Mulutmu, Wahai Ibu, adalah Doa Mujarab Bagi Anakmu

Image

Tak intung-intang-intung-a’o…

Intung a’o… Ayangku yang sholeh…

Ayang sholeh, ayangku yang taqwa…

Ayang taqwa, ganteng bijaksana…

Everybody is loving ganteng Sidqi

Coz mas Sidqi ganteng sholeh taqwa niki…

Tak intung-intang-intung-a’o…

Intung a’o… Ayangku yang sholeh…

 ImageImage

Konon kabarnya, suara Ibunda adalah vokal paling merdu bagi bayinya. Dasar doyan karaoke, sayapun “uji nyali” dengan mengolah-vokal di hadapan bayi saya. Ya, sejak dia berusia beberapa hari, saya selalu menembangkan kalimat di atas dengan nada lagu Jawa “Tak lelo lelo ledhung.” Nada yang begitu easy-listening, dipadu suara yang lembut nan syahdu (haha, ngaku-ngaku!) Bayi saya pun bisa tertidur dengan sukses. Pulas. Alhamdulillah.

Lagu itu bukan hanya berperan sebagai lullaby. Lagu itu sudah menjadi (semacam) lagu kebangsaan alias Original Sound Track (OST) dalam kehidupan Sidqi. Saya menyematkan sejumlah doa dalam lagu itu. Anak sholeh. Yang taqwa. Ganteng. Bijaksana. Dan, disayang oleh semua orang.

Suatu dogma menghunjam dalam dada: bahwa ucapan Ibu adalah doa. Entah ucapan itu disampaikan secara iseng, sengaja, ataupun sungguh-sungguh, apalagi serius. Maka, janganlah sesekali lontarkan kalimat buruk, pada anak. Semarah apapun kita. Sejengkel atau se-emosi level berapapun. Jangan. Sekali lagi, jangan.

Karena bisa jadi, ketika kita tengah menyumpahi anak, tiba-tiba malaikat berkerumun di sekitar kita, dan ucapan ngawur kita tadi menjelma jadi nyata. Masya Allah… nyeselnya luar biasa!

Pernah suatu ketika, saya dibuat jengkel oleh kebiasaan anak saya yang suka ngempet (menahan) buang air kecil. Maklum, anak-anak. Saking asyiknya bermain, ia tetap fokus dengan acara mainnya dan ogah ke toilet. Seketika itu juga, saya langsung berkoar, ”Sidqi, kamu harus pipis sekarang! Kalau suka nahan pipis kayak gitu, nanti ‘burung’-mu bisa sakit dan harus disunat loh!!”

Maksud hati hanya me-warning Sidqi. Apa daya, Tuhan berkehendak lain. Beberapa hari kemudian, Sidqi mengeluh sulit buang air kecil. Badannya panas. Segera saya bawa ke dokter. Dan, apa kata dokter, “Ibu, putra Ibu ini ada infeksi saluran kencing. Jalan keluarnya, harus dikhitan.”

Blaaarrrr…. Rasanya bagai tersambar petir! Wahai ibunda, mulutmu benar-benar harimaumu!

Sejak kejadian itu, saya berusaha keras untuk sangaaaat berhati-hati dalam menggunakan organ wicara. Selama ini, ceplas-ceplos sudah jadi trademark saya. Tapi, tentu, saya nggak ingin kejadian buruk lain terulang. Toh, dalam kondisi diliputi amarah-pun, mestinya saya tetap bisa berkata baik. Karena, apapun yang saya ucapkan sejatinya adalah doa buat anak.

“Sidqi…. Ayo, matikan TV sekarang! Kamu itu kan calon pemimpin dunia! Mosok pemimpin kerjaannya nonton TV melulu?” à marah sambil doakan anak

“Sidqi, berapa kali Ibu bilang, makan harus dihabiskan ya Nak. Kalau nasinya nggak habis, namanya mubadzir. Temennya setan. Kamu kan nantinya bakal jadi ulama besar. Jangan mau temenan sama setan!” à sebel, tapi tetap harus omong baik.

“Sidqi, kok main terus sih? Kapan belajarnya? Memang, sebagai calon pemimpin dunia, kamu harus banyak berteman. Ibu juga senang karena temanmu banyak. Tapi, tetep, kamu harus rajin belajar supaya bisa lebih pintar. Kan nanti tantangan bakal makin besar!” à mengingatkan anak, sambil tersenyum dan bicara yang bijak.

Pelan tapi pasti, saya bermetamorfosa. Bukan lagi ibu labil yang gemar meledak-ledak. Ibu sumbu pendek yang mudah tersulut amarah dan membabi-buta meluapkan kebencian. Bismillah. Saya yakin, dengan belajar dan bermohon terus menerus, Tuhan akan selalu membimbing hamba-Nya, dalam meniti sebuah perjalanan bernama “parentinghood” ini.

Apa sih, tujuan kita mencurahkan tenaga, waktu, kasih sayang dan harta buat “malaikat kecil” kita? Tentu, kita ingin ia tumbuh menjadi anak yang baik, mandiri, calon pemimpin yang hebat dan menghebatkan. Ketika anak tumbuh menjadi pribadi yang kuat-berkarakter dan membanggakan, maka itulah “surga dunia” kita. Indah rasanya melihat seluruh pergulatan dan sepak terjang kita berbuah manis. Ini baru di dunia. Coba bayangkan, ketika kita memiliki anak yang sholeh, bijaksana dan taqwa. Anak yang selalu menyelipkan doa untuk kita dalam tiap sholat dan ibadah-ibadahnya. Anak yang selalu ikhlas menyebut nama kita dalam setiap munajat pada Sang Pencipta. Subhanallah, itulah hidup yang “sempurna”. Dan, insyaAllah, pada akhirnya, kita bisa kembali bergandengan tangan dengan anak kita, plus keluarga kita, dalam surga abadi. Amin….. (*)

 

Advertisements

3 comments

  1. riko · October 17, 2013

    Ulasan yang menarik, dan cerdik bgt dalam mengakali “marahin” anak kecil dengan komposisi nasehat ataupun doa… semoga tulisan ini menginspirasi ibu2…

  2. bukanbocahbiasa · October 22, 2013

    Thanks lot riko sudah mampir dan kasih comment. Iya, being mom is an exciting adventure!

  3. Pingback: TGIM: (Jangan) Memulai Hari dengan Marah | bukanbocahbiasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s