BLUR: at Alun-Alun Batu, Malang, Indonesia

In response to The Daily Post’s weekly photo challenge: “Blur.” Have you ever travelled to Batu, Malang, Indonesia? I suggest, at least, once in your lifetime, you should go to this beautiful city. We can play at a lot of amusement parks here, like: Jatim Park 1 & 2, Eco Green Park, Museum Angkut, etc.

Continue reading

[#EF13] I Choose Youtube Aerobic

Okay, thanks God, finally I can join BEC challenge again… Yayy for this…. **blowing confetti**

Talking about my favorite sport, off course it’s aerobics. Especially aerobics from youtube. Why? Because it’s very cheap! It only cost unlimited Wi-Fi subscription fee, and I can choose a lot of aerobics videos.

I’ve posted about it (in Indonesian) you can read here

Another reason why I choose at home aerobics, because I can remove my hijab. You know, it’s never easy, going to sports club, doing fitness activity with hijab on your head, and all those long clothes.

I think that’s all. I can’t make it longer anyway 😦 If you want to join English Friday weekly challenge, please go here.

Antara Aku, Sheraton Hotel dan Earth Hour

Jujur, saya termasuk barisan manusia yang skeptis dan nyinyir dengan program kampanye Earth Hour. Matiin lampu selama 60 menit?? Apa efeknya, bagi dunia yang hingar bingar ini? So what gitu loh? Apa dengan begitu, udah bisa menyelesaikan masalah penghematan energi, gitu? Ya elaaah, matiin lampu cuman satu jam…. Kagak ada manfaatnya buat dunia ini, broooh. Palingan cuma seuprit!

Eh ladalaaah, ternyata, Tuhan Maha Tahu bagaimana cara membuka hati hamba-Nya. Episode nyinyir saya menemukan jawabannya. Pas Sheraton Surabaya Hotel & Towers woro-woro soal Earth Hour Gathering for blogger, Sabtu, 14 Maret, saya langsung ngerasa, “Gubraks. Kok ya, pas banget yak, blogger (sok) kritis macam saya diundang di acara begindang?”

Daaan, semua itu terpampang nyata, setelah mendengar penjelasan Gilang Permana, salah satu aktivis Earth Hour Indonesia. Program Earth Hour ini “hanyalah” sebuah momentum, semacam “moment of truth”  yang menandai kepedulian kita akan bumi yang makin “menanggung beban energi yang begitu berat”. Sudah nggak zaman, kita bersikap abai dan nggak mau tahu dengan kondisi lingkungan yang “sakit”. Semangat untuk berhemat energi, memilih sikap ramah lingkungan, itu semua wajib banget teraplikasi dalam hidup sehari-hari. Kayak gini nih. Kita semua ngerti lah yaa, kalau hemat listrik itu menguntungkan diri kita (irit biaya) plus positif banget untuk menghemat sumber daya.

Sekarang, coba kita lihat hidup sehari-hari aja lah. Andaikata ada yang ngingetin, “Eh, jangan boros listrik yak. Kalau TV-nya nggak ditonton, better dimatiin aja colokannya!” Gimana respon (mayoritas dari) kita? Haqqul yaqin, jawaban yang paling sering didengar adalah, ”Bawel amat sih? Aku kuat bayar listrik kok! Duit duit aku ini!” Ya kaan? Ya kaaan?

Naaah, kata mas Gilang nih, Earth Hour ditujukan untuk menggugah kesadaran kita. Bahwa, dengan mematikan lampu selama 1 jam, itu sama artinya sebuah kontemplasi dan sarana efektif agar kita siap peduli dengan lingkungan. ”Bukankah dengan merasakan gelap, maka kita bisa menikmati indahnya terang?” gitu kata Mas Gilang, sambil (sok) berfilosofis. Eaaaa…

That’s why, tahun ini, Earth Hour mengambil slogan 60+. Yang jadi titik berat adalah, APA yang kita lakukan (dan menjadi habit) setelah program “gelap-gelap romantis” selama 60 menit ntuh. Apakah kita jadi tergerak untuk bertransformasi menjadi manusia cinta lingkungan, atau… justru kita tetap “bebal” dan sama sekali bersikap ogah ribet dan gak mau tahu soal lingkungan dan sebagainya.

Komitmen Sheraton untuk Make a Green Choice

Yang sangat-sangat wajib untuk diberikan standing ovation adalah Sheraton Surabaya Hotel &Towers. Awesome banget nih hotel. Secara, biasanya hotel bintang lima kan, urusannya hanya business, business and business. Nah, hotel kece ini punya diferensiasi yang luar biasa. Bisnis, kudu sejalan dengan upaya mereka untuk menyelamatkan bumi yang kita tinggali. Kata Bapak Noviadi Suryadarma, Direktur Operasional Sheraton Surabaya, hotel ini sudah berpartisipasi dalam kampanye Earth Hour sejak 2009!! Wooowww bingiitsss kan?

