Menjauh dari Manusia, Mendekat pada Sang Maha

Sebuah Panduan Protokol Kesehatan Jiwa Raga di Masa Pandemi

Pandemi makin menggila dan mengganas.

Corona dengan berbagai variannya makin sadis dan jaharaaa (alias jahat)

Kabar duka cita berseliweran di segenap penjuru, baik online maupun offline.

Toa Masjid berkali-kali mengantar pesan, bahwa hari ini Bapak Fulan berpulang… kemarin Ibu Fulanah menghadap-Nya… dan aneka nestapa yang seolah entah kapan dan bagaimana ini ujungnya.

Jujur saja, saya beberapa kali disergap anxiety parah. Apalagi, belakangan ini GERD saya sering banget kumat. Ini berujung pada tidur yang nggak nyaman. Nggak berkualitas prima.

Makan juga gitu, berasa ambyaaarr, makanan favorit jadi terasa B aja. Kalau makanan ngga favorit? Ogaaahh!  Bener-bener situasi kian berasa acakadut. Hati terasa mencelos, kacau balau nggak keruan.

Baiklah. Sepertinya, saya harus menemukan jalan keluar dari situasi yang serba katastropik ini. Protokol Kesehatan demi JIWA RAGA yang sehat wal afiat harus saya terapkan. apa sajakah?

Lakukan Banyak Hal demi Kesehatan Jiwa

Banyak yang berpulang, setelah bertarung melawan covid. Circle saya juga begitu. Diiringi dengan rasa syok, tidak percaya, kok bisaaaa… mas anu, bapak itu, ibu inu tidak survive tatkala dihadapkan dengan virus covid ini.

Yap, kematian adalah nasihat terbaik. Sebagaimana sabda Rasul, orang yang paling cerdas adalah yang banyak mengingat mati, dan mempersiapkan amal sholih terbaik sebagai bekal menuju kematian.

Maka dari itu, ketimbang berkubang dalam ngelangut, ya sudah, sibukkan diri saja untuk persiapkan amal sholih. Bentuknya macam-macam. Bisa dengan mengirimkan donasi untuk kerabat yang sedang berduka; mengirimkan makanan/ obat/ vitamin/ apapun untuk yang sedang isolasi mandiri; atau sesimpel mengirim info seputar ketersediaan tabung gas oksigen/ plasma dll untuk survivor covid.

Yang jelas, satu hal yang saya lakukan: Pahami ambang batas kewarasan jiwa dalam menerima informasi seputar pandemic ini. Artinya, saya harus sigap clear chat, apabila rasa tidak nyaman mak bedunduk datang. Ketika WA grup terasa over-sharing karena banyak membahas hal-hal berkaitan dengan covid, saat itu juga clear chat kudu segera dilakukan.

Ataupun, info seputar covid, cukup tahu saja. Jangan terus-terusan membombardir diri dengan berita yang malah bikin ciut. Waspada dan siaga, itu harus. Panik/ anxiety, itu jangan. Kita harus paham mana bedanya. Tiap orang punya kadar limit kepanikan yang beda. So, be wise!

Alihkan konsentrasi kita, untuk melakukan hal-hal yang bikin Bahagia. Zumba? Joget-joget rancak diiringi Butter-nya BTS? Atau yoga bareng channel Penyogastar di YouTube? Boleeeehhh! Hormon endorphin harus bisa terproduksi. Supaya hati kita tetap Bahagia syalala, meskipun kondisi sedang tidak baik-baik saja.

Oh iya, yang terpenting dari itu semua, pandemic ini mengajarkan kita: Menjauh dari manusia, mendekat pada Sang Maha. Banyak-banyaklah bermunajat, mengemis, memohon pertolongan agar Allah mengangkat pagebluk ini. Sama sekali tidak sulit bagi Sang Penguasa Semesta. Tugas kita, berupaya, berdoa, tawakkal sedari awal. Berserah diri sepenuhnya pada Sang Maha.

Maka…. Hati akan terasa lebih tenang, tidak kemrungsung… berpasrah dengan apapun takdir yang DIA berikan untuk kita.

