IKHLAS, Mantra Sakti Para Ibu

Oleh: @nurulrahma

Setengah berlari, saya menyusuri terminal keberangkatan Bandara Soekarno Hatta. Kaki saya mulai terasa nyeri. Hentakan yang begitu keras pada high heels memberikan sensasi ngilu yang tak terperi. Buru-buru saya copot high heels. Hanya dengan beralaskan kaos kaki, saya berlari. Tak peduli pandangan aneh dari penumpang lain. Saya harus kejar flight ini! Saya harus segera pulang!

Terengah-engah, saya serahkan tiket ke petugas counter pesawat. Bismillah, semoga belum terlambat…. Semoga belum terlambat…..

“Selamat malam, Ibu. Flight jam 8 malam ya?”

“Iya, Mas. Saya belum telat kan?”

“Untungnya pesawat kami agak delay, Ibu. Jadi, Ibu masih bisa masuk. Lain kali, mohon sudah tiba di airport satu jam sebelum keberangkatan ya.”

“Okeh. Jakarta macet banget Mas. Hoshh.. hoshhh…” saya masih terengah.

Alhamdulillah. Akhirnya, Allah mengizinkan saya untuk pulang. Hmm, PULANG. Kata ini terdengar begitu syahdu di telinga dan kalbu. Sudah lama, saya tak bisa pulang. Load pekerjaan yang tak kunjung henti, beragam event yang harus saya datangi, aneka press conference, beragam media briefing, media tour…Arggghhh….

Kalau saja, saya masih berstatus lajang ketika melakoni job sebagai media relations ini. Rasanya spektakuler! Saya bisa berkelana ke seluruh penjuru Indonesia. Melihat apiknya Danau Tondano-Manado. Menikmati geliat Malioboro-Jogja di malam hari. Makan pempek asli wong kito di Palembang. Menginap di berbagai hotel berbintang. Melaju dengan pesawat kelas satu. Dan, semua itu bisa dilakukan secara GRATIS. Bahkan, saya dibayar untuk itu.  Siapa yang nggak mau?

Nah, tantangannya adalah, I’m not a single girl anymore. Saya sudah berubah status, menjadi seorang ibu. Ada bayi mungil yang terlahir dari rahim saya. Ada bayi yang harus saya didik sepenuh jiwa. Sayangnya, hari-hari saya dirampas dengan kesibukan yang tak mengenal jeda. Usai cuti melahirkan, boleh dibilang, tak ada waktu yang tersisa buat bayi saya. Ya, bahkan waktu sisa pun tak ada!

Apa yang kau cari, Nurul? Karir? Gemilang uang? Tatapan penuh kagum (plus iri) ketika rekan-rekanmu bertanya, “Kerja dimana kau sekarang?” Dan engkau menjawab penuh jumawa, “Oh, saya kerja di perusahaan X, multinational company yang berafiliasi dengan sebuah korporasi di Amerika Serikat.”

Hah?! Itukah?

Sampai kapan kau bergulat dengan ambisimu itu? Sampai kapan kau turuti nafsu duniamu itu? Apa jawabmu, tatkala nanti di padang mahsyar, kau ditanya soal “Bagaimana kau mendidik anakmu?” Apa akan kau jawab, “Oh, selama ini bayi saya titipkan ke neneknya. Di rumah juga ada asisten rumah tangga (ART) kok.” Ya, ya, ya. Kau sibuk menempuh pendidikan setinggi mungkin, dan kau manfaatkan segala ilmu yang kau rengkuh, untuk pengabdian di kantor? Sementara, anakmu, darah dagingmu, justru kau serahkan pada asisten rumah tangga yang SD saja tidak tamat? Lalu, kau suruh ibumu untuk mengasuh anakmu. Tega benar, kau. Ibumu itu tugasnya mengasuh dan mendidik kamu, bukan anakmu! Tugas nenek itu memanjakan cucu, bukan mengasuhnya!

Dalam pesawat yang tengah mengangkasa, saya sibuk memijit kepala. Penat. Amat penat.

***

Saya jumpa Sidqi, anak saya, di pagi hari. Ia tengah dimandikan ART saya. Sambil berkicipak-kecipuk, Sidqi tertawa riang. Apalagi, ART saya mendendangkan lagu anak-anak yang dimodifikasi sendiri, “Bangun tidur adik Sidqi teruss… mandiiii…. Biar wajah ganteng sekaliiii….. ”

Seolah tahu kalau sedang dirayu, Sidqi tergelak. Bebek karet di tangannya jadi sasaran gemas. Ia memencet bebek sampai air muncrat kemana-mana.

“Looh, Sidqi sudah gede ya? Sudah bisa mencet bebek?” Saya nimbrung di antara mereka berdua.

Sidqi menatap saya. Diam. Seolah-olah, si bayi 7 bulan itu hendak berkata, “Errr… ini tante siapa ya? Kok nggak pernah kenal?”

“Sidqi… ini Ibu, naak….”

Sidqi masih diam.

“Sidqi lupa sama Ibu?” meski mencoba tersenyum, hati saya sakit. Sakit bukan main. Sidqi bisa terpingkal, tergelak, bercanda begitu lepas dengan ART-nya! Sementara, ketika saya coba ngajak ngobrol, ia malah diam, dengan memasang tampang “Emang elo siapa?!?!”

