Skizofrenia

Oleh: @nurulrahma

Suatu hari di kelas psikologi. Dosen meminta semua mahasiswa untuk menuangkan pertanyaan terkait penyimpangan kejiwaan dalam selembar kertas. Lalu, dosen mengambil acak pertanyaan tadi. Alisnya terangkat tatkala membaca satu pertanyaan yang menurutnya cukup ‘ajaib’. “Bagaimanakah cara mengetahui kondisi emosional anak seorang penderita skizofrenia?”

Kalau kita tengok Wikipedia, maka definisi skizofrenia adalah ‘gangguan kejiwaan dan kondisi medis yang mempengaruhi fungsi otak manusia, mempengaruhi fungsi normal pikiran, perasaan dan tingkah laku. Ini gangguan jiwa psikotik paling lazim dengan ciri hilangnya perasaan afektif atau respons emosional dan menarik diri dari hubungan antarpribadi normal. Sering kali diikuti dengan delusi (keyakinan yang salah) dan halusinasi (persepsi tanpa ada rangsang pancaindra).

Karena definisi yang agak rumit itulah, orang awam kerap menyebut penderita skizofrenia sebagai ‘orang gila’.

Apa jawaban si dosen? “Wah, penderita skizofrenia punya anak? Hmm, saya rasa tidak mungkin. Penderita skizofrenia tidak boleh punya anak. Siapa yang bikin pertanyaan ini?”

Seorang mahasiswi berhijab lebar, mengangkat tangannya. Sebut saja, namanya Wiwid. “Saya, Pak.” Sontak nyaris seluruh manusia di kelas itu terkikik. Ada celetukan “Wiwid skizofren!” dan tentu disambut tawa membahana seisi ruangan.

Setelah kelas rada tenang, sang dosen mulai menjelaskan segala teori psikologi yang dia kuasai. Intinya, penderita skizofrenia dilarang punya anak, karena berbahaya bagi ibu dan anak. Skizofren itu bisa diturunkan ke anaknya! Wah, bisa-bisa melahirkan generasi penderita skizofren berikutnya. Selain itu, karena kepribadian dan perilaku yang cenderung menyimpang, penderita juga bakal merepotkan orang-orang di sekitar mereka.

Usai memaparkan secara panjang kali lebar seputar beragam teori skizofrenia, sang dosen bertanya pada Wiwid. ”Memangnya, kenapa kamu tanya ini, Wiwid?”

Wiwid menjawab enteng. “Karena ibu saya skizofren, Pak.”

“Oh….”

Kelas mendadak hening. Sang dosen amat terperanjat. Seolah-olah, segala teori yang dia bombardir tadi, tak ubahnya teori sampah. Gestur tubuhnya menunjukkan ia tengah ‘mati gaya’. Ia membenarkan letak kacamatanya yang tidak salah. Lalu membalikkan badan, duduk di kursinya, dan lamat-lamat bergumam pada diri sendiri, ”Ini aneh… ini aneh….”

Seisi kelas pantas merasa heran. Wiwid bukan mahasiswi biasa. Indeks Prestasi (IP)-nya selalu di atas 3,5. Bahkan, selama beberapa semester ia sanggup menyabet IP 4. Sempurna. IQ-nya jelas di atas rata-rata. Wiwid sangat supel, bisa bergaul dan mudah akrab dengan siapa saja.

Perempuan pintar, cemerlang, akidah dan akhlak terjaga, lha kok malah anak dari penderita skizofren?!? Apa ndak aneh tuh? Skizofren kan penyakit jiwa? Penyakit turunan lagi?

Sang dosen masih kelihatan mumet. “Huh, sepertinya… untuk kasus ibumu… ada anomali. Ini tidak seperti kasus skizofrenia pada umumnya,” ucapnya pelan, seolah-olah untuk menghibur ‘sakit hati’ akibat teori yang tidak terbukti.

***

Image

One of the cute girl is Wiwid. Just guess 🙂

Ada banyak cara yang Allah tunjukkan, agar kita mau bersyukur atas setiap nikmat yang tercurahkan. Keluarga Wiwid memang “anomali”. Wiwid anak pertama dari 3 bersaudara, dan semuanya super-duper-smart! Soal ‘penyakit’ ibunya, Wiwid bisa dengan enteng bercerita pada saya. Tak pernah ia merasa malu lantaran lahir dari rahim seorang penderita skizofrenia. Wiwid begitu tenang, nada bicaranya datar, ketika ia berujar, “Eh, aku balik duluan ya. Mau nganterin Ibu kontrol di RSJ (Rumah Sakit Jiwa) nih.”

