Hilal THR Sudah Tampak…..

Tanggal-tanggal segini, nyaris seisi kantor pada heboh. Kasak-kusuk di seluruh ruangan. Semua ngomongin satu topik yang HOT banget. Dan, sayup-sayup, ada sebiji manusia yang berkoar,

“Bro, brooo…. hilal THR sudah tampak…” 

Segitunya ya, mendambakan kehadiran makhluk bernama THR alias Tunjangan Hari Raya. Lebih heboh daripada mempersiapkan 10 malam terakhir, yang penuh dengan guyuran pahala, plus iming-iming Lailatul Qodar. Ckckckkk… sungguh, ther-laaaa-luuu!

Tapi, ya gimana lagi. Namanya juga manusia lah ya. Kalau dapat suntikan dana segar, nafsu membara pengin segera ngabisin tuh duit. Apalagi, THR itu kan kita dapetin hanya dengan menunggu datangnya Idul Fitri. Nggak kerasa banget kerja kerasnya. THR itu laksana segepok duit yang mak jegagig ada di hadapan kita. Beda dengan gaji. Kalau gaji, kita kudu kerja kenceng banget. Perform selama sebulan penuh, baru deh bisa dapat gaji.

That’s why, banyak yang mengeluh, kok duit THR gampang banget sih raibnya?

Itulah sifat asli duit. Easy come, easy go. Duit yang datangnya gampang (macem THR itu), ya gampang pula abisnya. Hihihi.

Makanya, kalau mau THR-nya “selamet”, begitu dapat ya better JANGAN dibelanjain. Dikekepin aja di rekening deposito, atau tabungan berjangka, semacam itulah.

Lah, kalau pengin belanja-belanji untuk lebaran? Silakan ambil duit gaji aja.

Hlo, apa bedanya? Kan sama-sama duit, ini?

Oh, ya beda. Kalau duit gaji, kita akan ada perasaan “berhati-hati” dan enggak ngawur pas belanja. Karena kita akan mengingat setiap tetesan keringat, rintihan, buliran air mata, pengorbanan yang kita lakukan ketika kerja. Duit gaji itu kan bukan duit yang easy come, tho??

Trus, trusss… sebelum belanja untuk keperluan Lebaran, kita kudu banget bikin budget alias anggaran dengan pola pikir yang sehat bin waras. JANGAN IMPULSIF. Jangan mentang-mentang mau Lebaran, trus seenak udel belanja-belanji barang, yang boleh jadi, bakal enggak kita butuhin SAMA SEKALI.

Jangan terperdaya dengan rayuan toko-toko retail. Dengan baju-baju model Hana #CHSI, model kerudung ala Tukang Bubur Naik Haji, toh semua baju itu juga enggak kita pakai SEMUANYA pas Lebaran kan? 

Satu pertanyaan penting yang harus banget kita ajukan saban mau belanja “Are we living the lifestyle we deserve???”

Ngemeng-ngemeng, selama ini, ente ngejalanin hidup berdasarkan duit dan status lo SESUNGGUHNYA, atau… lo cuma ikut2an temen dan lingkungan lo, biar dinilai gaya dan gaul geto loooh???

a1 b2

Tulisan ini disertakan dalam “ngaBLOGburit” Blogdetik.

 

 

 

 

 

 

Percuma Baju Baru, tapi Hati (masih) Bau

Late Night Sale! Get Your Eid Fitri Costume! Discount Up to 70%

Promo Idul Fitri! Tampil Cantik dan Istimewa di Hari Raya. Kunjungi Counter Kami Sekarang Juga

Tampil Modis dengan Busana Muslim! Diskon Besar-Besaran!

Hebat! Luar biasa hebat!

Beginilah cara para pemasar mal dan toko fashion untuk mendongkrak omzet penjualan jelang Idul Fitri. Aneka sale dan program Gebyar Ramadhan plus Idul Fitri, seolah menggoda iman. Yang tadinya tak ada niat belanja, jadi window shopping dan pada akhirnya malah KALAP dan main borong baju satu toko.

Hebat! Sungguh marketing strategy yang brilian!

Dari tahun ke tahun, kita seolah terperangkap dalam tipu daya butik busana dan beragam department store. “Idul Fitri harus pakai baju baru.” Itulah premis yang selalu dijejalkan di otak kita. Suka-tidak suka, kita terhanyut, dan mencoba merancang logika sendiri, bahwa belum sah bila sholat Idul Fitri tanpa mengenakan baju baru.

Apalagi, dunia fashion muslim saat ini sedang berkiblat ke Indonesia. Ini membuat kita merasa “mati gaya” kalau tidak ikut tren. Dan pada akhirnya, lagi-lagi kita terjebak pada budaya konsumtif yang tak berkesudahan.

Tapi, Idul Fitri kan cuma sekali dalam setahun? Nggak ada salahnya dong, kalau kita beli baju baru?

