Wahai Anak Muda, Menikahlah SEBELUM Kalian Mapan!

Ustadz Umam–pengasuh Pesantren Anak Sholih–terbata-bata berbicara di depan khalayak. Antara haru dan bahagia, ia berkisah soal kelahiran putra pertamanya. Di ujung cerita, ia berujar, “Ada satu kutipan yang saya baca di social media. Kurang lebih, bunyinya seperti ini: 

“Wahai anak muda, menikahlah SEBELUM kalian mapan… Agar anak anda dibesarkan bersama kesulitan Anda…. Agar anda dan anak anda kenyang dengan betapa besarnya keajaiban Allah… Jangan sampai anda meninggalkan anak anda dalam keadaan tidak paham akan arti hidup, bahwa hidup adalah perjuangan….” 

Jleb. 

Nih quote of the day banget nih…

Dari dulu, saya tuh mendambakan punya suami yang udah mapan banget. Jadi saya nggak perlu kelewat rempong untuk menuhin kebutuhan susu, popok, pampers, baju dan printhilan-printhilan barang-barang khas keluarga kecil itu. 

Daaan… terus terang, saya–mungkin seperti yang dirasakan jutaan ortu lain–sama sekali enggak pengin, anak kita MERASAKAN KESULITAN YANG SAMA seperti yang kita rasakan tatkala kita kecil dulu. 

Ya kan???

Saya enggak pengin anak saya kulitnya jadi menggosong, kena panasnya Surabaya yang “ala neraka bocor” itu. 

Saya enggak pengin anak saya menghirup kadar polusi udara yang segede dosa. 

Saya enggak pengin anak saya mengkaing-kaing kelaparan, nangis tanpa bisa keluarin air mata. Huh. Ternyata, saya SALAH.

Sikap memisahkan anak dari “kesulitan hidup” justru membuat anak kita ogah berpayah-payah, tak mau berlelah-lelah untuk mendapatkan apa yang dia dambakan. Sikap ortu yang over-sayang banget itu, bakal bikin anak kita jadi gampang cranky, manja, dan jadi generasi instan. 

Duh. 

Sidqi @Ciputra World

Sidqi @Ciputra World

Kok saya jadi khawatir banget yak? Bukan berarti saya dan suami sudah ada di zona SANGAT MAPAN sih, tapi, memang kudu diakui bahwa kita berdua nyaris menjauhkan Sidqi dari berpayah-payah. 

Dudududuududuuuuu…. semoga belum terlambat. Semoga Allah masih beri kami kesempatan, kekuatan, dan ‘ketegaan” untuk bisa melatih Sidqi. 

 

 

 

Advertisements

44 comments

  1. Catatannya Bu Dyah · July 17, 2014

    Alhamdulillah saya dan suami sudah memiliki anak saat kami belum punya apa2. Kedua anak kami merasakan perjuangan kedua orang tuanya melakukan berbagai penghematan agar kebutuhan utama bisa terpenuhi.
    Sekarang mereka tidal pernah menuntut jika kami jarang membawa mereka ke tempat yang tidal penting(baca:mall) kecuali kami benar2 ada yang harus dibeli di tempat itu. Mereka juga tidak protea jika jarang dibelikan baju seperti teman2 mereka dan berusaha memahami apa yang lebih mereka butuhkan disbanding yang mereka inginkan.

    Met puasa Mbak. Tinggal sepuluh hair lagi. Sepuluh hair yang luar biasa

    • bukanbocahbiasa · July 18, 2014

      Masya Allah… bener banget Bu Dyah… Sudah seharusnya saya sadar dan enggak membiarkan Sidqi terlena dalam zona nyaman bernama konsumerisme. Maturnuwun, Ibu. InsyaAllah, saya akan jadi ortu yang lebih tega(r) dalam mendidik anak. Salam untuk keluarga Ibu 🙂

  2. hildaikka · July 18, 2014

    Subhanallah… bagus banget renungannya. Saya juga pengin nikah tapi belum mapan sepenuhnya. Insya Allah ini bisa mantapin hati saya.

    • bukanbocahbiasa · July 18, 2014

      Ho’oh… mending nikah sekarang aja… punya anak… jadi anak kita ikut tumbuh-berkembang bersama segala “susah” yang kita rasakan. Supaya gak jadi anak hedon
      🙂

  3. wening · July 18, 2014

    Makjleebbb bangeeettt !

