Antara Aku, Kopi Kapal Api dan San Francisco

“Udah packing semua baju? Jaket, sarung tangan, kaos kaki? Paspor? Dompet? Dollar Amerika?”

“Udaaaah…..”

“Jangan lupa bawa minyak kayu putih, balsem, sama Kopi Kapal Api!”

 

Huahahahaha, tawaku menyembur keras demi mendengar saran yang dilontarkan suami. Yeah, he knows me so well. Ke mana-mana saya memang selalu addicted dengan entitas yang ia sebut barusan. Benda-benda yang membuat aura “all is well” senantiasa bersemayam di relung kalbu. Cari minyak kayu putih dan balsem mungkin bakal lebih susah (dan mahal!) di Amerika Serikat. Tapiii, kalo kopi? Bukannya di Amrik juga banyak varian kopi yang patut saya coba ya?

Kopi Kapal Api
Pak Suami (paling kanan) laki-laki paling sabar yang pernah aku jumpai seumur hidup 🙂

“Aku kan ntar mau ngejajal kopi-kopi yang biasa dijual di Amrik, Pak. Aku juga bakal food crawl dan café-hopping ama teman-teman local guides. Mosok aku kudu bawa kopi Kapal Api sih?”

O iya, buat yang penasaran, kok bisa saya ke Amrik gratisan, bisa baca artikel ini ya.

Suamiku memasang wajah lempengnya. Dengan tutur kata yang sabar, ia berujar, “Bu…. Tidak semua kopi cocok di lidah dan lambung kita. Kalau ternyata kopi di sana kadar asamnya terlalu tinggi, atau varian kopinya enggak banget, trus piye jal? Mosok kamu harus ubek-ubek toko di San Francisco buat cari kopi Kapal Api? Iya kalo gampang, kalo susah dapatnya? Apalagi, aku ngerti… awakmu mood-nya bakal amburadul kalau sehari nggak ketemu kopi. Udaaah, bawa yang sachet aja, jangan ambil resiko lah!”

Aku ngikik geli. Suamikuuuu, you know me so well #eaaaa #Jadi pengin nyanyi lagunya Smash!

***

Saya lupa kapan persisnya mulai melabuhkan cinta pada kopi Kapal Api. Barangkali ketika duduk di bangku SMA, ketika beberapa teman cowok rajin main ke rumah #eaaaa 

Kadang, sebagai tuan rumah yang baik, saya kudu menyajikan minuman ‘berwarna’ ke mereka. Maksudnya bukan air putih gitu lho. Nah, kopi bisa jadi alternatif suguhan yang menarik, apalagi sambil dengerin modus-modus plus sepik-sepik ala cowok-cowok SMA. Hahahha. Olalaaa, masa remaja memang indah tiada tara.

Seluruh elemen keluarga saya juga punya cinta serupa. Kopi, dan kehidupan kami, adalah sebuah simbiosis mutualisme yang nyaris tak pernah terpisahkan. Aroma kopi yang menguar dari dapur, tatkala bersimbah air yang baru mendidih dari atas kompor… Sungguh! Ini sebuah terapi jiwa tersendiri, yang mampu menyingkirkan semua gulana yang singgah. Aroma kopi yang demikian ‘wah’, menjadi penyemangat dalam menjalani hari.

Di bumi San Francisco, Amerika Serikat, saya dan sejumlah rekan local guides menginap di Hotel Hyatt Fisherman’s Wharf. Ada kopi khas Amerika (for free!) yang disediakan pihak hotel dan bisa kita nikmati setiap pagi.

 

Saya hirup aromanya. Nope. This is not my favorite. Akan tetapi, naluri sebagai food enthusiast, membuat saya penasaran dan mencoba minum beberapa teguk.

NO! DEFINITELY THIS IS NOT MY COFFEE! Aku hanya mau Kopi Kapal Api!

IMG-20171105-WA0047

***

Kopi Kapal Api adalah “Cinta tanpa umpama” yang saya bawa ke penjuru bumi yang berbeda. Manakala beranjangsana ke Amerika, sudah pasti saya tak bisa berpaling dari cinta yang bercokol dalam jiwa. Sebuah cinta yang Jelas Lebih Enak

Di momen Google Local Guides Summit 2017, saya bawa Kapal Api sachet ke mana saja. Walau di beberapa forum tersedia teh dan kopi local Amerika, well… apa boleh buat, cinta saya kepada Kapal Api tak bakal lekang oleh iming-iming kopi lainnya.

TIM INDONESIA
Wakil Indonesia di Google Local Guides Summit 2017 –> ki-ka : Budiono, Nurul (saya), Mutiah, Nunung, Fahmi

Rasa cinta yang meluap-luap terhadap Kopi Kapal Api boleh jadi merupakan turunan dari rasa cinta saya akan Bangsa Indonesia. Di forum internasional, saya dan 4 rekan mewakili Republik Indonesia, menunjukkan eksistensi bangsa kita sekaligus mengedukasi para Googlers (karyawan Google) dan 151 local guides dari 62 negara tentang Indonesia. Tentang kekayaan alam, wisata, dan aneka mahakarya yang lahir dari, oleh, dan untuk Bangsa Indonesia.

