Lebih Dekat dengan Makanan Ramah Iklim bersama Omar Niode Foundation

Saya itu pecinta olahan daging garis keras. You name it! mau itu semur daging, rawon, soto Madura, ataupun yang masakan macem teriyaki, sukiyaki, steak, saya sukaaaak pake banget! Nyaris saban hari, saya browsing warung/resto/kafe mana lagi ya yang menyajikan masakan per-daging-an dan bisa saya samperin? Pokoke se-Fanatik itu 😀

Hingga kemudian, umur bertambah, dan… rasa-rasanya kok badan makin nggak sehat, ya? Lebih gampil capek. Nafas ngos-ngosan, dan emosi jadi nggak beraturan. Xaveria (sohib Saya sejak SMA) bilang gini, ”Coba kurangi konsumsi dagingnya deh, Rul. Banyakin sayur atau buah. Btw, aku sekarang jadi Vegetarian, dan makin enteng nih badan.”

Hmmm, iya juga sih. Sejak menganut pola makan vegetarian, Xave nih makin glowing paripurna gitu kulit wajah dan bodinya. Tampilan doi juga mirip mahasiswi S-1 semester 5. Ga ada aura emak-emak encok-pegel-linu gitu. Yang paling epic, sohib ikribku ini malah rutin ikutan event Marathon! (walau kayaknya dia finisher 5 km, sih. Tapii, daku mana sanggup lari 5 km? hiks)

Sejak saat itu saya jadi terpantik semangat untuk menjalankan gaya hidup yang (lebih) sehat. Kurangi konsumsi protein hewani. Kalaupun lagi sakaw lauk hewani, saya prefer aneka olahan ikan. Yeah, masih nye-teak beberapa kali, sih… Tapi frekuensi dan kuantitasnya tidak se-barbar jaman muda dulu *eaakk

Ternyata, saran Xave senada dengan apa yang menjadi concern Omar Niode Foundation. Lho, gimana tuh ceritanya?

Jadi begini, Omar Niode Foundation adalah sebuah organisasi nirlaba yang bergerak dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia, citra budaya, dan kuliner nusantara, khususnya Gorontalo. Pada hari Minggu (14/02/2021), saya dan beberapa rekan blogger dan jurnalis media mengikuti acara talkshow virtual, yaitu peluncuran e-book berjudul “Memilih Makanan Ramah Iklim +39 Resep Gorontalo” karya Amanda Katili Niode dari Climate Reality Indonesia bersama Ahli Teknologi Pangan, Zahra Khan.

Acara yang dipandu oleh Noni Zara ini super duper menarik banget! Diawali dengan sambutan oleh Terzian Ayuba Niode (dari Omar Niode Foundation) yang menegaskan sebuah fakta menarik. Apakah itu?

Webinar bersama Omar Niode Foundation

“Terjadinya pandemi Covid-19 semakin membuktikan adanya kebutuhan mendesak untuk mengubah sistem pangan dunia karena pandemi saat ini terjadi akibat menularnya penyakit dari hewan ke manusia (zoonosis). Idealnya dengan cara mengurangi konsumsi daging serta makanan yang diproses, untuk kemudian mengarah ke makanan yang lebih berbasis nabati,” ungkap Terzian.

Sistem pangan yang tidak benar dapat menyebabkan krisis kelaparan dan krisis pandemi. Karena untuk mendapatkan daerah perkebunan, daerah persawahan, dan lain sebagainya di mana lahan alami ditebangi, maka virus-virus keluar. Yang tadinya inang-inang virus aman saja di hutan, saat ditebang mencari manusia sebagai inang barunya. Hewan-hewan liar yang dikonsumsi untuk kebutuhan manusia juga menyebabkan terjangkitnya virus-virus tersebut kepada manusia.

Kita melihat bagaimana sistem pangan dari hulu sampai hilir, dari produksi sampai konsumsi telah menyebabkan berbagai krisis tadi.

“Tetapi, pangan juga merupakan solusi dari krisis iklim. Seperti dua sisi dari mata uang. Bagaimana cara kita memproduksi pangan maupun cara konsumsi pangan sangat mempengaruhi krisis iklim,” ujar Bu Amanda Katili Niode dari Climate Reality Indonesia.Karena itulah, Bu Amanda menggarisbawahi pentingnya makanan ramah iklim.

Sebenarnya apa itu makanan ramah iklim?

Makanan ramah iklim adalah makanan yang tidak merusak lingkungan kita baik saat diproduksi juga saat pengolahannya. Karena itu, sebaiknya masyarakat Indonesia memperbanyak konsumsi menu nabati dan mengurangi makan daging karena peternakan dan proses pengolahan daging banyak menghasilkan gas metan yang merusak lingkungan.

