kuliner, lifestyle, Review

From Tokyo Bowl to Tokyo Tower, Yuk Ngetrip Gratis ke Jepang bareng HokBen!

“Ada aja alasan ke Hoka Hoka Bentoooo….!”

Kamu bisa menirukan jingle itu dan nyanyi dengan nada yang pas? Selamaaaat, itu artinya, kamu generasi ’90-an yang seumuran dengan diriku, hihihi. Udaaah, nggak usah denial deh, secara usia biologis, mungkin kita emang udah ‘beranjak dewasa’. Tapi, secara casing dan jiwa harus tetep muda belia tralala kan?

Continue reading “From Tokyo Bowl to Tokyo Tower, Yuk Ngetrip Gratis ke Jepang bareng HokBen!”

Uncategorized

PEMBURU BEASISWA, PEMBURU PAHALA (PART DEUX)

Yak. Sesuai janji di posting yang ini, saya mau berbagi cerita soal senior di ITS yang sekarang lagi kuliah doktoral di Aussie. Kakak kelas saya ini, pas di ITS IP-nya ga selalu di atas 3. Kadang, masuk kategori PMDK (Persatuan Mahasiswa IP Dua Koma). Tapi, dia punya azzam (tekad yang kuat pake banget) untuk berburu Beasiswa. 

Yang bikin takjub lagi, dia banyak mengalami “keajaiban hidup” karena amal baik wajib maupun sunnah yang konsisten dilakoni. Hmm, Jumat yang penuh berkah ini, insyaAllah jadi makin indah setelah kita baca kisah Mas Yudie. 

Bisa diceritain gimana awalnya sampai Mas Yudie bisa kuliah S-3 di Australia?  

Saya memulai berburu beasiswa Luar Negeri sejak usia 15 thn tepatnya menjelang lulus SMP dan usaha pertama saya ini belum berhasil. Beasiswa yang saya apply saat itu ASEAN Scholarship yang disponsori oleh pemerintah Singapura. Hingga tulisan ini saya buat, beasiswa ini masih ditawarkan (lebih dari hampir 20 thn) beasiswa ini masih eksis dan memulai proses seleksi setiap bulan Juni-July, berikut link nya http://www.moe.gov.sg/education/scholarships/asean/indonesia/

Ikhtiar saya yang kedua yaitu selepas SMA saya mendaftarkan beasiswa Monbukagakusho (Dept Pendidikan dan Kebudayaan) Jepang untuk program perkuliahan di Jepang, dan hingga saat ini pun beasiswa ini masih ada dan menyediakan kesempatan pendidikan dari jenjang D2 hingga S3 dan juga Teacher Training (program beasiswa utk guru SD SMP SMA). Berikut tautan informasinya: http://www.id.emb-japan.go.jp/sch.html

Usaha kedua saya ini berhasil dan saya mendapat surat undangan untuk mengikuti proses seleksi selanjutnya, namun dari diskusi dengan orang tua saat itu mereka lebih menginginkan saya untuk meneruskan kuliah S1 saya di Teknik Informatika ITS, karena sebelumnya saya sudah diterima UMPTN di sana, dan seraya memberikan harapan mereka berdoa bahwa nanti pasti satu saat saya akan kuliah di Jepang.

* Demi menjaga impian utk belajar di Jepang saya menyimpan surat undangan beasiswa tersebut. Dan tepatnya tahun 2005 atau 8 tahun kemudian ketika saya mengikuti wawancara beasiswa S2 ke Jepang, seorang pewawancara dari kedutaan Jepang menanyakan motivasi saya memilih Jepang sebagai tempat studi, saya pun kemudian mengeluarkan surat undangan yang saya simpan sejak 8 tahun tersebut dan menjelaskan kepada mereka bahwa studi di Jepang adalah salah satu ‘Mimpi’ besar saya dari dulu, sebagai mana dahulu saya mendapatkan kesempatan untuk belajar ke Jepang, maka kali ini adalah saat nya saya mewujudkan mimpi tersebut. Alhamdulillah akhirnya saya mendapatkan beasiswa S2 saya untuk studi di Waseda University

* Selepas beasiswa S2 di Jepang saya mendapatkan tawaran untuk melanjutkan studi s3 di Jepang, konon katanya karena nilai B saya cuma 1 yang lain A semua heheh 🙂 (maaf narsis dikit). O ya satu lagi karunia Allah yang saya dapat selama studi di Jepang yaitu Allah memberikan karunia kelahiran putra ke 2.