Ketika ibunya ‘kumat’, segala makian dan kata-kata kasar beterbangan dari mulut beliau. Toh, Wiwid memilih untuk diam. Khidmat mendengarkan ceracau sang bunda. Yang ia tahu, bundanya tengah diuji Allah dengan penyakit itu. Yang ia tahu, “Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya”(HR. Bukhari no. 5660 dan Muslim no. 2571).

Wiwid ikhlas menjalani semua itu. Bahkan, Wiwid ikhlas melepaskan kesempatannya berburu Beasiswa S-2 di negeri ginseng, Korea Selatan. ”Aku sudah lolos semua ujian untuk beasiswa itu. Tapi, aku mikir, kalau aku pergi ke Korea, nanti siapa yang merawat ibuku di sini?”

Tak saya temukan intonasi protes ataupun keluh-kesah dalam kalimatnya. ”Banyak hal yang membuat aku bersyukur. Biarpun ibu kena skizofrenia, beliau diberi kesempatan oleh Allah untuk mengandung, melahirkan dan merawat tiga anak. Selama 10 tahun terakhir, ibu juga harus merawat ayah yang kena stroke,” lagi-lagi Wiwid bercerita dalam senyum.

SubhanAllah… dalam situasi yang sama sekali tak bisa dibilang nyaman, Wiwid dan keluarganya masih tetap bergelimang syukur. Cinta yang meluap di antara mereka, tak bisa dipisahkan hanya karena jerat skizofren. ”Sampai kapanpun, saya nggak bisa balas jasa Ibu. Di tengah sakit yang ia derita, ibu selalu berbuat yang terbaik untuk kami. Ibu juga sholat, berdoa, Alhamdulillah… Kami bersyukur karena Ibu masih diberi nikmat iman…”

Tiba-tiba saya teringat ibunda saya di rumah.

Ibu seorang wanita normal, sehat wal afiat, selalu bugar jiwa dan raga. Ibu saya sungguh luar biasa baiknya. Tak pernah sekalipun ia menyakiti saya. Tak pernah ia lontarkan kata-kata yang menghina, pada siapapun! Tapi, saban ibu melontarkan nasihat, saya justru sibuk membalasnya dengan debat.

“Nanti pulangnya jangan malam-malam ya Nak…”

“Ibu iki! Aku kan bukan anak SD lagi. Yang namanya liputan yo mesti pulangnya sampai malam.”

Lalu, ibu hanya bisa terdiam. Mungkin sembari memendam rasa kecewa yang harus ia telan. Astaghfirullah… Sampai di mana syukur saya? Fabiayyi ‘ala irobbikuma tukadziban… Nikmat Tuhanmu yang mana yang engkau dustakan?

Ibu saya wanita yang sangat hebat. Ia mampu menyembunyikan segala luka dan tragedi hidup, ia simpan rapat-rapat, dan hanya ia adukan pada Sang Pemilik Semesta. Ibu hanya mau berkeluh-kesah pada Ar-Rahmaan. Ibu yakin, bahwa segala problema dalam titian kehidupan sejatinya adalah ujian Allah. Tak lebih.

Ibu saya… ibunda Wiwid… ibu-ibu lain di seluruh penjuru bumi ini….

Merekalah para perempuan mulia, inspirasi yang terus mengalir tiada henti… Mereka rela menukar kesenangan hidup dengan kesempatan untuk berpayah-payah mendidik anak dan keluarga. Mereka rela menggadaikan apa saja, agar putra-putri tetap istiqomah berjajar dalam barisan kaum muttaqin. Teriring salam khidmat dan jabat erat kami, mohonlah kepada Allah, agar kita digolongkan anak-anak yang shalih. Sehingga kelak, di yaumil akhir, kita bisa bersua dengan ibunda, dalam hangatnya senyum bahagia.(*)

