Semoga, Umrah Saya Tetap Mabrur

Awal Maret 2019 lalu, seorang teman menraktir saya. Bukan traktiran makan soto Cak Har atau ayam geprek, melainkan traktir berangkat umrah! Jujur saya kaget bukan main. Kami tak pernah bertemu selama 10 tahun terakhir. Bahkan sekadar interaksi lewat media sosial pun tak kami lakoni. Ndilalah kersaning Gusti Allah, teman saya ini berkirim WA dan menawari untuk “Kamu mau aku bayarin umrah?”

Dapat kalimat semacam itu, awalnya saya merasa laksana masuk jebakan hoaks. Yap, hari gini, kita sepertinya bakal lebih banyak menaruh alarm waspada dan (rada-rada) su’udzon level dewa. Saya jawab seperlunya, ”Ya jelas mau lah. Terus ini gimana? Saya cari travel umrah di Surabaya aja ya?”

Di sinilah, cerita bermula. Teman saya ini sudah sekian belas tahun domisili di Jakarta dan ia punya langganan biro travel umrah. Saya pun didaftarkan di situ. Artinya, nanti saya kudu berangkat umrah dari Jakarta. Terbesit dalam benak untuk mengajukan request, ”Aku daftar jemaah Nurul Hayat aja, piye ya?”

Tapi, ah. Ini kan umrah traktiran. Tidak sepatutnya saya banyak tuntutan, lha wong gratis jeh. Lagian, “cuma” masalah travel aja kok ribet amat. Toh nanti tujuannya ya sama-sama ibadah di Makkah dan Madinah. Thowaf-nya sama. Sa’inya sama. Tahalulnya sama. Talbiyah-nya sama.

Ya sudah. Akhirnya, saya pun berangkat menuju Jakarta, untuk kumpul dengan jemaah umrah yang lain. Mayoritas dari mereka belum pernah berkunjung ke Tanah Suci, jadi tidak ada ekspektasi apa pun terhadap travel kami. Termasuk, ketika pesawat yang tadinya Garuda Indonesia (full-service) lalu diganti AirAsia (low-cost-airlines) kami pun hooh-hooh saja. Plus, ketika kami diminta datang berkumpul di Cengkareng jam 22.00 WIB padahal pesawat AirAsia baru berangkat keesokan harinya jam 05.00 (dan artinya kami ngemper tidur di Bandara Cengkareng), semua jemaah tetap memasang wajah “Aku baik-baik saja”. 

Masalah baru bermula ketika kami transit di Kuala Lumpur, dan diberikan makan siang dan makan sore dengan menu yang sama persis, yaitu Nasi Kandar yang full lemak! (o iya, karena pakai AirAsia, penerbangan harus transit 10 jam di KL, dan kami diajak untuk city tour di depan Petronas dan Putrajaya). Lucunya, tour leader travel kami ini (sebut saja Bu Wina) semacam miss-communication gitu dengan vendor yang ada di KL.

Ya sudah. Sabaar…. Sabaaar…. Ujiannya orang umroh itu kudu sabar. Nggak boleh protes. Don’t sweat the small things. Kalimat ini yang bolak-balik saya ucapkan. Sembari bergumam “Sabarr…. Sabarrr…” di sela sela kegiatan, saya asyik browsing BLOG GAYA HIDUP SEHAT lumayan banget untuk nambah wawasan, sekaligus mengurangi rasa bete yang datang tanpa diundang!

***

Kemudian kami terbang dari KL menuju Jeddah. Another drama happens! Sesampai di Bandara Jeddah, koper saya HILANG! Dari total 21 jamaah, hanya koper saya yang ketlisut! (Oke, instead of hilang, sebaiknya saya pakai kata ketlisut). Jemaah asal Indonesia memang banyaaaaak, dan koper kami warnanya merah, mirip dengan jemaah travel agent lain. Saya berusaha lari ke sana ke mari, demi menemukan jemaah yang kopernya berwarna merah. Bu Wina juga lapor ke maskapai AirAsia. Masih nihil.

Setelah satu jam berlalu, Alhamdulillah…. Koper saya ketemu! Betul dugaan kami, koper ini katut ke rombongan travel lain, huffttt…. Syukurlah bus mereka belum berangkat ke Madinah.

Di saat satu koper (yang tadinya ketlisut) telah ketemu, ternyata… belasan koper lain malah raib. Whoaaa, Bu Wina, tour leader kami mulai nyap-nyap. Ia adu argumen dengan vendor yang ada di sini, dan… malah menyalahkan saya yang dianggapnya tidak mau tahu dan tidak berkoordinasi dengan tenaga kurir di Bandara. WHAT?! Kok jadi saya yang disalahkan?

Well, karena energi sudah habis dan tidak mood untuk bertikai, saya memilih untuk cuek. Sebenernya pengin nyap nyap, tapiii heyyy inget inget lagi, sabaarr…. sabaarrr….. karena di tanah suci ini sedapat mungkin kita kudu top up kesabaran 🙂 Dan salah satu RAHASIA AWET MUDA emang kudu bisa kontrol emosi kan, Bestie? Selang 10 menit kemudian, baru ketahuan kalau koper-koper itu aman jaya sentosa, di dalam areal pengambilan bagasi. Kurirnya masih menanti di situ. Owalaah.

Kami pun berangkat menuju Madinah. Di tengah perjalanan, ada ustaz/muthowwif asal Indonesia, yang gabung di bus kami. Orangnya masih muda, perkiraan saya usia 30-an, dan yah, sorry to say, tampak kurang menguasai materi. Saya tahu, tidak sepatutnya saya memasang ekspektasi terlampau tinggi untuk travel kali ini.

Tapi, umrah ini kan ibadah fisik dan hati. Bagaimanapun juga, para jemaah berhak untuk mendapatkan fasilitator yang bisa membuat kami merasa “Ini panggilan spesial dari Allah. Bukan sekadar trip/traveling biasa. Kami menempuh jarak yang sedemikian jauh, meninggalkan keluarga, demi totalitas ibadah.”

Lagi-lagi ingatan saya terlempar ke tahun 2010, tatkala berhaji dan join KBIH NH. Bapak Molik (selaku Muthowwif/Ustaz) mengingatkan kami, bahwa para jemaah Haji atau Umroh itu adalah mereka yang beruntung mendapat undangan langsung dari Yang Maha Kuasa.

“Kalau dipikir-pikir masih banyaaaaak yang jauh lebih soleh daripada kita. Masih banyaaaak yang jauh lebih kaya atau pintar ketimbang kita. Tapi, Allah dengan sifat Rahman-dan-Rahim-Nya memberi kesempatan kita untuk berangkat haji terlebih dahulu. Mari kita maknai ini sebagai sebuah rezeki dan kesempatan yang luar biasa, sehingga kita makin optimal ketika beribadah di tanah suci,” kurang lebih begitulah message yang digaung-gaungkan Pak Molik ketika kami berada di dalam bus yang menyusuri kota Makkah.

Lha ini… muthowwif-nya (sebut saja Namanya Ustaz Qosim) kayak “kurang jam terbang” gitu lho. Dan yang lebih zonk lagi adalah, selama di Madinah, kami diajak berputar-putar untuk cari toko Kurma murah, padahal… Ustaz Qosim juga nggak paham di mana letaknya! Hadeeehh, akibatnya bisa diduga. Kami terlambat salat berjemaah di Nabawi. Sebuah keputusan yang bakal saya sesali di kemudian hari.

***

Selain mengganti maskapai, ada lagi kejanggalan yang dilakukan biro travel ini. Yaitu, mengeliminasi sejumlah destinasi penting tatkala kami city tour di Jeddah. Masjid Qishos, makam Ibu Hawa, batal kami datangi. Bus yang harusnya datang jam 08.00 malah diganti jadwalnya jadi jam 14.00! Dan tidak ada sebersit pun kata maaf atau kalimat penyesalan/ganti rugi.

Duh. Kalau ingat-ingat ini semua, kok Sepertinya, umrah Saya tidak Mabrur. Tidak ada “ruh”-nya. Saya merasa ini perjalanan luar negeri yang biasa saja. Hati saya tidak bergemuruh. Sempat menangis di depan Ka’bah, tapi selebihnya…. Saya sibuk ‘ngadem-ngademin’ diri sendiri, lantaran aneka “zonk” yang dipersembahkan travel ini.

Jadi… kata siapa pilih biro travel umrah itu “cuma” urusan sepele? (*)

3 comments

  1. Wah.. ngga terduga banget ya Mbak ditraktir Umrah. Tapi tentu ada kesan tersendiri mengunjungi Ka’bah langsung. Semoga suatu hari saya juga bisa Umrah, aamiin. Makasih mention blognya ya Mbak

  2. Waktu denger kabar Mba Nurul dibayarin umroh sama teman, batinku menjeritt aku juga pengen dibayarin umroh.
    Ternyata kendalanya banyak sekali, tapi lagi-lagi selama ibadah disana memang harus banyakin stok sabar. Ngga kebayang gimana hatimu selama disana mbaa 😦
    Terus temennya mba Nurul ngga komen apa-apa setelah mba Nurul pulang?
    Ceritanya segala yang indah di awal, tak selalu indah di akhir. Wkwk

Leave a reply to sunglow mama Cancel reply