Semiliar Stok Cinta Ibuk untuk Sang Ananda

“Loooh, ini ponakan apa adeknya?”

“Ini anak saya.”

“HAH? Anaknya? Mosok iya, Mbak? Mbaknya emang umur berapa?”

Tidak sekali dua kali saya terima compliment kayak begini. Biasanya kalau saya jalan berdua sama Sidqi doang, ada aja ibu-ibu (atau uti-uti) yang bilang kalau kami lebih mirip kakak-adik ketimbang ibu-anak.

Oh, well. Hormon pertumbuhan Sidqi memang lagi dahsyat-dahsyatnya. Suara dia sekarang nge-bass. Padahal, dulu pas kecil cempreng dan innocent abis. Tinggi badannya juga sudah hampir menyamai Emak. Jadi ya gitu lah, tidak sedikit yang miss-interpret dan menyangka kami adalah siblings.

Ealah. Ternyata, gegara “salah sangka” itu, belakangan ini, hubungan kami berdua juga lebih mirip kayak sodara. Sidqi di usia pre-ABG, somehow sangaaaatt beda banget dengan Sidqi yang saya kenal di masa balita (ya iyalah maaaakk!).

IMG_7650

Dia udah punya “tameng” yang ajib banget, saban saya perintahkan untuk berbuat kebaikan.

“Sidqi ayo sholat!”

“Nanti aja.”

“Amal yang paling baik itu sholat tepat pada waktunya!”

“Iyaaaa… nanti kan juga bisa…..”

“Kamu lagi ngapain sih? Cuman main game kan?”

“Aku lagi record Buk. Abis gini mau aku upload di YouTube. Biar subscriber-ku dapat video terbaru. Nanti kalau traffic-nya bagus, aku dapat uang dari Google.”

“Aduh Sidqi…. Kamu ini masih kecil…. Udah belajar aja dulu! Nggak usah rempong cari duit!”

“Lho, Ibuk kan juga dapat duit dari internet kan? Ibuk juga diundang Google ke Amrik kan? Aku juga bisa. Ini akun YouTube-ku sudah approved Google AdSense. Ibuk belum kan?”

*Hening moment*

*gleg*

***

Ya begitulah. Butuh seni dan kesabaran seluas samudera Hindia+Pasifik buat menghadapi tingkah polah si pre-ABG. Kadang (eh, sering ding), stok sabar saya udah koret-koret alias habis bis bis. Dan perang pitch control alias saling teriak antara kakak adik… eh, antara emak-anak, jadi tak terelakkan.

Kami saling punya ego masing-masing. Dan yang terjadi kemudian, suami saya yang bilang, ”Wis…. Wis….. arek loro iki podo ae… “(Sudah sudah…. Anak dua ini sama saja…)

 

 

Entahlah… Sidqi ini kayak semacam punya “jiwa kompetitif” dan semangat untuk bersaing dengan emaknya dewe. Misalnya, saya dapat kiriman barang untuk di-review, dia bakal menancapkan tekad membara dalam dada, “Suatu hari nanti, aku juga bisa kayak Ibuk!”

Sekarang dia lagi passionate banget dengan channel YouTube-nya (dengan subscriber di atas 1700). Pas Liburan semester ini, aktivitas Sidqi yah berkisar mabar alias main bareng dengan temannya—either online maupun offline. Geng Sidqi berisik banget deh, kalo udah ngumpul di rumah kami.

Karena itu, saya jadi punya inisiatif buat ngajak dia kursus fotografi singkat. Sidqi dan Pasha (bolo plek alias sahabat sejatinya) saya ajak menuju kantor NH Creative, untuk belajar basic photography bareng @KangErikIngsun dan Om Faton.

Yeah… mereka berdua excited banget! Soalnya Om Erik dan Om Faton ngajarinnya sabaaaaarrrr dan langsung praktik!

Nah. Karena liburan kami emang di rumah melulu, saya ubek-ubek planning, kira-kira bocah pre-ABG ini mau diajak apa lagi yak?

Besokannya, ortu Pasha kirim WA. ”Ini Pasha mau renang nih. Sidqi ikutan kah?”

Waaaaa, saya bersorak!

Asyik nih, ada yang bisa dititipin buat ajak Sidqi renang, hehee. Saya nunggu di rumah aja lah…. Sambal nge-draft postingan di Kompasiana.

sidqi renang bareng uti

***

Beberapa jam kemudian, Sidqi tiba di rumah. Kulitnya menghitam secara paripurna! “Ya ampuuun… renang sebentar aja kok langsung gosong gini yak?”

“Aku capek banget Buk….”

Yeah. Suhu Surabaya memang lagi panas-panasnya. Aku pegang kening Sidqi. Lho, kok demam? Naluri sebagai emak kepo semi investigator menemukan muaranya.

“Kamu ngapain aja kok sampe panas? Emangnya tadi kejedot? Jatuh? Minum air kolam? Kalo capek berenang, kenapa enggak minggir aja? Kenapa nggak bisa ngatur diri sendiri? Kan mestinya tahu kalau badan ini udah kecapekan, kenapa maksain terus buat renang?”

Yadda. Yadda. Blablabla.

Sidqi memandangku dengan kode “Ibuk….. tulung jangan cecar aku dengan semiliar pertanyaan. Kasih obat plis….”

Yeah. Intuisi Ibu akan selalu menuntun pada sebuah sunnatullah “Menjaga anak sepenuh jiwa dan raga”. Aku ambil Tempra Syrup yang nangkring di wadah obat-obatan.

TEMPRA ini, aman banget di lambung anak. Mommies nggak perlu rempong mengocok atau melakukan manuver lainnya karena Tempra sifatnya larut 100%. Kita juga nggak perlu khawatir bakal overdosis ataupun kurang dosis.

IMG-20171230-WA0013

“Makasih ya Ibu… Doakan aku cepet sembuh yaa….”

Aku tersenyum simpul. Bocah tengil satu ini, kalo badannya panas, kok ya bisa mellow juga 🙂 Yeah, banyak cara untuk bisa menunjukkan cinta pada ananda.

 

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Tempra.

Advertisements

7 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s