Image

Saya, ibunda, dan Sidqi @Jambuluwuk Resort, Batu, Malang

Felix Siauw: Saya Striker, Istri Defender sekaligus Kiper

Image
Kalau Anda rajin twitter-an, akun @FelixSiauw barangkali bukan nama asing. Ustadz muda ini mulai dikenal orang gara-gara rajin berdakwah via twitter. Kalimat-kalimat singkat, padat, mengena dan bernas adalah ciri khas tweet-nya. Follower beliau juga bejibun. Sudah menembus angka 500 ribu lebih. Belakangan, Ustadz Felix kian dikenal karena menulis buku yang cukup “menohok” anak muda Indonesia. Buku “Udah, Putusin Aja!” bernuansa pink, namun isinya amat “tajam”, mengkritisi fenomena pacaran. Berikutnya, Ustadz Felix meluncurkan “Yuk, Berhijab!” yang juga membuat para muslimah harus kembali berinstropeksi “Sudah sesuai syariatkah hijab yang kukenakan selama ini?”
 
Baru-baru ini, saya dan suami berbincang sejenak dengan beliau, sesaat sebelum Ustadz Felix mengisi acara di Unesa Ketintang Surabaya.
 
 
Bagaimana Anda mendeskripsikan profil keluarga Anda?
Dari awal, cita-cita besar yang kami canangkan adalah, ingin memiliki keluarga yang berintikan dakwah. Jadi, dakwah adalah semangat yang harus terus ada dalam segala aktivitas yang kami lakukan. Alhamdulillah, kami dikarunia banyak anak. InsyaAllah mereka lahir untuk mengemban dakwah. Mereka akan menjadi generasi berikutnya yang hadir untuk menyebarkan nilai-nilai Islam. Jadi, sedari kecil, saya membiasakan anak-anak untuk dekat dengan semangat dakwah. Misalnya, Alila (5 tahun), anak saya yang paling besar, selalu saya biasakan untuk pakai jilbab. Kami juga mengenalkan apa dan bagaimana profesi yang digeluti oleh Bapaknya. Saya ceritakan aktivitas dakwah yang saya lakukan, tentu dengan bahasa yang mudah dimengerti anak.
 
InsyaAllah, kalau nilai dakwah ini sudah tertanam dalam diri anak, maka dakwah akan menjadi“habbits” buat mereka. Seperti yang saya kupas dalam buku Master Your Habits. Bisa dipastikan, dalam kehidupan hasil-hasil yang kita dapatkan adalah buah dari kebiasaan kebiasaan yang kita lakukan. Oleh karena itu, bagaimana cara kita bisa mendapatkan habbit / kebiasaan yang baik adalah satu tuntutan yang mesti ada ikhtiar kita secara maksimal.
 
Lalu bagaimana cara agar kita bisa membuat sebuah kebiasaan? Caranya bermula dari apa yang kita pikirkan. Jika yang kita pikirkan adalah untuk menjadi orang kaya, maka tindakan tindakan kita juga akan merepresentasikan pikiran tadi. Jadi yang mesti kita perbaiki, ubah cara berpikir kita. Dari cara berpikir, lalu kita mampu merubah cara bersikap. Setelah itu, ubah cara bertindak. Dan bila kita konsisten dengan segala tindakan yang kita lakukan tadi, maka itulah yang akan membuat kebiasaan atau “habbits” kita. Intinya, apa yang dilakukan terus-menerus, jadi sesuatu yang diutamakan.
 
Jadwal Ustadz amat padat ya. Rutin isi kajian di Jakarta dan sekitarnya, juga sering keliling Indonesia dan luar negeri untuk berdakwah. Bagaimana Anda memainkan peran “ayah”, kendati jarang bertemu dengan keluarga?
Untuk orang tua yang sering pergi karena tugas dakwah, luangkanlah waktu untuk anak ketika kita tengah berada di rumah. Saya sering menceritakan kisah-kisah Rasul dan sahabat jelang tidur.
Lalu, saya membacakan Al-Qur’an. Saya minta anak untuk mengulang ayat yang baru saya baca. Setelah itu, kami saling mendiskusikan isi ayat. Tafsir dengan cara yang mudah dipahami oleh anak kecil.
 
Selain itu, saya juga berkomitmen agar anak-anak punya waktu seharian full untuk pergi sama bapaknya. Untuk apa? Bukan sekedar pergi bersenang-senang, tapi aktivitas ini kami lakukan untuk transfer karakter. Perlu digarisbawahi ya, transfer karakter, bukan sekedar transferknowledge. Karena kalau sekedar transfer knowledge, maka anak-anak kita bisa mendapatkan dari mana saja. Malah, mesin pencari google bisa lebih jago dari kita, para ortu atau ustadz(ah)nya di sekolah.
 