Karena berbagai pertimbangan saya tidak menerima tawaran tersebut dan melamar beasiwa ke Australia. Sebelumnya saya lebih kurang 4 kali pernah gagal melewati proses seleksi beasiswa Australia, yang belakangan baru saya sadar kegagalan tersebut karena IPK saya kurang sedikit dari 3. Padahal sudah jelas syarat nya IPK 3.00 tapi saya nekat saja :).

* Alhamdulillah berbekal pengalaman kegagalan dan keberhasilan saya diberikan kesempatan Allah mendapatkan 2 beasiswa sekaligus yaitu dari Universitas saya sekarang sedang belajar menawarkan beasiswa utk program doktoral (postgraduate scholarships) dan dari Australian Leaderships Awards–ALA (salah satu beasiswa prestise dari pemerintah Australia utk para pemimpin muda di kawasan asia pasifik) untuk program doktoral. Dari 2 Beasiswa ini saya memilih ALA utk sponsor saya melanjutkan program doktoral saya.

Sekilas ttg Australian Leadership Awards (ALA), salah satu beasiswa bergengsi dari pemerintah Australia yg diberikan kepada para pemuda di Asia Pasifik, Afrika, Amerika Latin dan Carribean untuk menempuh pendidikan dan mengikuti Leadership Coaching Moduls di Australia. Sesuai namanya salah satu kriteria memperoleh beasiswa ini adalah mereka yg pernah dan/atau di masa depan punya peran kepemimpinan di suatu area atau institusi tempat mereka bekerja dan berkarir. Dan saya merasa sangat bersyukur diberikan Allah SWT kesempatan utk memenangkan Awards ini diantara 300 dari seluruh pemenang dan satu dari 28 peraih beasiswa ini dari Indonesia.

*Setelah selesai program beasiswa doktoral saya ini, saya InsyaAllah Pasti akan mencari dan melamar beasiswa Pascadoctoral saya. Mhn doa nya smg Allah mengabulkan mimpi saya ini.

Image

Apa ibadah-ibadah (baik sunnah, maupun wajib) yang rutin Anda lakukan, sehingga mempermudah Anda mendapatkan peluang kuliah S-3 plus menjalani kuliah dengan seabrek tugas?

 

Berbagai pelajaran yang bisa saya share dari sedikit pengalaman saya dari beberapa sukses dan banyak juga gagal dlm melamar beasiswa LN:

* Awali dengan mimpi dan azzam yang kuat

* dibutuhkan extra ‘stamina’ fisik dan psikis yang cukup

* sedikit/banyak pengorbanan waktu, tenaga dan materi (saya pernah mengeluarkan 1/4 gaji saya untuk mengirim dokumen aplikasi via internasional kurir untuk melamar beasiswa dan ternyata gagal)

* Tidak cukup dengan berjuangan sendirian, dukungan keluarga dan berjamaan dg teman2 yg punya motivasi yg sama akan lebih meringankan perjuangan memenangkan beasiswa.

* Terkadang tdk hanya 1 faktor yg menentukan misal tdk hanya akademis saja tapi ada faktor non akademis yg jumlahnya lebih banyak dari fakor akademis yg bs menjadi penentu keberhasilan spt track record, kepribadian dll.

* Kewajiban kita adalah ikhtiar Terlepas dari semua ikhtiar itu, saya kira Allah SWT yang menentukannya.