Memang betul. Momen Idul Fitri tidak terjadi setiap hari. Tapi, coba dicek sekali lagi, betulkah Anda hanya membeli baju baru satu kali dalam setahun? Coba Anda periksa lemari. Berapa stok baju baru yang sama sekali belum pernah Anda pakai? Berapa baju yang masih ada bandrol harganya dan teronggok pasrah di wardrobe closet Anda?

Itu dia. Sebelum terjebak dalam kungkungan “sale” ; “diskon besar-besaran” ; “potong harga Ramadhan” dan istilah-istilah “komodifikasi Idul Fitri” lainnya, ayo kita buka kitab panduan hidup kita. “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan.” (QS. Al Isro’: 26-27)

Dilarang berboros-boros, masbro!

Rasulullah teladan kita pun tidak mewajibkan dirinya untuk pakai baju baru saban Idul Fitri. Yang terpenting, harus tampil bersih. Suci. Karena sekali lagi, harus kita ingat bahwa selama menjalani “kawah candradimuka” bernama Ramadhan, target kita adalah mensucikan hati. Supaya kita lahir menjadi insan yang suci. Laksana bayi yang baru lahir dari perut ibundanya.

Satu yang perlu selalu kita ingat: percuma baju baru, tapi hati (masih) bau.

PS: Saya sendiri sudah 7 tahun terakhir tidak membudayakan beli baju baru saban Lebaran. Bahkan, anak saya, Sidqi, memakai baju seragam sekolahnya ketika Lebaran tiba. Baju taqwa serba-putih berkopyah putih itu juga dipakai Sidqi saat menghadiri pernikahan saudara kami di Bojonegoro. Juga dipakai ketika foto studio bareng para sahabatnya. Dan dipakai ketika perpisahan kelas di TK. Well, saya memang mak irit ingin mengajarkan ‘Islamic financial planning’ padanya sedari kecil. Mumpung belum terlambat.

Image

Sidqi pakai kopiah putih, Lebaran tahun lalu

Image

Sidqi, masih berkostum putih-putih jelang akad nikah Saudara di Bojonegoro

Image

Sidqi and his friends saat foto studio

Image

Masih pakai baju yang sama di perpisahan TK Darussalam

Mudik Aman, Lebaran Oke, Gaaan!!

Siapa pernah ke Pacitan?

Wuih…. kalo lo pernah sekaliiiiii aja ngrasain assoy-geboy-nya jalanan Pacitan, dijamin, bakal pengin balik lagi! Secara ya, kontur jalanan Pacitan itu ala-ala rollercoaster gitu deh. Kadang menanjak, menukik, menggelundung…. Dan yang lebih seru lagi, pinggirnya jalan Pacitan itu adalah…. Juranggg!!!

*berasa lagi liat pilem mission impossible yang adegan ngebut2an di pinggir tebing itu loh*

Nah.

Pertanyaan kemudian muncul. Kalo kita kudu mudik, bawa mobil sendiri, dan harus melalui rute yang seramnya luar binasa ituh, maka kita so pasti butuh kondisi mobil yang prima kan?  Soalnya, di rute yang serem abis ituh, kita kudu nglewatin jalur yang seolah tak berujung. Yah, Ponorogo-Pacitan kudu ditempuh selama 3 jam, dan rutenya bener2 bikin adrenaline rush!

Thanks God, sekarang ada Garda Oto.

Jadi, kalo mau mudik secara aman, so pasti, kita kudu cek kondisi kendaraan, kondisi rem, dan sopirnya cukup fit-kah untuk melakukan perjalanan yang lumayan jauh. Makan energi besar, pulak! Tahu sendiri kan, ruwetnya lalu lintas sepanjang jalur mudik. Nggak kalah penting, kita juga butuh asuransi mobil

Penginnya sih, mudik berjalan lancar, gak ada hambatan dan kita bisa Lebaran dengan aman-tenang-damai-sentosa. Tapi, bagaimanapun, kita kudu ready for the worst kan?

Oke, selamat mudik semuanyaaa…

Have a nice trip! 🙂

BukBer, waktunya Tampil to The Max!

Sebagai manusia yang menganut paham eksitensialis-narsistis akut, saya termasuk penggemar BukBer. Saban ada undangan BukBer, wuihh, langsung deh, semangat ’45, dan mulai bikin planning plus schedule *halah!* untuk bisa tampil to the max di acara ituh.

