Sebuah Panduan untuk Ngemil Bijak demi Jiwa Raga yang Lebih Sehat

Sorry, Sir. Do you have some snacks like crackers, biscuits, or nut? I feel like want to munch something.” Aku berkata pelan sembari menebar senyum dua senti ke kanan, dua senti ke kiri. Berharap Oppa flight attendant ini memahami perasaanku (dan lambungku yang mendadak hampa wkwkw). Untunglah, senyumku berbalas. Mata orientalnya menatap dengan penuh empati ke arahku. Sambil tetap menjaga gestur yang berkelas, Oppa berujar tangkas, “Sure, here we go!” Bukan kaleng-kaleng! Segabruk snack ia angsurkan ke arahku. Ada cokelat, biscuit, bahkan apel dan jeruk!

Madam, do you like to drink coffee or tea?”

Aaakkk, minta snack, ditawarin tambahan minuman! Assoyy! Aku mengangguk cepat. Lagi-lagi, dengan bahasa tubuh yang bikin nyaman (ah, elaaahhh!) Oppa tadi menuangkan secangkir teh plus secangkir kopi di meja penumpang. Aaaak, cintaaa banget deh dengan service excellent–khas awak kabin Singapore Airlines!

Eits, jangan menuding saya nggak nasionalis lho, ya, sampe memuja-muji maskapai negara tetangga wkwkw. Gimanapun juga, saya cuma mau sharing kok. Trip ke benua yang begitu jauhnya ini berlangsung tiga tahun silam, Oktober 2017. Waktu itu, saya berangkat ke San Francisco Amerika Serikat, bareng Kak Budiono dan Fahmi Adimara. Dari Surabaya (Indonesia) –transit Singapura – transit bentar di Hong Kong—cuss ke Amrik. Kalau ditotal, sekitar 20 jam kami habiskan untuk perjalanan kali ini.

Baca: Traveling ke Kantor Google di Amerika

DUA PULUH JAM. Tentu saja banyak hal yang menggelayuti pikiran. Akankah trip kami aman jaya Sentosa? Apakah jilbab Panjang yang aku kenakan tidak rentan menimbulkan masalah? Trus, kalau aku pengin pipis melulu, nanti piye ya? Dan, pertanyaan paling haqiqi abad ini, kalau aku lapar, kira-kira ada yang mau kasih cemilan kah?

Maklum. “Ngemil is My Way of Life” udah jadi kredo kehidupan. Sehari tanpa ngemil tuh rasanya hampa. Suwung, kalo kata gengnya Bu Tedjo. Saban hari, saya mengalokasikan sekian energi, wkatu dan biaya untuk menikmati cemilan yang nikmatnya menggelora tiada tara. Ngemil jadi sarana pleasure and leisure. Dalam kondisi apapun, saya selalu siapkan cemilan. Hadir di acara Manasik Haji, misalnya. Udah pasti dapat snack box dari panitia penyelenggara kan. Nah, tapiii durasi Manasik tuh terlalu lama. Isi snack box paling Cuma tiga biji, mana puas? Wkwkwkw. Walhasil, sebelum berangkat Manasik, daku sudah kayang bentar ke minimarket, dan ngeborong aneka potato chips, cokelat, biscuit dan bolo-bolonya.

***

Ternyataaaa, saya nggak sendirian, horrayy! Kebiasaan ngemil ini banyak dialami manusia Indonesia. Riset Mondelez International yang dirilis pada Mei 2020 mengungkapkan bahwa rata-rata orang Indonesia memang suka ngemil. Bahkan, ada studi konsumen bertajuk The State of Snacking. Studi ini memaparkan bahwa kebiasaan ngemil orang Indonesia 23 persen lebih tinggi dibandingkan rerata global.

Wah, wah, wahh. Ada apa yaaa, dengan cemilan ini?

Bisa dibilang, ini adalah Love and Hate Relationship antara aku dan cemilan. Kok bisa? Iya dong. Cemilan adalah sarana paling efektif, tokcer, dan manjur, untuk menghempas manja rasa lapar plus dahaga yang bersemayam dalam tubuh dan jiwa. Yap, saya sadar penuh kok, kalau terkadang, cemilan adalah upaya katarsis stress, gundah gulana yang selama ini merangsek dalam jiwa. Jadi bukan sekedar mengenyahkan lapar di lambung. Lebih dari itu, cemilan adalah superhero dalam mengarungi hidup yang kian banyak geronjalan dan tikungan tajam ini.

