Surat untuk Ibu: Tentang Aku Mencintaimu karena Allah

Follow me on twitter: @nurulrahma

Ibu,

Pagi ini Surabaya hujan dereeess banget! Suegeer rasanya. Semoga hawa sejuk dan angin semilir yang berhembus bersama tetesan hujan, bisa Ibu rasakan di alam sana ya. Gimana, Ibu? Adem kan? Aku yakin banget, amal-amal yang udah Ibu goreskan di muka bumi, bisa menjadi penyejuk, membuat rumah abadi Ibu terasa luas, walaupun hanya berukuran yaaah, sekitar 2 x 3 meter aja ya.

Continue reading

Surat untuk Ibu

Ibu,

Gimana kabar Ibu di alam sana? Semoga malaikat Munkar Nakir nanyanya nggak susah-susah ya, Ibu. Dan insyaAllah, aku yakin banget, Ibu bakal bisa menjawab semua pertanyaan dengan baik, benar dan komprehensif. Semasa menjalani peran sebagai khalifah di muka bumi, Ibu sudah menunaikan serangkaian kebaikan dalam kuantitas dan kualitas yang begitu mumpuni. Ibu hobi mengajarkan Al-Qur’an kepada siapapun… Ibu hobi menghafalkan firman Allah (ingetkan, kita bertiga—ibu, sidqi dan aku balapan hafal Al-Muthoffifin?)… Ibu hobi sedekah, ibu hobi mengordinir sahabat untuk jadi donatur di lembaga sosial, ibu hobi infaq ke panti asuhan… Jadi, aku yakin banget. Makam Ibu terang benderang, seterang binar amal shalihaat yang udah ibu tebarkan selama ini.

cimg5611

Ibu Bersama Ustadz Aam Amiruddin

Continue reading

Genderuwo itu Bernama Kanker Paru

Sudah sebulan aku tinggalkan dunia blogging dan segala keriuhan duniawi yang ada di dalamnya. Aku menepi, benar-benar menekuri jalan sunyi dalam arti sesungguhnya. Merasakan setiap detak waktu yang berjalan begitu lambat. Membersamai ibunda, tatkala ia merintih… mengeluh nyaris tanpa suara… mencoba membenamkan rasa sakit yang terus menjalar…

Ibu kena kanker paru.

Sudah pasti, aku melalui fase-fase yang barangkali juga dirasakan para keluarga pasien kanker pada umumnya.

Continue reading

Ibu Harus Optimis!

Kalau banyak ibu belakangan ini demikian bangga, bahagia dan sumringah dengan anak-anak mereka, agak sedikit beda dengan saya. Errr… ada “kasus khusus” (yang belum bisa saya ungkapkan ke publik *halaaah*) soal hubungan saya dan Sidqi yang agak sedikit tethooot 🙂 Yeah, mother and son ups and downs relationship gitu lah.

Hamdalah, kecemasan dan galau saya terobati manakala seluncuran di timeline FB, dan nemuin postingan Mia Ilmiawaty Saadah ini. Boleh cek profile FB-nya di sini: https://www.facebook.com/mia.sidqi?fref=ts

Continue reading

Ada Apa dengan Cintamu, Wahai Ibu?

Tidak banyak air mata yang tumpah. Kendati tersendat, perempuan itu masih tetap sanggup berujar. Pilu membaluri hatinya, tapi ia tak kenal kata rapuh. Apalagi putus asa. Atau, menyalahkan takdir Tuhan. Dalam sebuah tragedi yang amat menyesakkan, berulang-ulang, ia sibuk mengucapkan mantra, ”Sabar… sabar… yang ikhlas… insyaAllah Bapak masuk surga…”

Tangisku pecah.

“Relakan Bapak pergi ya Nak… InsyaAllah Bapak masuk surga, dan ia akan bahagia berada di sana…”

Ibu berucap dengan suara bergetar. Seolah menahan air mata yang nyaris tumpah, Ibu memagari dirinya dengan ketegaran yang mengerikan.

Aku—si anak kecil berusia 10 tahun—tak henti-hentinya tergugu. Menangis dalam jeri.