Menurut Ibu Amanda Katili aktivis dari Climate Reality Indonesia, kerusakan lingkungan bumi sudah sangat parah. 51.6 juta warga di dunia terdampak bencana. Hal ini disebabkan karena aktivitas manusia yang berlebihan telah merusak bumi mulai dari pembakaran batubara, proses produksi berlebihan, dan lainnya. Krisis iklim ini bisa mengakibatkan krisis pangan dan ancaman bahaya kelaparan. Padahal makanan adalah sumber penghidupan kita.

Ada banyak kuliner atau makanan ramah iklim yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia, termasuk dari Gorontalo. Pada kuliner Gorontalo, dapat ditemukan pengaruh Ternate, Tidore, Bugis, Makasar, Gowa, Cina dan Arab. Suatu hari nanti, saya mau coba kuliner Gorontalo, ahh.

Ada Bilenthango, Bubur Sada, Milo Siram Pulo, Tabu Maitomo, Ba’a lo Binthe, Nasi Bulu, Ilepa’o Sayur Bulu, Alopa, Gohu Putungo, dan lain sebagainya.

Pekan depan, kayaknya bisa banget nih, praktik uprek-uprek resep dan bikin Nasi Bulu. Berikut resepnya :

BAHAN

• Beras ketan 1/4kg

• Santan 1/2 butir kelapa

• Bawang putih 3 buah

• Garam secukupnya

• Bambu 1 ujung

• Daun pisang muda secukupnya             

CARA MEMBUAT

1. Cuci bersih beras ketan dan tiriskan

2. Didihkan santan, tambahkan bawang putih halus serta garam.

3.Tuang beras ke dalam wajan berisi santan mendidih dan matikan api. 

4. Masukkan daun pisang   di dalam bambu  lalu  masukkan   beras.

5. Rebus  sebentar,        bakar     d iatas    api         

Chef William Wongso dan Apresiasi Kuliner Indonesia

Dalam webinar ini, hadir Nia Ricky Aziman, Ketua Sobat Budaya yang membangun perpustakaan digital untuk mengumpulkan kekayaan kuliner Indonesia. Kita bisa mengeksplorasi berbagai informasi menarik seputar kuliner Nusantara di http://www.budaya-indonesia.org. Sudah ada sekitar 30.000 kuliner Nusantara di dalam perpustakaan digital ini.

Chef William Wongso mengapresiasi hadirnya buku yang diluncurkan Omar Niode Foundation ini. Kita semua tentu tidak asing dengan kiprah Om Will (begitu beliau biasa dipanggil) yang konsisten melejitkan pesona cita rasa kuliner Nusantara. Om Will optimistis dengan perkembangan kuliner Indonesia di kancah internasional.

“Malah ada tulisan di New York menyatakan bahwa hegemoni cita rasa Barat sudah pudar dan bahkan modar,” ujar beliau.

Dalam webinar, Om Will menampilkan presentasi hidangan terbaik ala beliau yang sangat bikin mouth-watering. Yap, inovasi kuliner Nusantara sangat bisa dilakukan, karena Indonesia memilih bahan yang beragam dan kaya.

Apa yang bisa kita buat sekarang untuk mengatasi Krisis Iklim :

1.            Jangan menggunakan plastik sekali pakai untuk makanan, minuman atau barang bawaan

2.            Gunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan untuk bungkus makanan atau minuman

3.            Makan secukupnya sehingga tidaak banyak membuang makanan

4.            Jangan membangun rumah dari kaca terlalu banyak untuk mengurangi panas

5.            Menggunakan kendaraan yang hemat daya, dan hemat bahan bakar

6.            Makan sayuran yang tidak mengandung pestisida yang bisa merusak tanah dan berdampak negatif terhadap tubuh manusia.

Mengenal Omar Niode Foundation

Omar Niode Foundation adalah organisasi nirlaba yangmengusung komitmen untuk terus berperan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, citra budaya, dan kuliner Nusantara, khususnya Gorontalo, baik di Indonesia maupun mancanegara. Sejauh ini, mereka telah menerbitkan 15 buku, antara lain Trailing the Taste of Gorontalo yang berhasil meraih Gourmand World Cookbook Award, Best of the Best 1995-2020 untuk kategori Food Heritage dan menjadi kontributor Bab Indonesia pada buku At the Table. Food and Family around the World

46 thoughts on “Lebih Dekat dengan Makanan Ramah Iklim bersama Omar Niode Foundation

  1. Maria Soemitro says:

    jadi penasaran nih dengan 39 resep Gorontalo
    apalagi yang ramah lingkungan
    Makanan ramah lingkungan berarti bukan pabrikan, gak hanya ramah pada bumi juga menyehatkan, kita butuh banget di masa pandemi ini

  2. Reyne Raea / Rey says:

    Enak tuh nasi bulu alias nasi jah alias nasi bambu, duh kangen ortu deh, di kampung ortu banyak yang jual, dulu waktu saya masih kecil, sesekali bapak saya bikin nasi bambu ini pas ada acara.