Intinya, saya (dan mungkin Anda, atau mayoritas dari kita) bergantung pada camilan untuk memenuhi kebutuhan mental dan emosional.

Barusan ceritanya love melulu. Hate-nya di bagian mana?

Naahh, ini dia part Love and Hate Relationship sesungguhnya. Jadi, kita semua tentu mafhum, kalau segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. APAPUN, termasuk berlebihan dalam hal konsumsi cemilan. Mungkin, ketika kondisi psikis saya baik-baik saja, cemilan 1 apel dan 68 gram potato chips per hari, sudah cukup. Tapiiii, Ketika stress menggelegak, ulalaaa…. Satu rak snack minimarket bisa banget tuh hijrah ke lambung! Saking bludrek-nya, makan cemilan udah kayak menghidup oksigen. Gak pake mikir! Langsung kunyah kunyah kunyah, telaaaann. Padahaaaall, helloooo, Anda udah umur berapa ya Buk? Boleh cek angka kolesterol dan asam uratnya? Trus, itu cemilan yang Anda habiskan dengan sukarela itu, ingredients-nya apa aja kalau boleh tahu ya Bu? Angka gula darah Anda bagaimana? Baik-baik sajakah?

***

Waduuh, jadi #HakJleb kan. Sesuatu yang saya cintai sepenuh hati, ternyata berpotensi menghadirkan aneka penyakit, manakala tidak saya kelola dengan baik. Too much love will kill you! Too much cemilan, bisa jadi juga bakal kill me. Baeklahh, sudah saatnya saya bertransformasi, BERUBAH! SATRIA BAJA HITAM RX!! Wakakakakaka *jebakan umur*

Akhirnya, pada suatu malam yang begitu indah, saya putuskan untuk join Webinar bareng IIDN (Ibu Ibu Doyan Nulis) dan Mondelez International.

Tips dan Trik #NgemilBijak dalam Keluarga. Itulah tema yang diusung dalam Webinar kali ini. Menghadirkan tiga narasumber yang super duper kompeten. Ada Psikolog klinis Tara De Thouars; ada Khrisma Fitriasari, Head of Corporate Communication Mondelez Indonesia; juga ada Alfa Kurnia, dari IIDN.

Ternyataaa, kampanye #NgemilBijak merupakan inspirasi agar masyarakat memilih camilan yang tepat, mengonsumsinya pada waktu yang tepat, serta menikmati camilan tersebut dengan cara yang tepat pula.

Khrisma Fitriasari, Head of Corporate Communication Mondelez Indonesia menjelaskan, “Kampanye ini sejalan dengan tujuan global dari Mondelez International, yakni ‘Empower People to Snack Right’, untuk terus menginspirasi masyarakat mengonsumsi camilan secara lebih bijak melalui produk-produknya yang ikonik, seperti biskuit Oreo, cokelat Cadbury atau keju Kraft.”

Cara Ngemil Bijak

Penasaran dah, jadi gimana cara #NgemilBijak yang baik dan benar?

Tara De Thouars membagikan tips paling uhuy, agar prosesi ngemil kita berjalan sesuai dengan koridor Kesehatan dan memberikan dampak optimal untuk jiwa raga.

Pertama, kenali isyarat tubuh mengapa Anda ingin ngemil, misalnya apakah karena lapar ataukah perlu untuk mengembalikan mood.

Kedua, Anda bisa memilih apa camilan yang tepat berdasarkan isyarat tubuh tersebut, tentunya dengan memperhatikan porsi camilan dan waktu ketika Anda ngemil.

Ketiga, perhatikan bagaimana Anda ngemil dengan memaksimalkan semua indera, karena Anda akan dapat mengenali isyarat tubuh, kapan harus berhenti ngemil. Kegiatan ngemil sebaiknya dilakukan secara sadar agar manfaat bisa didapatkan.

Makanlah secara perlahan dan nikmati setiap gigitannya. Ajak seluruh indera tubuh Anda terlibat, mulai dari memperhatikan bentuk, mencium aroma, menikmati rasa, hingga sensasi suara saat menggigit atau mengunyah camilan. Oleh karenanya, sebaiknya ngemil tidak dilakukan sambil berkegiatan lain, misalnya main gadget.

