Ibu Harus Optimis!

Kalau banyak ibu belakangan ini demikian bangga, bahagia dan sumringah dengan anak-anak mereka, agak sedikit beda dengan saya. Errr… ada “kasus khusus” (yang belum bisa saya ungkapkan ke publik *halaaah*) soal hubungan saya dan Sidqi yang agak sedikit tethooot 🙂 Yeah, mother and son ups and downs relationship gitu lah.

Hamdalah, kecemasan dan galau saya terobati manakala seluncuran di timeline FB, dan nemuin postingan Mia Ilmiawaty Saadah ini. Boleh cek profile FB-nya di sini: https://www.facebook.com/mia.sidqi?fref=ts

Continue reading

Advertisements

Bagaimana Mengatasi Anak Kecanduan Gadget?

Apa problema terbesar yang dihadapi orang tua masa kini? Barangkali, salah satunya adalah, anak yang kecanduan gadget, game online, internet dan sebangsanya. “Generasi menunduk” ini sangat mudah kita temukan di mana-mana. Sekilas, mereka terlihat “baik-baik saja”. Tapi, anak-anak digital ini bisa terpapar beragam dampak negatif. Bagaimana mengatasi hal ini? Berikut perbincangan saya dengan Irma Gustiana, Psikolog anak lulusan UI Jakarta.

IMG_1510

Continue reading

Sensasi Jadi Pilot Sehari di Kaza Simulator Center Surabaya

Siapa bilang Surabaya cuma punya taman-taman yang cethar membahana? Let me tell you guys, Surabaya ini punya buanyaaaak hidden gem! Bisa banget dijadikan sarana buat ngabuburit, ataupun untuk jalan-jalan bareng sodara, kalo mudik Lebaran ntar.

Eh, ada yang mudik ke Surabaya kan? *lirik Dani Rachmat 🙂

Nah, salah satu hidden gem yang mau aku ceritain ini namanya KSC alias Kaza Simulator Center. Di sini, ada sejumlah miniatur pesawat, plus simulatornya, plus baju pilotnya! So, kita bisa ngerasain sensasi jadi pilot ‘ala-ala’ dan ngeksis pake seragam putih-putih yang jadi ‘obat ganteng’ itu loh.

Continue reading

Bu Elly Risman Rocksss!!

Siapa yang semalem ngeliat ILC (Indonesia Lawyers Club) di TVOne? Yang temanya itu tuuuh, soal elgebete (nulisnya kudu gini, biar engga di-banned, hihihi) 

Semaleman seliweran informasi soal kehadiran Bu Elly Risman di program Indonesia Lawyers’s Club (ILC) TVOne. Saya yang emang ngefans ama Bu Elly langsung duduk manis di depan TV mulai jam 19:30. Jarang-jarang jam segitu saya masih mantengin TV. Biasanya mah, udah molooorrrr 😛

Okeh. CAMILAN enyaaaak udah siap tersedia. Sekarang waktunya mantengin debat kusir diskusi yang biasanya hangat bin meledugh di ILC. 

Karena emang temanya soal elgebete, dihadirkanlah narasumber yang emang pelaku dan aktivis elgebete.

Duh. Bolak/i ibunda saya bilang “Naudzubillahi min dzalik”. Ya gimana ya, prihatin juga sih, dan “kasihan” dengan pilihan hidup yang mereka ambil.

Tapi, terkadang, kalangan elgebete ini juga agak lebay sih ya. Minta dianggap setara, blablabla… Perasaan, pas aku kerja di sebuah multinational company nih, bossku, yang notabene HEAD CORPORATE COMMUNICATION (ini jabatan tinggi dan super-prestisius loh), doi juga blak-blakan mengakui sebagai ‘omoh’ (dibalik bacanya yaaaa) alias same sex atrraction. Dan, nggak ada tuh ceritanya, doi dipecat atau diturunin jabatannya, gegara ngaku jadi ‘omoh’. 