Utk amal khusus saya sebenarnya tdk yakin apa iya amal yg sdh saya lakukan selama ini adalah menjadi jalan kemudahan mendapat kan beasiswa saya tdk tahu sungguh Allahu ‘a lam. Tapi utk memotivasi pembaca dan demi utk diambil pelajaran dan smg Allah redha, berikut beberapa hal yg saya berusaha istiqomah lakukan ketika sy tengah berikhitiyar menadapatkan beasiswa (smg sy dilindungi dari riya):

* Saya selalu mengupayakan menjaga sholat berjamaah 5 waktu dan sholat sunnah spt duha dan qiyamul lail, krn bagi saya selain sbh ibadah, sholat adalah mihrab utk selalu berkomunikasi dg Allah dan sbg bentuk menyerahkan semua ikhtiar yg sdh kita lakukan. Saya berkeyakinan Allah SWT sajalah yg bisa membantu kita menyelesaikan permasalahan kita dan ‘memilih kan’ jalan terbaik utk  hidup kita. Sehingga manakala kita gagal mendapat beasiswa kita kembalikan lagi semua kpd Allah yg maha tahu.Saya juga yakin sholat adalah salah satu cara mendekatkan diri dg Allah SWT, jika kita sdh dekat dg Allah SWT, maka tak mustahil Dia akan mengabulkan dan melebihkan hajat yg kita minta.

*Amalan yg lain, setiap hari saya usahakan selalu bersedekah, biasanya saya mulai ketika berjamaah sholat subuh saya berusaha berinfaq, jumlahlah tdk tentu yg pasti istiqomah. Saya merasakan manfaata amalan ini, selain mengikis rasa cinta dunia, saya terkadang mendapatkan solusi masalah saya dr jalan yg tdk disangka.

Puncaknya saya merasakan dari infaq dan shodaqoh dan juga zakat (smg ini benar :)), Allah berkenan memberikan jalan utk saya dan istri menunaikan ibadah haji via Australia tahun 2013. Ibadah yg semula kami rencanakan 10 tahun kedapan akan tetapi Allah hadirkan pada saat saya juga tengah menempuh S3 saya. Dan ibadah haji ini tdk ada dlm agenda saya dan bahkan blm ada anggarannya 😀 sewaktu akan berangkat memulai study di Australia. Subhanallah kami merasakan ‘the power of giving’

Image

Kami juga merasakan ‘the power of giving’ ini ketika di Jepang dan Australia. Meraka walaupun tdk menganut syariat islam (zakat, shodaqoh dan infaq) tapi semangat ‘memberi’ kepada warga negara negaranya dan bahkan warga negara lain membuat mereka menjadi negara maju dan tdk jatuh miskin. Bayangkan untuk 1 orang yg diberi beasiswa S3, pemerintah Australia harus mengalokasikan  dana yg nilai nya tdk kurang dr 4 milliar rupiah, padahal setiap tahun ada lebih 500 penerima seluruh dunia, tapi mereka tdk menjadikan negara miskin karena semangat berbagi dan memberi ini.

Dari sini saya berkeyakinan Janji Allah di banyak ayat Al quran tentang Zakat, Infaq Shodaqoh PASTI benar dan tdk akan di ingkariNya, wong orang non-muslim yg generous (dermawan) saja di kasih cash back secara kontan selama di dunia dari apa-apa yg sdh mereka berikan, apalagi kalo kita muslim, maka cash back dari Allah tdk hanya dlm kembalian materi tapi juga kesempatan2 lain yg nilai nya jauh lebih besar dari apa yg sdh kita keluarkan dan InshaAllah di Akhirat pastinya sdh disiapkan balasannya jika kita ikhlas yakin dan sesua tuntunan Allah.

Apakah sebelumnya (ketika kecil, atau masih SMA) Anda pernah mendapat pengalaman kurang menyenangkan, tapi justru ini menjadi bahan bakar Anda untuk semakin semangat menempuh ilmu, bahkan hingga keluar negeri?

 

Saya salah satu yg mengalami pengalaman kurang menyenangkan spt bullying (olok2), contohnya sejak SMP saya selalu di olok2 ‘Jepang’ barangkali krn secara fisik saya mirip orang jepang. Tapi ini menjadikan saya selalu menanamkan mimpi satu saat saya hrs bisa ke Jepang. Juga saya selalu diremehkan rekan2 krn IPK saya kurang dr 3,00 utk bisa lolos atau mendapatkan beasiswa ke LN. Dan ini memacu saya untuk berusaha mencari kesempatan seluas-luasnya agar mendapatkan beasiswa studi lanjut ke LN. dan tak lupa saya selalu yakin akan janji Allah, bahwa Dia akan selalu bersama dg org yg berbuat kebaikan. Saya hanya berusaha lingkungan dan pengalaman yg tdk menyenangkan bukan alasan utk tdk berbuat utk kebaikan.

