Komparasi itu Menyakitkan……

Entah bagaimana awal mulanya, tiba-tiba saja aku tersadarkan kalau Sidqi, anak saya, sekarang amat-sangat-jarang-banget mengaji Al-Qur’an. Sekali dua kali dia masih ikut TPQ di Masjid Al-Muslimun. Itupun sama sekali jauh dari kata istiqomah. Di sekolah? Huft, tentu aku nggak berharap banyak pada pelajaran Agama Islam di SD Negeri. Berapa jam sih? Kayak apa sih gurunya? Dan, kalau lihat buku yang dipakai, pheeeww…. bener2 jauuuuhh banget dari ekspektasiku. Yah, pengetahuan dasar aja gitu loh. Blas, enggak ada semacam ