Dilema Pondok Pesantren

Mumpung lagi rame-ramenya tentang Hari Santri Nasional, ikutan ngebahas soal ini aaaah *latah*

Saya itu terobsesi sama pondok pesantren. Sejak TK, SD, SMP, SMA, kuliah, bahkan sampai kerja, hidup saya nggak jauh-jauh dari Surabaya. Nggak pernah ngerasain yang namanya kos, atau tinggal di pesantren. Makanya, saya suka kepo dan nanya-nanya detiiilll banget, saban ketemu ama teman kuliah yang (dulunya) jadi santri. Kayak gimana sih, serunya mondok? Sekalian konfirmasi soal isu-isu yang biasanya identik dengan dunia ponpes, seperti…. ah, googling aja sendiri deh. Saya mau nulis yang asik-asik aja di postingan ini, hehehe.

Obsesi saya makin menjadi-jadi setelah baca novel “Negeri Lima Menara” karya Ahmad Fuadi. Walaupun untuk ukuran novel, gaya penceritaannya (menurut saya) rada kurang luwes, tapi…. tiap detil kehidupan di ponpes itu beneran menyedot atensi. Sepertinya, tinggal di pesantren itu… Cool? Keren? Apa ya kosakata yang pas? Anti-mainstream?

NH__5308 NH__5309 NH__5315

Itulah… wacana untuk memasukkan Sidqi (anak saya) ke pesantren udah berkembang sejak bertahun-tahun lalu. Saya pengin Sidqi jadi lelaki sejati, yang mandiri, enggak manja, enggak bergantung sama emak, uti, bibik, pokoke dia bisa bertanggungjawab pada (minimal) urusan/kebutuhan dia sendiri.

Ini semakin diperkuat dengan masukan dari salah satu kolega ibu (sekaligus bos saya di kantor) pas kami unjung-unjung di musim lebaran lalu.

Sebut saja, namanya Bapak Latif. Beliau bilang, “Sidqi nanti SMP-nya di pondok saja ya. Kayak mas Alfan (anak laki-lakinya Pak Latif). SMP sama SMA di pondok. Seru lo!”

Sidqi, sambil gegoleran di karpet ruang tamu Pak Latif (nih anak kadang-kadang emang malu-maluin kok) menjawab santai, ”Gak mau.”

“Looo… enak, kalo di pondok. Temennya banyak! Se-Indonesia. Nanti bisa belajar bareng, main bareng, ngaji bareng…”

Sidqi, masih gegoleran dan nyomot BISKUIT YANG ENDEUS BANGET tetap dengan jawaban semula. ”Nggak mau.”

Abis gitu, dia malah ngacir. Lihat anak bungsunya Pak Latif yang lagi main skateboard sama scooter poo. Diiih!

Ya sudah. Akhirnya, Pak Latif beralih mempersuasi saya, bapaknya & utinya Sidqi. “Setelah Alfan lulus SD, saya mencoba cari cara gimana ya, supaya dia bisa mandiri dan dewasa. Kalau di rumah terus, bakalan susah, karena banyak yang ngelayanin. Akhirnya, kondisi itu harus kita ciptakan, dengan mengirimkan anak ke pondok. Kalau di pondok, mau tak mau dia harus belajar untuk menjadi survive kan? Bisa bergaul, sosialisasi, belajar leadership, dan seterusnya. Lebih nrimo, hidup sederhana dan hemat, juga bisa bersyukur karena makan dengan menu yang sederhana.”

Tentu saya manggut-manggut mendengar penjelasan Pak Latif. Iya juga sih. Sidqi itu (sampai sejauh ini) anak tunggal. Dia juga cucu kesayangan uti dan kakungnya, baik dari pihak saya, maupun pihak suami. Pokoke Sidqi menjelma jadi “raja kecil” gitu deh. Sepertinya, opsi untuk memasukkan dia ke pondok pesantren adalah strategi brilian supaya doi bisa lebih mandiri.

