“Quarter Life Crisis ” Pernahkah Kalian Mengalaminya, Gaes?

Setiap orang punya jatah GAGAL

Habiskan jatah gagalmu, ketika kamu masih muda!

Quote Dahlan Iskan ini terngiang-ngiang di benak, manakala saya memutar memori seputar umur 25. 

Quarter Life Crisis, yap… sebagaimana manusia-manusia umur 25 lainnya, saya juga sempat terjerat krisis ini.

Krisis multi-dimensi, bukan hanya soal pencapaian harta dan tahta, tapi lebih kepada krisis identitas, visi-misi-target kehidupan yang nantinya bakal diperjuangkan. Krisis lantaran terperangkap dalam perasaan clueless, bingung harus ngapain, ambil keputusan yang kayak gimana, dan seterusnya, dan sebagainya. 

Oke. Saya mau ungkap sekelumit cerita seputar kehidupan saya di usia 25-an kala itu. Sebentar kok, nggak pakai lama πŸ˜€Β 

Menelisik Turbulensi di Umur 25 

Ketika menginjak usia seperempat abad, saya sudah lulus kuliah dari PTN di Surabaya, dan berkarir sebagai Media/Public Relations di sebuah korporasi multinasional. Tempat kerja saya adalah industri rokok ☹

Yeah, saya bertugas mengundang, follow up, dan menjalin relasi dengan kawan jurnalis/media massa. Biasanya saya mengundang mereka, ketika ada event konser, pertandingan olahraga, pembukaan pabrik rokok, semacam itu. 

Untuk ukuran perempuan urban umur 25, bisa dibilang karir saya lumayan mengundang decak kagum, sekaligus iri/dengki/julid πŸ˜€ Biasanya yang dengki ini para tante, sepupu atau kerabat saya yang kerjanya masih di kantor skala lokal. Jadi mereka selalu cari celah, untuk menunjukkan bahwa saya salah jalur lantaran mengais rezeki di pabrik rokok. Komentar beraroma julid yang sering saya dengar, kurang lebih seperti ini:Β 

“Jilbaban tapi kok kerja di pabrik rokok. Malu ama jilbab!”

“Percuma gaji gede, sering traveling naik pesawat, tapi sumbernya dari rokok!”

“Kamu ini munafik ya. Katanya nggak suka rokok, benci laki-laki perokok. Tapi kok kerja di pabrik rokok?” 

Yeah, semacam itulah πŸ˜€ Sekali dua kali, kuping ini biasa aja… Tapi, lama-lama kok nge-ganjel yhaa πŸ˜€

Apalagi, di saat bersamaan, saya lumayan aktif di beberapa komunitas kajian agama. Dibahaslah soal gimana hukumnya berkarir di industri yang memroduksi produk racun. Ada beberapa ustadz/ah yang ambil sikap moderat, “Kalo memang pekerjaan ini harus dilakoni karena tidak ada alternatif lain,Β dan memang wajib utk menafkahi keluarga, ya tidak apa-apa dijalani saja.”

Saya manggut-manggut tatkala menyimak penjelasan para ahli fiqih kontemporer. Hingga suatu ketika, ada narasumber yang secara tegas menyatakan bahwa, “Masak iya, bekerja di industri itu adalah SATU-SATUNYA JALAN? Apalagi Anda kan tinggal di kota besar. Pasti banyak alternatif lainnya. Anda harus semangat untuk mencari sumber rezeki lain, karena Allah sudah bentangkan banyak peluang dan kesempatan. Tinggal kembali ke Anda, mau berusaha atau terus-menerus berada di zona nyaman seperti pabrik rokok itu?”

Glek. 

***

Jadilah…. kegemilangan karir saya di usia 25 harus berakhir. Entah gimana awalnya, saya tiba-tiba merasa takut dilabeli sebagai pendosa lantaran kerja di korporasi (dan mempromosikan) rokok. 

Saya ajukan surat resign, padahal di umur 25 itu, saya ditawari untuk promosi ke job title yang lebih menggiurkan dan relokasi ke kantor di Jakarta. 

Duh! 

Hidup gini amat yak. 

Akhirnya, rekening saya yang auto-gendut saban tanggal 25, sekarang menjadi kering kerontang πŸ˜€ Apalagi, di umur 25 itu saya punya bayi. Rasanyaaaa sungguh ulala πŸ˜€ 

Harus diakui, metamorfosa dari career ladyΒ menjadi stay-at-home-mom… terkadang menjadi fase yang super mengerikan. Apalagi kalau kita tipe achiever. Saya sempat berada di fase itu, dan rasanya stressful!