***

Berdasarkan analisis Tara, #NgemilBijak merupakan langkah tepat untuk mendapatkan kepuasan dalam mengkonsumsi camilan. Yang lebih penting lagi, dengan menerapkan langkah ngemil bijak, kita nggak bakal terperangkap dalam pusaran guilty feeling alias perasaan bersalah. Wkwkww, ini eikeh banget niih. Habis ngemil pizza, burger dan kebab, trus langsung membatin, ”Duuh, aku ini manusia apa bukan sih? Barbar banget ngemilnya.”

Lebih lanjut, Tara menambahkan, “Kegiatan ngemil sebaiknya dilakukan secara sadar agar manfaat bisa didapatkan.  Makanlah secara perlahan dan nikmati setiap gigitannya. Ajak seluruh indera tubuh kita terlibat, mulai dari memperhatikan bentuk, mencium aroma, menikmati rasa, hingga sensasi suara saat menggigit atau mengunyah camilan.”

Satu hal yang bikin saya legaaaa banget, penjelasan Tara bahwa kebiasaan ngemil sesungguhnya bisa menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan kalori harian dan menjaga stabilitas metabolisme tubuh. Syaratnya, semua harus dilakukan dengan bijak.

Selain itu, menikmati camilan secara lebih bijak bersama keluarga juga bisa menjadi pilihan tepat, utamanya di musim pandemi kali ini. Yang perlu di-higlight kudu Bersama keluarga lho yaaa… jadi bukannya emak-anak-bapak pada ngemil sendiri-sendiri di ruangan terpisah. Lha kalau gitu ya kagak bisa meningkatkan bonding dalam keluarga dong yaaa.

Salut banget sama Mondelez Indonesia yang meluncurkan kampanye #NgemilBijak. Ini bisa banget mendorong setiap orang untuk lebih bijak mengonsumsi camilan sehingga bisa mendapatkan manfaat secara lebih seimbang, baik untuk tubuh maupun pikiran.

NAH. Jadiii mau ngemil apa kita hari ini? Ajak-ajak akoooh ya Bund, heheheheh. (*)

Tulisan Ini DiikutSertakan dalam Lomba Blog Ngemil Bijak yang Diadakan oleh Ibu-Ibu Doyan Nulis

79 thoughts on “Sebuah Panduan untuk Ngemil Bijak demi Jiwa Raga yang Lebih Sehat

  1. ameliatanti says:

    Cemilan tu segalanya buatku.

    cemilan lagi bucin : kacang ama buah pepaya
    cemilan lagi gabut : crackers dan potato chips
    cemilan lagi esmosi : segala sesuatu yang pedas – menyengat seperti basreng dan kripik singkong Mak Icrot level 10

  2. Dian Restu Agustina (@dianrestoe) says:

    Mbak Nurul..toss, naik SQ memang sip tenan ya. Aku 2009, rute Jakarta-Singapura-Moskow-Houston. Nyambung Houston-New Orleans, total dari rumah di Jakarta ke hotel di New Orleans 36 jam. Tapi berkat SQ yang makanan-minumannya all set Alhamdulillah ga pingsan
    Eh malah ngobrol. kwkw
    Aku setuju sama Tara: Kegiatan ngemil sebaiknya dilakukan secara sadar agar manfaat bisa didapatkan. Makanlah secara perlahan dan nikmati setiap gigitannya. !
    Beneran love&hate relationship memang ya ngemil ini hihi

  3. naniknara says:

    Tanpa camilan, hidupku terasa hampa
    *halagh lebay!!!

    Eh tapi beneran lho, camilan ini wajib ada di rumah, kalau di rumah nggak ada camilan, pikiran udah nggak tenang, rasanya pengen segera pergi ke toko camilan

  4. Ana ike says:

    Aku kalau udah ngemil suka lupa diri emaang. Lupa kalau timbangan udah melesat jauh ke angkasa pula, haha.
    Baca ini jadi paham deh bahwa ngemil juga harus ada timingnya yang tepat, biar nggak kalap.
    Eniwe, aku pengen banget ngerasain terbang ke US hihibi

  5. Dian Restu Agustina says:

    iya..hiks! kita ga diterima dimana-mana….dah ngomongin ngemil aja kalo gitu
    Kusuka banget diingatkan untuk memilih camilan yang tepat, mengonsumsinya pada waktu yang tepat, serta menikmati camilan tersebut dengan cara yang tepat pula…Jadi mesti tepat ketiganya! Noted!

  6. Nchie Hanie says:

    Hhahahaa..Bu Tedjoo masuk blog daah.
    Iya bener banget kalo ga ngemil tuh rasanya bagaikan ambulan tanpa ngiung2 dah.