Trus, ada lagi, temen yang baru direkrut, sebut aja namanya Didi, lulusan sebuah kampus di Luar Negeri. Mentereng banget lah. Dan, doi juga terang-terangan ‘omoh’! Gesturnya, cara bicaranya, semuanya terang benderang banget. Plusss, yang bikin agak gimanaaaa gitu, doi sering dong NGAJAK PACARNYA ke kantor. Blah. 

Don’t get me wrong. Saya bukannya sok suci, atau gimana. Dan saya enggak jijik (personally) dengan mereka kok. Malah, temen2 yang ‘omoh’ ini lucu-lucu sih. Banyolannya selalu segar (ya walau beberapa juga nyerempet hal-hal yang saru). Tapi, intinya, kami-kami yang punya orientasi mainstream ini, SAMA SEKALI enggak pernah mem-bully atau merendahkan atau menganggap mereka kaum yang terazab. Sama sekali enggak. And you know what? Didi cepet banget promosinya! Sekarang udah jadi PUBLIC RELATIONS MANAGER ya di perusahaan multinasional itu! See? Diskriminasi dari mana? Dari Hongkong? 

Eniwei… ya rada ‘gemes’ juga kalo ngeliat penuturan para aktivis elgebete di acara itu. Mereka ngerasa di-bully endebrai endebrai, oh plis. Selama kinerja dan kapabilitas oke, maka para elgebete juga bisa aja dipromosikan dengan gampang kok, di pekerjaan! Jadi, enggak usah manja bin lebay deh. 

***

Sampai sekitar jam 20.15, Pak Karni masih aja berkutat mengorek soal apa dan gimana elgebete dari sudut pandang pelakunya. Duuuh, padahal aku kan pengin denger Bu Elly Risman! 

Alhamdulillah, Bu Elly akhirnya dikasih kesempatan buat speak up. Dan, seperti yang udah pernah aku tonton di youtube (search: Elly Risman) Bu Elly terus-menerus mengingatkan soal bahaya pornografi yang merusak otak, lalu peran orangtua, kewajiban ortu dalam mendidik anak, supaya anak tetap bisa berada di koridor yang lurus, dan seterusnya. 

I feel like… hakjleb hakjleb hakjleb! Selama ini, aku sebagai ortu terlalu ABAI dan permisif dengan membiarkan Sidqi main game sepuasnya, duh. Padahal, games itu kan banyaaaaaak konten yang berbahaya, mengandung kekerasan plus porno juga. Sedari awal, aku terlampau pede, bahwa Sidqi bisa memilah dan memilih mana yang baik buat dia. Padahal, padahal, padahal….. propaganda keburukan itu terpampang nyata di mana-mana. Astaghfirullah….

IT Takes a Village to Raise A Child. Bener banget ini! Butuh orang sekampung….bahkan sekarang butuh orang SEDUNIA (baik dunia nyata maupun dunia maya) buat mendidik dan membesarkan anak. Katakanlah kita hidup di lingkungan yang cukup kondusif buat tumbuh-kembang anak. Tapi, anak justru saban hari “bergaul” dengan tab, wifi, internet, oh masya Allah…. tinggal tunggu waktu sampai meledaaaak! Karena kalau ortu gak mau ambil pusing dengan apa yang dilihat dan dimainkan anaknya, ya bukan salah si anak, kalau kemudian dia justru jadi korban propaganda keburukan. 

Ortu memang HARUS berusaha. Sekuat tenaga. Supaya anak-anak kita tidak terperosok ke dalam jebakan elgebete. Banyaaaaak banget PR yang kudu dilakukan. Mengubah pola pemakaian internet, mengubah cara dan gaya ngobrol dengan anak, lebih meningkatkan aktivitas fisik, banyak, banyaaaak. Tapi, percayalah, di dunia yang makin acakadut ini, apa boleh buat, ortu kudu terus berupaya agar sang buah hati masuk barisan kaum yang tidak mengalami penyimpangan. 