Transfer karakter tidak bisa tidak, harus dilakukan oleh orangtua. Di sinilah, kami menanamkan kecintaan kepada Islam, semangat untuk dakwah dan hal-hal baik lainnya. Jadi, peran “ayah” tetap bisa saya mainkan, kendati saya jarang berada di rumah.
 
Dalam hal mendidik anak, memang betul saya memberikan porsi lebih besar kepada istri. Karena itulah, istri saya tidak bekerja, beliau fokus mengurus anak. Karena kalau istri saya kerja, maka ia akan sibuk mengejar karir. Dan, beliau akan kehilangan masa pertumbuhan anak yang tidak mungkin berulang. Jangan sampai hal itu akan beliau sesali di masa mendatang. Kesepakatan ini saya buat bersama istri. Jadi, ibarat lagi main bola, peran saya sebagai strikeralias penyerang, sementara istri yang jadi defender sekaligus kiper alias jaga gawang.  
 
Apakah anak tidak pernah protes melihat kesibukan ayahnya yang seolah tak ada jeda?
Ya, baru-baru ini Alila, yang paling besar sudah bisa protes. Dia bilang, “Umi, abi kok nggak ada liburannya sih?”  
 
Ya, kami jelaskan, kalau abinya ini harus menjalankan aktivitas dakwah. Alila harus ikhlas dengan kondisi ini. Kami ajak membandingkan dengan anak-anak lain yang orangtuanya harus kerja berbulan-bulan atau bertahun-tahun tidak pulang, sebagai pelaut misalnya. Bahkan,ada anak yang tidak bisa bertemu lagi dengan ayahnya karena sang ayah sudah meninggal dunia. Jadi, bagaimanapun juga, anak-anak tetap harus bersyukur dengan kondisi sekarang. Karena apa yang abi lakukan ini aktivitas mulia.
 
Kok bisa anak saya protes? Ceritanya, waktu itu ada tugas dari sekolah. Murid-murid diminta menceritakan apa saja yang dilakukan selama liburan kemarin. Nah, karena tiap weekend, saya ada undangan dakwah, dan Alila nggak pergi kemana-mana, jadi dia nangis, nggak tahu harus cerita apa.
Anak saya sempat merasa kecil hati. Lalu, saya jelaskan, Alila nggak perlu kecil hati. Karena abinya ini kan dakwah dan pengusaha juga, bukan karyawan. Jadi, abi tidak libur di akhir pekan, seperti karyawan pada umumnya.
 
Saya kasih penegasan ke anak-anak bahwa libur itu tidak harus berupa kegiatan akhir pekan, pergi ke Puncak, atau kebun binatang, atau ke tempat semacam itu. Libur tidak harus kayak begitu. Libur adalah kegiatan yang dilakukan dengan seluruh anggota keluarga, bisa tujuannya ke mana saja, dan di hari apa saja. Misalnya, saya ajak dia ke Masjid. Atau, saya ajak untuk datang di salah satu acara dimana saya jadi pembicara. Aktivitas sejenis, yang bisa mengeratkanbonding antara orangtua dan anak, itulah esensi liburan yang sebenarnya.
 
Sebagai pegiat dakwah, Anda kerap mengusung hal yang anti-mainstream. Misalnya, ketika Anda mengkritisi style berhijab muslimah. Apa memang ciri khas Anda memang selalu anti-mainstream seperti ini?
Setiap kebenaran harus disampaikan. Ketika sekarang banyak style hijab yang macam-macam, dan itu memakan porsi besar dari muslimah kita, tidak serta merta kita harus ikut-ikutan porsi besar tadi. Walaupun kita harus mengapresiasi bahwa karena trend hijab itu ada positifnya. Banyak perempuan yang sekarang jadi mengenakan hijab, karena mereka melihat hijab itu tidak mengerikan dan tetap bisa tampil gaya.
 