Semenjak berkontribusi aktif dalam program ini, Sheraton menghadirkan beragam terobosan yang bikin kita berdecak kagum “wow… wow… wow…” Beberapa komitmen mereka adalah: Target 2015, semua peralatan yang dipakai Sheraton ditargetkan non-HCFC (hydrochlorofluorocarbon) alias haram hukumnya mengandung bahan perusak ozon.

Selain itu, “Untuk bahan food and beverages, kita juga menggunakan 70,1% bahan lokal. Harus memprioritaskan pembelian produk lokal, karena biaya transportasi lebih rendah sehingga ramah lingkungan,” tambah Noviadi.

Kalau kita blusukan ke Hotel yang sebelahan ama TP ini, kerasa banget “aura cinta lingkungan” yang tersebar di seluruh penjuru hotel. Contoh kecil dan tampak “sepele” nih, tentang pemilahan sampah. Di SEMUA spot tempat sampah, selalu dibagi dua jenis, yang “trash” ama yang “recycle”. Widih, semua tamu bener-bener dikondisikan untuk cinta lingkungan dan praktik langsung!

Trash? Or, recycle?

Trash? Or, recycle?

Dan ternyata, kalau tamu mau berpartisipasi dalam “Make a Green Choice” program ini, ada reward membahana yang disiapkan Sheraton looh. ”Tamu mendapatkan poin SPG (Starwood Prefered Guest). Kalau poin sudah mencapai nilai tertentu, bisa ditukarkan dengan berbagai hadiah. Di antaranya, merchandise unyu, voucher dinner di Sheraton (yang menunya bikin mouth-watering ituuuuh), sampai menginap GRATISSS di jaringan hotel Sheraton di seluruh dunia….! Kereeeen kaaan??

Ingin tahu lebih banyak soal SPG? Bisa nanya ke mas2 di lobi Sheraton yak

Ingin tahu lebih banyak soal SPG? Bisa nanya ke mas2 di lobi Sheraton yak

Bukan hanya itu. Terobosan lainnya adalah terkait pelaksanaan meeting yang hemat energi, hemat duit dan berkontribusi banget untuk planet ini. Nama programnya : Sustainable Meeting Practices (SMP) Maksude opo? SMP?? Sudah Makan Pulang?? Huehehehe **guyonan wong lawas** :p

Gini lo. Kita tahu sendiri kan, kebanyakan manusia menghambur-hamburkan dan memproduksi banyak sampah setelah melakoni meeting di hotel. Contoh kecil aja. Manakala di meja kita ada kertas plus bolpen gratisan dari hotel, apa yang kita lakukan? Yeppp, mencorat-coret itu kertas, tanpa ada tujuannya, dan berakhir di….? Tempat sampah. Padahal, kalau tahu gimana sejarahnya itu kertas bisa nangkring di depan kita, maka kita pasti bakal mikir dua kali untuk orat/oret dan buang kertas seenak udel.

Kalau klien yang mau meeting bersedia memilih program SMP ini, tim Sheraton akan meng-create venue rapat yang bener-bener ramah lingkungan. Clutter Free Meeting set up, dimana kertas, bolpen, bahkan air minum, semuanya ditaruh di bagian belakang, bukan di meja masing-masing peserta. Tujuannya? Biar yang beneran butuh akan mengambil sendiri, dan enggak nyampah!

Sustainable Meeting Practices. Irit dan ramah lingkungan

Sustainable Meeting Practices. Irit dan ramah lingkungan

???????????????????????????????

Dek Rio (bukan Febrian) jelaskan konsep SMP ke blogger

???????????????????????????????

Kereen kan? Semua ditaruh di satu meja khusus. Biar enggak nyampah dan enggak mubadzir

Duh, kalau diminta cerita kerennya Sheraton, kagak bakal kelar-kelar nih postingan *lap jidat* Yang jelas, Sheraton sudah mendulang beragam award, tentunya berkaitan dengan komitmen yang kuat dalam hal menyelamatkan people dan planet. Yap, bisnis yang sehat memang enggak hanya berpikir soal profit kan?

Yang jelas, wawasan saya kini sudah terbuka lebaaaar. Bahwa, Earth Hour dan Sheraton adalah “sepasang jodoh” yang memberikan pengayaan batin pada kita, bahwa bumi adalah “harta berharga” yang nggak boleh kita kesampingkan.