Sebagai penutup, ada satu hal yang mungkin terdengar klise. Tapi kudu terus kita tancapkan dalam jiwa. Apa itu? Pasrahkan anak kita pada Allah Sang Maha Penjaga.

Kita ini lemah. Ortu yang mungkin hanya gagah di fisik belaka… Tapi, seberapa tangguhkah kita? Seberapa kuat kita bisa menghalau aneka ‘genderuwo’ yang terus berseliweran di kehidupan? Terus panjatkan doa. Terus berpasrah pada Sang Maha. Terus ucapkan kalimat-kalimat baik untuk anak (duh, ini PR bangeeeeet) Terus yakinkan diri dan keluarga bahwa Allah akan terus menjaga kita. 

BISMILLAH.(*)

sumber foto: http://tingkahanak.com/tag/elly-risman

Mengajak Anak Ikut Pengajian

Ceritanya, semalam saya ikutan pengajian ke rumah Ustadz Bangun Samudera. Barengan ama temen kantor, kami meluncur ke kediaman ustadz yang mantan presenter TVRI Jatim ini. Rumahnya rapiiiiiih banget. Dih, minder pol-polan deh eikeh ngeliat rumah Ustadz Bangun. Rapi jali.

Apakah postingan ini akan membahas soal rumah dan beragam FURNITURE RUMAH TANGGA ?

 

Oh, cencu tidak.

Yang  jadi perhatian saya adalah,  itu kan pengajiannya dimulai ba’da Isya ya. Jam 19:30 gitu deh. Yang dateng buanyaaaak, sekitar 60 orang lah (inget lo, ini pengajian di rumah).

Salah satu ibu yang hadir, datang sambil menggendong anaknya, yang yeah… masih bayi berusia 9 bulan.

“Rumahnya di mana?”

“Kami kontrak di Sidoarjo mbak…” Dia menyebutkan sebuah lokasi yang sama sekali nggak dekat dengan kediaman ustadz Bangun. “Naik motor ini, bertiga sama ayahnya…”

WOW.

Ini WOW banget menurut aku. Si ibu ini udah mengenyahkan rasa males, kantuk, blablabla lainnya, demi ikutan kajian fiqih. Bukan hanya itu, dia juga ngajak anaknya, yang masih bayi!

***

Saya selalu takjub kalo lihat ibu-ibu yang sabar dan semangat bawa bayi atau anak kecil ke pengajian.

Gini lo. Pengajian itu kan yaaah, you know lah,  pengajian adalah momen yang boleh dibilang kita kudu diam dalam rentang waktu yang tidak sebentar… Kudu duduk tenang (sambil nyari senderan sih, biasanya hahahaha) plus kudu menyerap apa yang disampaikan ustadz(ah). Saking tenangnya, beberapa dari kita sampe ketiduran tho ya, hihihi #pengalamanpribadi

Nah. Kalo orang tua dewasa  aja sering ‘ilang sinyal’ pas pengajian,  dan (salah satu penyebabnya adalah) bosan, maka…. Gimana ya, menjaga MOOD dan menjauhkan bocil dari rasa bosan?

Gimana biar bayi/balita/bocil itu enggak cranky?

Apa strategi yang  bisa dipakai supaya nak kanak children itu ga minta pulang?

Pertanyaan ini yang terus berkecamuk dalam batin. Honestly, saya ini AMAT SANGAT JARANG (atau boleh dibilang enggak pernah) ngajak Sidqi ke pengajian.  Palingan dia denger ceramah waktu sholat Jumat, dan sholat tarawih aja. (itupun kalo pas  sesi  ceramah  tarawih Sidqi malah kejar-kejaran ama bocil lain di pelataran masjid *sigh)

Sidqi selalu saya ajak ke acara-acara duniawi yang so kekinian.  Ke mall, ke resto  yang happening , ke destinasi wisata yang cihuy… yah, semacam itu  🙂

Sampe, pada suatu titik…. saya seperti tertujes-tujes bambu runcing plus tugu pahlawan….. manakala  anakku semangat banget nge-game, main sepedaan, dolan bareng temen2 sekompleks… tapiiii, saban diajak sholat,  serasa ngajak Perang Dunia ketiga huhuhuhu.