Tetap Lakukan Protokol Kesehatan secara Optimal

Oleh karena mutasi virus corona yang kian menggila, banyak improvisasi prokes yang kudu kita jalankan. Di antaranya, double masker. Hah? Satu masker aja sumpek, ini disuruh double? Yaaaa kalo ogah bermasker, better di rumah aja. Jangan ke mana-mana. Karena virus yang baru ini disinyalir lebih ganas dan bisa menular hanya dalam 5-10 detik saja.

Tapiii… Namanya orang hidup, pasti butuh untuk ke luar rumah. Sesimpel beli sembako ke minimarket, atau bayar arisan bulanan, atau apalah…. Walau bisa tergantikan online transaction, terkadang kita memang PERLU ke luar rumah, kan. Ya balik lagi, demi kewarasan jiwa juga 😀

Double masker udah dilakoni…. Yang tak kalah penting, jaga kebersihan.

Baik itu kebersihan badan, rumah/ tempat tinggal, kendaraan, apa ajalah. Dulu saya ngepel rumah 2 hari sekali. Sekarang? Kudu tiap hari. Malah di beberapa spot, saya bersihkan 2-3 kali dalam sehari. Bukaaaannn, saya nggak masuk kategori clean freak, kok 😀 Hanya saja, selama pandemic ini, saya merasa “rumah bersih dan sehat” adalah asset/investasi berharga yang harus dirawat dan dipertahankan. Most of the time, saya di rumah aja. So…. Gimana caranya, saya harus make sure bahwa lokasi saya tinggal, hidup, bernafas, ini adalah spot yang sehat, nyaman untuk dihuni juga. Nggak harus mevvah… toh, rumah saya juga sederhana. Yang penting mengusung semangat “Baiti jannati” itu sudah lebih dari cukup.

Teman-teman, mungkin mau cerita protocol Kesehatan jiwa raga selama pagebluk belum berakhir? Cuss, silakan tulis di kolom komentar, ya.

67 thoughts on “Menjauh dari Manusia, Mendekat pada Sang Maha

  1. Travel Galau says:

    jiwaku juga lagi ga sehat dua minggu terakhir. lelah mendengar berita duka yang tak habis-habis. lelah mencari ketersediaan oksigen buat keluarga di bandung.
    satu-satunya hal yang bikin aku sedikit waras saat ini adalah menyibukan diri dengan proyek dapur. oh sama teriak-teriak menyanyikan lagu sheila on 7 😀

  2. Ira says:

    aku pun demi kesehatan mental biasanya buka grup chat 1x aja pagi-pagi. Sisanya membalas chat atau message yang memang penting dan pribadi aja, lalu kembali bekerja. Kalau mood lagi turun, demi kewarasan biasanya lebih memilih nonton variety show korea, beberes rumah, atau olahraga ringan. Oh sama kadang-kadang karaokean di depan laptop 😀

  3. sandraartsense says:

    Akupun lagi sedih dan berduka, teman kuliah, tetangga, sodara dan om meninggal dunia… Semoga ada kita semuanya dilindungi Tuhan dan sehat serta sukses selalu ya

  4. fennibungsu says:

    Daku baca berita soal covid ya sekadar tahu perkembangan Nggak terlalu dipikirkan mendalam, biar gak ganggu psikis. Jadi lakukan yang membuat hati senang dan makin mendekat kepada Allah SWT, itu yang paling asik.

  5. alimuakhir says:

    Bener banger Mbak Nurul, jaga prokes nggak boleh lengah. Saya sih selalu mikir gini … jaga kesehatan itu hukumnya wajib, artinya kalau kita menjaganya pasti dapat pahala.