    • bukanbocahbiasa · July 18, 2014

      Iyah mbak. Saya juga kudu merevisi parenting style nih. Ihiks 😦

      • wening · July 18, 2014

        Padahal awalnya saya jg mikir biar anak-anak kami kelak gak ngrasain susah.. eh tapi emg bener ya, mereka harus tahu dari nol agar lebih tahan banting, demi mereka juga. Thanks for sharing ya mbak 🙂

      • bukanbocahbiasa · July 18, 2014

        Betul. Mungkin kita emang nggak bikin mereka yang sampe menderitaaaaa gitu. Tapi paling enggak, kita ajarin mereka untuk mau berjuang ketika menginginkan sesuatu. Struggling spirit gitu kali ya.

      • wening · July 18, 2014

        Hehe iyaaa… tambah pelajaran nih Mbak 🙂 Makasih yaaaa. Tapi kalo boleh jujur, saya semakin lihat kesini anak2 justru lebih ‘manja’ mungkin krn itu juga yaa

  4. turiscantik · July 18, 2014

    Tulisannya menarik mbak 🙂

    • bukanbocahbiasa · July 18, 2014

      Makasih sudah mampir di mari ya mbak. Blog turiscantik.com kok jarang di-update yak? Hiks, padahal saya demeeeen banget nongkrong di sana 😦

  5. Dulu jaman niar masih kecil itu diajak susah dari kontrakan sampai pindah rumah kecil di pinggiran kota surabaya, sebenernya yaa ndak susah2 amat cuma yaa ngerasa kok berjuangan banget, mau beli apah2 harus nabung dlu, harus jadi juara kelas dlu baru bisa beli sepeda atau lainnya, untung nya kalau dulu ngak kayak gitu bisa ngerasain susahnya hidup ndak kayak sekrang, harus berjuang lagi, jadi calon suami ku mau yuk berjuang yuk, hahahahahhaha 😀 #kodebanget 😀

    • bukanbocahbiasa · July 18, 2014

      Aaamiiiiinnn…. Niar karena ini bulan Ramadhan, banyak2 bermohon pada ALLAH, supaya Ia memilihkan yang terbaik buatmu…. Percayalah, jodoh yang baik akan dipilihkan Allah untuk muslimah sebaik dirimu… 🙂

  6. Ika Hardiyan Aksari · July 18, 2014

    Saya juga pernah berpikir saya akan menikah setelah mapan.
    Dan saya meng-iyakan kalau kita terlalu mapan takutnya justru anak kita tak bisa sekuat kita yang berusaha dari nol 😦

    • bukanbocahbiasa · July 18, 2014

      Ya udah, nikah sekarang aja mbaa…. semangat, semangat, semangaaaat…

  7. ahmad · July 18, 2014

    Rul, anak itu butuh proses sekalipun perubahan hidup terjadi pada ortunya. tergantung ortunya yang memberi suasana bahwa hidup itu perjuangan dan memberikan contoh yang baik bahwa apa yang diperoleh ortunya berasal dari bawah. Ane nnikah juga berangkat dari tidak punya apa2 bahkan menolak pemberian ortu dan mertua untuk bekal hidup pertama kali di jkt. Dari ngontrak sepetak sampai perjuangan meninggalkan mereka demi sekeping uang dollar di negeri orang sudah aku lalui. tapi ketiga anakku tetap aku didik down to earth. hukum reward dan punisment tetap berlaku dan lambat laun mereka understand bahwa fasilitas yang dia dapat dari ortunya adalah buah dari perjuangan ortunya sehingga mereka bisa memahami dan tidak seenaknya sendiri. Sekalipun semuanya bisa difasilitasi tetap decision making ada di ortunya. Sekarang mereka tidak pernah sekalipun menuntut ini itu karena kepingin seperti teman2nya walaupun sebenarnya bisa untuk dipenuhi oleh ortunya. kadang mesakke juga dan sebagai orang tua pada akhirnya juga menuruti tapi melalui proses yang tidak sebentar.

    • bukanbocahbiasa · July 18, 2014

      Betul mas. Kontrol memang ada di ortu. Btw, ini Ahmad siapa yak? mas Achmad Supardi eks Sby Post?