Maklumlah. BukBer itu kan jadi sarana “Pencitraan diri”. Manakala diundang BukBer, dan Anda bisa perform maksimal, maka tamu-tamu yang lain akan terpukau oleh kehadiran Anda, dan Andalah bintaaaang di event tersebut! *ini sebenarnya mau ngomongin BukBer atau konser dangdut sehh?*

Apapun itu, saya selalu mencintai momen BukBer. Terlebih, pada saat saya lagi kinyis-kinyis, wuih undangan BukBer datangnya segambreng dah! Lokasinya juga bukan sembarangan. Hari ke-5 puasa, undangan di Shangrilla Hotel. Besokannya ke Grand Mirama Hotel. Lalu, di Tunjungan Hotel. Lalu, di Resto Nine. Trus, di Waterfront Resto. Intinya, spot kuliner yang elit2 gitu deh. Yeay, maklum. Temen2 eikeh kan kalangan sosialita getooo…. *Trus, gue harus bilang pret, getoh?*

Ketika BukBer, kita juga harus jaga image. Biarpun makanan yang tersaji betul-betul menggoyahkan iman dan air liur, jangan sampe kalap! Ingat. BukBer itu sarana yang paling mantap untuk membangun pencitraan. Your personal branding is very-very important di momen itu.

Mata gak boleh jelalatan. Sibuk mandangin hidangan yang ada di meja. Trus, yang gak kalah penting nih, Anda juga harus memastikan bau mulut gak mengganggu kekhusyu’an acara BukBer. Iya lho! Ini genggeus banget kalo sampe kejadian “bau naga” pas BukBer. Tahu sendiri kan, jam-jam menjelang bedug Maghrib tuh, entah kenapa mulut kita seolah lagi “hot-hotnya”. Kan nggak enak tuh, pas lagi asyik ngobrol, dalam jarak yang super-dekat,lalu zzzziiiinggg, alamakjannn…. ini kok ada naga nyemburin asap di sini! #mendadak semaput.

Ini kejadian loh, pas saya liputan event BukBer di salah satu hotel megah di Sby. Temen saya tuh, wartawan dari media lokal. Kayaknya dia abis ngliput berita kriminal deh. Maklum, jadi wartawan kan emang suka kerja serabutan. Abis dari Polres ambil berita pembunuhan, eh, langsung disuruh ngluyur ke hotel cari liputan kuliner.

Ya udah, dengan tampilan yang super-duper kucel, doski teteup pede dateng ke Hotel. Dari radius 5 meter aja, udah terasa bau bangkai. Eh, lah kok doi pede banget tebar pesona ke mbak2 PR alias Public Relations yang unyu-unyu itchu. Ngobrolnya deket banget boo! Ugghh, si mbaknya tetep masang senyum PR sih… Tapi, sambil nahan napas!

Di situlah letak keberkahan dan keajaiban BukBer. Kita bisa lebih akrab dan PDKT secara syariah dengan incaran kita. Kan kalo liputan biasa, nggak mungkin dong, kita ngobrol berlama-lama. Tapi, pas BukBer, segalanya memungkinkan! Dimulai dari pertanyaan, “Eh, ntar Lebaran mudik kemana?” dan pembicaraan berlangsung smooth….

Saya sendiri juga beberapa kali jadi panitia BukBer. Rasanya? Rempooong, maak! Kudu pesen menu. Mendata dan Nelponin satu-persatu peserta. Narikin iuran. Ini nih bagian yang paling nyebelin. Kalo yang ditarik meditnya amit-amit, mau gak mau kita kudu ‘nalangin’ duit dulu. Pussssiiiinggg!

Anyway, dari semua kerempongan itu, ada satu pelajaran yang bisa dipetik. BukBer itu membuat silaturrahim tetap terjaga. Kalo nggak ada Ramadhan, kecil kemungkinan kita menyediakan waktu untuk bisa ‘jeda sejenak’ dari ribetnya roda kehidupan. Kalo nggak ada Ramadhan, nggak ada BukBer tho? Kalo nggak ada BukBer, maka aku nggak pernah dapat peluang berburu pahala dengan ‘nalangin’ dana temen2 yang blum transfer ongkos BukBer.

Aaaahhh… jadi kangen BukBer niiih….

Eh, tapi sekarang, saya sudah rada ‘alergi’ sama BukBer. Kenapa? Sering diprotesin anak saya! Kalo jam 17:30 saya belum nongol di rumah, anak saya sibuk nelponin ke HP. Emaknya kagak boleh kelayapan lagi. Hahaha.
Lagian, saya kan pengin ngajarin anak buat rajin sholat Isya’ & tarawih berjamaah di Masjid. So, kalo saya sendiri malah sibuk keluyuran buat BukBer dan kagak tarawih, otomatis anakku bakal unjuk rasa tho? Yeah, sebagai ibu sholihah *preeettt* saya pengin jadi suri tauladan yang baik lah buat anak.

Tapi, tapiiii… blogdetik Surabaya mau bikin BukBer besok di Shangrilla ya? Haduuuh, jadi labil deh… ikutan gak ya… ikut gak yaa…. *sibuk itung kancing*

Oke, semuanyaaah… Happy puasa… Happy buka puasa… Happy BukBer…. Kalopun kita nggak bisa BukBer offline… Kita tetep bisa BukBer online via blogdetik kan? Yeay!!