Semiliar Stok Cinta Ibuk untuk Sang Ananda

“Loooh, ini ponakan apa adeknya?”

“Ini anak saya.”

“HAH? Anaknya? Mosok iya, Mbak? Mbaknya emang umur berapa?”

Tidak sekali dua kali saya terima compliment kayak begini. Biasanya kalau saya jalan berdua sama Sidqi doang, ada aja ibu-ibu (atau uti-uti) yang bilang kalau kami lebih mirip kakak-adik ketimbang ibu-anak.

Oh, well. Hormon pertumbuhan Sidqi memang lagi dahsyat-dahsyatnya. Suara dia sekarang nge-bass. Padahal, dulu pas kecil cempreng dan innocent abis. Tinggi badannya juga sudah hampir menyamai Emak. Jadi ya gitu lah, tidak sedikit yang miss-interpret dan menyangka kami adalah siblings.

Continue reading “Semiliar Stok Cinta Ibuk untuk Sang Ananda”

Advertisement