah dan capek, sehingga sekolah menjadi hal yang sangat tdk saya suka sampai akhirnya saya temukan kesenangan saya sendiri ttg sekolah.
        Setiap anak berbeda 🙂

        Thanks for sharing…saya ini calon emak yang butuh banyaj ilmu 🙂

  9. Assalamualaikum,menarik artikelnya.anak saya juga sama susah kalau mau sekolah,duloe masi pg di skul x cuma kelar 3 bulan,hbs itu off 1 tahun cuma belajar ama ibunya.habis itu masukkan ke tk a…skul ternama di sda,sama hasilnya anak saya 1 bulan cuma masuk 3-7harian…hehehhe…panggil deh kepala skul..dengan berbagai cara rayuan tetap aja tidak mau skul…cuma anak saya uda bisa baca buku cerita dari umur 3 tahun..jujur kami pernah di posisi ibu ya… 11-12 lah..hehhehee,mungkin terlalu bosen anak saya karena dihafalin jadwal skul dari jam pertama sampai terakhir…setelah 7bulan anak saya baru mau skul itu pun harus antarin hehehh(biasanya pakai antar jrmput),intinya harus sabar,tekun,tidak memaksa anak tapi harus dikasih pengwrtian,Alhamdulillah bun sekarang anak saya bacaan surat pendek dan doa sehari-2 mantap padahal baru skul 2.5bulan(kadang 1minghu bolos 1-2hari).tetap semangat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s