Bapakku meninggal. Tak lagi bernyawa. Bapakku, tulang punggung keluarga kami, sekarang sudah tidak hidup lagi. Tak ada lagi, manusia ganteng, lucu, sabar, yang akan membawakan seplastik pisang goreng setiap sore. Yang memanggilku dengan bumbu sayang tak terbilang, ”Deeek, iki Bapak nggowo pisang goreng isih anget.” (Dik, ini Bapak membawa pisang goreng masih hangat).

Lalu, aku menghambur ke pelukannya. Bau badan Bapak yang masih terpanggang matahari, itu adalah parfum ternikmat yang aku rasai. Lalu, Ibu ikut nimbrung, sembari membawakan teh manis yang masih mengepul. Kalau kau tanya dimanakah aku berada, maka aku akan menjawab, inilah surga. Sebuah surga yang demikian indah, walaupun sederhana.

Dan, 16 April 1991, dinding surgaku bolong. Ada satu makhluk yang tak lagi berkontribusi dalam semarak surga kami. Lagi-lagi, aku melolong. Aku belum siap. Sungguh, kalau boleh memilih, aku lebih suka aku saja yang mati duluan. Jangan Bapakku. Jangan pria ganteng, baik, lucu itu.

“Bapak… bangun Pak… Aku setelkan lagu kesukaan kita Pak… “ aku—si bocah kelas 4 SD kala itu—membawa sebuah radio tape bermerek Sony, yang siap memutarkan lagu Bimbo. Kesukaan Bapak dan aku, apalagi kalau bukan Aisyah adinda kita. ”Bapak, bangun Pak… kita nyanyi lagi Pak…”

Surgaku kini tak sama lagi.

***

Ibuku bagai batu karang. Sekeras apapun badai yang mengoyak, ia tetap tegar. Kepergian Bapak di usia amat muda—44 tahun—sama sekali tak membuat ia menjadi pribadi yang lunglai. Justru, ibuku tampil sebagai superhero. Pahlawan sejati bagi aku dan abangku.

images

Ibuku tak sempat bersedih. Ia gembok rapat-rapat stok duka dalam dada. Ia coret jauh-jauh kosakata “Mengapa harus suami saya?” Ia menutup pintu kerapuhan, lalu melangkah mantap, demi mewujudkan masa depan bagi kami, kedua buah hatinya.

Maka, kalau ada yang bertanya siapa perempuan terkuat di dunia, tentu aku jawab dengan lantang: Ibuku. Tak pernah kudengar sepenggal keluhan yang terlontar dari bibirnya. Duka-nestapa separah apapun senantiasa ia telan sendirian.

Tak pernah kulihat bias lara di mata indahnya. Mata itu selalu pancarkan inspirasi sekaligus motivasi­­ untuk mau berbuat kebaikan dari hari-ke-hari. Ibu hadir untuk menguatkan jiwa. Ibu hadir membawa sekeping optimisme, berbalur rasa syukur yang tak kenal kata udzur.

”Sabar ya Nak… insyaAllah, setiap peristiwa yang kita alami, sepahit apapun, yakinlah, bahwa Allah PASTI memberikan yang terbaik untuk kita…”

***

Sebagaimana kisah-kisah para Nabi dan wali, yang selalu mendapat cobaan dalam hidup; maka begitulah aku menganalogikan kehidupan Ibu.

Pasca berpulangnya Bapak, hantaman cobaan seolah enggan hengkang. Mulai masalah finansial, yang membuat Ibu harus jumpalitan menambal kekurangan di sana-sini.

Sepulang mengajar—ibuku adalah guru—beliau harus pergi kulakan ke Pasar Turi. Beraneka alat masak pecah belah, sprei, baju, daster selalu ia bawa pulang, untuk kemudian dijual secara kredit ke tetangga.

Wajahnya memang penuh peluh, toh Ibu tak mau berkubang dalam keluh. Dan kau tahu, apa stigma yang melekat pada janda? Walaupun itu janda karena suaminya meninggal? Yang aku tahu, ada beberapa pasang mata yang menghadiahkan tatapan tidak suka. Janda. Ke sana ke mari bawa dagangan. Ada yang membeli karena ingin, ada yang karena kasihan, ada yang lantaran terpaksa.

