Berbuka dengan Menu Sederhana, agar Puasa tak Hilang Makna

“Bukber bareng yuk, di Hotel HARRIS aja gimana?”

“Eh, kapan hari itu, aku mau ajak kamu buka di restoran masakan Arab lho. Endolita banget! yuk yuk kapan kita atur jadwalnya?”

Tahun lalu, dan tahun-tahun sebelumnya, ajakan buat buka puasa bersama seliweran di kuping dan berbagai aplikasi chatting. Bulan Puasa, justru menjadi momentum untuk “merayakan” kemenangan setelah seharian penuh menahan lapar dahaga; dan “melampiaskannya” dengan ber-BukBer di resto/cafe atau hotel elit. Biasanya, dengan menu AYCE (All You Can Eat) yang sudah pasti men-trigger kita untuk mengaplikasikan kredo “Siang Dipendam, Malam Balas Dendam”.

Oh, well. Thanks to coronavirus, kita “digembleng” untuk kembali pada hakikat puasa: dengan tulus ikhlas, sadar penuh menjalankan esensi ibadah sesungguhnya.

Apa sih, sebenernya hikmah yang kudu kita petik dari ibadah puasa? Saya jadi inget lagunya BIMBO

“Lapar haus kita jalani…… agar tahu rasa sengsara.

Mencinta kaum dhuafa…. senantiasa….”

Nah. Kalau sudah puasa seharian, lalu buka-nya di resto elit, yaaaa sorry to say, kok rasanya agak sedikit ‘menyimpang’ dari hakikat puasa sesungguhnya.

Walaupun kita berdalih “Toh ga setiap hari” atau “Kan ini juga sekalian silaturahim” it’s okay, let’s agree to disagree. Saya juga beberapa kali ikutan BukBer di resto/cafe/hotel nan fancy kok, tapi to be honest, memang rasanya ada yang mengganjal.

***

Sekali lagi, coronavirus outbreak ini bagaikan blessing in disguise, berkah terselubung yang mengajarkan kita untuk hidup basic. Live simple. Be happier, dengan hal-hal sederhana.

Untuk kali pertama dalam hidup, saya nggak pernah riweuh mikir, “Ntar buka puasa pakai apa ya?” Well, tentu saya melakukan Food preparation, menyiapkan stok telur dan bahan pangan lain. Frozen food juga selalu nangkring di freezer. Tapiii, saya tidak perlu mengalokasikan energi dan budget yang WOW buat buka puasa di destinasi fancy.

Semuanya serba simple. Begitu adzan Maghrib berkumandang, teguk segelas teh manis hangat (kadang ada kurma, kadang nggak). Lalu, roti tawar yang diolesi selai stroberi atau cokelat. Lanjut Sholat Maghrib.

Setelah sholat, kembali ke meja makan. Menikmati menu utama yang lagi-lagi sederhana. Paling sering: Nasi putih hangat + Telor ceplok + nugget. Sore ini, menunya nasi putih + soto ayam. Simple. Nggak perlu kolak pisang, es campur, es teler, es syrup merah merona dll dst. Kami berupaya mengurangi konsumsi es dan gula.

Buah dan sayur tentu harus tersedia. Biasanya pilihkan pisang dan jeruk. Yang praktis dan (semoga) tidak mudah busuk.

Selamat beribadah Ramadhan, teman-teman. Enjoy!!

2 thoughts on “Berbuka dengan Menu Sederhana, agar Puasa tak Hilang Makna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s