  6. Widyanti Yuliandari says:

    Saat ini pinginnya totally wfh Mbak, tapi piye, tempo2 harus ke kampus ketika ada pekerjaan yg gak bisa dikerjain dari rumah. Masker dobel, rajin cuci tangan dan bawa2 desinfektan ke mana2, itu yang jadi ihktiar. Didukung pola makan, juga suplemen. Mbuh wis, apa aja yang terasa logis udah dijabanin ajah. Oya, termasuk vaksin 2 dosis, lengkap

  7. Putu Sukartini says:

    Dua minggu ini pertahananku runtuh
    Patah hati berkali-kali mendengar kabar duka yang datang silih berganti
    Kawan dekat, orang tuanya, saudara, keluarga
    Duuuuh… semoga pandemi ini segera berlalu
    Semoga kita semua diberi kesehatan

  8. Dian Restu Agustina (@dianrestoe) says:

    Keluarga besarku di Kediri masuk yang terpapar. Mbak dan suami masuk RS dan dirawat sampai negatif lagi, yang lain beberapa positif dan sisanya isoman. Sedih banget dan kalut, karena aku jauh..kebayang aja hal terburuk terus.
    Sama, aku juga bersih-bersih mulu di rumah..ngoyak-oyak semua buat bebersih badan, ngajakin bersihin rumah lebih sering dari sebelumnya. Juga membatasi pergi..
    Semoga ihktiar ini membawa kebaikan buat semua dan pandemi segera usai

  9. Maria Soemitro says:

    Sering banget denger GERD yang katanya menyakitkan sekali

    kemarin saya ngalamin sakit dada yang amat sangat, sampai saya pikir serangan jantung

    dan ngebayangin sebentar lagi mau “dipanggil”

    Tapi dokter bilang itu bukan jantung, tapi asam lambung. Duh ternyata ya ….

  10. ikamayasusanti1 says:

    Saya samapi nggak berani sering-sering scroll medsos, Mbak. Dikuatin buka medsos hanya untuk nyari bahan buat bikin konten tulisan. Nguatin diri dengan afirmasi kalau saya dan keluarga melewati pandemi ini dengan baik-baik saja.

  11. bayufitri says:

    Wh setuju banget nih ngominguin kebersihan rumah saya sendiri ilfill kalau lihat rumah berdebu sedikit saja hehehe jadi maunya harus tampak bersih emang..akhir nya bersih2 terus deh

  12. Maria Soemitro says:

    iya banget Mbak Nurul, sahabat baik saya meninggal karena Covid-19

    mayoritas anggota keluarga sakit karena Covid-19

    karena itu penting banget meningkatkan imunitas tubuh dan jiwa

  13. Malica says:

    Mbak, sejujurnya pandemi kedua ini nyaris bikin aku stres. Kabar duka nggak henti2nya terdengar. Dan salah satunya ya kadang aku langsung clear chat klau ada yang membahas terlalu dalam di WAG grup. Aku sepakat dengan kematian adalah nasihat terbaik. Tapi ya menjaga kewarasan kita paling utama

  14. Aminnatul Widyana says:

    Pandemi memang bikin was-was ya… Di sekitarku juga banyak teman serta tetangga yang kena covid. Bahkan dokter kandungan yang banyak dikenal masyarakat umum juga sudah meninggal tak berselang lama. Stadion uda dibuka jg buat tambahan ruang perawatan. Tapi, pikiran positif yg harus kita jaga walaupun ada kabar buruk dimana-mana.

  15. Enny Ratnawati says:

    Iya banget,jiwa jadi gak sehat.tiap hari denger berita duka…sedihhh .
    Tapi haraapn tentu harus kita jaga.yakin badai pasti berlalu,walau badai ya sudah membuat hancur
    Mendekat diri pada-Nya memang jawabnya

  16. ysalma says:

    Demi kesehatan jiwa sy jg milih auto clear chat. Karena pikiran yg stress memang pengaruhnya banyak banget pada ketahanan tubuh.

    Sekarang jendela rumah juga dibuka selebar-lebarnya agar sirkulasi udara dalam rumah baik.
    Semoga semua dr kita pada sibuk bermunajat agar si Covid ini berhenti menyebar dan bermutasi. Sehat2 utk raga dan jiwa kita semua.

  17. Wahid Priyono says:

    Setuju sekali dengan kak Nurul rahmah. Di masa2 COVID-19 saat ini memang kita lebih mengutamakan kesehatan mental dan jiwa. Saya gitu, kalo ada chat2 gak jelas di WA/pesan SMS langsung saya hapus saja. Bahkan ada SMS menang hadiah lomba sampe 100jt, menang undian, dll, gak saya gubris kalo gak penting2 amat. Bikin pusing kepala aja ya? hehe…

    Kerasa banget nih pandemik, di Lampung juga sudah banyak yang zona merah. Di tempat tinggal saya sudah banyak yang meninggal karena COVID-19. Jangan lupa prokesnya kak, tetap sehat2 buat kita semuanya 😀 #StayHealth #TetapBahagia

  18. tukang jalan jajan says:

    sekarang Prokes emang ngga bisa ditawar lagi, selaku pekerja yang kerja di garda depan selalu memperhatikan ini.
    Sama menghempas berita berita hoax apalagi di grup keluarga. Beneran perlu slepet biar ngga nyebarin berita ngga penting

  19. Melati Octavia says:

    Aku sepakat banget sama tulisan ini. Dari awal soal corona sebenarnya peringatan buat kita semua soal diri kita, bumi, dan juga Tuhan. Terimakasih ya mba ngingetin kembali ke kami soal ini

    • Vicky Laurentina says:

      Aku juga nggak mau terlibat dalam percakapan di WAG yang terlalu sering membahas Covid. Aku ikut WAG hanya untuk mendengarkan siapa yang sudah meninggal, siapa yang baru kena.

      Tapi memang dalam beberapa minggu terakhir, prokes pribadiku berubah. Terutama sejak aku pulang dari tugas di Magelang tuh. Sekarang aku beneran pakai masker dobel. Sampai dibelain mau beli satu box masker medis. Padahal biasanya aku cuma pakai masker kain aja.

      Terus aku juga jadi belanja madu. Madu 100%. Mending belanja madu daripada belanja suplemen imunodulator.

      Semoga Mbak Nurul sehat selalu ya.

  20. Yudichu says:

    Sekarang bener-benar harus taat protokol kesehatan, ga pake nawar-nawar. Olahraga juga musti rutin, kalo lagi ada cahay matahari pagi segera deh berjemur.

  21. retnokw says:

    kalau nggak penting banget aku nggak keluar rumah, tapi sekarang lagi mudik jadi lumayan dapet limpahan cahaya matahari dan udara segar meskipun di rumah aja. Simpel sih tapi bikin badan terasa lebih segar juga, daripada di rumahku sendiri yang mahal sinar dan udara segar…

  22. annisatang says:

    WA Group itu memang kadang pembawa masalah besar kita karena informasi mudah banget tersebar dengan cepat. Dulu permasalahannya pornografi. Mudah sekali kawan saya meneruskan cuplikan video yang kadang kurang pantas. Kemudian berita hoax. Kadang beritanya ngalah-ngalahkan orang yang kompeten di bidangnya. Profesor belum nemukan obat covid, kadang orang awam sudah nemukan duluan dan langsung menyebarkannya. Hehehe. 😅

  23. ismyama says:

    Sepakat banget mba. Udah circle terdekat soalnya yang positif. Kayak tinggal nunggu waktu aja hiks. Lebih baik fokus ke kesehatan jiwa raga diri sendiri. Dan mendekatkan diri pada Ilaihi ya

  24. ameliatanti says:

    Aku akhir akhir ini “menyaring” circle pertemanan dengan cara : tidak menyaring. Eh gimana?

    Ya, aku memang akhirnya jarang menyapa temen di grup. Banyak menyimak dari jauh aja – karena kalau membaca grup dengan intens, pasti bawaannya emosi atau sedih – which is negatif banget energinya

    So, dengan aku berdiam diri, akhirnya banyak menyapa secara pribadi. Well…. usia tidak pernah tahu. Jadi, buat apa cari musuh juga kupikir.

    Satu hal : jangan pernah berhenti “berdialog” dengan Sang Maha adalah solusi terbaik memang. we never know….

  25. Wiwied Widya says:

    Aku kehilangan Bapak karena wabah ini, belum lagi keluarga besar banyak yang positif sementara aku jauh dan nggak bisa berbuat banyak. Rasanya sedih banget. Semoga poandemi segera berlalu, sekarang berjuang untk tetap waras dan belajar adaptasi juga

  26. Katerina says:

    Yoi mbak, lakukan segala cara buat jaga tetap sehat jiwa raga, sesuai cara yang kita tahu dan mampu. Aku udah pernah nulis juga yang relate dengan tulisan mbak Nurul ini di blogku. Ga harus hal-hal mahal dan mewah buat tetap sehat, yang mudah dan pasti-pasti aja. Ikhtiar material lakukan, ikhtiar spiritual juga jangan ketinggalan.

  27. Arinta Adiningtyas says:

    Beberapa minggu terakhir ramai berita duka ya, Mak.. Aku sendiri mulai me-mute nomor teman-teman yang statusnya bikin panik terus. Alhamdulillah, masa-masa anxiety-ku udah berhasil kulewati, Mak.. Tahun lalu aku sering nangis tanpa sebab, alhamdulillah sekarang udah ngga begitu lagi.

    Bismillah lah ya, Mak.. Ikhtiar sudah, berdoa juga jangan sampai lelah, semoga selalu diberi perlindungan oleh Allah.

  28. Hani S. says:

    Masya Allah Mba, aku pun merasa harus sedikit mundur teratur dari kesibukan dunia maya. Bukan karena tidak manfaatnya, tapi merasa ingin lebih “menyepi” dan menghabiskan lebih banyak waktu untuk bercengkrama dengan Keluarga, walau sebagian besar dilakukan secara virtual.

    Bismillah kita diberikan kemudahan melewati ujian ini, lebih bisa mengambil hikmahnya juga, Amiiin. Tetap semangat sehat!

  29. Ucig says:

    Mba, aku agak takut buat lihat group whatsapp karena hampir 2 mingguan ini bertubi2 kehilangan sampai aku bikin postingan 😭
    Menjaga kewarasan aku ngeblog aja nulis.. support system aku jg sakit 😢
    Tapi harus ttp semangat yaaa. Kita bisa, double masker smua prokes ketat. Aku jg butuh hawa luar, skilas beli bahan makanan udah refresh, alhamdulillah kegiatan di rumah udah padat merayap jadi memupuk positif thinking terus dilakuin.. sehat2 ya mbaaa kita smua

  30. yenisovia says:

    Aku udah ke fase lelah mba denger berita covid. Dari rasa sedih, marah takut semuanya ada dan menyatu. Akhirnya demi kewarasan aku, aku pilih diet medsos dulu. Jadi buka fb cuma buat update status aja, buka grup wa langsung clear chat. Saking aku ga kuat baca beritanya. Sekarang aku mau fokus ama apa yang bisa aku lakukan termasuk mendekat padaNya

  31. Keke Naima says:

    Papah saya wafat secara mendadak sekitar 2 tahun yang lalu. Gak ada pertanda. Kondisinya pun sehat wal afiat. Dari kejadian itu saya semakin meyakini kalau kematian adalah nasehat terbaik. Bisa setiap saat manusia dipanggil oleh pemilik Nya.

    Iman dan imun harus semakin ditingkatkan di saat pandemi. Tentunya iman yang utama tanpa mengesampingkan imun. Semakin mendekatkan diri kepada Nya.

  32. nchie hanie says:

    Rumahku pinggir mesjid,tiap2 toa dan ambulan yang nongki di halaman mesjid selalu bolak balik. HIks, rasanya udah speechlesh Mak, udah banyak kehilangan saudara, keluarga, teman, tetangga karena wabah ini.

    Beneran, pasca lebaran, fokus sama kewarasan diri sendiri,yang memang ga bisa ngapa2in, berdamai dengan keadaaan dan diri sendiri, pasrah sama kehendakNya, tapi tetep berusaha untuk wfh, prokes ditingkatkan lagi meski di rumah aja, menjaga pikiran dan hati dan mendekatkan diri padaNya.