Ah. Sepertinya Sidqi menjauh dari Tuhannya.

Ups. Lebih tepatnya,  aku mengajak Sidqi menjauh dari Tuhannya.

Baiklah. Baiklah. Baiklah.

Mari kita taubatan nasuha. Dimulai dengan… ajak Sidqi ikutan pengajian 🙂

***

 

Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah, saya mengajak Sidqi datang ke pengajian.

Sebagai awalan, saya ajak Sidqi ikutan Tabligh Akbar bareng Syeikh Ali Jaber, sekaligus  penyerahan wakaf Al-Qur’an braille.  Lokasinya di Masjid Manarul Ilmi ITS, yang luasss banget.  Jadi, kalo misalnya Sidqi bosen dll, doi bisa lari-lari di pelataran masjid atau di taman sekitar situ deh.

 

Daaaan, Tuhan memang sesuai persangkaan hamba-Nya.

Begitu dateng ke masjid ITS, baruuuuu 10 menit, Sidqi  udah ngalem “Pulang Buuuu… ini kan jadwalnya aku main sama temen…..”

Doh.

Untunglah, di sekitar masjid ada BAZAAR! Sedaaap. Ini pentingnya bakul-bakul di acara pengajian. Biar kerewelan bocah teralihkan. Salah satu vendor berjualan kebab. Yihaaaa, yuk cuss go shopping kiddo!

 

Setelah kebabnya hijrah ke lambung, Sidqi mulai cranky lagi.

“Ayo pulang Bu…… Aku mau lihat Balveer….”

*%$^&&_))*(^*%$&^$&^*(*()

“Bu…. aku bosen Bu…..”

_))&&%%#%$%*(*

“Bu….”

 

Okeh.  Sabaaaaar, Nurul …. Sabaaaarrrrr….. *tanduk mulai mecungul*

Aku bingung kudu ngapain, karena terus terang “jam terbang”-ku dalam hal mengajak anak ke pengajian ya baru dimulai hari ini.

Jelas aja, ikut pengajian sama sekali bukan ‘comfort zone’ buat Sidqi. Dan sialnya, selama ini, aku menjelma menjadi ortu yang mengkerangkeng bocil dalam zona nyamannya.

Syukurlah, beberapa menit kemudian, mbak Asih (teman satu kantorku) datang bareng anaknya. Sidqi ada teman main bareng.

…..lalu…..

“Pulang yok, Buuuu… Tadi kan bilangnya cuma sebentar… Ini lama banget….”

Oke.

Harus ada strategi lain. Aku mengajak Sidqi untuk be present alias “hadir utuh”  di acara ini.

“Lihat, coba lihat sekeliling kamu, Nak! Ini yang hadir di acara ini lihat…! Mereka tuna netra Nak. Tapi mereka semangat banget untuk ikut pengajian.  Mata mereka nggak bisa lihat. Jalan kudu dituntun. Ada yang bawa tongkat. Lihat…! Lihat mereka…! Tapi apa ada yang minta pulang? Gak ada kan? Padahal, mereka kan mestinya lebih enggak nyaman ketimbang kita kan? Kita bisa lihat. Kita tahu, di sini ada batu, di situ ada pilar, kita bisa lihat, supaya enggak ketubruk. Lah, mereka?  Kita musti lebih bersyukur Nak.”

 

Sidqi diam. Lalu lihat layar gadget .

Dih. Dih. Dih .