***

Pagi itu, saya melangkahkan kaki ke areal sekitar Golden Gate Bridge. Jembatan yang begitu gagah membentang. Menjadi ikon San Francisco, California, dan tentu saja jadi jujugan banyak wisatawan dari seantero dunia.

Banyaaaak banget aktivitas yang bisa dilakukan di sini. Sudah barang tentu, menu utama adalah: berfoto sepuasnya di sana di sini, cari oleh-oleh di gift store… dan bersua dengan orang Indonesia yang lagi traveling ke SF. Wow, rasanya super-duper-happy bisa bertemu sesama WNI di benua Amerika!

Kemudian, saya, Fahmi dan Kak Budi beranjak ke kawasan yang lebih teduh untuk menikmati jembatan Golden Gate dari point of view yang berbeda. Yang nggak terlampau touristy gitu lah.

IMG-20171014-WA0044

Saya keluarkan satu sachet kopi Kapal Api… dan sebelumnya beli air panas di salah satu minimarket yang bercokol di sekitar areal Golden Gate.

Penuh cinta, saya tuangkan serbuk kopi, yang kemudian berpadu dengan air panas… voila….! Aroma ini… aroma yang membuat saya makin terselimuti dengan cinta dan rindu yang bertalu-talu, akan bumi pertiwi….

IMG-20171014-WA0060

 

Di sinilah… di bagian bumi yang berjarak 14 ribu km dari Indonesia…

Saya mencium aroma yang menenangkan jiwa…. Melembutkan hati… Menggiring nurani untuk lebih peduli…

Apa yang sudah saya persembahkan untuk Indonesia?

Bilangan usia saya merangkak, namun apakah ini sejalan dengan kontribusi saya untuk ibu pertiwi?

IMG-20171014-WA0054

Saya sesap kopi Kapal Api. Jelas Lebih Enak. Jelas! Lagi-lagi, indra penciuman melakukan job desk-nya dengan seksama. Membaui aroma menenangkan yang menguar dari sana.

 

Tidak pernah saya berani bermimpi se-“liar” ini.

Berkunjung ke benua yang begitu jauhnya, membawa nama Indonesia, dan menjadi representasi republik ini dalam sebuah forum internasional.

Apa yang bisa aku lakukan untukmu, Indonesia? Sudah cukupkah apa yang kami berikan di forum Google Local Guides Summit ini?

Tegukan berikutnya membuat tetesan Kopi Kapal Api mengaliri kerongkongan. Nikmat. Sungguh sebuah “me time” paling personal dan impresif yang pernah saya rasakan. Semua tantangan dan badai kehidupan yang sempat singgah, kini seolah menemukan jalan keluar, yang membuat diri ini sumringah.

Kecintaan saya pada Indonesia harus mewujud pada sebuah karya nyata.

Tak perlu muluk-muluk.

Lakukan sesuatu yang bisa memberikan dampak positif dan berfaedah bagi lingkungan terdekat! Komunitas di sekitarmu.

Itulah caramu mewujudkan cinta pada Indonesia! Itulah caramu berterima kasih pada Sang Maha, yang telah memperjalankan engkau lintas benua!

 

Terima kasih, Kopi Kapal Api….

Terima kasih, cinta sejatiku yang siap sedia menemani kapanpun dan di manapun…

Meregukmu adalah sebuah kenikmatan paling hakiki, yang membuat ledakan inspirasi datang bertubi-tubi….

Kapalapipunyacerita-blog-kompetisi

 

Advertisements

36 comments

  1. Aku membayangkan nikmatnya menyesap kopi buatan negeri sendiri ditempat indah yang terpisah benua
    Ah pasti sedap sekali dan jadi makin mensyukuri terlahir sebagai orang Indonesia ya mbak

  2. Kayaknya Kopi Kapal Api itu emang paling wajib dan awam buat orang Indonesia. Dari kawasan lenong sampe kawasan metal kayaknya pernah minum ini. Di rumah juga selalu siapin ini buat persediaan buat ngopi pagi-pagi biar nggak oleng.

  3. Selalu setia produk dalam negeri ya mba, tapi emang betul sih kalo lidah sudah terbiasa dgn yg biasa kita rasakan, walaupun ada produk yg katanya lebih oke, tetep ga bisa kelain hati ya mba. Hehehe…..asik banget ya bisa jalan ke amrik secara gratis.

  4. Minum kopi Kapal Apinya jauh juga mba :))) btw akupun kalo pergi2 suka gak lupa bawa kopi sachet. Walaupun di hotel akan disediakan :))

    Sukses buat lombanya ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s