Yang Sering Ditanyakan tentang Kanker Paru

Berulang-ulang saya sampaikan ke para pelayat, bahwa kami sekeluarga ikhlas dengan takdir berpulangnya ibunda saya. Toh, rasa sakit yang dirasakan beliau, semoga bisa menjadi penggugur dosa, dan meningkatkan derajat beliau.

Hanya saja, yang namanya tamu/pentakziah itu, kadang yaaaa… “unik” juga ya. Detik pertama kehadiran, mereka bilang, “Yang sabar ya Mbak Nurul….” trus saya manggut-manggut…

Eh, beberapa detik kemudian, ibu-ibu pentakziah itu bilang, “Yo ngalaaah bu Faaat… kok iso koyok ngene thoo… Kok Bu Fat yang sehat bisa sampe meninggal gara-gara kanker tho…..” Kalimat ini disampaikan dengan tangis yang berderai.

Kali lain, ada famili jauh, yang tetiba menelepon saya, dan berkata, “Kanker? Kok bisa sampai meninggal? Anak saya kanker juga, sampai sekarang masih hidup lo. Emang nggak diobatin atau gimana?”

Errrrrr…… tante mau skype-an pakai iphone 7 ama malaikat Izrail, kah? 

Baiklah. Sebelum sarkas saya menjadi-jadi, dan supaya blogpost ini ada manfaatnya, saya mau share (semacam) FAQ (Frequently Asked Questions) seputar apa dan gimana kanker paru itu.

Boleh baca postingan ini, sambil terus merapalkan doa ya, semoga Allah beri kesehatan kepada kita semua… sehat sehat sehat dan hidup penuh manfaat. Amiiin.

Narasumber saya adalah dr Hasrayati Agustina, spesialis patologi anatomi dari RS Hasan Sadikin, Bandung. Cekidot.

Kok bisa Uti Fat kena kanker paru? Memang kakak saya merokok. Tapi sependek yang saya tahu, kakak jarang merokok dekat Uti Fat. Sebenarnya apa penyebab utama kanker paru?

Sampai saat ini, dunia medis juga masih belum bisa menemukan apa penyebab utama kanker paru. Masih menjadi misteri. Kalau kanker lain, sudah diketahui tipe penyebabnya, misal virus HPV pada kanker serviks. Tidak ada deteksi dini yang bisa dilakukan, karena gejalanya mirip dengan penyakit TB atau penyakit paru lainnya.

Khusus kanker paru ini kasus yang amat berat. Karena yang diserang organ dalam, dan biasanya baru ketahuan ketika stadium sudah parah. Kanker paru hanya butuh 4-6 bulan untuk mencapai stadium 4.

Ketika seseorang dinyatakan kena kanker paru, apa yang harus dilakukan?

Pengobatan medis harus dilakukan. Kalaupun mau dibarengi dengan obat herbal/alternatif, silakan saja. Tapi, jangan tinggalkan pengobatan medis.

Yang jelas, persiapkan pasien (dalam hal ini Uti Fat) agar beliau bisa bahagia menjalani hidup. Penderita tentu merasakan sakit yang sangat, karena itu dokter meresepkan obat penenang (morfin).

Kualitas hidup dan doa harus terus dilantunkan, supaya pasien tetap cheerful. Jadi, selain mengikuti saran dokter, pasien juga harus mendapatkan terapi psikis dari keluarga. Yaitu, love, tender, and care.

Apakah kanker paru ini menular atau menurun secara genetis? Setelah tahu Ibu kena kanker paru, apa yang harus saya lakukan?

KEJADIAN kanker yang berhubungan dengan genetik cuma 10-20%. Jadi kemungkinan mbak Nurul kena kanker hanya meningkat 10-20% dari populasi yang tidak punya keluarga pasien kanker.

Apalagi, uti Fat terkena kanker di usia 69 tahun, yang artinya ini BUKAN karena faktor genetis. Kanker memang biasanya muncul pada usia tua. Sebagian besar di atas usia 40 tahun.

Jadi, santai aja. No worries. 

Saya nggak perlu medical check up apapun kah? 

Boleh aja kalau mau check up. Bisa dilakukan setahun sekali. Tapi, khusus sadari (periksa payudara sendiri) harus rutin dilakukan. Papsmear juga lakukan 1 tahun sekali, untuk mengetahui resiko kanker serviks. Kalau hasilnya negatif, lakukan tiap 3 tahun.

Sementara ini skrining kanker baru itu aja. Untuk periksa genetik BRCA 1 atau 2 (Breast Cancer Susceptibility Gene) dilakukan pada yang ibu, nenek dan close relativesnya kena kanker  payudara atau ovarium. Tapi itu mahal banget. Sekitar 30 jutaan.

 

 

Dalam tubuh manusia, ada gen-gen yang mengatur pertumbuhan dan fungsi tubuh, salah satunya gen BRCA1 dan BRCA2. Gen-gen dalam tubuh manusia ini bisa mengalami gangguan yang disebabkan oleh faktor lingkungan, virus, atau keturunan. Jika mengalami gangguan karena faktor lingkungan atau virus, biasanya gen-gen tersebut bisa memperbaiki diri sendiri hingga bisa berfungsi normal kembali. Namun, tidak demikian dengan gen yang mengalami gangguan akibat faktor keturunan, seperti BRCA1 dan BRCA2.

***

See?

Ternyata, kanker paru itu silent killer banget yak. Ibu saya yang senantiasa menjalani gaya hidup sehat aja, ternyata bisa kena. Kalau memang takdir Allah berkata demikian, ya sudah. Tak ada yang boleh disesali. Yang penting, selalu ber-positive thinking dengan takdir Allah, ikhlas dan doakan.

Semoga Uti Fat tenang dan bebas dari siksa kubur, amiiin….

 

 

Advertisements

3 comments

  1. Pingback: Ingin Anak Sehat dan Supel? Lengkapi Nutrisinya! – bukan bocah biasa
  2. posisi tidur ibu hamil · December 16

    Mudah-mudahan semua doa baik yang di aamiini, diijabah sama Allah, aamiin.

    Salam,
    Shera.

  3. Pingback: Bagaimana Jadi Pintar dan Tetap Rendah Hati? – bukan bocah biasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s