 

Gapapa lah.Yang penting dia gak ngajak pulang. 🙂

Dan, Alhamdulillah, kami bisa bertahan di acara itu sampai menjelang Dhuhur. Ini PRESTASI BANGET. Ketika Syekh  Ali Jaber mengajak jamaah untuk doa  bersama, Sidqi juga ikut berdoa. Mengamini apa yang disampaikan sang ustadz.

Alhamdulillah.

“Nah, ternyata enak kan, ikut pengajian… ”

“Iya Bu. Kebabnya juga enak.”

DAAAANGGG!

“Besok besok kalo ada pengajian, ikut lagi yuk…”

Sidqi diam.  Ya anggep aja kayak perawan kalo ditawarin kawin, lalu diam, artinya “Iya” tho, hahahaha.(*)

 

 

 

Yuk, Bersikap Bijak dan Dewasa dalam Arungi Dunia Maya!

Siapa jumlah pengguna internet paling banyak?

Ternyataaaa… kalangan perempuan loh 🙂 Sayangnyaaaaa, meski menjadi user aktif, para cewek (including emak-emak, ofkoorss) belum memanfaatkan internet secara optimal.

Yang lebih ‘idih’ lagi, banyak kasus-kasus hukum yang justru menjerat para pemakai internet. Kenapa? Ya karena masih buanyaaaak yang asal-asalan ketika berinternet, plus kagak (mau) tahu etika alias Do’s and Dont’s di internet.

Karena itulah, penting banget dong ya, melakukan edukasi plus sosialisasi terkait penggunaan internet. Ibarat kata nih, sebelum nyetir di jalanan, kita kudu paham banget rambu-rambunya, ya kan?

Syukur Alhamdulillah, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) menggelar acara edukatif yang penting banget buat netizen masa kini.

Judul acaranya: Workshop Kegiatan Uji Coba Draft Model Pendampingan Pendayagunaan TIK bagi Perempuan 

Yang dateng dari beragam kalangan. Ada ibu-ibu pengusaha UKM termasuk usaha KULINER MAK NYUS , ibu-ibu aktivis PKK, plus  sejumlah murid  SMA Negeri juga  datang di acara yang dihelat di Hotel Garden Palace Surabaya ini.

Luar biasa ya, semangat tim  KPPPA  🙂 Sebelumnya, workshop serupa  juga digelar  di beberapa kota, antara lain: Kendal, Ambon dan Bogor.

Perlu Bekal Optimal untuk Bergaul di Dunia Maya

Kasus-kasus mengerikan kerap muncul dari internet. Ada pelecehan seksual lah, cyber bullying lah, bahkan marketing prostitusi juga bertaburan di dunia maya! Hadeeeh, makin acakadut bin amburadul :(((

Pak Sucipto. S.Kom, dari Dinas Kominfo Jatim menyuguhkan aneka fakta yang bikin kita merinding disko ngeri. Kasus-kasus anak yang diculik oleh teman FB-nya, ada yang dilecehkan secara seksual, ada yang disakiti, sampe bahkan berujung pelaku yang depresi akut. Duh, duh…

Ini beneran “lampu kuning” buat para ortu, agar lebih meningkatkan kepekaan plus ke-kepo-an terhadap anak masing-masing. Iya loh, ortu masa kini kudu dekat dengan anak… Supaya anak terbuka dan mau bercerita dengan kita. Kalau ortu menempatkan diri sebagai sosok yang harus dihormati, disegani sedemikian rupa, jangan salahkan kalau anak kita justru lebih percaya dengan “orang-baru-entah-siapa” yang ia “kenal” dari media sosial.

Aaaaah, ini self reminder banget buat saya nih. Kudu menempatkan diri jadi ortu yang “egaliter” dengan bocil. Jadi inget postingan FB Bu Naftalia yang sempat viral banget beberapa waktu lalu. Ceritanya, putri beliau sempat “dikompori” teman satu sekolah, agar mengirimkan foto bugil, via aplikasi HP! Huhuhuuuu, ngeri ya, “teror” anak muda masa kini!