Mendingan stres ngadepin tuntutan boss dan aneka deadline yang berkejaran, ketimbang stres ngurusin anak yang GTM (Gerakan Tutup Mulut), anak yang masih ngompol dan BAB tidak pada tempatnya, anak yang membantah apa kata Mama, dan seterusnya dan semacamnya. 

Apalagi, stres ngurusin anak plus…. engga pegang duit dalam jumlah yang cukup. Ada perasaan “I’m worse than career ladies” karena hidup kita cuma berkutat di popok, ompol, gumoh, nyiapin makanan bayi and so on and so on. 

Banyak banget perempuan yang ketika masih lajang punya prestasi super-duper wow, kemudian harus merasa “terbelenggu” dalam ikatan rumah tangga. Bisa jadi karena panggilan jiwa, atau lantaran suaminya yang minta dia kudu jadi full-time-mom. 

Lalu… saya mulai menyesali “keputusan bodoh” untuk resign. Karena ternyata jiwa wanita karir saya meronta-ronta. Apalagi, ada saudara sepupu (perempuan, punya 2 anak kecil) yang karirnya kian moncer, melesat jauuuhhh meninggalkan saya yang terus-menerus meratapi nasib, lantaran merasa useless di umur 25. Hiks hiks hiks…. Apakah ini pertanda semi-depresi? 

***

Setiap orang punya jatah GAGAL

Habiskan jatah gagalmu, ketika kamu masih muda!

Kemudian, saya coba untuk banyak baca Quran, melakoni ibadah sunnah, coba untuk bermeditasi, tetap keep in touch dengan sahabat, intinya saya nggak boleh membiarkan perasaan ‘nyaris depresi’ ini berlarut-larut dalam jiwa. 

Saya berhenti membandingkan hidup dengan orang lain, karena heyyy…. “Comparison is The Thief of Joy!”

Saya tahu, bahwa secara duniawi (harta dan tahta) keputusan untuk resign membuat saya merasa jadi pecundang. Akan tetapi, dalam hidup ini, selalu ada hal-hal baik yang bisa kita jadikan bahan bakar syukur kan? 

Allah anugerahi saya bayi yang lucu, sehat, mungil, dan saya bisa berkontribusi seoptimal mungkin, untuk menjadi ibu yang baik dan membaikkan anak sholeh ini. 

Ya sudah. 

Saya mencoba untuk berkontemplasi dan melakukan rutinitas bikin GRATITUDE LIST. Apa saja hal-hal yang bisa membuat saya tersenyum. Toh, tak lagi berkarir di perusahaan multinasional, sama sekali bukan pertanda bahwa dunia sudah kiamat. Saya masih bisa melakoni hal-hal lain. Menulis, misalnya. Hingga saya ajeg jadi narablog di BukanBocahBiasa.com di nurulrahma.com dan menulis aneka platform UGC , seperti Kumparan dan Kompasiana.Β 

Intinya, saya berhenti membanding-bandingkan diri ini dengan orang lain. Semua punya takdir hidup. Semua punya jatah rezeki. Semua punya challenge dan aral dalam melakoni kehidupan di dunia fana ini. Just be happy! Just be the best version of yourself

Jangan jumawa, tapi juga nggak perlu ngerasa paling menderita, kalo usia 25 merasa belum jadi apa-apa. 

Cheer up!!

Author: @nurulrahma

aku bukan bocah biasa. aku luar biasa

34 thoughts on ““Quarter Life Crisis ” Pernahkah Kalian Mengalaminya, Gaes?”

  1. Aku bacanya kok berasa sambil ngaca ya Nurul…
    di usia 33 tahun, aku terpaksa harus keluar dari pekerjaan, padahal aku ini terkenal workaholic. Kalo ga ditendang pantatnya ama bos ga pulang-pulang!

    Aku harus bed rest, dan itu fase 3 kali mengandung yang hampir 5-6 bulan beneran got a morning sickness uhuhuuu

    but life is our choice itself, so I choose to be a happy mom at home, then… who knows that I got other beautiful talent as a doodler, I can make picture book, etc. Eh ngapa gw jadi ngomong english sik… udah gitu curhat pulak!