Meski ada hal positif dari gelombang style hijab, bukan berarti syariat bisa diganti. Hijab itu tidak ribet, tidak perlu tutorial. Pada dasarnya, hijab sesuai syariat itu yang sederhana, dan sesuai panduan dalam Al-Qur’an.
Bagaimana dengan muslimah yang berhijab tapi belum sempurna? Ya, kita tetap harus apresiasi. Kemudian, kita ajak untuk kembali ke panduan hijab yang benar. Jangan sampai kita melakukan dakwah dengan pendekatan yang salah. Kita bilang hijab gaul itu salah, dosa, dll. Tapi, kita ajak dengan santun, bahwa sosok muslim(ah) yang baik itu harus terus-menerus membenahi diri. Termasuk, menghijabi diri sesuai syariat, bukan karena tuntutan mode.(*)
 
Nama lengkap: Felix Siauw
Nama Istri: Parsini
 
Nama Anak:
1.       Alila Shaffiya Asy-Syarifah
2.       Shifr Muhammad Al-Fatih 1453
3.       Ghazi Muhammad Al-Fatih 1453
4.       Aia Shaffiya Asy-Syarifah
 

Interview with Syeikh Ali Jabeer

Syeikh Ali Jabeer
Hidupkan Jiwa Qurani di Tengah Keluarga
Image 
Nama Syekh Ali Jabeer kian berkibar di jagat para ustadz dan pengisi ceramah agama di Indonesia. Syekh yang rutin mengisi Program “Damai Indonesiaku” di TVOne ini menempati ruang khusus di hati jamaah. Sosoknya sangat khas Arab, menariknya ia amat piawai dan fasih berbahasa Indonesia. Kalimat yang ia tuangkan dalam tausiyahnya begitu lugas, mudah dicerna dan membangkitkan inspirasi.
Banyak jamaah yang tentu penasaran, bagaimana cara Syeikh Ali mendidik anak? Boleh dijelaskan?
Pendidikan anak memang hal yang amat penting dalam hidup kita. Memang, kita harus memberikan perhatian kepada anak sejak kecil hingga ia dewasa. Dengan perhatian, kasih sayang dan pendidikan yang berkualitas, insyaAllah kita akan mendapatkan anak yang sholih dan sholihah. Ini semua jelas bukan program pribadi saya sebagai ayah. Semua dimulai dari bagaimana memilih calon istri yang sholihah. Seperti yang pernah dikatakan Umar bin Khotob, ”Hak anak atas orang tuanya adalah memilihkan ibu yang sholihah, mengajarkan Al Qur’an dan memilihkan nama yang baik”. Karena kebaikan anak sangat bergantung dari kebaikan ibunya. Ibunya baik maka anaknya akan baik. Karena ibu yang baik akan memberikan perhatian yang serius bagi pendidikan anak-anaknya. Bahkan dia akan mengajar dan mendidik anaknya dengan kebiasaan yang baik.
Apa yang harus dilakukan seorang ibu selama mengandung putranya?
Banyaklah berdzikir. Biasakan baca Al-Qur’an, setelkan murottal, bisa dengan cara tempelkan earphone di dekat perut. InsyaAllah janin bisa merasakan indahnya kalam Ilahi.  Ini sangat berpengaruh positif, karena bacaan Al-Qur’an itu berdampak pada ruh. Ada proses lewat otak, janin kita menyimpan murottal Qur’an. Saya punya adik yang jadi guru mengaji. Ketika hamil, dia tidak pernah berhenti mengaji dan terus mengajarkan Qur’an. Salah satu surat yang sering ia baca adalah Ar-Rahman. Nah, pada saat anaknya sudah lahir, kemudian rewel menangis seharian, maka sang Ibu membacakan surat Ar-Rahman. Subhanallah, ternyata langsung ‘nyambung’. Si anak ingat ayat yang dia dengarkan ketika berada dalam kandungan. Rewelnya langsung berhenti.
Allahu Akbar, luar biasa! Bahkan nilai-nilai kemuliaan Al-Qur’an sudah bisa dicerna oleh janin dalam kandungan dan bayi yang baru berusia beberapa hari?
Tepat! Karena itulah, keluarga muslim harus menjadi Al-Qur’an sebagai rujukan dan pengajaran pertama bagi anak-anaknya. Kita ingat lagi sabda Rasulullah,”Barangsiapa yang mengajak kepada kebaikan maka baginya pahala mengajar dan pahala orang yang mengerjakannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.” (HR. Muslim)
Subhanallah, kalau orang tua mengajarkan Al-Qur’an kepada anaknya maka dia mendapat pahala mengajar dan pahala bacaan anaknya tanpa mengurangi pahala bacaan anaknya.  Kalau anaknya mengajarkan kepada cucunya maka dia akan mendapatkan pahala bacaan anak dan cucunya tanpa mengurangi pahala bacaan mereka.Tahukah Anda, berapa pahala orang yang membaca Al-Qur’an? Di dalam hadits yang shohih disebutkan, setiap hurufnya diberi pahala sepuluh. Bayangkan bacaan, bismillahirrohmanirrohim (arabnya) saja sudah 19 huruf. Maka pahala yang didapatkan bagi yang membaca dengan ikhlas sebanyak 190 pahala. Subhanallah…alangkah beruntungnya orang tua yang mau meluangkan waktu untuk mengajarkan Al Qur’an kepada anaknya.
Selain berbekal Qur’an, tips apa lagi yang harus selalu dikedepankan tiap orangtua dalam proses mendidik anak?
Orangtua harus jadi contoh baik. Jangan terbiasa hanya perintah-perintah saja, tapi justru kita sendiri tidak jadi teladan untuk anak. Anak akan meneladani kita. Biasakan diri berbuat kebaikan di depan anak. Karena jika kita berbuat sebaliknya, maka anak kita akan melihat banyak hal-hal yang bertentangan dan tidak sesuai dengan nurani. Selain itu, sedari kecil, biasakan anak kita untuk selalu berdisiplin. Untuk melatih disiplin, buatkan tabel perbuatan baik yang harus diisi sendiri oleh anak kita. Misal, buatlah tabel sholat 5 waktu. Kemudian minta anak untuk memberikan tanda centang (√). Juga perbuatan baik lainnya, misal: sedekah, mengucapkan salam, bersikap sopan pada orang tua dan lain-lainnya.
Tabel ini bermanfaat optimal untuk pembentukan karakter anak kita?
Ya. Selain bisa mendidik jadi lebih disiplin dan komitmen untuk berbuat baik, insyaAllah kita juga melatih anak untuk berbuat jujur. Sebab, ketika dia mengisi sendiri, maka dia bertanggungjawab untuk memberikan data yang salah pada dirinya sendiri. Lalu, bikin kesepakatan antara orangtua dan anak. Jika tabel perbuatan baik ini sudah mencapai nilai tertentu, berikan reward pada anak kita. Tidak harus hadiah yang mahal. Bisa berupa mainan atau majalah yang dia suka. Saya juga kerap memberikan hadiah berupa ‘kalimat motivasi’ yang saya letakkan dalam sebuah kotak, lalu saya taruh di tempat tidur anak. Jadi, ketika bangun, Al-Hasan, anak saya bisa mendapatkan ‘surprise’ berupa ‘surat penuh cinta’ dari ayahnya.
Untuk lebih membangkitkan percaya diri pada anak, bagaimana caranya syeikh?
Puji anak kita di depan banyak orang. Inilah yang membuat anak-anak merasa bahwa kita sebagai orangtua telah menghargai perjuangannya. Tapi jangan puji dengan sesuatu hal yang sebenarnya tidak ia lakukan. Selain itu, saya berpesan kepada tiap orangtua, jangan pernah memberikan janji yang sulit untuk kita tepati. Meskipun janji itu terkesan ‘remeh’, tapi sekalinya kita ingkar, anak kita akan mencap orangtuanya tidak amanah. Janji-janji dari orangtua ini bisa menghancurkan jiwa anak kita.

Tujuh Tahun

Assalamualaikum mas Sidqi yang ganteng, sholih dan baik hati,

Hari ini, Ibu pengin nulis apa yang Ibu rasakan selama 7 tahun jadi orang tua mas Sidqi.

Wah, waktu berjalan ngebut banget! Rasanya baru kemarin loh, Ibu mengalami kontraksi yang luar biasa, di detik-detik jelang kelahiran mas Sidqi.

Rasanya baru kemarin, Ibu bersihkan ompol, gumoh, plus bangun tengah malam karena dengar jerit tangis si bayi imut bin ganteng.

Sekarang, mas Sidqi sudah makin gede aja. Udah bisa melakukan banyak hal. Temen gaul mas Sidqi juga banyaaak banget! Mereka suka main-main ke rumah kita, karena mas Sidqi memang baik hati dan selalu menyambut dengan riang gembira.

Sidqi bareng bolo pleknya

Sidqi bareng bolo pleknya

Tapiii, Ibu tahu persis, biarpun punya teman banyak, mas Sidqi paling suka mainnya sama Ibu kan?

Hayooo… ngaku deh… Kalo nggak ngaku, ntar Ibu nggak bawain es krim loh, hehehe…

Kalau dianalisa lebih dalam *eciyeeee*, Mas Sidqi memang punya banyaaak kemiripan dengan Ibu.

Sama-sama suka berpetualang. Hobi santai di pantai. Trus, menginap di rumah pohon. Demen berenang….

Santai di pantai Papuma, Jember

Santai di pantai Papuma, Jember

CIMG4674

Asiknya di Rumah Pohon, Taman Dayu, Pasuruan

CIMG5332

Renang di Vila Jambuluwuk, Batu, Malang

Kita berdua juga doyan berargumentasi. Bahasa simpelnya sih, “hobi ngeyel”. Hehehee… Tiap kali ada nasehat yang terlontar dari mulut Ibu, mas Sidqi selalu mendebat, “Loh, kenapa gitu? Mestinya kan bisa begini.”

Ibu kudu pontang-panting kasih penjelasan secara ilmiah dan mudah dicerna oleh bocah berusia 7 tahun, yang punya daya kritis dan analitis luar biasa *prok, prok, proook*

Kita berdua juga punya kegemaran yang sama. Bergumul dengan LAPTOP! Kalau Ibu lagi duduk anteng di depan laptop, sepersekian detik kemudian, mas Sidqi PASTI mau ikut-ikutan. “Ibuuu… aku bantu ngetik yaa….”

Inilah momen quality time kita berdua.

Kita bermain-main bareng laptop. Browsing banyak hal. Belajar ngetik. Belajar matematika. Belajar paint.

Nge-game? So pasti dong ah. Hihihi.

Asik Ngegame bareng laptop ramping

Asik Ngegame bareng laptop ramping

TEMA W-3-GAME LAPTOP-2

Wuih, josss banget dah, ngegame pakai nih notebook!

Emang cakep banget dah, kalau main-main dengan laptop yang enteng ya. Niiih, ada Acer Aspire E1 Slim Series, yang didukung oleh  prosesor Intel®. Mulai dari Intel® Celeron® dan Core™ i3, dan 30% Lebih Tipis.

Notebook ramping, fitur asik dan menawan

Notebook ramping, fitur asik dan menawan

ASpire-E1-432-Silver-1 ASpire-E1-432-Silver-3 E1-432

Ibu harus akui. Eksistensi laptop itu membantu banget dalam “karir” Ibu sebagai orang tua. Ibu bisa tahu banyak hal, setelah menjelajah dan bercengkrama dengan dunia online. Termasuk, pas cari nama kamu! Ibu browsing, sampai ketemulah nama “Adkhilni Mudkhola Sidqi”. Artinya: masukkanlah ke dalam golongan dan dengan cara yang baik.

Ibu berharap, kamu akan menjadi sosok muslim yang hebat dan bisa menghebatkan banyak orang! Aamiiin…

Eh, mas Sidqi. Laptop seri terbaru dari Aspire Acer ini juga handal banget buat dipakai kerja loh. Seperti yang udah Ibu bilang, Acer Aspire E1 Slim Series didukung performa Intel® Processor di dalamnya. Jadi, karena ibu setiap hari bergulat dengan dunia tulis-menulis, nih notebook super-duper-hero banget!

Apalagi, Ibu bisa tampil keren dengan notebook slim yang paling tipis di kelasnya. Yah, maklum, selama ini Ibu kan harus mobile, buat ketemu banyak narasumber, interview, dan kudu nulis on the spot! Jadi, kemana-mana, Ibu bawa tas ransel yang bawa laptop segede gaban! Beraaaat!

Ngobrol sama Fadly-PADI sambil ngusung ransel isi laptop gede *uhuk-uhuk*

Ngobrol sama Fadly-PADI sambil ngusung lemak plus gelambir ransel isi laptop gede *uhuk-uhuk*

Ah, untunglah, ada solusi brilian buat kita berdua ya.

Ibu tetap bisa kerja dengan optimal karena lahirnya inovasi mutakhir dan spektakuler dari Acer Aspire. Kalau ditemani notebook yang ramping, ide-ide bakal mengalir deras… Jari-jemari Ibu (yang semuanya segede jahe ini) bisa menari lincah di atas tuts keyboards notebook.