“Ngghhh… anu Bu, mungkin adik Sidqi lupa sama Ibu… kan jarang ketemu….”

Gubrak. Ini, lagi. ART saya ini kadang-kadang nggak cerdas emosi sama sekali. Saya nih sudah sakit hati melihat betapa manisnya hubungan kalian berdua, jangan ditambahi analisis sok tahumu itu dong! Geram, saya membatin.

Insiden mandi pagi ternyata bukan satu-satunya penyulut sumbu panas. Setelah mandi, Sidqi juga ogah saya gendong. Ia lebih memilih berada di gendongan ART, karena sudah familiar dengan bau si mbaknya. Lebih tragis lagi, manakala saya coba kasih ASI ke Sidqi. Ditolaknya mentah-mentah!

Pagi itu, seharusnya saya bahagia karena bisa pulang. Harusnya saya disambut sorot mata “Ibu… saya kangen…” dari bayi saya. Harusnya, kami berdua bisa menjadi sepasang ibu-anak yang normal. Yang saling merindukan.

Detik itu juga saya sadar. Bayi saya butuh saya, butuh kehadiran saya, perhatian, waktu, belaian dan kasih sayang saya. Sayangnya, menghadirkan diri untuk anak ternyata butuh usaha keras. Butuh kemauan untuk mengenyahkan ego. Butuh kedewasaan untuk bisa menentukan pilihan. Selama ini, saya terbelenggu pada target duniawi yang saya buat sendiri. Bahwa saya harus punya karir moncer. Bahwa saya harus bisa beli ini dan itu. Bahwa saya harus jadi perempuan mandiri, agar hak saya tidak diinjak-injak oleh para lelaki, dan saya bisa jadi role model buat wanita abad ini. Astaghfirullah… kenapa saya menjelma jadi kaum feminis wanna-be seperti ini?

Ketika hati sedang panas, buru-buru saya percikkan air wudhu. Adukan segala problema hidup hanya pada Yang Maha Menggenggam Kehidupan. Di atas sajadah, saya mohon petunjuk dari-Nya, apa yang seharusnya saya pilih. Tidak ada yang salah menjadi ibu bekerja. Barangkali, yang salah adalah, apabila saya mulai menjadikan pekerjaan sebagai “berhala” dan lupa akan tugas dan kewajiban yang tersemat begitu saya menyandang status “ibu”. Menjadi orangtua, artinya saya sudah ‘melamar’ ke pekerjaan tanpa cuti dan tak bisa resign. Dan, pada akhirnya, saya akan diminta ‘laporan pertanggungjawaban’ seputar amanah yang selama ini Allah berikan.

Allahu Akbar… Pagi itu, ada sebutir ikhlas yang menginjeksi seluruh hati. Ikhlaslah jadi Ibu… Kalaupun kau tetap ingin berkarya, carilah pekerjaan yang ‘ramah keluarga’. Jangan gadaikan keluargamu dengan sebongkah rupiah… Masih ada cara lain untuk aktualisasi diri… Ikhlaskan untuk melepas karir sekarang… Karena karir terbaik adalah, manakala engkau bisa menjadi ibu yang menghebatkan anak… BismillahInsyaAllah, akan ada jalan terbentang yang indah untuk kalian….(*)

Advertisements

6 comments

  1. Hartomo · November 20, 2013

    Bagi saya, seorang ayah. Tak ada yang salah dengan istri yang bekerja (istri saya juga bekerja), selama kemauan itu mucul dari dirinya sendiri dan berniat untuk memperbaiki kehidupan anak-anaknya kelak. Dengan syarat seperti yang Mbak Nurul bilang: pekerjaan yang ramah keluarga.
    Tetapi alangkah baiknya selama saya masih bisa banting tulang, banting dengkul dan banting-banting yang lain, mending istri saya di rumah aja kali ya, tapi ya itulah Istri, kita bilangin malah galakkan dia hehehe… pisss aahhh…

  2. bukanbocahbiasa · November 21, 2013

    Wuaaahhhh, dikunjungi Langganan Jawara Blog niiihhhh *terhura. Hehehe, makasih ya Bung Tomo mampir dimari. Iya siy, memilih antara jadi working mom atau stay at home mom itu “sesuatu” banget. Perlu perjuangan dan keikhlasan juga. Salam untuk keluarga ya

  3. fatimahnrlk · November 23, 2013

    Reblogged this on ALLAH DULU, ALLAH LAGI, ALLAH TERUS! and commented:
    lihat nih! tugas wanita yang sebenarnya :”)

    • bukanbocahbiasa · November 23, 2013

      Hai, hai, haiii… “kembaran” sesama klan nurul 🙂 Danke udah berkunjung ke blog sederhana ini. Dirimu domisili di jerman ya? Keren! Ikutan Kumpulan Emak Blogger dong. Grup ini terbuka untuk emak dan (calon) emak 🙂 Coba googling aja ya. See you there. Auf wiedersehen‎…

  4. nita · January 8, 2014

    Bu…ijin share ya,,buat inspirasi 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s