  2. Di usia segitu aku lagi galau2 nya karena dilarang pacaran dengan si ex, karena papa mama kenal Ama keluarganya, dan mereka ga suka Krn dulu ayah si ex pernah kena kasusπŸ˜…. Padahal si ex nya sendiri baik sih, cuma ya begitu, Krn ada halangan restu aku ga berani juga durhaka mba 🀣. Cuma belum mau putus, jadilah kami kayak kucing2an, padahal umur udh 25. Tapi pada dasarnya memang ga jodoh, dan aku harus relain. Untung akhirnya ketemu pak suami sekarang 🀣🀣. Walo agak telat jadinya nikah. Buatku juga, dulu lumayan stress Krn temrn2 banyak yg udah nikah di usia segitu. Aku baru mulai di usia 29 mendekati 30 πŸ˜„. Tapi memang lamq2 sadar kalo yg begitu ga usah dijadiin kompetisi. Toh yg bakal merasakan kita. Jadi kitanya yg harus siap dulu.

  3. Makasih udah cerita, Mbak Nurul. Mmm… jadi keputusan resign itu kira-kira sebuah kegagalan apa keberhasilan, ya? Menurutku itu justru keberhasilan, karena bisa mengambil keputusan sesuai keyakinan, apa pun hasilnya kemudian.

    Umur 25 aku punya bayi dan hamil anak kedua, dan resign juga.. haha… hmmm… karena dulu posisi kerja yg ditinggalkan juga masih level staf, antara nothing to lose ama ‘harusnya bisa lebih bagus lagi’, sih… tapi aku tahu tiap keputusan akan membawa konsekuensi sih. Ya udah, ojo dibanding-bandingke ajalah…

    1. Kayaknya sama jatah gagalnya pas resign juga ya. Kalo liat wanita-wanita lain yang sukses berkarir dan punya duit banyak, suka mikir kenapa aku enggak? Tapi kalo dibilang kerja, ya udah pasti kerja juga dong ya karena capek juga ngurus rumah tangga. Insya Allah meski ga punya duit banyak, kita tetap bermanfaat tuk keluarga.

  4. Ikutt merasakannya mba Nurul….
    Aku sejak sekolah sudah nyambi kerja karena biaya sendiri, hari2 selalu jadwal.padet pulang sekolah les ini itu…

    Giliran kuliah kerjaan ngelesi juga padet sampai malam, sampai tmn2ku bilang type wanita karir banget tar anaknya sama siapa…

    Eitss dunia kebalik begitu hamil 5 bulan berani pilih dirumah saja, krn dilema tinggal di jkt pergi pagi plg malam. Adaa rasaa sendiri mana dulu internet blm masuk rumah kan, byk ibadah dan ga pernah py pembantu sampai skrg itu yg bikin pikiran ga jelas teralihkan menjadi sibuk urus anak dan rmh.

    Kalau membayangkan gajian spt pas ngantor ya sedih tapi suami akhirnya menyadarkanku bahwa rejeki pindah lwt dia selang aq gak kerja, suami gajinya naik sejumlah gajiku bahkan lebih itu yg membuat aku sadar dan tdk menyesali diri.

  5. Aku kenal istilah quarter life crisis justru setelah dewasa. Usia 25 an, kayanya gak sempat kepikiran yang gimana-gimana ya Mbak. Akibat kesibukan hidup mungkin. haha. Tapi kalo dirasa2, hidupku paling butuh perjuangan itu di usia menjelang 20, krn waktu itu barengan awal menapak kampus, bapak meninggal dan aneka problematika turunannya.

  6. Ojo membanding-bandingkan! hahaha bener mbaaak.

    Kalo aku, tepat umur 25 aku melahirkan bayi pertamaku. Di umur itu pula aku keluar kerja dengan bahagia. Gak merasa gagal sama sekali melepas apa yang sedang dipunya saat itu. Sampai sekarang keputusan keluar kerja itu adalah sebuah keberhasilan gemilang buatku πŸ™‚ Dan aku masih say hello dengan orang Jerman pemilik perusahaan tempatku bekerja dulu itu. Sampai saat ini dia masih anggap aku si tangan kanannya di Indonesia ini, sebagai anaknya. Hubungan kami tetap indah, meski aku meninggalkannya saat dia sedang butuh-butuhnya :))

    Kita harus hidup bahagia dengan keputusan baik kita. Tidak ada yang perlu disesali. Setiap orang ada masanya. Setiap masa ada orangnya. Dan setiap kita bisa “jadi orang” tanpa kenal masa.

  7. beda sedikit umurnya mbak waktu aku memutuskan resign kerja karena nikah waktu itu.
    Dilema ya waktu mau reisgn mbak Nurul ditawari promosi yang menggiurkan. TApi semuanya ada jalannya ya mbak harus disyukuri juga

  8. Pernah gak ya…mengalami Quarter Life Crisis?
    Kok aku mendadak amnesia masa-masa usia keemasan dengan karir?
    Hehhee, karena dari dulu cita-cita aku mau jadi Ibuk Dharma Wanita aja sih.. asik ngurusin keluarga dan anak. Tapi sempet kerja setahun jdi sebuah lembaga les Bahasa Inggris.

    Ini kerja cuma buat ditanya sama mertua, “Lulus Unair kerja dimana?”
    Weiiss, kan uda kerja ya bilang “Kerja di Lembaga Les Bahasa Inggris, Pak. Jadi guru.”
    Kok kayanya mulia pissaan gitu nyaa…

    Setelah itu kerjaannya gangguin calon suami yang waktu itu telat lulus 1 semester.
    “Ayoo donk, nikahin aku.”

    Hahhaa…lawak banget yaa…hidup akutu.
    Dan Allaah maha Kuasa dengan segala takdirNya.
    MashaAllah~
    Tabarakallahu.

    Tapi bukan berarti dengan niat kuat aku terus gak baby blues. Pastinya uring-uringan setelah punya bayi. Berasa ini bayi gangguin w teruusss… gak bisa tenang dikit napaaa??
    Gitu deh, masa-masa Quarter Life Crisis ku.

  9. I feel you mbak
    Aku pun pernah mengalami
    Resign dan menjadi ibu rumah tangga menjadi hal yang berat di tahap awal
    Butuh waktu lama juga
    Tapi Alhamdulillah, aku bisa melaluinya

  10. popok, ompol, gumoh, popok, ompol, gumoh. popok, ompol, gumoh tolong diulang aja ini hahaha. Selalu bisa ngakak ditengah cerita panjangnya mbak Nurul. Apa hanya aku yang baru nikah langsung menikmati kehidupan perdekeman dirumah haha. Sekarang udah jadi narablog sukses ya mbak Nurul.. benar-benar bukan bocah biasa.. Alhamdulillah. Pelajarannya adalah, lakoni apa apa yang menentramkan hati πŸ˜€

    1. Pernah dan sering merasa di fase ini, huhu.
      Setelah nikah keluar kerja, lalu menggantungkan penghasilan full sama suami, sampai akhirnya kenal dunia ngeblog dan influencer. Lalu ngerasain lagi job yang naik turun, makin banyak saingan, dan permintaan yang semakin sulit diikuti, haha.
      Semoga aku bisa meniru jejak sukses Mbak Nurul yaaa.
      Biar nggak terlalu baper menghadapi up and downnya life crisis.

  11. Entah kenapa tulisannya makjleb banget nih mak buat akuuuu.. Setuju, harus banyak banyak bersyukur juga yaaa.. Kadang manusia kan gitu yaaa, selalu aja liatnya yang kurang-kurang terus.. huhuhuhu. Semangat terus ya maaaak

  12. Makasih mba sudah sharing.
    Saya seneng banget bacanya.
    Saya membayangkan pasti berat ya, dari yg punya kesibukan di luar rumah, punya penghasilan sendiri yg lebih dari cukup, menjadi harus di rumah sama bayik dan apa2 minta sama ortu. Karena saya juga ngalamin, hehe, walau ga seberat Mba.
    Saya guru honorer, gajinya di bawah 500rb, jd ga berat2 untuk resign.

  13. Benar-benar yang sedang aku jalani saat ini MB. Tertatih meyakinkan diri bahwa saat ini aku bukan lagi seorang pekerja. Menjadi ibu rumah tangga penuh seakan aku belum siap. Sudah mau genap 2 tahun aku tidak kerja dan tidak punya gaji. Rasanya … Tapi semangat mbak membuat aku tidak mau gagal lagi. … semangat jadi apapun yang Allah takdirkan

  14. Aku juga sempat merasakan abis resign terus pindah ke desa ikut suami di rumah mertua ya ampun nano-nano rasanya Alhamdulillah punya planning pengen jadi penulis buku dan coba jalani, akhirnya nulis blog, nulis buku, bisa punya karir lagi walaupun stay at home..proud to myself…cheers buat semua perempuan…

  15. Ngorolin quarter life crisis ini memang selalu seru yaa, kak..
    Pernah ada di fase itu mashaAllah~
    Bersyukur sekali..

    Kalau tolak ukurnya adalah penghasilan, maka mungkin bisa jadi yang banyak itu belum tentu pengeluaran jadi berkah. Maka, menikmati yang sedikit tapi berkah ini akan terasa nikmat.
    Etapi…
    Yakin kalau ada di jalan Allah, yang banyak yang berkah.
    hhehehe~

    BUktinya kak Nurul ke Amrik dan berangkat umroh dari arah yang tak diduga kan yaa..

  16. Wah inspiratif mbk story nya. Adik sy skrg sdg dalam fase itu. Segala dibikin stress, jadinya dikit-dikit emosi. Berarti memang wajar ya, sy juga sempat ada di fase itu. Percayalah jalan yang Allah kasih selalu yang terbaik. Dia punya skenario yang luar biasa untuk hidup setiap umatnya.

  17. Melepaskan karir yang lagi bagus itu memang berat ya mbak
    Makanya banyak juga yg mengalami post power syndrome setelahh resign
    Tapi dengan belajar menerima diri dan rutin membuat gratitude list, pasti kita bisa menghadapi quarter life crisis ini ya mbak

  18. Huhihu…saya jg mengalaminya…merasa insecure…dn jd kurg bersyukur….ku larikan k kegiatan yg positif d komunitas ngeblog…terimakasih ceritany inspiratif…

  19. kalau saya galaunya dulu ya masalah jodoh dan kerjaan yang gitu-gitu aja, mbak. pas umur 30 baru deh ketemu kerjaan yang baru dan juga jodoh. tapi kalau sekarang juga tetap ada krisisnya sih soal mengatur keuangan. hihi

  20. Suka ada aja yang nyinyir. Heran ama orang Kaya begitu. Ada apa ya di hidupnya kok seneng banget ngomongin orang. Tetep kusalut padamu. Tetap berjalan sampai sekarang. Menulis juga konsisten. Rajin pernah diundang ke luar negeri karena jadi local guide pula. Sukse terus buat Mba Nurul ya

  21. Asli keren abis, gagal dimasa muda bikin kita tangguh dimasa tua.semoga sekarang tinggal jatah sukses yang belum kita ambil yak

  22. Selamat Mbak, salut bisa hengkang dari industri rokok dengan segala keglamoran dan benefitnya. Btw sama dgku di usia 25 th karirku juga lagi bgs2nya. Jadi apoteker di rs swasta besar di Jakrta. Rs yang ideal kayak dibuku2 yg kupelajari pas kuliah. Saat itu, ga banyak rs seideal itu untuk para pharmacist. Hbs nikah di usia menjelang 25, aku lgsg hamil, dan akhirnya memutuskan untuk resign. Alasan utama krn ga ada yg bs ngawasin jaga anak seandainya aku tetap krja di Jakarta. Pdhl aku tahu karir bisa terus naik kalo aku bisa bertahan dan rela ninggalin anakku dg org lain. Tapi wktu itu aku idealis banget bahkan ga mau ada yg bantu urus anak. Alhasil aku kelelahan,stres, krn ga tahu ngadepin mpasi anak, susahnya menyusui, gtm, tantrum dll. Smpe hari ini pun aku msh rindu kerja di rs. Tapi kalau waktu itu aku boleh memilih lagi, mgkn aku tetap pilih resign

  23. Emang umur 25 tahun tuh lagi krisis2nya, sering banget bandingin diri dengan orang lain. Bedanya aku bukan soal karir, tapi menikah. Dulu di usia 25 selalu dinyinyir soal belum nikah, yg lain malah udah pada punya anak. Sekarang sampe umur otw 28 pun belum menikah, nyinyirannya sekarang ku balas: “yaudah ayo bantu aku cari jodoh, aku udah kenal beberapa orang tapi belom sreg nih gimana? Sekalian biaya pernikahan ya”. Pada diem semua. Jadi dari situ aku tau, ternyata orang emang pengen nyinyir aja, ga bantu apa2.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: