Menjadi Ibu = Profesi yang Mustahil untuk Resign

Mother = 24 hours job, no pay, no day off, seldom appreciated, & impossible to resign. But we are still doing it with love 🙂

Eaaakkkk!

Ayooo sini, ibu-ibuuu kita berpelukaaannn secara virtual! 🙂

Salam hormat saya untuk seluruh Ibunda di kolong langit. Baik yang memutuskan jadi ibu rumah tangga, ibu berkarir, dan apapun itu sebutannya… kita semua adalah Ibu. Sebuah profesi yang mana, surga berada di bawah telapak kaki kita. Sooo, mumpung lagi bulan Ramadan, ada baiknya kita berkontemplasi sejenak seputar peran Ibu yang sangat signifikan, eh?

***

Hati-hati dengan Hati (dan Organ Wicaramu) wahai Ibu!

Konon, perempuan tuh punya kebutuhan untuk merilis 20 ribu kata per hari. Tak heran, di belahan bumi manapun, perempuan (dan emak2) biasanya lebih cerewet. Yang perlu kita ingat, jangan sampai berondongan kalimat in berujung pada penyesalan.

Sering denger kan, buibu kalo lagi ngomel tuh (sebagian) kayak merepeeett gitu aja, dan nggak dipikir bener-bener sebelum ngomong.

“Dasar anak nakaaalll, nggak bisa diatuuurrrr, mau jadi apa kamu kalo besar nanti haaahhh??”

Padahal, si bocah nih “cuma” susah diajak mandi, tapi sang emak merepet-nya udah bener2 lebayatun.

Ini reminder banget buat kita semua… Ucapan Ibu adalah sebentuk doa… mau itu sekedar celetukan belaka, tapi hati-hati… bukan tidak mungkin, ketika sang ibu lagi ngebentak dan merepet, malaikat lagi lewat dan meng-amin-kan. Jadinya nyesel kan?

That’s why, part favorit saya adalah, cerita ibunya Imam Sudais.

Waktu kecil, Sudais nih lumayan usil bangeett. suatu ketika doi main pasir dan menaburkan ke atas makanan yg udah disiapkan Ibunda. Ofkorr, ibunya ngamuk dong! Auto merong-merong sambil nyumpahin si anak, dengan bilang, “Heyyy, jangan sebar sebar pasir kayak ginii…. Sanaaa! Kamu jadi Imam di Masjidil Haram ajaaa!”

Daebaaakk! Lagi marah dan emosi jiwa, malah nyuruh si anak jadi Imam di Masjidil Haram!

Sekarang? Yep, Sudais benar-benar menjadi sang Imam.

Masya Allah.

Semoga Allah karuniakan kita semua semangat, keikhlasan, ridho dan jiwa besar untuk menjadi ibu yang lebih baik lagi, Aamiiin aamiin ya robbal alamiinn….

Author: @nurulrahma

aku bukan bocah biasa. aku luar biasa

2 thoughts on “Menjadi Ibu = Profesi yang Mustahil untuk Resign”

  1. Saya lihat postingan ini jumlahnya 300an kata. Semoga sisanya bisa tersalurkan dengan omongan yang baik ya kak Nurul. Semangat jadi ibu, semoga dikuatkan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: