[FICTION] BIMBANG (part 3)

Ini adalah cerita bersambung yang saya tulis dengan sepenuh Jiwa. Untuk bagian 1 dan bagian 2, sila klik ini dan itu yaaa….

Cerita Remaja edisi lalu: Salma berterus terang pada Raditya, mengenai rasa bimbang yang bersemayam di hati. Ia tak yakin dengan ide menikah dengan Raditya. Ya, kehadiran Arya telah memporakporandakan jiwa Salma. Raditya mendengar penjelasan Salma, dan menawarkan opsi untuk batal khitbah.

BIMBANG (part 3)

Mau dikatakan apa lagi Cinta kita tak pernah satu Engkau di sana, aku di sini Meski hatiku memilihmu…

Vokal Raisa melengking syahdu lewat speaker yang terpasang di kafe. Momen segenting ini, semakin lengkap dengan OST lagu yang demikian perih. Mengiris hati seorang Raditya. Pria seperempat abad itu berdehem pelan.

“Hapus air mata kamu, Salma. Saya mohon, apapun jawaban kamu, saya siap. Bagaimana, apakah sebaiknya saya batalkan khitbah ini?” hijab-1

Sekuat tenaga aku tegakkan kepala. Aku tatap kedua mata Raditya. Sorot mata yang begitu tajam. Selama ini nyaris aku tak pernah berani menatap bola mata itu. Ya, karena kami berdua berusaha untuk mengaplikasikan sabda Rasul, untuk selalu menundukkan pandangan. Kali ini, aku kuatkan hati untuk mendongak sejenak. Demi memutuskan kalimat apa yang harus aku ucapkan. Aku tak mungkin membuat hati ikhwan ini terluka begitu lama. Jadi….

Kriiinggg…. Saved by the bell. HP-ku berdering. Dari ibu. ”Maaf, aku angkat telepon dulu ya?” “Tafadhol.”

“Assalamualaikum, Ibu… iyaa, ini Salma lagi di luar sama… teman. Astaghfirullah, inna lillahi…! Sekarang ayah dimana? Masya Allah… iya, saya sekarang ke sana, Ibu… Masya Allah, laa haula walaa quwwata illa billah…”

***

Air mataku mengalir deras. Aku dan Raditya memacu sepeda motor kami masing-masing, dengan kecepatan tinggi. Kami menuju RS di kawasan Jemursari. Ayahku ada di sana. Terkena serangan jantung mendadak. “Masya Allah, Ayah…” aku menangis menyaksikan beragam alat yang menempel di tubuh Ayah. Tubuh yang ringkih. Tubuh manusia penuh cinta. Yang tak henti-hentinya mengajarkan arti bersabar, ikhlas sekaligus semangat dalam meniti jalan kehidupan. Ayah terkulai lemas tanpa daya. Aku terus sesenggukan, sembari menggenggam jemari tangannya. Tangan ini yang mengajariku banyak hal. Tak satu kalipun, tangan ini melayang, menggampar pipiku ataupun pipi Ibu.

Ayah, entah berapa miliar stok sabar yang bercokol di kalbu beliau…

“Sabar, Salma. Bacakan Al-Ma’tsurat untuk Om Ganjar.” Raditya mengangsurkan buku al-Ma’tsurat—kumpulan doa Rasul—ke arahku.

“Aku bawa dua. Kita baca untuk memohon agar Allah mengangkat penyakit beliau dan segera memberikan kesembuhan ya.” Kulihat, Ibu mulai menangis lagi. Entah ia menangis karena apa. Apakah lantaran Ayah belum sadar, atau karena mendengar saran religius yang dilontarkan seorang pria, yang telah mengkhitbah putri tunggalnya ini.

***

“Allah….. Allah….”

“Ayah…! Ya Allah, Alhamdulillah… Ayah sadar, Ibu…” Bergegas aku menggenggam tangan Ayah. Bibirku komat-kamit melantunkan Al-Fatihah.

”Baca Al-Fatihah bareng saya, Ayah…”

“Allah… Allah…..” Bahagiaku memancar lewat air mata yang tak terbendung. Ya Allah, mohon beri kesembuhan untuk Ayah… “Aku… mau… sholat… du…dulu… To…long…. bim..bing… sa…paa… ca..lon…mu iii…tu…”

“Salma bisa bimbing Ayah untuk sholat….” “Ka…mu… ce…wek…Nak. A…yah…ma..u sa…maa… Ra…dit… A…yah… de…ngar… su..ara di..aa ba..ru…san…”

Yak. Ayahku, manusia yang diliputi kesabaran luar biasa ini, rupanya punya radar yang begitu sensitif. Beliau merasakan ada kehadiran Radit. Pelan-pelan, Radit beranjak mendekat. Sembari berucap basmallah, ia menggenggam tangan Ayah.

”Ikuti saya, Ayah… Ikuti Radit…kita baca niat sholat dulu ya…”

Ia memanggil Ayah. Bukan Om Ganjar.

***

Arya meneleponku jam 9 malam. Ia bersikeras ingin menjenguk Ayah. Gubraks. Di sini kan ada Raditya? Mana mungkin aku membiarkan dua laki-laki itu “kopi darat” dalam kondisi serba muram seperti ini? Tapi, bukan Arya namanya, kalau tidak membantah apa yang aku katakan.

Dengan baju plaid flannel dipadu celana jins, tampilan Arya mengingatkan aku pada sosok Herjunot Ali. Langkahnya percaya diri, disertai parcel buah plus satu kantong belanja “SOHO” yang ia tenteng dengan begitu elegan. Arya laksana pangeran dari kerajaan antah-berantah. Sedangkan, Raditya adalah… punggawa kerajaannya. Arya adalah putra mahkota, dan Raditya adalah si abdi dalem.

“Om Ganjar, apa kabar Om? Saya Arya, sahabatnya Salma.” Arya menyeruak masuk ke ruang opname Bapak. Semerbak parfum Davidoff Cool Water memenuhi ruangan. Ibu menghadiahkan pandangan “Eh, ngapain dia ke sini?” ke arahku. Aku mengedikkan bahu.

“Ar…ya? Nghh… Ma…ka..sih ya. Su…dah… da…tang….” Makasih, Arya, karena kamu datang ke kehidupanku, saat injury time. Makasih banget.

***

Inilah momen ter-awkward yang pernah aku alami dalam hidup. Seorang perempuan 24 tahun, berada di persimpangan. Antara memilih pria baik-baik, lugu, sederhana, ataukah justru terpikat pada pesona laki-laki ganteng, sukses, dan…si pencuri hati dari masa silam. Dan, kedua pria itu berada di depanku. Bagaimana rasanya? Canggung, aneh, kikuk, you name it!

“Arya, kenalkan ini Raditya.”

“Halo, saya Arya. Senang akhirnya bisa ketemu kamu, Radit.”

“Sama-sama. Saya juga.” Mereka berdua berjabat tangan. Erat. Ah, laki-laki. Kalian memang sangat piawai bersandiwara. Memasang tampang seolah tidak ada apa-apa. Dan, perempuan? Kamu, wahai Salma? Bukankah sandiwara ini semua bermula dari kegoyahan hatimu?

“O iya, Salma. Aku tadi sempat mampir ke department store. Aku beliin beberapa baju untuk kamu, ayah dan ibu kamu. Siapa tahu, kamu belum sempat bawa baju ganti.” Arya mengangsurkan tas belanja SOHO. Warna merahnya sungguh mengintimidasi. Raditya berdehem. “Ehem! Salma memang tadi belum sempat pulang, wah… kamu luar biasa, Arya. Sempat terpikir untuk beli baju segala.”

“Oh, it’s not a big deal. Sebenarnya hari ini aku harus ke Jakarta, mau urus visa ada short course di Jerman. Sama sekalian mampir ke kantor pusat di Swiss. Tapi, karena Salma tadi ngabarin kalau om Ganjar sakit, yaaa… aku bilang ke kantor untuk pending pengurusan visanya.”

“Oh. Mau ke luar negeri ya? Hmm, great. Aku tadi, di kantor, benerin kabel.” Krik. Garing banget nggak sih, jawaban Radit barusan? Siap-siap, Salma, sepertinya “pertikaian” akan dimulai.

“Kabel? Oh iya, Salma pernah cerita kalau kamu kerja di apa ituu… semacam perusahaan… network ya? Ya, ya, ya…. Kalau kabelnya rusak, memang semua orang di kantor nggak bisa kerja. Kamu adalah aset luar biasa untuk perusahaan.”

“Hahahah…. Nggak perlu lebay seperti itu, Arya…” Aku menggigit bibir. Ngilu. “Perang urat syaraf” resmi dimulai.

“Salma! Ke sini bentar Nak…” Ibu memanggilku dari dalam kamar. O’ow. Apa kabar ya, kalau kedua cowok ini aku tinggalkan begitu saja? “Gapapa. Aku di sini sama Radit. Kamu masuk aja, don’t worry, jangan sedih. Kalau kamu udah mulai gigit-gigit bibir macam itu, artinya kamu mulai panik. Tegang. Yakinlah, kalau om Ganjar akan sembuh. Oke?”

Raditya menghembuskan napas. Entah, beban seberat apa yang tersumpal dalam benaknya.

***

Barangkali karena Ayah tengah tidur, Ibu mengajakku bicara hal yang amat serius. Ibu memandangku tajam. Sorot mata beliau menyiratkan amarah yang sekuat tenaga ia tahan.

”Kenapa kamu ini, Salma?” Tadinya aku berusaha menutupi rasa yang berkecamuk. Ibu nggak boleh tahu. Setidaknya, Ibu jangan tahu dulu, karena aku tak mau menambah beban beliau. Apalagi, ayah sedang diuji dengan sakit. Aku merasa bahwa kebimbangan hati ini, biarlah aku urus sendiri. Tapi, ibuku sepertinya berbakat jadi sherlock holmes versi perempuan. Seperti yang sudah-sudah, aku selalu gagal menutupi rahasia apapun. Dan kini, aku “disidang”.

“Ibu kan tahu, kalau Arya itu idola Salma sejak kecil…” Beberapa kali aku tunjukkan isi buku harian ke Ibu. Aku memproduksi cerpen, dan hampir semuanya adalah cerita yang terinspirasi dari makhluk bernama Arya.

“Ibu tahu, Nak. Ibu tahu. Tapi, pernikahan itu bukan semata-mata soal cinta. Apalagi, sekedar romansa cinta dari masa lalu. Bagaimanapun juga, Radit sudah datang terlebih dahulu. Ia menunjukkan niat mulia dengan serius mengkhitbah kamu. Sementara Arya? Kemana saja, dia 4 atau 5 tahun belakangan? Dia dengan begitu mudahnya mengabaikan kamu dalam kurun waktu sepanjang itu. Okelah, Ibu tanya sekarang, apakah kamu sudah istikharah dengan sangat-sangat serius?”

Aku mengangguk. “Sudah, Ibu.”

“Apakah kamu sudah istikharah dengan menganggap bahwa Arya dan Raditya punya kans yang sama? Apakah kamu berhasil mengenyahkan perasaan bahwa Arya lebih unggul, sebelum kamu beristikharah? Kalau kamu masih terjebak pada pesona Arya, dan menganggap bahwa Arya memang jauuuh lebih baik, ya menurut Ibu, istikharahmu belumlah optimal, Nak…”

Aku termenung. Kuraba dadaku perlahan. Ya. Nama Arya bercokol di sana. Bahkan, dalam sejumput doa yang kusampaikan pada Sang Penggenggam Kehidupan, diksi ini yang kupilih, “Ya Allah… Saya tidak tahu mana yang terbaik untuk kami dan keluarga kami… Tapi, dari SMP, saya mendambakan tipe pendamping hidup seperti Arya… Atau, apakah memang Arya jodoh saya? Ya Allah, mudahkan saya dalam memilih….” Istikharah yang tidak netral. Tidak fair. Ibu menaikkan alis. Wajahnya kelihatan semakin tidak sabar. Sayup-sayup, Ayah terbangun, “Ra…dit….Ra….dit….tya……” Masih nama itu yang terpanggil. Bukan Salma. Apalagi Arya.(bersambung)  

Advertisements

21 comments

  1. ysalma · October 7, 2014

    Bakal semakin seru ini,
    duh, pesona selalu bisa memporandakan rasa di hati.

