The Only Thing  We Have to Fear is Fear Itself

Sampai detik ini, Allah baru mengamanahi saya, satu bocah bernama Sidqi yang bulan depan insyaAlllah menginjak usia 11 tahun.

Plis ya, jangan komentar “Waaah, waktunya ngasih adek tuh….” dan sebangsanya Karena saya sudah kenyang banget Buuu dengan celotehan macem gitu, hehe.

Seperti sudah bisa diduga, membesarkan anak tunggal itu boleh jadi irit dari segi biaya, tapi boros banget dalam hal belanja stok sabar. Anak tunggal (biasanya) identik dengan manja, kolokan, susah diatur, gemar ngelawan nasihat ortu, dan agak susah bergaul.

IMG-20170925-WA0007

Entah karena termakan dengan aksioma ‘katanya anak tunggal itu begini dan begitu’…. atau lantaran saya melakukan banyak parenting-fallacy, jadinya yaaaa…. dalam beberapa hal, Sidqi memang memenuhi syarat dilabeli sebagai anak tunggal yang ya gitu deh.

Saya bukannya mau buka aib atau gimana ya. Tapi yang jelas di usianya yang udah bukan balita lagi ini, Sidqi masih sering ngalem gitu ke emaknya. Masih suka di-usek usek sebelum tidur, kadang saya juga rindu nyanyiin lullaby sama seperti ketika dia bayi.

Sidqi juga terlampau attached dengan emaknya. I don’t know, mungkin suatu hari nanti kami berdua harus ke psikolog untuk konsultasi tentang ini, sebelum semuanya terlambat.

Yang mau saya ceritakan dalam postingan ini adalah…. Betapa Sidqi itu punya rasa takut yang udah masuk level genggeus.

Takut dalam banyak hal.

Takut ke kamar mandi sendirian.

Takut (atau malu?) ketemu orang baru.

Takut berada di keramaian

Takut ikut lomba

Takut kalah lomba

Takut menang lomba

Banyaaaak!

IMG-20170921-WA0032

Beragam doa sudah saya ajarkan dan ia rapalkan. Tapi entahlah. Kenapa rasa “Aku tidak takut!” itu belum juga muncul dari lubuk hatinya?

Saya ngga pernah cerita soal setan-setan, apalagi ngajakin nonton film horror. Sama sekali ngga pernah. Atau, ini semata-mata cara dia untuk meraih atensi dari emaknya? Kadang anak tunggal ya gitu itu. Dia tahu bener, bahwa stok sayang ortu super duper melimpah ruah. Jadinya, Sidqi sering mengajukan tuntutan yang terkadang rada ngga masuk akal.

“Buuuu, aku mau ke kamar mandi…. Ibu nunggu dekat pintu yak…”

Kamar mandi kami lokasinya di belakang rumah, dekat dapur. Jadi, dia akan mandi jebar-jebur, dan saya diminta nangkring di kursi dekat pintu dapur. Meski sudah berkali-kali menolak, dan terlibat perdebatan sengit, toh akhirnya…. Saya menyerah. Ritual pagi hari saya adalah duduk dekat pintu dapur, entah sambil baca Al-Ma’tsurat, atau sambal ngetik draft artikel. (Masakan udah matang semua, jadi ya saya nggak nyambi masak)

Well, kalau untuk menghalau rasa takut ke toilet ini, kami belum berhasil, sepertinya… ada lagi rasa takut yang urgent banget buat segera dienyahkan dari rongga kepala Sidqi.

Takut berkompetisi.

Takut kalah lomba

Sekaligus takut menang lomba

Aneh?

Ya aneh lahhh. Secara emaknya Sidqi kan di zaman muda belia tralala sering banget ikutan aneka lomba. Saya ini banci tampil sejati. Paling hobi ikutan berbagai lomba yang mengharuskan  tampil di depan orang banyak. Lomba puisi, lomba debat, lomba karya tulis ilmiah (dan harus presentasi), macam-macam! Bahkan waktu duduk di bangku SMA, saya mewakili provinsi Jawa Timur untuk maju di Lomba Pidato P-4 tingkat nasional di Jakarta (yeah, waktu itu zamannya Pak Harto. Saya juga sempat berjabat tangan dengan Wapres saat itu Pak Try Sutrisno, tapi fotonya auk ah di mana)

Kalo ada yang bilang kecerdasan ibu itu diturunkan pada anak…. Ya artinya, Sidqi at least punya kecerdasan (atau talenta) serupa dengan saya. Lah ini kagak. Beberapa waktu lalu, malah Sidqi yang udah siap ikutan olimpiade matematika, mendadak memutuskan buat mundur teratur. Kalah sebelum berperang. Persis di Hari-H lomba. Huffft!

 

Walau sudah pernah mundur pas ikutan Olimpiade, eh, selang 2 bulan kemudian, gurunya Sidqi tetep keukeuh ngirimkan anakku pada lomba berikutnya. Lagi-lagi, kami –ibu dan anak dengan kadar alay sebelas dua belas ini–terlibat pada perbincangan (nyaris mengarah perdebatan) soal per-kontes-an ini.