Analoginya begini deh. Kalau mobil kita rusak, maka kita masih punya solusi untuk bawa ke bengkel. Tapiii, kalau bumi kita acakadut, bobrok, amburadul, gegara fakirnya kepedulian kita?? Dengan apa, kita cari gantinya??

Sooo… mulai dari sekarang, teruslah bikin komitmen untuk makin cinta lingkungan. Antara aku, Sheraton Hotel, dan Earth Hour…. ada cinta di sanaaa…..

???????????????????????????????

PS: Jangan lupa, hadir di acara Earth Hour di Sheraton Hotel Surabaya, Jl. Embong Malang 25-31 Surabaya. Sabtu, 28 March 2015 mulai jam 8 malam. See ya :))

Mau Jadi Blogger? Kudu Skeptis! (Liputan Workshop Kompas Muda)

Ketika gairah blogging itu menurun, maka kita butuh suntikan “doping” baru. Salah satunya, dengan datang ke acara kopdar blogging. Atau, ikut workshop asyik yang menghadirkan pemateri mumpuni. Nah, kali ini saya ikutan acara Kompas Muda, di Taman Safari Indonesia Prigen-Pasuruan, Selasa, 16 Maret. Yeap, namanya juga Kompas Muda. Maka, para peserta haruslah orang-orang (berjiwa) muda. Karena apa? Because, age is nothing but number :)) *uhuks* *olesin krim anti-wrinkle*

Topik seputar ngeblog/menulis dibawakan dengan amat interaktif oleh Wisnu Nugroho (@beginu). Yupsss, si penulis buku Pak Beye dan Istananya yang fenomenal itu! Sementara topik fotografi, diusung dengan amazing banget oleh the one and only….. Arbain Rambey…!!

Ada dua hal signifikan yang di-share oleh Wisnu Nugroho di acara Blog & Fotografi Workshop kali ini. Pertama, mengenai sikap dasar yang harus dimiliki penulis. Kedua, tips praktis supaya tulisan kita menemukan pembacanya. Kali ini, saya bahas materi pertama dulu ya. InsyaAllah, tips Praktis akan saya ulas di postingan berikutnya. Soal tips foto ala Arbain Rambey, semoga-semoga-semogaaa…. saya tulis juga di postingan selanjutnya *cross my finger*

IMG_0775 IMG_0926

SIKAP DASAR yang Harus Dipunyai Blogger

Sikap SKEPTIS harus dimiliki seorang penulis/jurnalis/blogger. Kita dilarang keras jadi orang yang “gampangan”, “naif”, mudah percaya pada apapun yang disampaikan orang lain/sumber-sumber yang berseliweran di dunia nyata maupun maya. ”Kita ini eranya BANJIR informasi. Anda tahu, apa yang paling banyak tertinggal atau menumpuk ketika banjir? Yap, SAMPAH. Di twitter dan di manapun berseliweran segala info. Butuh usaha lebih keras bagi kita untuk memilah sebuah kebenaran,” kata Wisnu.

Apalagi, KEBENARAN yang dipegang seorang wartawan adalah “Kebenaran yang Merangkak”, bukan kebenaran yang absolut. Kebenaran hari ini belum tentu menjadi kebenaran hari esok.

Setelah punya sikap Skeptis, hal kedua yang harus kita lakukan adalah: melakukan konfirmasi. “Ketika mendapatkan sebuah data, jangan langsung dimuntahkan ke pembaca kita. Harus dikunyah atau diolah dulu,” lanjutnya.

Ini dialami Wisnu ketika ia jadi wartawan Istana Negara. Saat itu, Presiden SBY tengah mengampanyekan gerakan “Cinta Produk Indonesia”. Tentu, kampanye ini harus dijalankan oleh jajaran pejabat dan petinggi Negara kan? Nah, dasar punya sikap skeptis, Wisnu mencoba untuk “membidik” dari kegelisahan lain. Apa yang ia lakukan?

Aslinya, bang @beginu ini keren loh. Tapi, kalo dipoto kenapa mirip Soleh Solikun yak?

Aslinya, bang @beginu ini keren loh. Tapi, kalo dipoto kenapa mirip Soleh Solikun yak?

Suatu ketika, digelarlah program buka puasa bareng para pejabat di Istana Negara. Wisnu sengaja datang telat. Nah, di tempat rak sepatu tamu, ia melihat jejeran sepatu, yang mereknya sama sekali asing untuk dia. Salah satunya, sepatu Cesare Paciotti. Jepreeet…! Langsung di-capture, dan ia meng-googling berapa harga sepatu bermerek Cesare Paciotti itu. ”Anda tahu, harganya 17 juta rupiah…! Langsung foto itu muncul di Kompas keesokan harinya, dan menimbulkan gejolak. Karena ternyata pejabat kita menganut mental ‘Patah Hati’ untuk program Kampanye Cinta Produk Indonesia ini. Anda tahu kan, slogan orang-orang yang patah hati? Mencintai tak harus memiliki…” cetus Wisnu disambut tawa para peserta. Eaaaaa…!!