Yang bikin sebal, beberapa customer Ibu terjerat “kredit macet”. Apa boleh buat, Ibu memang tak piawai berdebat. Dengan senyum simpul, Ibu membiarkan piutangnya berubah jadi sedekah.

Aku—yang memang bakat protes—menganggap apa yang Ibu lakukan sebagai tindakan “aneh” “menggelikan” “tak masuk akal”. Ibu kan jualan, jadi rugi dong kalau begini terus?

“Nggak papa. Allah tak pernah tidur. Pasti kita akan dapat ganti yang lebih baik,” begitu ucap Ibu, sembari mengelus-elus rambutku.

***

Mom_Quotes-Images_LikeLoveQuotes_SMS_Sayings_Messages_ImageQuotes

“Adik mau nggak, kalau punya Bapak lagi?” Seorang tante menanyaiku pada suatu pagi.

Bapak? Bapak tiri, maksudnya? Tidak. Bapakku cuma satu. Bapakku sudah di surga. Aku tidak mau punya Bapak jilid dua.

Sebenarnya, kalau mau, Ibuku sangat bisa menikah lagi. Beliau masih terbilang muda ketika menjanda. Pun, tidak sedikit pria—berstatus bujang ataupun duda—yang naga-naganya memang ingin menjadi bapak sambung. Tapi, ibuku bergeming.

Ada apa dengan cintamu, wahai Ibu?

Terkadang, aku merasa bersalah karena jangan-jangan aku yang membuat Ibu tak mau menikah lagi?

Tapi, rupanya Ibu bisa menjawab risau yang aku rasa. Ia punya satu cinta nan agung, yang ia persembahkan hanya pada bapakku. Maka, ketika bapak berkalang tanah, cinta itu ikut terkubur di sana. Bersemayam dalam jasad yang fana. Barangkali, cinta itu akan kembali menemukan mahkotanya, di surga firdaus. Kelak. Entah kapan.

***

Aku selalu ingat setiap serpihan kalimat yang meluncur dari Ibu. Segumpal kata yang sarat makna. Seutas diksi yang membekas di hati. Setiap melihat sorot matanya, yang begitu tangguh dan berani—kalau tak boleh dibilang nekad—nyaliku langsung bangkit. Tak mau aku jadi pecundang, yang terus merutuki nasib. Tak rela aku jadi perempuan menye-menye, yang gampang terperosok dalam sedih tak berujung. Aku mau TEGAR. Aku ingin BANGKIT.

“Kalau saat ayah meninggal, ibu menangis kencang, barangkali saat ini aku tumbuh menjadi perempuan yang rapuh.”

Suatu sore yang cerah. Seperti biasa, kami minum teh, sambil menikmati jajan pasar. Berdua. Hanya aku dan dia.

“Kenapa begitu?”

“Ya, karena Ibu adalah role model buatku. Ibu itu panutanku, pahlawanku. Waktu itu, aku mau nangis dan protes sama Tuhan. Aku benci banget dengan kenyataan bahwa ayah meninggal. Kenapa ayahku yang begitu baik malah meninggal? Kenapa bukan orang jahat saja yang meninggal duluan? Ayah umurnya kan masih 44? Kenapa aku yang masih sekecil itu malah dibikin nggak punya ayah? Tapi, gara-gara lihat Ibu, aku malu kalau nangis. Wong Ibu nggak nangis, ya sudah, aku juga brenti deh, nangisnya.”

Setengah dipaksa, bibir Ibu mengukir senyum. ”Kamu ini bisaaaa aja!”

Pada akhirnya, aku belajar, bahwa untuk survive dalam menjalani hidup, kita hanya perlu berbekal syukur dalam volume yang tak berhingga. Agar kita punya hati dan kesabaran seluas samudera. Dan itu semua, kupelajari dari ibuku.

Laa Tahzan. Innallaha ma’ana…

Jangan sedih. Sesungguhnya Allah bersama kita.

Mantra itu yang membuat ibu kuat.

Mantra itu yang membuat cinta kami kian rekat.

Mantra itu yang menjadikan hati Ibu begitu luas…. Seluas samudera….

I love you mom. I love you to the moon and back.