Screenshot_2015-11-27-08-45-16

Screenshot_2015-11-27-08-45-23

Syukurlah, Bu Naf dan putrinya amatlah dekat. Si cewek kece ini bercerita secara terbuka dengan sang mama. Dan, Alhamdulillah, Bu Naf (yang juga seorang psikolog) tidak men-judge si putri, dan mencari solusi yang bisa jadi pelajaran para ortu seantero jagat FB.

Ini pelajaran banget nget nget!

“Intinya, kita harus melakukan pendampingan dan antisipasi supaya anak tidak terjerumus pornografi. Workshop ini bagian dari upaya kita membangun budaya internet sehat dan aman menuju masyarakat cerdas,” ungkap Pak Sucipto.

Ketimbang Galau Gak Jelas, Ayo Berkontribusi!

Di sesi berikutnya, ada teteh Ani Berta yang jadi narasumber. Yeppp, blogger level internasional yang hebat, rendah hati dan selalu semangat bagi-bagi ilmu ini, mengajak audiens untuk berkontribusi di ranah internet.

IMG_20151126_135849

Murid SMAN 6 tanya seputar blogging ke Teh Ani Berta

Teh Ani bercerita, bahwa seabrek manfaat bisa kita dapatkan, apabila kita mengoptimalkan aneka media sosial yang kita punya. Ngeblog, FB, twitter, instagram dan sebagainya bisa jadi ladang kebaikan sekaligus ladang uang buat kita semua *uhuks*

Tak heran, para peserta (terutama ibu-ibu pengusaha UKM nih…) semangat banget nanya-nanya tentang how to optimize marketing through blogging heheheh. Mayan kaaan, bisa eksis sebagai pedagang, sekaligus eksis sebagai blogger!

“Medsos jangan dipakai hanya untuk iseng-iseng yah… Optimalkan dengan baik. Karena dari situ, bisa jadi sumber rezeki untuk kita,” tutur teh Ani Berta.

Jika jeli dalam memilah dan memilih konten di internet, kita bisa menggapai segabruk manfaat. Banyak edukasi juga lho, khususon ortu dengan anak usia TK dan SD, silakan ubek-ubek internet. Beragam konten (yang positif, tentu saja) bisa menjadi bahan pembelajaran untuk anak-anak.

Utamanya, agar mereka mampu bereksplorasi dengan untaian kata yang tersaji di beragam blog dan media pembelajaran di internet.

Eh, ternyata niiiih, teh Ani udah punya success story-nya loh. Putri doi, bahkan sudah punya blog, dan konsisten menulis sejak usia 7 tahun! WOW…. boleh ceki-ceki blognya di sekartaji.blogdetik.com

Sekarang doi udah kelas 1 SMP sih, berarti putrinya teh Ani udah istiqomah ngeblog selama 5 tahun! Zuperrrr zekaliiii  :)))

Aaaak, aku jadi terinspirasi buat ngajak Sidqi blogging juga. Kalau teh Ani Berta bilang, ketika anak sudah semangat dan passionate banget untuk ngeblog, maka ia akan terbiasa berpikir sistematis serta nge-boost percaya diri juga.

Sippp! (*)

 

Gimana Kelola THR Anak?

Bau-bau Lebaran udah kecium. Hawa-hawa Idul Fitri udah terasa sampe ke sini. Gimana kabar shaf Masjid? Maju tak gentar kan? Kalo barisan manusia yang thowaf di mall? Biyuuuuh…..Makin membludak! Tumpah ruah. Hihihi.

Yang menggembirakan adalah, beberapa teman saya menjalani i’tikaf di Masjid. Utamanya yang para cowok. Ahhh, asyik banget itu. Meneladani Rasul. Karena Rasul di 10 hari terakhir juga ber-i’tikaf alias mendekatkan diri pada Sang Penguasa Semesta di Masjid. Bisa tadarus, pelajari tafsir, sholat sunnah, pokoke kita jadi punya kesempatan untuk mengenyahkan urusan dunia sejenak, dan lebih mempersiapkan diri untuk kampung akherat.