      • bukanbocahbiasa · July 18, 2014

        Aaaakkk… maappph, maapphh, kak Achmad Affandie yaaa? hihihi… maappphhh… btw, FB sampeyan (sepertinya) dibajak loh. Postingannya serba aduh-aduh-deh. Di-non-aktif-kan dulu aja, napa?

  8. ibrahim sukman · July 18, 2014

    Jadi ingat filosofi orang Jawa: “Sekolahlah yang tinggi nak, agar nasib kalian tidak buruk seperti bapak dan ibu”.

    Jika anak kita dibesarkan dalam kondisi kekurangan, kelak jika mereka besar dan masuk zona nyaman, mereka akan memahami betul bagaimana pahitnya berjuang.

    Dengan begitu, mereka akan menghargai hidup…

    Salam kenal Mak?

    • bukanbocahbiasa · July 22, 2014

      Yep. Kalau segalanya serba nyaman dan serba tersedia, kuatir aja sih, anak2 tumbuh jadi generasi instan, yang ogah berpayah-payah. Salam kenal juga ya…

  9. E. Novia · July 18, 2014

    quotenya kenapa baru nongol sekarang ya? kan bisa saya kasih suami beberapa tahun lalu sblm nikah, hehe.

    Tapi emang betul juga sih, saya melihat beberapa oknum yg dididik dg berlimpangan harta dan cara yg salah. Pas sudah dewasa, kerja aja engga, malah nikah dan tetap tiap hari masih minta duit sama ortu. Kasian ortu kalo gitu.

    Semoga kita tdk menjadi ortu seperti itu ya, Mak. Aamiin

    • bukanbocahbiasa · July 22, 2014

      Aaamiiin, aamiiin…. Walaupun terbilang sudah mapan, insyaAllah semua ortu bisa kok mendidik anak untuk mau berpayah-payah. Semangaaat, semangaaatt!!

  10. andinaseptiarani · July 18, 2014

    Beneran makjleb, Mak.. cara pandang yang ‘beda’ dari pandangan umum, one of a kind.. ‘Hikmah’ menikah sebelum ‘mapan’ bukan cuma buat pasangan itu sendiri ternyata (kalau nunggu mapan banget banget kayaknya bakal lamaaa sampe bisa nikah, hehe), tapi pelajaran berharga buat anak juga 🙂 Thanks for sharing, salam kenal 🙂

  11. Dede Ruslan · July 18, 2014

    terkadang org mau menikah kalau udah punya ini itu, pas bgt nih renungannya 🙂

    • bukanbocahbiasa · July 22, 2014

      Nikah kalau banyak “syarat ketentuan berlaku” malah ga nikah2 yak?

  12. nana · July 19, 2014

    bener bgt mak.. aq kenal 3 orang yg semasa mudanya enak, krg diberi tanggung jawab sama ortu.. skrg ga tau cara mencari nafkah, padahal hampir 30 tahun. menjadi beban ortunya skrg.

    • bukanbocahbiasa · July 22, 2014

      Yep. Intinya sih, kita harus mengajarkan anak kita untuk punya struggling spirit ya. Maacih udah mampir di mari 🙂

  13. indrihapsari · July 19, 2014

    Mapan atau ngga kayanya relatif ya mbak. Begitu kita merasa cukup, ya kondisi itu yg disebut mapan. Keadaan kami memang lebih baik drpd dulu. Scr itung2an mestinya kami ngga bs ini itu, tp memang pertolongan Tuhan datang tepat pd waktunya. Oya meskipun belum mapan tetap hrs bs meyakinkan orang tua kita dong yah, kalau anaknya bakal dibahagiain, dgn mencukupkan kebutuhannya 🙂

    • bukanbocahbiasa · July 22, 2014

      Betul mbak Indri. “Merasa Mapan” itu urusan hati ya? Hehehe… Yang sering jadi ganjelan buat saya adalah, selama ini saya berusaha memenuhi “keinginan” anak saya, bukan sekedar “kebutuhan” dia. Ini yang perlu dikoreksi. IMHO.

  14. Sary Melati · July 19, 2014

    Saya dan suami selalu terbuka dengan anak-anak, termasuk kondisi finansial. Dengan tau kondisi real keluarga, anak-anak jadi lebih bertanggung jawab dan mandiri.