“Tapi… orangtua memang harus survey pondok pesantren dulu… Ponpes kan macam-macam ya. Harus diseleksi, dilihat seperti apa pengurus pondoknya. Jajaran pengasuh dan ustadznya… Termasuk nanya ke wali santri yang lain. Mulai kelas 4 SD, kalau bisa sudah survey. Saran saya, pilih pesantren yang tidak mengandalkan ke satu figur. Pilih yang lebih ‘modern’, karena sistem mereka sudah jalan,” kata Pak Latif lagi.

Lagi-lagi, saya manggut-manggut. Tentu sambil nyomot biskuit yang dihidangkan (like mother, like son )

Di satu sisi, sungguh…. saya ingin Sidqi itu pede, berani, mantap melangkah, pokoke jadi pemuda harapan bangsa lah. Saya ingin melihat dia bisa berdiri tegap, membakar semangat dengan dakwah nan indah di hadapan lautan manusia. Melantunkan ayat suci Al-Qur’an, berpidato lantang either di bahasa Arab maupun bahasa Inggris… Menjadi wakil Indonesia dalam kompetisi bidang apapun yang ia minati di level internasional. Punya pergaulan di level syaikh-syaikh hingga ke Arab Saudi, dan negara-negara lainnya… Sungguh, saya ingin….

…..tapi……..

Anakku ya cuma Sidqi itu. Kalau dia mondok, ntar siapa yang aku cubitin tiap hari?

Siapa yang membukakan pagar, setiap saya pulang kantor?

Siapa yang nemenin saya naik angkot, ketika ada event gathering blogger?

Duh, jadi dilema bin mellow nih.

Kalau teman-teman, ada planning masukkan anak ke pondok pesantren kah? (*)

Advertisements

19 comments

  1. Dwi Puspita · October 23, 2015

    ada mbak..suami keukeh ingin anak2nya mondok melihat perkembangan zaman spt skrg ini..kita hanya miskin akhlak saja kata suamiku..aku kan sebagai emak dilema juga…hiks

  2. Siti Lutfiyah Azizah · October 23, 2015

    Saya.. Saya mba.. Dulunya sempet nyantri tujuh tahun selama masa sekolah *trus kenapa, ahaha*. Tapi kalo buat pendidikan anak sih, saya ma suami liat tar sih mba, kembali lagi ke anak, prefer kasih pilihan macam2 sekolah sama plus minusnya, sama paling arahan gitu, dan tetep liat anak maunya gimana, heu.. Cuma suami sih berharap dan berdoanya ada minimal satu anak yg bakal fokus jadi ulama karena ulama yg serius di bidang syariah gitu dgn background pendidikan agama yg kuat di Indonesia udah makin jarang bgt *gaya bgt ini ngomong padahal anaknya aja masih dalem kandungan, hihi*.

  3. Iwan Tantomi · October 23, 2015

    Mondok juga enak, kosan juga enak, saya yg sudah pernah menjalani dua-duanya. Mulai SD malah saya sudah dikandangin di pesantren. Macam-macam pesantren juga pernah saya nikmati, modern saat masih bau kencur, pas SMA baru masuk salaf. Soal kemandirian, dijamin anak pondok itu dapat rangking wahid deh. Cuman saya ingin berbagi masukan, boleh kan? *anggap aja boleh*

    Kalau saya dulu, mondok karena panggilan hati, entahlah siapa yang manggil, padahal background keluarga juga nggak ada yg nyantri. Misal keinginan untuk nyantri itu datangnya dari hati anak, proses akan berjalan lebih lancar dan maksimal, persis seperti yg saya alami. Tapi…. jika si anak belum gereget untuk dikandangin, jangan langsung nyerah. Ajak saja dia jalan-jalan ke pesantren, tunjukkan bagaimana kegiatan sehari-hari seorang santri, edukasi dgn tepat bila hidup di pesantren itu seru dan bannyak teman.