 

 

IKHLAS, Mantra Sakti Para Ibu

Oleh: @nurulrahma

Setengah berlari, saya menyusuri terminal keberangkatan Bandara Soekarno Hatta. Kaki saya mulai terasa nyeri. Hentakan yang begitu keras pada high heels memberikan sensasi ngilu yang tak terperi. Buru-buru saya copot high heels. Hanya dengan beralaskan kaos kaki, saya berlari. Tak peduli pandangan aneh dari penumpang lain. Saya harus kejar flight ini! Saya harus segera pulang!

Terengah-engah, saya serahkan tiket ke petugas counter pesawat. Bismillah, semoga belum terlambat…. Semoga belum terlambat…..

“Selamat malam, Ibu. Flight jam 8 malam ya?”

“Iya, Mas. Saya belum telat kan?”

“Untungnya pesawat kami agak delay, Ibu. Jadi, Ibu masih bisa masuk. Lain kali, mohon sudah tiba di airport satu jam sebelum keberangkatan ya.”

“Okeh. Jakarta macet banget Mas. Hoshh.. hoshhh…” saya masih terengah.

Alhamdulillah. Akhirnya, Allah mengizinkan saya untuk pulang. Hmm, PULANG. Kata ini terdengar begitu syahdu di telinga dan kalbu. Sudah lama, saya tak bisa pulang. Load pekerjaan yang tak kunjung henti, beragam event yang harus saya datangi, aneka press conference, beragam media briefing, media tour…Arggghhh….

Kalau saja, saya masih berstatus lajang ketika melakoni job sebagai media relations ini. Rasanya spektakuler! Saya bisa berkelana ke seluruh penjuru Indonesia. Melihat apiknya Danau Tondano-Manado. Menikmati geliat Malioboro-Jogja di malam hari. Makan pempek asli wong kito di Palembang. Menginap di berbagai hotel berbintang. Melaju dengan pesawat kelas satu. Dan, semua itu bisa dilakukan secara GRATIS. Bahkan, saya dibayar untuk itu.  Siapa yang nggak mau?

Nah, tantangannya adalah, I’m not a single girl anymore. Saya sudah berubah status, menjadi seorang ibu. Ada bayi mungil yang terlahir dari rahim saya. Ada bayi yang harus saya didik sepenuh jiwa. Sayangnya, hari-hari saya dirampas dengan kesibukan yang tak mengenal jeda. Usai cuti melahirkan, boleh dibilang, tak ada waktu yang tersisa buat bayi saya. Ya, bahkan waktu sisa pun tak ada!

Apa yang kau cari, Nurul? Karir? Gemilang uang? Tatapan penuh kagum (plus iri) ketika rekan-rekanmu bertanya, “Kerja dimana kau sekarang?” Dan engkau menjawab penuh jumawa, “Oh, saya kerja di perusahaan X, multinational company yang berafiliasi dengan sebuah korporasi di Amerika Serikat.”

Hah?! Itukah?

Sampai kapan kau bergulat dengan ambisimu itu? Sampai kapan kau turuti nafsu duniamu itu? Apa jawabmu, tatkala nanti di padang mahsyar, kau ditanya soal “Bagaimana kau mendidik anakmu?” Apa akan kau jawab, “Oh, selama ini bayi saya titipkan ke neneknya. Di rumah juga ada asisten rumah tangga (ART) kok.” Ya, ya, ya. Kau sibuk menempuh pendidikan setinggi mungkin, dan kau manfaatkan segala ilmu yang kau rengkuh, untuk pengabdian di kantor? Sementara, anakmu, darah dagingmu, justru kau serahkan pada asisten rumah tangga yang SD saja tidak tamat? Lalu, kau suruh ibumu untuk mengasuh anakmu. Tega benar, kau. Ibumu itu tugasnya mengasuh dan mendidik kamu, bukan anakmu! Tugas nenek itu memanjakan cucu, bukan mengasuhnya!

Dalam pesawat yang tengah mengangkasa, saya sibuk memijit kepala. Penat. Amat penat.

***

Saya jumpa Sidqi, anak saya, di pagi hari. Ia tengah dimandikan ART saya. Sambil berkicipak-kecipuk, Sidqi tertawa riang. Apalagi, ART saya mendendangkan lagu anak-anak yang dimodifikasi sendiri, “Bangun tidur adik Sidqi teruss… mandiiii…. Biar wajah ganteng sekaliiii….. ”

Seolah tahu kalau sedang dirayu, Sidqi tergelak. Bebek karet di tangannya jadi sasaran gemas. Ia memencet bebek sampai air muncrat kemana-mana.