    Memang bikinnya ribet sih, pakai dibakar gitu, tapi memang enyak 😀

  3. Katerina says:

    Mbak Nurul nulis resep Nasi BUlu, aku jadi langsung pingin nyobain bikin haha. Kebetulan di rumah lagi ada beras ketan putih dan daun pisang sisa bikin cemilan lepet. Pas banget bisa dipakai.

  4. imaesha says:

    Baru dengar saya mba ada makanan nama’y nasi bulu. Hehe. Seru banget acaranya kayak’y, tema’y menarik karena unusual terus pembicara’y juga ada pak William Wongso yg benar2 ahli di bidang kuliner..

  5. Nanik Nara says:

    Makanan ramah iklim? hal baru lagi nih. Jadi nggak cuma polusi, penebangan hutan, pengolahan sampah, penggunaan BBM, aja ya yang berpengaruh terhadap kerusakan lingkungan. Makanan pun bisa berperan juga

    • Dian says:

      Makanan ramah iklim ini memang lebih sehat ya mbak
      Selain itu ternyata juga bisa sekaligus ikutan menjaga bumi ya mbak
      Oke, mulai sekarang aku mau coba beralih ke makanan ramah iklim ah

  6. Nurul Sufitri says:

    Baru ngeh ternyata kita harus memerhatikan makanan ramah iklim yang bisa meningkatkan kesehatan tubuh. Jangan asala makan semua bahan pangan ternyata nih, termasuk daging merah hihihi padahal enak banget ya masakan steak dll itu. Penasaran sama resep2 dari Gorontalo. Kayaknya ga terlalu susah bikinnya hehehe 🙂

  7. Mia Yunita says:

    Hihihi, aura Emak encok pegel linu, duh ngakak aku bacanya. Tapi sebagai pemakan segala, aku pribadi harus kencengin makan sayur & buah karena nggak imbang nanti ya kan kalo asupan protein & lemak malah lebih banyak masuk ke dalam tubuh.

  8. ayanapunya says:

    saya juga suka, mbak daging apalagi sekarang kan juga lagi trend barbeque ala Korea gitu. tapi nggak terlalu sering juga sih makan dagingnya soalnya harganya lumayan. hihi. kalau makanan ramah iklim ini selain dari Gorontalo dari mana lagi ya?

  9. Ulfah Wahyu says:

    Dalam hal konsumsi makanan pun kita perlu untuk tetap memperhatikan dampak limbahnya untuk iklim ya. Saya penyuka ikan mbak, pokoknya hampir semua makanan berbahan dasar ikan suka banget, sampai kadang sengaja mengunjungi rumah makan yang khusus jual menu aneka ikan.

  10. Ruli retno says:

    Aku kalo diajak kurangi daging bakal seneng2 aja soalnya jarang juga makan daging. Harganya mayan mahal hehehe. Aku jadi penasaran mau coba resepnya juga

  11. Bibi Titi Teliti says:

    Aku juga lagi ngurangin banget makan daging merah dan mulai banyakin sayur dan buah
    Tapi kayaknya masih teteup belon kuat lari marathon 5k juga sih ehehehe

    Kita ternyata juga harus memperhatikan makanan yang ramah iklim yah mbaak, makasih atas share-nya

    • Rahmah Chemist says:

      Toss Ci
      Saya sendiri terkagum kagum lihat menunya yang tidak asing banget dengernya
      Mulai sekarang kudu semangat konsumsi makanan ramah iklim

  12. Dian says:

    apa yg dilakukan oleh Omar Niode foundation ini keren sekali ya mbak, salut
    wah resep nasi bulu nya lumayan gampang ni, nanti mw coba bikin di rumah ah

  13. dietadeufi says:

    Bener, sejak beralih ke makanan sehat badan saya lebih ringan dan BB stabil ga naik-naik. Saya juga konsumsi daging sebulan cuma 1 atau 2 hari selebihnya lebih ke ikan, jengkol, jengkol, pete.. eeeh… hahahaha… ayam aja jarang saya makan. Sesuai ya dengan prinsip omarniode. Jadi sangguplaaah kalau maraton sampai 5km macam xaveria. Btw, Mba nurul juga sanggup nanti, soalnya haji dan umroh kan diwajibkan berjalan dan lari kecil minimal 5km

  14. HM Zwan says:

    Wah, menarik sekali ini acaranya. Lihat resep nasi bulu ini mirip sekilas mirip nasi gurih, nasi uduk ya mbk cuma ini masaknya pake bambu. Unik sekali. Baru tau ada sebutan makanan ramah iklim.