Biarpun bodinya 30% slimmer, notebook Acer Aspire E1 Slim Series tetap mengusung fitur yang cihuy.

Laptop tipis Aspire E1-422, misalnya.  Nih laptop ciamik banget, dilengkapi dengan optical drive DVD Super Multi. Jadi kita tidak perlu lagi bawa DVD-RW external. Kan, fitur ini sudah terpampang nyata plus terintegrasi pada Aspire E1-422.

Kelengkapan input/output Aspire E1-422 antara lain tiga buah port USB, yang satu diantaranya sudah menggunakan USB 3.0 dengan transfer data 10x lipat lebih kencang dibandingkan USB 2.0. Ada juga sebuah card reader yang dapat membaca memori berbasis SD Card dan MMC.

Nah. Ibu kan doyan presentasi. Kalau pakai Aspire E1-422, gimana? Oh,  Tenaaang…. Laptop yang slim, langsing dan aduhai ini menyediakan port VGA/D-Sub yang umum digunakan pada proyektor yang ada di pasaran.

Buat multimedia, fiturnya okekah? Tenaaaang…. Aspire E1-422 ini juga menyediakan sebuah port HDMI yang bisa digunakan untuk menghubungkan notebook dengan layar LCD/LED berukuran besar. Jadi, selain bisa nge-games bareng, kita sekeluarga juga bisa nonton film Full HD ataupun main game favorit lewat layar berukuran besar!

Acer juga punya sebuah Webcam HD buat kita-kita yang eman doyan banget foto-foto dan video chatting.

Untuk konektivitas, Acer Aspire E1-422 menyertakan satu buah port LAN (RJ-45), dan sebuah wireless adapter Acer Nplify 802.11b/g/n. Ini memudahkan banget kalau kita mau internetan lewat jaringan hotspot.

Keren banget kan, laptop ini, Mas Sidqi?

Sekeren akhlak kamu.

Jump, Sidqi, Jump! Reach Your Dream!

Jump, Sidqi, Jump! Reach Your Dream!

Ibu juga bakal mengoptimalkan pemakaian notebook untuk membimbing kamu jadi anak yang kian sholih dari hari ke hari. Kita bisa belajar ajaran wudhu, sholat, haji… Macam-macam! Ibu juga bakal setelkan murottal (bacaan Al-Qur’an) dari para syaikh. Supaya hafalan Qur’an kita bertambah. Ibu juga akan meng-encourage mas Sidqi, untuk tahu jalur apa yang akan diambil mas Sidqi, sebagai sarana untuk berbagi kemanfaatan buat sesama.

Bisa jadi penulis. Ulama. Atau, syeikh di Masjidil Haram.

Go ahead! Reach your dreams!

Sidqi (plus emaknya) ngefans sama Ust. Yusuf Mansur.

Mas Sidqi mau jadi Ustadz, penulis plus entrepreneur ala  Yusuf Mansur? Go ahead, kid!

IMG_4899

Semoga Mas Sidqi bisa se-brilian cendekiawan muslim, Syafii Antonio *aamiiin…*

Mas Sidqi, inilah yang bisa Ibu sampaikan di surat hari ini. InsyaAllah, Ibu akan selalu meningkatkan kapasitas untuk jadi orangtua yang lebih baik.

Ya, bekerja menjadi orangtua, artinya Ibu sudah “melamar” ke pekerjaan tanpa cuti dan nggak boleh resign. Pada akhirnya, Ibu akan diminta untuk menyetorkan “laporan pertanggungjawaban” seputar amanah yang Allah berikan pada Ibu.

Makanya, Ibu bersyukur banget, ada Kumpulan Emak Blogger. InsyaAllah, bisa jadi bekal berharga bagi Ibu, untuk jadi “coach” dalam hidup mas Sidqi.

Semangaaaaat, mas Sidqi yang ganteng, sholih, taqwa dan pemberani!

Ibu always love mas Sidqi.

Wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

@nurulrahma 

*Tulisan ini diikutsertakan dalam event “30 Hari Blog Challenge, Bikin Notebook 30% Lebih Tipis” yang diselenggarakan oleh Kumpulan Emak Blogger (KEB) dan Acer Indonesia.