    Selanjutnya, saat sambangan atau menjenguk anak – saat sudah di pesantren, jangan ujug-ujug disodorkan materi (baca: uang saku) aja. Di minggu atau bulan pertama sambangan, berikan pelukan, karena sejujurnya anak butuh kerinduan orangtua *baper*. Baru tanyakan bagaimana ngajinya? Sudah diajari apa saja? Wah adik pasti sudah bisa banyak hal. Intinya, nggak perlu menunjukkan rasa kekhawatiran,walau mungkin perasaan seorang ibu begitu merindukan dan cemas-cemas nggak keruan saat jauh dari anaknya.

    Dengan cara itu, anak akan memahami bila orangtuanya ternyata percaya secara penuh akan kemandiriannya. Maksimalkan waktu sambangan singkat tersebut untuk mendengarkan ceritanya, tanggapi dengan gubahan-gubahan penyemangat. Karena santri selalu berharap bisa bercerita banyak saat berjumpa dengan orangtuanya, pun berharap mendapatkan dukungan agar selalu berprestasi. Buang jauh-jauh ‘bentakan’, ‘marah pada anak’, atau ‘himbauan keras’, karena hanya akan membuat dia merasa sedih di tengah perjuangan hidup mandiri yang serba sendiri. Sementara, uang saku baru pesankan di kala mau pulang.

    Mungkin karakter saya dan si dedek kecil tidak sama, tapi apa yg saya sampaikan adalah pengalaman empiris, yg bisa dijadikan pertimbangan. Sebab, kala sudah masuk pesantren, status kamu anak siapa, miskin atau kaya, akan melebur jadi satu. Anak akan menjadi merasa kesepian dan kepercayaan orangtualah akhirnya yang akan jadi bibit keberaniannya.

    Wahwah, tanpa sadar udah bikin artikel aja di sini 😛
    Soal lokasi pesantren, saya sepakat bila lebih baik melakukan survey dulu, termasuk track record pengasuh, alumninya yang sukses siapa saja, latar belakang pesantren termasuk masalah atau kasus apa saja yg pernah terjadi. Perihal figur, sosok Kyai yg benar-benar priyayi adalah guru yang benar-benar tinggi ilmunya dan memang layak diteladani. Semoga berguna ya. =D

  4. nyonyasepatu · October 23, 2015

    Belon ada remcana hahha karena belon punyA

  5. Hastira · October 23, 2015

    aduh aku sih gak mau ya, karena aku ingin selalu dekat dengan anak.. Akhirnya aku berusaha bagaimana anak2 bisa mandiri dg gak punya pembantu, mengajarkan mereka mengaji yg baik dan ilmu agama dg memanggil guru mengaji yang kompeten. Dan aku sebagai ibunya juga mendidik mereka agar punya akhlak yg baik dg teladan. Aku bersyukur bisa berlama2 dengan anak menghabiskan waktu bersama , bercanda bersama, makan bersama. Sekarang setelah satu anak bekerja di luar kota dan satu anak lagi kuliah di luar kota, betapa aku merindukan kebersamaan dg mereka.. Kangen banget!!! Kebayang ya kalau dari kecil sudah jauh dari aku,!!!!

  6. eda · October 23, 2015

    Akuh mba.. Akuuh.. Dr skrg aku uda persuasi dia masuk ke pesantren.. Uda rencana dr duluuuu.. Makanya sd nya aku sekolahin di sd islam yg fullday.. Palingtidak biar dia ngerasain dulu..hampir seharian gak di rumah tanpa emai bapaknya 😀

  7. Ismail Hasan · October 24, 2015

    sebaiknya memang disiapkan dari awal mbak, misalnya sekedar menyiapkan keperluan2 sendiri, bangun pagi, dan hal sederhana lainnya. Ya biar terbiasa dulu, biar ngga kaget waktu masuk ke pesantren. Pesantren juga bukan cuma tentang ilmu agama kok, lulusan pesantren tidak mesti jadi ustadz. Namun insyaAllah, anak jadi bisa lebih prioritaskan tujuan-tujuan juga cita-citanya nanti.

  8. ayanapunya · October 24, 2015

    Saya juga kepikiran gitu, mbak kalau punya anak nanti. Soalnya takut lihat pergaulan anak-anak sekarang. Mau masukin sekolah biasa jadinya kurang yakin

  9. alrisblog · October 24, 2015

    Terbaik lakukan dulu langkah persuasif ke anaknya. Jangan main paksa. Dari sekarang diperkenalkan cara hidup di pesantren, mulai dilakukan dari hal-hal kecil di rumah.
    Soal anak cuma satu, kan bisa usaha lagi dari sekarang untuk nambah, hahaha…

  10. dani · October 24, 2015

    Saya belom ada rencana buat masukin ke pesantren sih Mbakyu tapi postingan dan komen yang puanjang banget itu jadi bahan masukan. 😀

  11. Desi Namora · October 25, 2015

    jad mewek mak ujung2nya ya,, padahal udah ngebakar semangat diawalnya hehe. smoga alloh mudahkan ya kan demi masa depan Sidqi 🙂

  12. fee · October 25, 2015

    beberapa pakar parenting menyarankan untuk memasukkan anak ke pondok pesantren sesudah jelang usia smp…selain membangun bonding yg kuat (anak sd masih butuh bonding dg ibu) ,ibu adalah madrasah pertama yg plg baik, juga karena rawannya paparan bahaya pornografi yang semakin mudah diakses di jaman ini…

    Posted by Kita Dan BuahHati on Thursday, November 21, 2013

    hanya menjadi saluran informasi saja…bukan untuk menambah galau..:)

  13. ira nuraini · October 26, 2015

    pengen sih maaak…cuma ya itu masih galau, kok ngerasa bakalan ada yg hilang kalo mereka jauh di usia yg msh segitu ya… blm pernah nawarin ke anaknya sih… dan baca ini daku makin galau maaak…. 😀

  14. Lusi · October 26, 2015

    Aku nggak ada rencana mondokin anak. Anakku cewek semua & aku super lebay orangnya. Heheheee

  15. cewealpukat · October 26, 2015

    Ke pesantren gontor ajaa mbakk hehee
    Kalo si sidqi mondok nyubitin aku waee hehehehe

  16. Rifqy Faiza Rahman · October 28, 2015

    Orang tua saya, khususnya Bapak dulu santri, pernah mau dimasukin ke pondok, tapi melihat saya ragu, ga jadi deh, akhirnya direstui sekolah negeri. Kini saya akui, pondok pesantren itu penting, lebih dari soal mandiri sebenarnya, melainkan belajar ilmu-ilmu agama lebih mendalam. Karena gak cukup jika cuma ikut kajian-kajian mingguan 🙂

    Semoga Sidqi bisa ngabulin harapan Ibunya ya 🙂

  17. Endång Ermanto · March 28, 2016

    Alhamdulillah, sekarang pesantren juga banyak yang berkualitas kq mbak. gak cuma dari sisi ilmu Agama tapi yang lainnya juga

  18. ZHARND · January 26

    *belum punya anak sih, tapi sharing sama orangtua masalah adik” wkwkw*

    Kalau kata umik, ga pingin dimondokin soalnya pingin diajari sendiri, hehe. Kalau di pondok itu terkadang kan…hmm….si anak masih agak buta sosial, kalau terlalu kecil dimasukin pondok takutnya cara menghadapi masalahnya (salah-salah) malah salah, jadi kudu punya pondasi dr orangtua dulu hehe.

  19. Qonita Azka · August 21

    Skrg saya msh kls 9 SMP,dulu saya sempet mondok waktu kls 7 tp cuma bisa bertahan 3 bln aja
    Walopun bgt,tp..,saya sering bgt ngerasa kangen sama suasana di pondok,kangen jg sama tmn2 dipondok,rasanya pengin balik lg ke pondok, baru baru ini kepikiran buat nerusin ke pondok,tp takut gagal lg..-_-(& emg sbnrnya pengin nerusin ke negeri,)saya sdh cerita sm ortu saya, ending”nya Abi saya ngasih syarat lg, katanya klo bisa msk SMAN 1,2,/3 blh disitu saja,tp klo gak bisa harus mondok,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s