    Ketiga cara ngemil bijak ini udah aku praktekan, makanya badannya tetep ga melarmeski banyak nyemil, karena tahu mana cemilan yang dibutuhkan body dan kapan harus berhenti.

    Hayuuu, sekarang aku mau ngemil lupiiss (cemilan berat) ditungguin di prapatan dumay yaa

  7. armitafibriyanti says:

    Suamiku suka banget ngemil Mba, walau udah makan dia tetap harus ngemil. Stok cemilan di rumah gak boleh kosong walau itu hanya keripik atau kerupuk. Kalau aku jarang sih Mba, kalau udah kenyang sama makan utama ya sudah, cukup. Hehe

  8. Mugniar says:

    Kumembelalak ketika sang oppa memberikan secangkir teh plus secangkir kopi. Waah segampang itu ngemil ya, Mak? Hehehe.

    Memang, ya begitu rasa bersalah muncul seharusnya stop bukan malah membatin “sudah telanjur” lalu ngemilnya makin kencang. Nah, webinar ini bagus banget.

    Tinggal praktikinnya. Hiks.

  9. annienugraha says:

    Saya pernah berkonsultasi dengan dokter gizi saat akan melakukan diet setelah melahirkan anak ke-2. Dari sinilah akhirnya saya tahu tentang ritme dan kapasitas yang pas untuk orang seusia saya (saat itu). Ilmunya persis seperti yang disampaikan/diuraikan Mbak Nurul di atas.

    Membaca tulisan ini saya diingatkan kembali bagaimana dulu proses diet saya, tanpa meninggalkan pleasure mengemil. Yang diutamakan adalah SEHAT. Akhirnya jadi ikutan langsing itu adalah bonus.

  10. Okti Li says:

    Makan bijak juga ternyata ada dampaknya lho
    Jika ngemil saja bisa dikendalikan, apalagi makan yg biasanya porsi nya udah bisa terbayangkan ya.

    Meleleh nih lihat Cadbury nya. Bagi bagi hak nih? Bijak dong…

  11. Artha says:

    Yaa ampun … Mbak suka ngemil coklat. Saya ngemil coklat saat hari istimewa ajah, pas milad. Wkwkw. Kalo gak gitu pas anak gak mau makan snack coklatnya, saya yg abisin. Jd ibu tuh malah makin doyan ngemil yaaa… Gegara anak nih *alibi

  12. Reyne Raea says:

    Mbaaaa… mbok ya cocatnya bagi-bagi toh Mbaaaa wkwkwkwkw.
    Itu produknya Mondelez enyak endol semuaahhh, favorit saya dan anak-anak semua.
    Penyumbang rasa ngemil dengan murko banget nget 😀

    Saking enyaknya sih.
    Makanya Mondelez begitu perhatian dengan kampanye ngemil bijaknya ya 😀

    • Reyne Raea says:

      Btw, ngemil bersama keluarga.
      Kalau saya dulu ngemil sendirian Mba, biar ga diminta nakanak, hahaha.
      Lah si adik tuh kalau udah ketemu cokelat, sampai habis baru diam.

      Kalau enggak, minta terussss! 😀

  13. Rui Akaruicha says:

    Ngemil emang udah seperti jalan ninja bagi kebanyakan orang kita ya. Cemilan itu rasanya perlu untuk selalu ada. Eh tapi memang sebaiknya bijak dalam waktu ngemil dan memilih camilan sih.

  14. Ririn Wandes Melalak Cantik says:

    Ngemil itu memang aktifitas yang menyenangkan banget ya mbak. Saya pun tipe yang sering ngemil apalagi saat banyak kerjaan biasanya sembari ngunyah tuh. Tapi memang harus pilih yang sesuai kondisi tubuh dan bijak juga ya biar gak sembarangan asal makan aja.

  15. Iid Yanie says:

    Koq samaan sih mba, abis ngemil pizza lanjut burger dan kebab abis itu saya langsung merepet saya ini manusia bukan sih segalanya masuk tanpa filter haha, tapi abis itu jadi merasa bersalah sama tubuh. Sekarang jadi lebih milih snack apa yang harusnya baik dikonsumsi karena berpengaruh banget buat kesehatan kita

  16. Elly Nurul says:

    Ternyata ngemil juga harus bijak yak hehe ya iya lah kalo ngga bijak yang ada lebaran hehe.. beneran banger sih ini harus bijak dalam hal apapun termasuk ngemil, karena memang yang berlebihan itu tidak baik ya..

