Edukasi 1000 Hari Pertama Kehidupan bersama Nutrisi untuk Bangsa

Surabaya, Sabtu 3 Maret

Sejak pagi, hujan deras berpadu dengan geluduk yang menyambar-nyambar seolah menjadi orkestrasi outdoor di kota pahlawan ini. Jalanan macet di mana-mana. Beberapa kawasan digenangi air, plus kerumunan para rider yang cari tempat berteduh. Surabaya udah gloomy banget! Hujan juga nyaris tak kenal kompromi mengguyur pusat kota. Padahal, Sabtu siang ini, kami para blogger dan sejumlah ibu-ibu muda, dijadwalkan mengikuti acara “1000 Hari Pertama Kelahiran” bareng Nutrisi untuk Bangsa (NUB). Wedewww, kalo hujan deras kayak gini, terus pegimane?

Hamdalah… menjelang siang, air sudah tak lagi tumpah. Fyuuuh, dan cuaca setelah hujan itu kan seger-seger-bau-tanah-basah gitu kan? Makin semangaaaat deh kita, untuk cuss ke Bangi Kopitiam di jalan Walikota Mustajab (dekat kantor Pemkot Surabaya). Ada sejumlah narasumber yang bakal berbagi informasi penting seputar gizi untuk generasi bangsa.

NUB-Arif Mujahidin

Bapak Arif Mujahidin, Communications Director Danone Indonesia (perwakilan Nutrisi untuk Bangsa – NUB) mengapresiasi semangat para Bunda yang antusias hadir dalam acara ini, meski kondisi cuaca kurang mendukung. Yang jelas edukasi seputar 1000 Hari Pertama Kehidupan memang sangat krusial dilakukan.

NUB-slide-apa-1000-hari-pertama-1

Yuk, kita simak presentasi dr Nur Aisiyah Widjaja, Divisi Nutrisi dan Penyakit Metabolik Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKU Universitas Airlangga/ RSUD.Dr.Soetomo Surabaya.

NUB-upaya-peningkatan-kualitas-pelayanan-kes-ibu-bersalin-dan-nifas-28-638

Sebenarnya, apa sih yang dimaksud dengan 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK)?

Dr Nuri menjelaskan, bahwa 1000 HPK adalah masa sejak anak masih berada dalam kandungan hingga ia berusia 2 tahun. Sekedar informasi saja, banyak yang salah kaprah, menyangka kalau 1000 HPK dimulai ketika anak sudah lahir… padahal BUKAN ya, ibu-ibu…. Periode 1000 HPK ini dimulai sejak bayi masih ngendon di dalam perut.

Nah, kenapa 1000 HPK begitu penting? Yap, karena ini merupakan PERIODE EMAS pertumbuhan bayi. Dalam retang waktu 100 HPK, terjadi pertumbuhan otak yang sangaaaaaaat pesat! Dan ini berkorelasi penting dengan bagaimana proses tumbuh kembang anak secara sempurna.

Jangan sampai bayi mengalami kurang gizi pada periode 1000 HPK. Karena, efeknya sungguh tidak enteng.

  • Pertumbuhan otak terhambat, anak menjadi tidak cerdas
  • Anak menjadi lemah dan mudah sakit
  • Karena gizi dan nutrisi tidak terpenuhi, maka pertumbuhan jasmani dan perkembangan kemampuan anak terhambat. Akibatnya anak bakal menjadi pendek (stunting)

NUB-Stunting

Berikutnya, Ibu bidan Atik Kasiati memaparkan pentingnya menjaga kandungan gizi dalam makanan yang dikonsumsi ibu sejak hamil. Jangan sampai ada alasan, “Aduh… aku kalo lihat makanan kok bawaannya pengin muntah ya?”

Ibu bidan mengingatkan, “Lho, memangnya di dalam perut Ibu ada kantinnya tah? Kalo Ibu nggak mau makan, apakah adik bayi bisa cari makan di kantin dalam perut Ibu? Kan enggak?”

Demi semangat melahirkan generasi Indonesia yang sehat dan berkualitas, yuk kita sama-sama menyebarkan informasi tentang pentingnya 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) ini.

Advertisements

Mulutmu, Wahai Ibu, adalah Doa Mujarab Bagi Anakmu

 

Tak intung-intang-intung-a’o…

Intung a’o… Ayangku yang sholeh…

Ayang sholeh, ayangku yang taqwa…

Ayang taqwa, ganteng bijaksana…

Everybody is loving ganteng Sidqi

Coz mas Sidqi ganteng sholeh taqwa niki…

Tak intung-intang-intung-a’o…

Intung a’o… Ayangku yang sholeh…

ImageImage

Konon kabarnya, suara Ibunda adalah vokal paling merdu bagi bayinya. Dasar doyan karaoke, sayapun “uji nyali” dengan mengolah-vokal di hadapan bayi saya. Ya, sejak dia berusia beberapa hari, saya selalu menembangkan kalimat di atas dengan nada lagu Jawa “Tak lelo lelo ledhung.” Nada yang begitu easy-listening, dipadu suara yang lembut nan syahdu (haha, ngaku-ngaku!) Bayi saya pun bisa tertidur dengan sukses. Pulas. Alhamdulillah.

Lagu itu bukan hanya berperan sebagai lullaby. Lagu itu sudah menjadi (semacam) lagu kebangsaan alias Original Sound Track (OST) dalam kehidupan Sidqi. Saya menyematkan sejumlah doa dalam lagu itu. Anak sholeh. Yang taqwa. Ganteng. Bijaksana. Dan, disayang oleh semua orang.

Suatu dogma menghunjam dalam dada: bahwa ucapan Ibu adalah doa. Entah ucapan itu disampaikan secara iseng, sengaja, ataupun sungguh-sungguh, apalagi serius. Maka, janganlah sesekali lontarkan kalimat buruk, pada anak. Semarah apapun kita. Sejengkel atau se-emosi level berapapun. Jangan. Sekali lagi, jangan.

Karena bisa jadi, ketika kita tengah menyumpahi anak, tiba-tiba malaikat berkerumun di sekitar kita, dan ucapan ngawur kita tadi menjelma jadi nyata. Masya Allah… nyeselnya luar biasa!

Pernah suatu ketika, saya dibuat jengkel oleh kebiasaan anak saya yang suka ngempet (menahan) buang air kecil. Maklum, anak-anak. Saking asyiknya bermain, ia tetap fokus dengan acara mainnya dan ogah ke toilet. Seketika itu juga, saya langsung berkoar, ”Sidqi, kamu harus pipis sekarang! Kalau suka nahan pipis kayak gitu, nanti ‘burung’-mu bisa sakit dan harus disunat loh!!”

Maksud hati hanya me-warning Sidqi. Apa daya, Tuhan berkehendak lain. Beberapa hari kemudian, Sidqi mengeluh sulit buang air kecil. Badannya panas. Segera saya bawa ke dokter. Dan, apa kata dokter, “Ibu, putra Ibu ini ada infeksi saluran kencing. Jalan keluarnya, harus dikhitan.”

Blaaarrrr…. Rasanya bagai tersambar petir! Wahai ibunda, mulutmu benar-benar harimaumu!

Sejak kejadian itu, saya berusaha keras untuk sangaaaat berhati-hati dalam menggunakan organ wicara. Selama ini, ceplas-ceplos sudah jadi trademark saya. Tapi, tentu, saya nggak ingin kejadian buruk lain terulang. Toh, dalam kondisi diliputi amarah-pun, mestinya saya tetap bisa berkata baik. Karena, apapun yang saya ucapkan sejatinya adalah doa buat anak.

“Sidqi…. Ayo, matikan TV sekarang! Kamu itu kan calon pemimpin dunia! Mosok pemimpin kerjaannya nonton TV melulu?” à marah sambil doakan anak

“Sidqi, berapa kali Ibu bilang, makan harus dihabiskan ya Nak. Kalau nasinya nggak habis, namanya mubadzir. Temennya setan. Kamu kan nantinya bakal jadi ulama besar. Jangan mau temenan sama setan!” à sebel, tapi tetap harus omong baik.

“Sidqi, kok main terus sih? Kapan belajarnya? Memang, sebagai calon pemimpin dunia, kamu harus banyak berteman. Ibu juga senang karena temanmu banyak. Tapi, tetep, kamu harus rajin belajar supaya bisa lebih pintar. Kan nanti tantangan bakal makin besar!” à mengingatkan anak, sambil tersenyum dan bicara yang bijak.

Pelan tapi pasti, saya bermetamorfosa. Bukan lagi ibu labil yang gemar meledak-ledak. Ibu sumbu pendek yang mudah tersulut amarah dan membabi-buta meluapkan kebencian. Bismillah. Saya yakin, dengan belajar dan bermohon terus menerus, Tuhan akan selalu membimbing hamba-Nya, dalam meniti sebuah perjalanan bernama “parentinghood” ini.

Apa sih, tujuan kita mencurahkan tenaga, waktu, kasih sayang dan harta buat “malaikat kecil” kita? Tentu, kita ingin ia tumbuh menjadi anak yang baik, mandiri, calon pemimpin yang hebat dan menghebatkan. Ketika anak tumbuh menjadi pribadi yang kuat-berkarakter dan membanggakan, maka itulah “surga dunia” kita. Indah rasanya melihat seluruh pergulatan dan sepak terjang kita berbuah manis. Ini baru di dunia. Coba bayangkan, ketika kita memiliki anak yang sholeh, bijaksana dan taqwa. Anak yang selalu menyelipkan doa untuk kita dalam tiap sholat dan ibadah-ibadahnya. Anak yang selalu ikhlas menyebut nama kita dalam setiap munajat pada Sang Pencipta. Subhanallah, itulah hidup yang “sempurna”. Dan, insyaAllah, pada akhirnya, kita bisa kembali bergandengan tangan dengan anak kita, plus keluarga kita, dalam surga abadi. Amin….. (*)