Surat untuk Ibu: Review ASUSPro P2430

Ibu,

Ini surat ketiga yang aku tulis pekan ini. Di tengah duka yang masih merundung setelah kepergian Ibu, ada satu hal krusial yang kerap menghentak dalam timbunan pikiran. Selama ini, Ibu tandem denganku dalam mengasuh Sidqi. Setelah Ibu pergi, pertanyaannya adalah, apa iya aku harus tetap bekerja di kantor? Atau, lebih baik aku banting setir saja jadi full time blogger? Hmm… sepertinya menjadi pengusaha UKM juga opsi yang cukup menarik. ¬†Atau, aku gabung aja, jadi blogger sekaligus pengusaha? Sound so interesting, eh? Ibu dulu pernah bilang kan, kalau Rasulullah saja pedagang handal. Bisa jadi, aku pun punya kans untuk bisa mengikuti jejak beliau.

Continue reading “Surat untuk Ibu: Review ASUSPro P2430”

Advertisement