Aktivitas kajian/ keislaman seperti apa yang rutin Anda lakukan? Apakah Anda menjadi Ketua Perhimpunan Mahasiswa Islam di Melbourne, atau bagaimana?

Aktivitas keagamaan yg rutin saya lakukan saat ini yaitu: belajar agama Islam melalui ta’lim dan perkumpulan pengajian2 di Melbourne sini. Saya semakin merasakan kebenaran2 ajaran Islam ketika saya di LN. Saya menyaksikan bagaimana orang2 non-muslim di sini menerapkan prinsip2 keIslaman dan mereka mendapatkan hasil dan manfaatnya. Sbg contoh bagaimana mereka disiplin, tepat waktu, menjaga kebersihan, jujur tidak korupsi dan transparan dan menolong yg lemah mereka jadikan prinsip etos hidup di sini dan sbg hasilnya mereka menjadi masyarakat yg maju, makmur dan mencapai kualitas hidup yg lebih baik dari kita.

Ada satu hal yg menarik, meski Australia dikenal melegalkan konsumsi minuman beralkohol. namun kenyataannya tdk ‘sebebas’ yg kita kira bahkan lebih ketat dari negara kita barangkali. Walaupun negara Australia tdk manganut syariat Islam, pemerintah di sini sangat concern dg yg namanya peredaran dan konsumi alkohol (khomr) Misal nya untuk bisa membeli minuman ini disyaratkan harus berusia di atas 18+, dan ini juga berlaku utk pembelian rokok.

Pelanggaran akan ketentuan ini akan dikenakan denda baik pembeli atau penjual. Bahkan di beberapa area diberlakukan kawasan ‘alcohol free zone’, dan pelanggaran bagi siapa saja yg kedapatan mengkonsumsi alkohol di area ini akan dikenakan denda $200 kurang lebih 2,2 juta rupiah :ImageD

 

Saya kira ini yg blm ada di negara kita walopun mayoritas menganut ajaran agama Islam yg mengharamkan alkohol, akan tetapi dlm kenyataan blm diterapkan sepenuhnya.

Dan saya kira banyak lagi contoh perilaku ‘Islami’ mereka yg sebenarnya kita bisa lihat diterapkan di negara atau orang non-muslim dan membuahkan hasil. Semua prinsip tsb itu jauh hari telah diajarkan Islam melalui Al qur an dan As sunnah. Dan ini menginspirasi saya jika kita ingin sukses dunia akhirat maka kita harus kembali menerapka 2 warisan agung tsb dlm hidup kita yaitu Al Qur an dan As Sunnah. Oleh karena itu saya sangat ingin lebih memperdalam pemahaman akan Al qur an dan As Sunnah shg sy bisa jadikan bekal sukses hidup dunia dan akhirat.

Aktivitas keislaman sy yg lain, saat ini saya menjadi guru sukarelawan di Primary School (Sekolah dasar) untuk mengajarkan pelajaran agama Islam utk anak2 grade (kelas) 4.

Beberapa Public school (Sekolah milik pemerintah) di Melbourne membolehkan ada mata pelajaran agama (Religious Education) termasuk agama Islam atas permintaan orang tua.

Kebetulan di sekolah anak saya pelajaran agama Islam diajarkan krn sekitar 40%-50% siswanya adalah muslim. Jadi saya ikut membantu pihak sekolah sbg pengajar agama Islam di sekolah. Materi pengajaran seputar aqidah dan pengenalan ajaran Islam yg lain namun disampaikan dlm bhs Inggris. Saya sangat menikmati peran ini krn selain harus belejar kembali ajaran Islam juga menuntut saya utk bisa ‘mendakwahkan’ ajaran Islam kepada anak2 Australia dan tentunya hrs sesuai dg kemampuan pemahaman mereka dg cara yg mudah mereka pahami dan bisa menerima ajaran Islam dg penuh kesadara. Tantangan terbesar yaitu cara berfikir anak2 Australia yg relatif lebih kritis, mengedepankan penjelasan logis dan ekspresif membuat saya harus mengemas materi pelajaran agama dg lebih interaktif agar lebih bisa diterma. Saya biasa menggunakan multimedia dan perangkat teknologi utk membantu penyampaian materi.