    Palingan di rumah, berdonasi atau gantian masak untuk supply yang lagi isoman.
    Semoga kita semua sellau diberikan kesehatan.

  33. Mia Yunita says:

    Rasanya miris banget pas lihat berita di tv, korban covid semakin meningkat. Merinding. Aku pribadi sih memang orang rumahan jadi santai aja lama nggak ke luar rumah. Nah, yang bikin deg²an kalo suami pulang dari kerja. Sedangkan anak, dia juga sama dengan saya, ditambah dg sekolah PJJ jd klop banget. So yang sering berinteraksi dg orang² yg di luar ya paksu deh. Semoga beliau udah kelar vaksinasi 2 tahap, imunitasnya juga semakin oke. Tinggal aku dan anak aja nih yg di rumah, semoga bisa tetep 5 M dan imunitas tubuh terjaga.

  34. momtraveler says:

    Aku pun lagi di masa ketakutqn dan panik mbak. Tiap hari suara ambulance dan mobil jenazah meraung2 belumg TOA masjid dan wag yg teruus aja mengabarkan brita duka. Meskipun aku sudah ngerasain kena covid ketakutan bakalan kena lagi tetep ada mbak. Apalagi pasca covid aku merasakan efek long covid. Badan jd gampang capek dan ngos2an jd aku parno aja klo ngebayangin kena yg varian delta pie? Satu2nya ya balikin semua ke Allah doa yg kenceng. Usaha maksimal jagain keluarga dgn disiplin prokes semaksimal mungkin.
    Semoga segera berlalu pandemi dan ketidakpastian ni ya mbak. Take care

  35. Nurul Sufitri says:

    Demi kewarasan jiwa raga, aku sekeluarga juga selalu berusaha tetap di rumah aja 🙂 Beras, gas, makanan, isi dapur, rata2 online atau delivery langganan. IYa sih masih keluar rumah sesekali jalan pagi atau mampir ke rumah orang tuaku sebentar. Protokol kesehatan 5M selalu dilakukan.2 hari lalu kami ber 4 divaksin dong hehehe senang banget bisa barengan anaj, Sinovas mulai 12 tahun ke atas. Ya begitulah cerita bertawakal aku sama keluarga.

  36. Rach Alida says:

    Bismillah selalu semangat ya mba. Bagaimanapun ini harus kita hadapi. Tetap berikan yang terbaik dan menjaga kondisi dengan baik selalu. Tetap sehat dan penuh semangat

  37. ophiziadah says:

    ku banyakin bersyukur mba… even untuk hal-hal sederhana yg biasanya aku anggap biasa aja.
    trus juga hal2 yg sederhana itu juga ku anggap sebagai cara berbahagia. Gak bisa makan keluar yo wis makan di teras aja sm anak2 dan suami gelar tiker di bawah pohon mangga, angin sepoi2 anggap aja lagi piknik hehehe

  38. lendyagassi says:

    Menghadapi pandemi ini tidak hanya kesehatan fisik yang ditatar yaa…tapi juga kesehatan mental.
    Aku beberapa hari kemarin sakit, kak Nurul…karena banyaknya kabar saudara dan orangtua temen yang meninggal.

    Yang bisa mengobatiku salah satunya karena teman menuliskan status “Ibu, semoga meninggalmu di hari Jum’at tepat ketika adzan dhuhur dan ketika masa pandemi ini adalah kematian syahid yang dirindukan oleh seluruh ummat muslim bernyawa.”

    Sungguh bener-bener jadi obat buatku yang merasa terpukul dengan berita-berita duka saat ini.

  39. Dian says:

    Benar sekali ya mbak
    saat pandemi seperti ini kita baiknya menjaga jarak dulu dgn manusia
    perbanyak tinggal di rumah saja
    sebagai gantinya, banyak banyak mendekat kepada Allah ya mbak
    bersabar dan berdoa semoga pandemi segera berakhir

  40. ndiievania says:

    mbak bener banget ini. aku bisa ngerasain jg karena seminggu terakhir sudah 9 org meninggal di circleku sini. rasanya kayak mencekam banget. tinggal agak jauh dr kota tapi ambulan bolak balik terus sekarang.

    sekarang aku lebih mikir untuk anak nih. gimana mempersiapkan segalanya. tentunya jaga kesehatan juga dengan stay di rumah tentunya

  41. aswindautari says:

    “Tiap orang punya kadar limit kepanikan yang beda. So, be wise!”

    Aku termasuk tipikal yg rada ocd sm covid ini. Sempet cerita di blog kalo aku kecelakaan kemarin gegara pusing krn hbs dr luar rumah langsung mandi. Fisik aku gak tahan begitu. Sementara mental aku panik sm virus dr luar.

    Finally skrg aku lbh menghindar sm berita2 gitu. Bukannya gak berempati cm aku lbh menjaga mental aku. Krn kalo mental aku panik. Fisik aku jd korban. Yg penting ttp taat prokes n gak ngumpul2 dulu

  42. herva yulyanti says:

    Ga cuman fisik yang dijaga mba akan tetapi juga kesehatan mentalnya wajib diperhatikan semoga kita sehat selalu tetap jaga protokol kesehatan ya mba dimananpun berada

  43. Lia Yuliani says:

    Berasa diingatkan kembali tentang kematian sebagai renungan. Kembali pada sang Maha, dan menjauh terhadap manusia. Protokol kesehatan sudah saya lakukan. Vaksin pun sudah juga. Manusia hanya bisa berikhtiar. Semoga Tuhan menjaga Kita semua. Stay safe and healthy buat Mba Nurul dan keluarga di rumah, ya.

    Buat menjaga kesehatan jiwa raga, saya rutinin jalan pagi keliling kompleks Mba. Sekalian belanja sayur buat stok makanan di rumah. Efeknya badan segar, fresh menghirup udara pagi. Soalnya saya olah raga yang lain engga pernah dilakoni, hihi … Cuman jalan pagi yang mudah, murmer, dan multifungsi sekalian belanja ke mamang sayur

  44. ameliatanti says:

    Beberapa kali bebenah dan mencuci – sikat kamar mandi malah!

    Ga heran, karena saat ini kita butuh ‘waras” dalam arti yang kita sendiri yang tahu ya Nurul.
    Ada yang belajar tanpa henti – ada yang olahraga tanpa henti juga. Semua demi apa?
    Demi “waras” versi masing masing!

  45. Dens Digital says:

    sepertinya utk saat ini memang harus seperti ini mb, lebih mendekatkan diri pada Sang Kuasa, berdoa dan tetap berusaha untuk menjaga prokes dimana dan kapan saja, semoga kita semua mampu melewati wabah yang mengguncang bumi ini, aamiin

  46. Ihwan KeluargaBiru says:

    Nggak bisa berkata-kata lagi Mbak, sekarang setiap sholat berdoanya makin kenceng agar sekeluarga besar dilindungi dari virus Corona dan agar pandemi ini lekas berakhir.
    Alhamdulillah aku masih ada penghasilan meskipun lagi PPKM, kasian masyarakat yang harus cari nafkah di lapangan.

  47. Ihwan says:

    Nggak bisa berkata-kata lagi Mbak, sekarang setiap sholat berdoanya makin kenceng agar sekeluarga besar dilindungi dari virus Corona dan agar pandemi ini lekas berakhir.
    Alhamdulillah aku masih ada penghasilan meskipun lagi PPKM, kasian masyarakat yang harus cari nafkah di lapangan.

  48. Sri Widiyastuti says:

    Kalau saya selama pandemi ini memang enggak sama sekali keluar rumah, kecuali sangat penting banget, misalnya ke kampus, itu pun alasannya kuat bimbingan sama dosen, lalu ke supermarket untuk belanja sekalian pulang dari kampus dan itu pun gak lama-lama, mencuci segala macam yang aku bawa dari luar, dan disiplin protokol kesehatan.