    • bukanbocahbiasa · October 8, 2014

      Iyes banget ya mbak. Duh. Prince Charming…. come to mommy hehehe….

  2. danirachmat · October 7, 2014

    Aaaaaaak.. Sekalian sih Mbakyuuuuu.. Ketagihan nih ketagihaan..

  3. jampang · October 7, 2014

    saya sedikit terganggu dengan setting di bagian awal, kenapa mereka ngobrol di kafe?
    *emang siapa gue?* 😀

    sepertinya salma sudah dapat clue. tapi apakah dia mempertimbangkannya atau mengabaikannya.

    • bukanbocahbiasa · October 8, 2014

      Lah. Itu bukannya kafe milik Bang Jampang ya?
      Kok lupa sih? *krik*

      Naaa… itu dia, Bang. Kira2 neng Salma teteuppp kepincut ama Arya. Atau udah move on ke Radit

      • jampang · October 8, 2014

        😀

        kayanya lebih enak kalau settingnya itu restoran atau apa. bukan kafe

      • bukanbocahbiasa · October 8, 2014

        Soale lebih wareg kalo di restoran ya Bang? hahaha…

        IMHO, di Surabaya, banyak kafe2 murahmeriah yang membidik target market mahasiswa atau first jobber.
        Mosok segelar cappucino float (yang ada es krimnya itu loh) cuma dibandrol 10 ribu?? Doeeengg…

        Nah, critanya, si Salma ini pesen cappucino float (yang 10 ribuan ituh), trus diaduk2 sampe teksturnya enggak jelas. —> penting banget buat dibahas, hahaha….

      • jampang · October 8, 2014

        😀

        i see…. bula kemaren waktu ke surabaya nggak sempta jalan-jalan 😦

  4. lieshadie · October 8, 2014

    Critane Mak geje ki yo ngene iki, nggarai weteng mules penasaran :))))

  5. joeyz14 · October 9, 2014

    Okesippp ini mah goodbye arya… hello raditya…hihi tp ttp ga rela tuh pasti si salma…

    • bukanbocahbiasa · October 9, 2014

      Mbak Jo duluuuuuu pernah dalam kondisi ini gak?
      *kepo*

      Hehhee… karena somehow, memutuskan utk milih siapa SUAMI kita emang ga gampang yaaa… Apalagi kalo ceweknya tipe yang laris manis tanjung kimpul… tapi gampang galau :)))

      • joeyz14 · October 9, 2014

        Kalo kisahku menjelang pernikahan ya itu fiksi yg kemaren aku tulis terakhir…hahahaha itu lbih dalem lagi galaunya makkk hahahaha

      • bukanbocahbiasa · October 9, 2014

        Oalaaah, hehehe… noted, noted…
        Memang begitulah hidup ya mbak… :))

  6. Pingback: Saat Fiksi Kita Direspon Pembaca | bukanbocahbiasa
  7. Ririe Khayan · October 15, 2014

    aku jadi penasaran dengan parfum yg di pakai Arya deh, kira-kira bikin aku pusing gak ya? Kan aku gak tahan bau parfum #salah pokus

    • bukanbocahbiasa · October 15, 2014

      Wohooo… tentu tidak, mbak. Karena parfum itu membaluri tubuh seorang pria berkharisma, charming, brilian…

  8. nisamama · December 9, 2014

    haha. seruuu mbak, seru pertarungan radit vs arya. 😀 😀

    • bukanbocahbiasa · December 11, 2014

      Apalagi kalo tarungnya memperebutkan pereu tsakep dari Jepang. Dijamin makin HOT ya mak. :)) *ngunyah sushi**

  9. Pingback: [Fiction] BIMBANG (part 6) – bukan bocah biasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s