“Looh, Sidqi sudah gede ya? Sudah bisa mencet bebek?” Saya nimbrung di antara mereka berdua.

Sidqi menatap saya. Diam. Seolah-olah, si bayi 7 bulan itu hendak berkata, “Errr… ini tante siapa ya? Kok nggak pernah kenal?”

“Sidqi… ini Ibu, naak….”

Sidqi masih diam.

“Sidqi lupa sama Ibu?” meski mencoba tersenyum, hati saya sakit. Sakit bukan main. Sidqi bisa terpingkal, tergelak, bercanda begitu lepas dengan ART-nya! Sementara, ketika saya coba ngajak ngobrol, ia malah diam, dengan memasang tampang “Emang elo siapa?!?!”

“Ngghhh… anu Bu, mungkin adik Sidqi lupa sama Ibu… kan jarang ketemu….”

Gubrak. Ini, lagi. ART saya ini kadang-kadang nggak cerdas emosi sama sekali. Saya nih sudah sakit hati melihat betapa manisnya hubungan kalian berdua, jangan ditambahi analisis sok tahumu itu dong! Geram, saya membatin.

Insiden mandi pagi ternyata bukan satu-satunya penyulut sumbu panas. Setelah mandi, Sidqi juga ogah saya gendong. Ia lebih memilih berada di gendongan ART, karena sudah familiar dengan bau si mbaknya. Lebih tragis lagi, manakala saya coba kasih ASI ke Sidqi. Ditolaknya mentah-mentah!

Pagi itu, seharusnya saya bahagia karena bisa pulang. Harusnya saya disambut sorot mata “Ibu… saya kangen…” dari bayi saya. Harusnya, kami berdua bisa menjadi sepasang ibu-anak yang normal. Yang saling merindukan.

Detik itu juga saya sadar. Bayi saya butuh saya, butuh kehadiran saya, perhatian, waktu, belaian dan kasih sayang saya. Sayangnya, menghadirkan diri untuk anak ternyata butuh usaha keras. Butuh kemauan untuk mengenyahkan ego. Butuh kedewasaan untuk bisa menentukan pilihan. Selama ini, saya terbelenggu pada target duniawi yang saya buat sendiri. Bahwa saya harus punya karir moncer. Bahwa saya harus bisa beli ini dan itu. Bahwa saya harus jadi perempuan mandiri, agar hak saya tidak diinjak-injak oleh para lelaki, dan saya bisa jadi role model buat wanita abad ini. Astaghfirullah… kenapa saya menjelma jadi kaum feminis wanna-be seperti ini?

Ketika hati sedang panas, buru-buru saya percikkan air wudhu. Adukan segala problema hidup hanya pada Yang Maha Menggenggam Kehidupan. Di atas sajadah, saya mohon petunjuk dari-Nya, apa yang seharusnya saya pilih. Tidak ada yang salah menjadi ibu bekerja. Barangkali, yang salah adalah, apabila saya mulai menjadikan pekerjaan sebagai “berhala” dan lupa akan tugas dan kewajiban yang tersemat begitu saya menyandang status “ibu”. Menjadi orangtua, artinya saya sudah ‘melamar’ ke pekerjaan tanpa cuti dan tak bisa resign. Dan, pada akhirnya, saya akan diminta ‘laporan pertanggungjawaban’ seputar amanah yang selama ini Allah berikan.

Allahu Akbar… Pagi itu, ada sebutir ikhlas yang menginjeksi seluruh hati. Ikhlaslah jadi Ibu… Kalaupun kau tetap ingin berkarya, carilah pekerjaan yang ‘ramah keluarga’. Jangan gadaikan keluargamu dengan sebongkah rupiah… Masih ada cara lain untuk aktualisasi diri… Ikhlaskan untuk melepas karir sekarang… Karena karir terbaik adalah, manakala engkau bisa menjadi ibu yang menghebatkan anak… BismillahInsyaAllah, akan ada jalan terbentang yang indah untuk kalian….(*)