Eh, rupanya tim Istana Kepresidenan merasa malu dengan hal ini. Tapi, solusi yang diambil sungguh menakjubkan! Bukannya memerintahkan seluruh pejabat untuk mengganti sepatu mereka dengan produk lokal, mereka justru membungkus semua sepatu tamu dengan cover putih! Ha ha haa.. Bener-bener “cerdas”…!! (tentu ini sarkasme yak)

Dalam dunia logic, argumentasi muncul, karena ada dua kebenaran yang dikontestasikan. Wisnu memegang “kebenaran” dia selama jadi jurnalis di Istana Negara. Dia bisa melihat “kebenaran” yang tidak diungkapkan oleh Juru Bicara Istana dan seluruh pejabat yang ada. Dan, ini memproduksi sebuah buku yang “wow”, bisa dibilang anti-mainstream, serta diminati publik (best seller, dan sama sekali bukan tipikal buku yang diborong pemerintah).

Skeptis. Lakukan Konfirmasi. Jangan langsung muntahkan semua data. Kunyah dulu. Olah dulu. Itu…!

I Hate You, Nyamuuuk…!!

Sebagai manusia yang pernah kejangkit penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD), saya ngerasa nyamuk adalah musuh bebuyutan. Banget! Waktu itu, saya terserang DBD ketika masih duduk di bangku SMP. Tapiiii, weiiitss, rasa sakiiiitnya tuh di sini masih kerasa sampe detik ini. Saya ngetik postingan ini sampe sebeeelll ama geng nyamuk ntuh.

Bayangin aja. Cewek unyu yang masih pake baju putih rok biru itu kudu merelakan MIMISAN plusss pusing tak terperi. Doi kudu merelakan hari-hari bahagianya semasa menggapai ilmu harus terhenti sejenak, dan merasakan cublesan infus yang arrrgghhhh… !(*(^$%$%&()(

That’s why, pas lihat Tetangga Masa Gitu (TMG) episode fogging, saya sangat bisa berempati dengan apa yang Bintang rasakan. Yes, I feel you, Bee! Aku juga sama paranoidnya dengan nyamuk-nyamuk yang enggak punya sopan santun tata krama ntuh!

Begitu punya anak, bbeughh… gimana caranya, anak saya kudu steril ama gerombolan si nyamuk. Sayangnya, Surabaya tuh, udah jadi semacam “basecamp” dan lokasi “arisan” para nyamuk. Kalah deeh, si Fifie Buntaran ama Mimi Barbie. #krik

Naaah, ini waktunya untuk puter otak dan mikir tips apa aja ya, yang efektif untuk menghalau “pasukan begal darah”. Saban Sidqi mau tidur, saya punya beberapa tips yang semoga bisa dipraktekin sama para emak sejagat raya.

  1. Kudu pipis, gosok gigi, wudhu

Kenapa? Ya, supaya bersih dan seger. Maklum lah ya, yang namanya bocah so pasti aktivitasnya seabrek. Kuman nempel dimana-mana. Biar bisa tidur dengan nyenyak, wajib  banget hukumnya untuk melakukan ritual pipis, gosok gigi dan wudhu.  Eh, iya, pernah baca Hadits kalau yang wudhu sebelum tidur, bakal didoakan oleh Malaikat loh. Aamiiin.

  1. Pasang kelambu

Yoi. Semua tempat tidur di rumah saya dilengkapi dengan kelambu! Tambah sumuk dong? Yoi banget. Tapii, gimana lagi? Biasanya nih, untuk mengurangi rasa sumuk, saya sedia kipas atau, kardus partisi yang ada di box air mineral gelas itu loh. Lumayaaaaan, bisa buat kipas-kipas, hehehehe….

  1. Berdoa

Doa sebelum tidur, kayaknya semua bocil hapal deh. Kalau artinya? Nah, ini dia. Saya selalu ajak Sidqi baca doa PLUS artinya. “Ya Allah, dengan menyebut nama-Mu, aku hidup dan dengan menyebut nama-Mu, aku mati.” Dengan begitu, haqqul yaqin, tidur kita lebih berkah dan berkualitas

  1. Sedia Ceplesan (raket) Nyamuk

Yakali, ada nyamuk yang berhasil menembus barikade kelambu. Sini, siniiii… sebagai emak penghobi badminton, saya sigap men-smash itu nyamuk… dengan membabi buta… Ceplesssss…!! Nyamuknya pun wassalam.

Etapiii… kalo semuanya udah pada tidur dan kagak ada yang stand by buat melawan hegemoni nyamuk, pegimana dong?

Tenaaaang…  Untunglah Baygon punya inovasi yang mantap-surantap. Baygon Liquid Elektrik. Terbukti, nih Baygon punya “radar” yang kuat sehingga bisa menangkap nyamuk yang tersembunyi, haaap!!

Simak videonya ya, Bu Ibu….

https://www.youtube.com/watch?v=a6OeZkX9tcw

Wiiih, kalo udah ada inovasi yang top-markotop kayak begini, para emak kagak perlparanoid yak. Semua nyamuk bisa diberantas tuntas taas taaas oleh Baygon Liquid Elektrik! Ekonomis, nyaman, aman dan hemaaaat J #khasemakmasakini

Tetangga Masa Gitu?

Yak, bener, sodara-sodara. Saya mau bahas sitkom yang sukses bikin saya “kecanduan”. Saban hari oprek-oprek youtube, demi nemuin episode terbaru Tetangga Masa Gitu (TMG). Enggak tahu kenapa nih, channel Net kok surem bin burem gitu, di rumah saya ya? Huhuhuhuuu…

Intinya gini sih, saya angkat semua jempol buat sutradara, penulis skenario, kreator dan semua muaa yang terlibat di TMG. Kuaaat banget nih sitkom. Kalo menurut saya nih, sebuah sitkom akan bertahan lama, kalau karakternya kuat. Sekedar info aja, ada empat karakter utama yang selalu muncul di tiap episode TMG

Adi (diperankan Dwi Sasono) : suami yang minta dipitesss banget. Pemalas akut. Doyan menggantungkan hidup pada istri. Enggak malu minta-minta ke tetangga. Ngerepotiiin banget. Nyaris enggak ada bagus-bagusnya deh. Tapiii, doi asik diajakin ngobrol plus curhat, walopun suka malakin pasien curhatnya. Doooh, minta ditujesss kan?

Angel (diperankan Sophia Latjuba): si mbak cantik yang super-duper-irit-cenderung-pelit walaupun dalam sebuah episode, diceritakan kalau si mbak ketjeh berats yang kerja di law firm ini bergaji TIGA PULUH EMPAT JUTA per BULAN! Wowww…! Gilingaaan… eikeh kudu nabung bertahun-tahun buat mencapai gajimu sebulan, mbaakkkk #lah,malah curcol

Bastian (diperankan Deva Mahenra—bukan Mahendra) : Ganteng sih, tapi rada tulalit. Suka enggak nyambung kalo diajak ngobrol. Romantis—bahasa superhalus dari gombal gembel abisss. Tapi, karena ganteng, ya termaafkanlah yaa. Maka dari itu, si lo la (loading lama) ini bisa memikat hati Bintang, istrinya.

Bintang (diperankan Chelsea Islan) : Saya sukaaaa banget ama Chelsea gegara dia main jadi Bintang. Menurut saya, Bintang adalah Chelsea dan Chelsea adalah Bintang. Masuk banget! Doi nih wikipedia berjalan. Extraordinary deh, pinternya kebangetan… Tapi, anehnya, dia cinta banget ama suaminya yang tulalit itu.

Naaah, beberapa waktu lalu, saya kan sempat ketemuan ama Bang WishnuTama **tsaaah, sok ikrib bingits** Bang Tama nih, orangnya (menurut saya) asik bangets. Masa’ kita janjian lewat twitter, ajah gitu loh. Please bear in mind, doi CEO Net loooh!

Nah, dari hasil obrol-obrol singkat kita, pada intinya Bang Tama menggarisbawahi bahwa yang membedakan Net dari acara TV pada umumnya adalah, “Net itu tayangannya harus yang realistis. Kita angkat kehidupan manusia beneran. Seperti di TMG, ceritanya itu kan sehari-hari banget. Mereka manusia dan pasutri biasa, yang punya cerita seperti yang dialami orang kebanyakan. Jadi, walaupun TV-TV lain sibuk nayangin manusia jadi serigala lah, waaah… kita enggak akan bikin yang aneh-aneh macem gitu.”

Ho ho. Jlebbb banget, tapi benerrr kan ya. So far, saya emang “nyaman” dengan tayangannya Net. Si TMG ini jagoan saya banget. Yang lebih asyik lagi, ternyata TMG men-challenge kita, para pemirsa, untuk ikut kirim naskah skenario! Buat pemenang, ada hadiah yang menggiurkan banget dan bisa ditayangkan jadi salah satu episode TMG loh. Maauuuuuu J

Hanya bermodal imajinasi dan tentu saja, kudu berpijak pada ke-4 karakter di atas, kita bisa meng-create cerita TMG. Saya udah bikin loooh. Kamu? Kamu? Hayuk, what are you waiting for?

Orange, Orange, Orange Everywhere….!

In response to The Daily Post’s weekly photo challenge: “Orange you glad it’s photo challenge time?.”

Bicara soal orange, sudah pasti saya keinget Hotel Harris. Nih hotel corporate identity-nya always Orange yang cheerful, hangat dan bersahabat gitu kan ya?

That’s why, pas ngebolang ke Malang, kita sempetin tuh poto2 di sekujur hotel Harris. Oraaaangeee everywhere…! Suka suka sukaa…! :))

Resto Outdoor Harris Malang

Resto Outdoor Harris Malang

IMG_20150218_152649

Lobinya guedheeee tapi enggak “mengintimidasi”

IMG_20150218_152639

Pengin ceburrrrr kan??

IMG_20150218_152755IMG_20150218_152801IMG_20150218_152803

Selfie di Nabawi

Siapa doyan selfie sukaesiiiih?

Sebenernya saya nggak terlalu doyan selfie. Sadar diri booo, dengan tampang bantal yang penuh dengan gelambir di sana-sini, ha ha ha. Jadinya, saya beberapa kali, ambil selfie, hanya untuk konsumsi sendiri, alias “muhasabah wajah”. Mengecek berapa jerawat, komedo atau wrinkle yang bersemayam di parasku yang apa adanya ini. *sadar umur, hi hi*

Tapiii, ada satu selfie yang berkesan banget. Selfie ini saya ambil pakai tangan kanan, dengan kamera casio (yang sekarang udah almarhum). Berdua dengan ibunda tercinta, ketika kami tengah berada di sebuah destinasi impian. Satu (not ordinary) travel bucket list, yang sudah saya impikan sejak duduk di bangku SD alias umur 7 tahun! Waktu itu, setiap dengar kalimat talbiyah “Labbaik… Allahumma Labbaik….” dada saya bergemuruh. Sarat dengan rindu yang begitu menyayat kalbu. Allah… suatu hari nanti, panggillah hamba-Mu yang hina ini ke rumah Engkau…

Jangan pernah remehkan impianmu. Teruslah peluk mimpi-mimpi, sembari terus rapalkan doa, tengadahkan tangan dan tundukkan hati, bermohon pada Sang Penggenggam Kehidupan. Allah selalu punya entah-tak-terhitung-banyaknya cara dan metode untuk memuluskan sebuah cita. Mimpi itu, tercapai, 22 tahun kemudian. Ya, Alhamdulillah… saya diundang oleh-Nya ke Baitullah, di usia 29 tahun…!

Barangkali, setiap manusia akan merasakan sensasi yang sama, ketika kali pertama menginjak Masjidil Haram, Mekkah. Begitu pula, ketika kita tunaikan sholat Arba’in (40 waktu) di Masjid Nabawi, Madinah. Masjid ini tak hanya megah dan indah secara arsitektural dan teknologi. Masjid ini juga menawarkan seberkas kesejukan, yang membuat kalbu kita merindu. Ingin senantiasa berakrab dengan Yang Maha Menghidupkan. Masjid ini, dengan segala pesonanya, sanggup membuat kita ingin kembali….lagi, lagi, dan lagi….

Ternyata, ketika saya berhaji bersama ibunda di Oktober 2010, Madinah sedang dilanda cuaca yang amat sejuk, cenderung dingin. Badan saya (sebagai wong Jowo asli) kerap kesulitan beradaptasi dengan cuaca ini. Dalam perjalanan menuju Nabawi dari hotel, tetiba, darah mengucur dari hidung. Saya mimisan! Ouch! Mana saya nggak bawa tisu lagi! Ibu (sebagai smartfren saya) ikut panik, sambil sesegera mungkin mengajak saya ke sumber air zamzam yang banyak terhampar di pelataran Nabawi.

Eh, syukur Alhamdulillah, seorang pria berparas Timur Tengah (lumayan ganteng, bihihik) mengangsurkan tisu yang ia genggam untuk saya. Kami tak saling mengenal, hanya berpapasan begitu saja. Ya Allah… ternyata “malaikat” Engkau bertebaran di mana-mana…

Usai mengelap darah yang bercokol di rongga hidung, saya dan Ibu langsung menekan kran air zamzam. Di mata Ibu, saya selalu menjadi bayinya. Apalagi, dalam kondisi “berdarah-darah” seperti ini, afeksi Ibu tampil begitu dahsyat. Refleks, ibu menyodorkan gelas berisi zamzam ke arah saya. Laksana bayi yang tak bisa pegang gelas sendiri, saya langsung menyeruput, tentu sembari merapalkan doa, :Allahumma inni as-aluka ‘ilman naafi’an, wa rizqon waasi’an wa syifa-an min kulli daa-in” Ya Allah, kami memohon kepada-Mu, ilmu yang bermanfaat, rizqi yang melimpah, dan kesembuhan dari setiap penyakit….