  15. ovianty says:

    Benar Indonesia kaya dengan kuliner, jadi bisa dicoba untuk variasi masakan. Kalau nabati dari dulu kita kan sukanya tumbuhan untuk sayur dan lalapan. Memang daging juga mahal masa pandemi gini, hehe.. mau beli mikir-mikir juga.

  16. lendyagasshi says:

    Kalau belum pernah ke Gorontalo, bisa masak masakan Gorontalo juga gak yaa…dengan hanya meniru resep yang dijelaskan di atas?
    Aku sungguhan penasaran, tapi terbilang belum pernah menyentuh kuliner Indonesia Timur.

    • lendyagasshi says:

      Disajikan dengan platting super cantik gini, kak Nurul..
      Bikin gemeess yaah..
      Bagusnya, makanan tersebut adalah jenis makanan ramah iklim yang dari bahan sampai finishingnya tidak merusak alam. MashaAllah~

  17. Aprillia Ekasari says:

    Zaman sekarang ya bumi makin tua, kalau kita gak berbuat sesuatu ikut berkontribusi terhadap lingkungan sangat disayangkan.
    Gak perlu susah2 ternyata ya gak perlu menye2 nanemin hutan dll, cukup dengan mengubah pola makan dan gmn aktivitas kita memasak makanan dengan masak makanan ramah iklim aja jg ternyata dampaknya positif sekali

  18. niaharyanto says:

    Jujur aku baru tahu dengan makanan ramah iklim begini. Sebelomnya gak pernah kepikiran. Alhamdulillah, jika seperti itu, aku kayaknya sudah menerapkannya.

  19. duniabiza says:

    kalau kita ikut kearifan lokal dan tradisi nenek moyang sebenarnya makanan ramah iklim begini banyak ditemukan di berbagai makanan tradisional ya. cuma ya tidak digaungkan saja selama ini sebagai makanan ramah iklim. Ini hal bagus karena bisa membawa bumi menjadi lebih baik dan yang pasti kesehatan menjadi lebih terjaga ya mbaa

  20. Nursini Rais says:

    Sayuran alami tanpa pestisida mungkin cuman bisa diperoleh di desa2, terutama ditanam sendiri. Kalau dibeli, kurang menjamin. Terutama sayur kol. Saya punya sahabat petani kol. Katanya, setiap lapis daun kol yang nongol harus disemprot. 2 lapis, 2x semprot dst. Kalau tidak, habis dimakan ulat. selamat sore Mbak Nurul.

  21. Rella Shaliha says:

    Waaah bagus eventnya nih, ada opa William Wongso juga. Sepakat sih asupan yang masuk ke dalam tubuh kita adalah tanggung jawab kita sendiri. Sayangnya aku masih seneng daging merah dan ikan asin yang tidak ramah iklim, hehehe.

  22. Kata Nieke says:

    Sejak beberapa tahun lalu, saya sudah mengurangi konsumsi daging merah untuk alasan kesehatan. Ternyata kebiasaan ini berdampak juga terhadap lingkungan ya, ramah iklim. Biasanya tetap konsumsi daging merah tapi hanya seminggu sekali–konsultasi dengan dokter juga karena sesuai dengan kebutuhan tubuh. Lebih perbanyak sayur dan buahan. Kalau lebih banyak resep makanan non-daging merah mau dong 😀 Biar saya gak bosan makan makanan Jawa terus. Resep nusantara itu kaya ya.

  23. dianjayacom says:

    Yes kita memang harus berperan aktiv agar tidak merusak lingkungan dengan membuang-buang makanan, seminimalis mungkin menggunakan plastik juga kak

  24. alfakurnia says:

    Baru tahu istilah makanan ramah iklim. Kalau dari segi makanan seimbang aja memang lebih baik memperbanyak plant-based kaya sayur dan buah. Cuma sesekali boleh lah tetap makan daging yaaa.

  25. Uniek Kaswarganti says:

    Wah, gimana nasib peternakan ya mba kalau gini hehehee…
    Kalau dari sisi kesehatan memang bagus nih mulai banyak mengonsumsi yang hijau-hijau gitu. Sehat untuk tubuh dan melancarkan sirkulasi darah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s