“Nanti kalo aku nggak bisa ngerjakan soal, gimana?”

“Nanti kalo aku jawabnya banyak yang salah gimana?”

 

Aku pegang pundak Sidqi. Kubilang pelan-pelan, dengan menyiratkan sebuah optimisme yang menjulang.

“Sidqi… Gurumu pasti nggak ngawur kan, milih kamu sebagai perwakilan murid yang berangkat untuk lomba ini. Ibu dan gurumu nggak membebani kamu harus juara, harus menang, atau gimana gimana. Yang penting, kamu berangkat, PD aja. Ikut olimpiade ini sebagai sarana untuk nambah pengalaman aja!”

“Tapi Bu…. Kalo aku menang, trus dipanggil ke depan untuk ambil pialanya… aku kan juga malu Bu… Takut….”

Aku mendesah. Melepas bongkahan resah nan gelisah…. Baru kali ini aku temui satu spesies makhluk hidup bernama manusia, yang mengaku takut menang?  Walah dalah.

“Kenapa kok gitu? Kenapa harus takut? Bukannya yang hadir itu manusia semua?”

“Iyaaa… tapi aku tetap takut….”

 

“Mas Sidqi. Kita itu hanya takut pada Allah. Takut berbuat dosa dan melakukan keburukan, lantaran takut Allah nggak ridho. Itu aja. Tapi kalo sekedar takut dilihat manusia dan sebagainya… Wah, itu harus dilawan! Ada doanya kaaan. Laa hawla wa laa quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adzim….. Allah yang beri kekuatan dan kemampuan pada kita!”

 

“Ibu masak nggak pernah ngerasa takut?”

“Ya pernah dong, namanya juga manusia. Ibu pernah takut pas ada orang yang mau sewa rumah huuumm, kira-kira orang ini baik apa enggak ya? Tapi rasa takut itu harus kita atasi. Caranya? Ibu banyak cari info soal track record orang ini, juga banyak berdoa minta petunjuk dari Allah. Senjata kita itu DOA!”

Sidqi mulai mengangguk mantap. Ia menyiapkan buku, alat tulis, dan papan untuk mengerjakan soal. Semuanya ia masukkan ke dalam tas ransel.

“Okai? Mas Sidqi udah nggak takut lagi kan? Yuk kita berangkat! Ingat selalu ya, kalau the only thing we have to fear is fear itself!”

 

 

 

Advertisements

10 comments

  1. Keluargamulyana.com · 27 Days Ago

    Dulu adikku cowok juga penakut plus pemalu. Karena waktu kuliah dia harus ngekos sendiri, mungkin pola pikirnya sedikit demi sedikit jadi berubah dan sekarang udah gak gitu lagi.

  2. Liza Fathia · 27 Days Ago

    Adikku tuh, penakut banget. Sebenarnya bukan takut sih, tepatnya malu. Walhasil, dia ga berani melakulan sesuatu apalagi yg berhubungan dgn banyak org

  3. fika anaira · 27 Days Ago

    jadi Sidqi jadinya ikut olimpiade mba?

  4. fridawibowo2017 · 27 Days Ago

    duhh mbakkkkk..ini sih refa pake bangetttt…apa anak tunggal begini yaa..hha kan jadi nanya gini lagi….dia suka sekali tampil…tapi begitu giliran mau tampil..mundur teratur..karena satu alasan…”MALU”…kayak kmren pengen nyobak simulator challenge…dia pengen buangetttt…tapiiiii…truas gak jadi…”aku malu bun..nanti kalo nubruk2 diketawain gimana”….yo wes lah..akhirnya emaknya yang main..hahaha..

  5. tipscantiks · 26 Days Ago

    aku selalu suka sama gaya bahasa mba, pantesan sering menang lomba nulis, hehe. Duh Sidqi, andai kau tahu bahwa punya adik itu lebih menakutkan lagi dibanding menang lomba, hhaa

  6. kania · 26 Days Ago

    saya pikir saya aja yg lebay mbakarena anaknya takut ke kamar mandi, PR kita banyak ya

  7. nyonyasepatu · 26 Days Ago

    Keponakan aku jg gt msh sering takut dan malu

  8. Maria Soraya · 24 Days Ago

    heuheu mas sidqi mirip adik cowokku yg kedua, sekarang umurnya 15 taun … jamannya adikku masih SD + SMP, dia paling males difoto entah sendiri ato rame2 sekeluarga + posting di sosmed, alesannya : tar pada lebay komen2in mukaku cakep banget (dia ngomong serius itu)

    semangat mak nurul husssh hussssh tamvan itu rasa takut mas sidqi

  9. pahalaguru · 16 Days Ago

    Kesayangan bunda ini pintar dan Soleh ya.. memang kalau anak pemalu apa a pa mesti gak pe de dan nanti akan hilang dengan sendirinya ketika beranjak dewasa

  10. Ike Yuliastuti · 15 Days Ago

    mas sidqi gak boleh takut dan malu dong. kalo menang itu kebanggaan mas.. harus PD kayag mama dong. mamanya aja eksis dan PD dimana-mana hahahah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s