  17. halochichie says:

    Aku nih termasuk yang kalau ngemil itu suka bablas deh, apalagi kalau udah suka banget suka gak berasa aja gitu. Berarti sekarang kalau ngemil harus bijak mulai sekarang ini karena bisa bahaya juga sebenarnya.

  18. Okti Li says:

    Bahagianya itu ngemil sambil rebahan, nonton televisi kesukaan, dan bebaskan pikiran dari rasa bersalah. Kini saya coba memperbaiki semuanya. Meski susah, belajar ngemil bijak juga …

  19. monicaang says:

    Wah tips yang cocok banget buat aku nih. Aku suka banget nyemil terutama saat lagi kerja malam, tapi kalau diterusin ya bahaya, sementara kalau berhenti jadi gak bisa mikir akunya. Boleh dicoba nih panduan untuk ngemil bijaknya ini.

  20. Lina W. Sasmita says:

    Saatnya hamil begini saatnya banyak ngemil. Sebelum hamil malah nggak suka ngemil. Kadang snack dan makanan di rumah sering kebuang. Tapi perlahan nafsu makan bertambah dan now, ngemil is my way haha. Meskipun nggak bijak karena semua disikat.

  21. leyla hana says:

    Haduuuh… aku doyan banget ngemil. Susah deh ngilangin kebiasaan ini. Apalagi aku sukanya cemilan manis. Jadilah BB-ku susah turun. Makasih infonya yaa… sekarang harus timbang-timbang dulu sebelum ngemil.

  22. ida's journeys says:

    Aku di rumah tukang ngemil semua jadi cepat habis jadi akhirnya ga terlalu sering bikin cemilan. Suami yg sering beliin, tapi ya itu dimakan ramai ramai jadi per orangnya ga terlalu banyak ngemil hehe

  23. Tian Lustiana says:

    Saya di rumah paling suka ngemil hehe, anak pun jadi ngikutin deh, makan nasi jarang saya tuh tapi ngemil terus menerus hihih makanya susah turun bb

  24. Kurnia amelia says:

    Ya ampun liat sushi jadi pengen makan sushi deh hehe. Mengenai ngemil sih biasanya kalau lagi laper banget atau senggang mikir kerjaan pasti deh ngemil tapi tergantung kantong juga sih hehe.

  25. Arda Sitepu says:

    Baca artikel ini jadi ngeri-ngeri sedap buat ngemil sembarangan sekarang mbak apalagi segala sesuatu yang masuk ke dalam tubuh. Jadi harus lebih picky pilih cemilan sehat untuk keluarga.

  26. lendyagasshi says:

    Iiih….aku jadi takut.
    Too much love will kill you!
    Too much cemilan, bisa jadi juga bakal kill me.

    Berasa ngomongnya ke aku banget.
    Aku hobi banget ngemut permen. Ini termasuk ngemil yang gak sehat juga kan yaa…?

  27. Nabilla DP says:

    ngemil itu kayak bocor alus sih, mbak. keliatannya dikit2 tapi sebetulnya kalau cek kalorinya bisa besar, udah gitu jarang ada cemilan yang mengenyangkan dengan kalori sedikit 😀

  28. Mirna Kei Rahardjo says:

    iya ngemil pun kalo ga bener cuma kenyang ga ada gizi apalagi bikin jiwa raga sehat heheheh… tapi pas pandemi ini emang apa aja dimakan sangking bosennya sih wkwkkw

  29. Aprillia Ekasari says:

    Aku tu kalau makan bisa cepet mbak gak nyampek lima menit semenjak punya anak. Rasanya pengen buru2 jd makan tu gk menikmati. Makanya nih mulai kapan hari aku udah nyoba buat makan pelan2 dan menikmati makananku. Alhasil aku skrng jarang nambah nasi lg kalau makan wkwkwk 😛

  30. Jiah Al Jafara says:

    Aku kalau di jalan malah bisa banget gak ngemil. Dulu sih lapar gak papa karena kan sering muntah. Sekarang meski sudah jarang muntah, tetep gak biasa ngemil. Nah kalau udah santai, baru tuh ngemil dan makan buat isi energi. Jangan lupa untuk tetap bijak

  31. Cindi says:

    Beneeeeeeer Mbaaaa, tooooooossslah kita 😀
    Nggak ngemil nggak afdal hehehe
    Lapar nggak bisa fokus, jalan ninjanya ya ngemil kalau nggak pengen makan berat tapi beneran harus bijak menentukan cemilan ya Mba..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s