 

Uncategorized

PEMBURU BEASISWA, PEMBURU PAHALA (part one)

Salah satu guilty feeling terbesar saya adalah: enggak punya persistensi dan gairah yang meletup-letup untuk berburu beasiswa. Dulu pas mau gawe di SCTV, aku sempat apply Beasiswa Chevening Awards yang cethar itu. Alumnusnya sebangsa Arief Suditomo, Ira Kusno, dll. Pokoke yang sempat berjaya di layar kaca dah. 

Tapiii… karena satu dan lain hal, aku sama sekali enggak ikutan tes. Padahal, udah ditelponin, diminta tes di Surabaya dan Jakarta. Hiks. 

Dan, sekarang keinginan berburu Beasiswa itu lenyaaap begitu saja. Otak-bodi-jiwa ini rasanya ogah, gitu, kalo diajak buat kuliah lagi. Udah keenakan jadi emak-emak kali ya? 

Eniwei, tapi ambisi berburu beasiswa itu sekarang ku-forward ke anak lanangku yang ganteng-bagus-bijaksana-intang-intung-disayang-semua-orang. (dipuji-puji teruuussss aja maaak, anak dewe ini, hehehhe…..)

Image
Sidqi (kiri) di depan calon kampus S-1nya *aaamiiiiin….*

Impian (harapan dan doa) buat Sidqi adalah: dia kuliah di S-1. Trus, lanjut ke luar negeri. Bisa ke Inggris/negara Eropa, atau Jepang, atau Australia. Pokoknya, pengiiiin banget, Sidqi bisa meneruskan jejak om Wawan, seorang dosen ITB jurusan teknik mesin.

Image
Om Wawan (paling kiri) di depan rumah megahnya

Kalo ditanya apa motivasinya?

Hmmm…. secara manusiawi (dan duniawi, tentu saja) jelas-lah sebagai ortu normal, kita pengin punya anak yang bertaraf kehidupan di atas ortunya. Sederhana ajalah, pasti kita ingin, anak kita lebih tajir melintir ketimbang ortunya tho? Rasanya enggak ada deh, emak2 yang berharap sebaliknya. Yakin!

Itu ambisi duniawi.

Kalo secara ukhrowi, aku sangat berharap Sidqi bisa menjadi dosen, atau pengajar, atau trainer, sebangsa itu lah. Ingat kan, Sabda Rasul bahwa “Ilmu yang bermanfaat” adalah salah satu amal yang akan tetap menyertai kita? Di sinilah letak krusial peran seorang pendidik. InsyaAllah. Semoga Allah membuka dan memudahkan jalan buat Sidqi. 

Jadi, sekarang, yang harus aku lakukan sekarang adalah: 

1. BERDOA –> tentu dong. karena ini senjatanya orang beriman. Blog posting kali ini juga dalam rangka berdoa. Ibaratnya, aku menorehkan sebingkai proposal pada Allah…. InsyaAllah, doa baik seorang ibu tidak akan tertolak. (aamiiin…)

2. CARI ROLE MODEL –> Udah dapet satu, ya si om Wawan itu. Semoga Sidqi tetap terpacu walau emak-bapaknya bukan tipikal manusia yang seperti om Wawan, hihi. 

3. CARI KISAH INSPIRATIF SOAL PEMBURU BEASISWA –> kalo cerita om Wawan udah aku ulang2 ke Sidqi, takutnya dia bosen kan? Walhasil, aku berburu cerita via online. Ada seniorku di ITS yang sekarang lagi ambil doktoral di Aussie. Subhanallah, banyaaak banget yang bisa dipetik dari petualangan hunting beasiswa yang dia lakoni. Semoga ini sangat bisa menyuntikkan inspirasi untuk Sidqi (dan semua bocah yang juga sama-sama dibebani ambisi ortu masing-masing untuk dapat Beasiswa, hehehhe….)

Oke. Kisah lengkap soal seniorku ini, insyaAllah aku tulis di posting berikutnya yak. Keep reading!