Selfie di (pelataran) Nabawi. Lihat latar belakangnya, banyak payung raksasa yang mengembang, sebagai sarana berteduh bagi jamaah sedunia

Selfie di (pelataran) Nabawi. Lihat latar belakangnya, banyak payung raksasa yang mengembang, sebagai sarana berteduh bagi jamaah sedunia

Harus diakui, “iseng” is my middle name. Tatkala Ibu menyuapkan air zamzam ke “bayi gede alaihim gambreng” ini, tangan kanan saya kontan memencet tombol ‘capture’ di kamera. Jepreeettt! Ahaiiii… Ini dia, foto wefie yang enggak terlalu wefie. Dua paras ibu dan anak ini tak bernarsis ria menghadap kamera. Namun, kami sama-sama larut dalam sebait doa, merapal harapan yang teralamatkan pada Yang Maha Kuasa… senyampang air zamzam membasahi kerongkongan… Subhanallah….

Well, menurut saya, itulah urgensi selfie/wefie. Kita bisa banget kok memproduksi foto-foto hasil selfie, tanpa harus memuntahkan hasrat narsis akut yang tak terperi. Selfie adalah sebuah sarana kontemplasi. Perwujudan rasa syukur, sekaligus sarana kita untuk “melompat” lebih tinggi lagi.

Saya yakin, impian yang menggelegak dalam dada, atas izin Allah, bisa mewujud, apabila kita percaya dan punya azzam (tekad) kuat untuk membuat cita-cita kita bukan sekedar angan belaka.

Somehow, tausiyah Ustadz Felix Siauw tempo hari (yang sempat jadi kontroversi) harus kita kunyah dengan hati dan kepala dingin. Selfie is okay, apabila niatnya untuk muhasabah diri. Untuk lebih menggali dan berinstropeksi, sudah sejauh mana jejak langkah yang kita torehkan, atas nama perbaikan. Bukan sekedar ‘iseng tanpa makna’.

Selfie saya di Nabawi, adalah bukti tentang hal itu. (*)

http://www.smartfren.com/ina/home/

Nostalgi(l)a Kerja di Tipi

Hai, apa kabar blog? **plaaak* ditabok

Keasikan ikutan kuis main instagram (follow saya di @bundasidqi yaaah), blog ini jadi agak ke-anak tiri-anak tiri-an deh. Huhuhu *mewek.

Baiklah, mau cerita yang enteng-enteng dulu ajah ya. Sebagai pemanasan setelah sekian lamanya daku tak bergumul **et dah, (((BERGUMUL))) dengan blogging dan sodara-sodaranya.

Eh, kapan hari itu, Mak Lies sempat posting, kalo anak prewin beliau mupeng berats jadi jurnalis TV. Wohooo… kok aku jadi menyaksikan dirikuh sendiri 10 tahun yang lalu yak? Waktu itu, aku baru aja lulus dari jurusan Ilmu Komunikasi di salah satu perguruan tinggi surabaya, sebut saja Universitas Airlangga 🙂

Begitu lulus, rasanya udah kagak sabar join jadi salah satu punggawa Liputan 6 SCTV. Iiihh… ngetiknya sambil gemeteraan iniiiih hihihi. Sejak dulu kala, aku ngefans berat ama Jeung Ira Koesno, Rosiana Silalahi, apalagi kakak Arief Suditomo. Duh, duuuh *l heart you :))

Setelah melewati rangkaian tes yang alakazaaam (kalo gak salah 5 tahap deh), akhirnya aku kudu wawancara langsung dengan Duo Big Boss-nya Liputan 6 SCTV. Yuppiess, duet mauttt Karni Ilyas plus Don Bosco Salamun. Ya ampyuun, yang namanya anak bawang yak, kudu sabar nungguin duo om2 itu nyelesaiin kerjaan mereka. Aku udah yang mati gaya, nungguin wawancara dari jam 9 pagi sampe jam 4 sore aja gitu dooong *sigh*

Lupa materi pertanyaannya apa. Yang jelas, Alhamdulillah, si bocah unyu bin innosens ituh dinyatakan diterima jadi Reporter Liputan 6. Yipppiii…!

Zaman segitu ya, tahun 2004-an, Liputan 6 adalah paket berita yang paling ngehittss. Jadi, kalo diriku lagi nyari berita di acara apapun, rasanya kayak “nyonya besar” yang paling dinanti kehadirannya gitu loh. Hahaha. Padahaaaal, gimana aslinya kerja di TV? Remeeeek boook. Capeeek. Bingiiiitss.

Bayangin azah. Daku kudu berangkat dari rumah JAM TIGA PAGI ((yes, kagak salah baca, jam TIGA PAGI)) untuk siap-siap bawain acara Liputan 6 Jatim. Udah ngantuk2 gitu kaan? Trus, abis siaran, kudu LIPUTAN jelajah kota, stand by terussss sampe jam DELAPAN MALAM! Dan, itu teruuuus terusan kayak begindang. #glek.

Tapi, entahlah, mungkin karena I did it passionately dan cintaaa banget ama tuh kerjaan, plus umur saya kan masih muda banget lah yaaa… jadinya saya lumayan enjoy lah, kerja di sana. Yang sulit banget dilupakan dari kerja di industri TV adalah: aneka hal remeh-temeh yang keliatannya sepele, tapii heeiii… nggak bisa dianggap sebelah mata 🙂 Dan, kalo pengin tahu soal pernak/pernik kerja di TV, pentiiiing banget mantengin The East di NET TV!

Acung jempol buat tim kreatif di NET! Ya ampyyyun akang WishnuTama and the gank emang superb abiss deh. Belum reda rasa sukaaa saya ama Tetangga Masa Gitu, eh, sekarang mereka come up dengan “The East” yang–walopun agak2 kaku dikiiiit–tetap bisa bikin saya mengenang masa lalu *jiyaah*

Iya lo. Karakter2 yang ada di situ kumplit banget. Model2 bos nyinyir-jutek-judes, trus produser yang terperangkap antara kudu be-nice ama bosnya plus ngemong staf, ada karyawan penjilat, karyawan o’on, karyawan yang doyan ngutang, hahaha… Kewreeen nih! Office politics-nya juga unyuu deh.

Pokoke, jangan lupa nonton The East yak.

Jadwalnya?

Errrr…. lupa 😦 Aku biasanya mantengin via youtube. Yang episode perdana, ada Dian Sastro loooh! Walo muncul sebentar, tapi lumayaaan lah. Bisa ngobatin rindu plus nostalgi(l)a kerja bin hectics di Tipi, hehehehe…

[EF#6] Again, About Alter Ego

Just in case you haven’t read my previous post about “Alter Ego” in Indonesian, let me tell you, that I have to confess : I have more than an alter ego.

I could be very calm. In another time, you can see me as a very sharp-tounged mommy. While I’m in “a trance condition”, I could be the one that I myself can’t recognize “Who am I? Is it really @nurulrahma?”

IMG_0083 IMG_0084 IMG_0086

However, I should be grateful for having this plural egos. As a blogger/ freelance writer/ columnist, imaginations is very very important things. Life is never flat. Because I can see all the circumstances, with various point of views.

For example, when I go to a food court with my family, at weekends. Lot of people overthere. We want to be served as quick as possible. A little bit ‘chaos’ here and there. Some people yelled, “Where is my dish???” “What a very sloooow waiter?” “Come on!! I’m hungry and you guys still have not cook my meals yet?”

My egos will say:

As an angel wanna-be: “Oh my God. Please be patient, guys. Let the chef and waiters do their best. Don’t expect too much. Everybody’s going here for having fun, right? Please… calm down…

As a careless person: “None of my business!”

As a kepo (knowing every particular objects) person: “Ummm… by the way, why that guy intimidates the waiter? Is he that rich and powerfull enough? Or… he thinks he’s the (kind of) twitter-warrior, who can invite another guy to fight at GOR Istora Senayan? :p”

As a terrible and sharp-tounged-lady:  “What the f**ksss!! Do you think everybody will support you, hey bast**rd!! We don’t care whether you got your dish as quick as you wish or not, but heiiii, please bear in mind, that everybody’s seeking happiness right now!! And you just screw it up!”

As the “real ego” @nurulrahma: “Just count my blessings. I’m not that waiter. I’m not that mad customer. I can go here with my family, order a yummy meal, enjoy my weekends. I just feel free… **dancing ala Syahrini**

See?

Thanks to my “alter egos”. They drive me a little bit “crazy”, but I enjoy them so much. At some points, I can be cheerful and feel so sad at the same time. Maybe some people consider it as a anomaly, but I’m fine with that J

While joining BEC and writing this post, my egos always debate each other. Some said, “Come on, why you should join this blog club? There is no advantage for you! You work at a local foundation, it does’nt need the English skill at all! Besides, you no longer practice your English, and it’s impossible if you can beat those challenges!!”

But, finally, I can beat this ego. And my “angel wanna be” said, ”Just do it! No matter what, just develop your post and show it to the world! It always seems impossible until its done.”