Ada ‘amin’ saudara-saudara? 🙂

Errr… saya mau cerita apa sih sebenarnya, kok jadi lupa. ^^garuk-garuk^^. Hahaha.

Gini lo, saban musim Lebaran tiba, kita kan biasanya unjung-unjung ya. Bisa ke tetangga, saudara, kolega, kemana-mana deh. Naaah, kalo bawa bocil, biasanya niiih, ada tuan rumah yang bagi-bagiin angpau ke anak kita. Itu juga yang dialami Sidqi. PANEN RAYA banget mah, doi kalo Lebaran tiba 🙂 Ada yang ngasih sangu mulai dari 20K, 50K, yang di atas 100K juga ada. Kalo ditotal jendral, ternyata mayaaaan banget loh 🙂

Lalu, apa yang dia lakukan dengan duit-duit THR ntuh?

Sebagaimana bocil-bocil pada umumnya, sudah pasti Sidqi mupeng belanja mainan baru ya kan?

Apalagi kalo ngeliat dunia Toys masa kini, ya ampuuuun, lucuk lucuk banget yak. Orang dewasa aja masih sering tergugah untuk shopping aneka die cast, action figure dll-nya itu. Apalagi, anak-anak?

Kalo ini "mainan" Sidqi pas udah kuliah nanti ya naaak :)

Kalo ini “mainan” Sidqi pas udah kuliah nanti ya naaak 🙂

Lantas… Apakah saya meloloskan SEMUA permintaan Sidqi?

Hmm. Belum tentu 🙂 ^^mulai keluar tanduk^^ Sebagai financial planner ala-ala, saya musti sigap memberikan kuliah “How to Spend Your Money wisely”

Pertama, Sidqi kudu ngecek dulu. Mainan di rumah apa kabar? Segitu buanyaaaaaknya. Mosok mau nambah lagi? Mau simpen dimana?

Kedua, oke, kalo Sidqi memang mau membuang stok mainan lama (atau mainan yang masih oke dikasih ke anak-anak yang biasanya main ke rumah kami) bagaimana pengaturan penyimpanan mainan nantinya?

Ketiga, coba ditelaah lagi. Apakah beli mainan ini bener-bener KEBUTUHAN atau sekedar KEINGINAN?

Keempat, apakah mainan ini memberikan dampak positif untuk kepribadian dan karakter Sidqi? Kan banyak tuh, mainan yang justru menjerumuskan bocah-bocah.

Kelima, setelah punya mainan baru, apakah Sidqi siap berkomitmen untuk sholat lima waktu sehari semalam tepat waktu? Makan mandi dan nyiapin baju sendiri? Ngaji setiap hari? Apa prestasi personal yang Sidqi canangkan, dengan kehadiran mainan baru?

Keenam, yakin mau dialokasikan untuk mainan? Enggak mau buat wisata kuliner ajah? –> ini mah emaknya yang modus. Minta ditraktir 😛

***

Pokoke segabruk pertanyaan saya sodorkan buat Sidqi. Saya nggak mau lah, doi langsung “terbuai” dengan duit panas kayak THR dan aneka sangu-sangu macam gitu. Justru, dengan adanya momen kayak gini, bisa menjadi sarana belajar anak untuk bisa lebih bijak dalam mengelola keuangan, dalam skala paling sederhana sekalipun.

Daaan, jangan lupa…. Tunaikan kewajiban dan berbagi terhadap sesama! Ini yang paling penting. Pokoke, selain memberi kesempatan anak buat “membahagiakan” diri sendiri, momen kayak gini sekaligus kesempatan kita buat ngajarin “Giving, Giving and Giving.”

By the way, anyway, busway…. begimana THR-nya??? Udah caiiirrr kaaah? 🙂