    • bukanbocahbiasa · July 22, 2014

      Saya Kudu banyak belajar ke Mak Sary nih. Secaraaa, punya putra 5 dan mandiri! Keren! Anak saya (masih) satu, dan well, suliiit banget ngajarin kemandirian plus tanggungjawab *lap kringet*

  15. Vinda Filazara · July 22, 2014

    Fix. Ini nih yang dicari-cari.
    Berjuang bersama dari 0 memang akan terasa nikmatnya. Suka duka, tangis dan tawa, semua dirasakan bersama. Hingga nanti saat mencapai puncaknya, disitulah kita akan belajar satu hal ; bersyukur 🙂

    Assalamu’alaikum, Mak 🙂

    • bukanbocahbiasa · July 22, 2014

      Waalaikumsalam… Jadi, jadiii… kapan mau menikah, mbak Vinda? *kedip-kedip*

      • Vinda Filazara · July 22, 2014

        Nah, ini nih. Pertanyaan apa sindiran yak. Hehe.
        Mohon doanya saja Mbak, secepatnya InsyaAllah. Aamiin 🙂

  16. ira nuraini · October 2, 2014

    aku sama suami sepantaran, dan nikah cuma modal SK Pengangkatan Pegawai…hahahaha

  17. Inda Safitri · October 6, 2014

    Mak nurul, TFS ya. Saya sempat menyalahkan diri sendiri ttg keputusan sy menikah sebelum mapan. Karena mungkin jika menikah setelah mapan, ken tidak akan ikut merasakan masa-masa sulit. Wara wiri pindah kontrakan. Tp setelah sy mmbaca tulisan mak nurul, khususnya quote di atas, membuat sy berpikir utk berhenti menyalahkan diri sendiri. membuat sy berkaca pada diri sendiri. sy jg dibesarkan dlm kondisi ekonomi bpk ibuk yg belum mapan. tp Alhamdulillah, sy merasa lebih mandiri daripada adek sy yg saat dia lahir, ekonomi bpk ibuk sdh membaik. Tp ya sudahlah yah. Jadi menurut saya, menurut saya ini loh ya, Mapan atau belum mapan, kuncinya adalah terbuka satu sama lain, antara anak dan orang tua, khususnya dalam hal ekonomi, Insya Allah akan menjadikan anak lebih bertanggung jawab dg keinginannya sendiri. Bukan begitu mak nurul, mak sary melati, dan mak mak semua. : )

    • bukanbocahbiasa · October 6, 2014

      Betul, mak Inda 🙂
      Saya juga sampai detik ini bukan tipikal yang mapaaaan banget…. (itu kalo definisi mapan adalah, punya Lamborghini, Ferrari dll, ala Hotman Paris, heheheh)

      Dan, saya juga berusaha banget untuk bisa menerapkan pola komunikasi yg terbuka, mengapresiasi anak juga.

      Trima kasih sudah mampir di mari ya 🙂

  18. jessmite · October 22, 2014

    Aku dulu tumbuh serba berkecukupan, sekarang membesarkan anak secara hemat dan sederhana, beda banget sama masa kecilku dulu…

    • bukanbocahbiasa · October 22, 2014

      Dan semoga anak2 yang dibesarkan dgn sederhana bisa lebih TANGGUH dalam menjalani hidup ya mak…

  19. dani kedapkedip · July 7, 2015

    Kata mapan itu bagi saya suatu ke harusan, saya belajar dari orang sblm saya(orang di sekitar) yang hidup nya kurang dari cukup dan itu buat keluarga tsb sering cekcok.
    dan istri harmonis + romantis jika suami punya uang, terus apa menurut anda sekalian mapan itu gak jadi alasan buat merubah A menjadi Z,
    ya saya sendiri contoh nya yang menunda niat untuk serius dan pernah meminta pacar untuk cari yang lebih baik lagi dari saya.
    Yaaaaa inti nya saya BELUM MAPAN dan belum siap seperti keluarga di atas tadi.
    Tp saya tetap brusha sampai saya mampu..

  20. rimarahayu · August 1, 2015

    Tulisan ini ngejleb banget buat saya. Apalagi saya dan pasangan, bau-baunya akan memanjakan (calon) anak karena “kesian kalau mereka susah-susah, kaya kita jaman dulu” atau terbawa pengaruh teman sekantor yang bilang “buat anakjangan nanggung, harus kasih yang terbaik”. Racun sih emang.

  21. academic Indonesia · March 8, 2016

    Nice artikel, di indo sepertinya kaum adam sangat beruntung karena si perempuan tak banyak menagih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s