  49. Hanifa says:

    Selama pandemi, saya udah beberapa kali jatuh sakit dan rasanya nggak enak banget. Mungkin karena terlalu lama di rumah dan bosen, saya malah lari ke kebiasaan yang nggak baik kayak overwork dan suka begadang. Nggak sadar kalau ternyata hal ini udah jadi kebiasaan, suatu hari saya harus nerima konsekuensinya. Dari situ saya nggak mau lagi gegabah asal lari dari kenyataan. Semua ini sulit tapi lebih sulit lagi kalau kita nggak menjaga kebiasaan sehat.

  50. atemalem says:

    Sekarang ini aku ga terlalu sering buka berita. Kalaupun baca, benar-benar difilter mana yang perlu mana yang ngga.
    Trus lebih fokus sama keluarga di rumah. Lebih banyak peluk, lebih banyak tertawa, lebih banyak bikin aktivitas bersama. Katanya kan, hati yang bahagia adalah obat. 😀

  51. Alia says:

    Sama. Aku tetiba muncul anxiety, perut kayak ada kupu-kupu, dada sesak, seumur umur baru x ini. Akhirnya coba memahami, stop kopi dulu mungkin efek lambung. Unistall fb, wag clear chat, banyak berdoa. Semoga kita sehat semua

  52. Endah Kurnia Wirawati says:

    Anxiety kadang-kadang datang dan pergi sih. biasanya mulai cemas dan parno saat salah satu anggota keluarga masih nekar ngumpul-ngumpul sama temannya. Bikin spanneng aja. Untuk saat ini, selain 5M, jaga pola makan sehat, clear chat semua WAG kecuali WAG kerjaan, gak baca berita sama sekali dan nonton film favorit aja deh..

    Semoga pandemi ini segera berlalu dan kita semua sehat-sehat selalu ya. Amin

  53. gegernibigsoo says:

    Rasa sedih ketika mendengar teman baik sudah berpulang karena Corona. Kita tidak tahu dari mana datangnya virus ini, untuk itu. Harus ekstra jaga diri dan keluarga. Jdi tetap jalankan Prokes 5M. Semoga kita dan keluarga kita Sehat sehat sehat selalu. Pandemi segera berlalu.

  54. Adriana Dian says:

    sedih banget emang kadang berasa ga berenti berenti ya kabar duka.. silih berganti kehilangan.. nggak kuat sama aura kesedihannya.. masih doa yang sama semenjak setahun yang lalu, semoga pandemi lekas berakhir ya.. huhu

  55. Sari Effendi says:

    Ngeri emang ngelihat kabar duka dimana-mana, bahkan sempat ada pikiran “gak nyangka” mereka yg sekuat itu akhirnya tumbang juga..
    Yg pasti aku sekarang lebih sering di rumah mbak, bahkan job les privat di luar dan tutor freelance aku cancel semua..
    Semoga sehat2 semua ya…pandemi lekas berakhir, ekonomi lekas pulih dan kita makin memaknai hidup dg tujuan yg lebih berarti..aamiin

  56. Fanny_dcatqueen says:

    Tulisan beginiiuu nih, yg harus banyaak dibaca selama masa2 pandemi. Akupun ga mau terlalu banyak melihat grub2 WA yg ga sehat mba. Apalagi yg ksh nasehat ngawur dari para orang2 yg ga percaya pandemi ini. Kalo kelewatan aku milih keluar sih, ga peduli itu wag keluarga. Drpd kesehatan mentalku terganggu baca2 grub bobrok begitu.

    Memang semuanya hrs kita pasrahin ke Allah. Selain itu bersihin rumah aku akuin bisa mengobati anxiety :D. Rasanya pas rumah bersih itu kayak puaaaaas banget. Salah satu cara juga, aku sampe beli box steril besar, aku taro di dekat pintu masuk. JD barang2 kayak tas, dompet, hp, konektor masker dll, masukin dulu kesitu utk di steril.

    Trus aku beli beberapa air purifier utk rumah dan beberapa ruangan. Biar yakin aja virus2 pada mati.

    Satu lagi kegiatan yg bisa bikin endorfin naik, itu olahraga sampe keringetan . Makin banjir keringet, aku rasain makin puas 😀 capek Krn olahraga bener2 bisa bikin suasana hati membaik sih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s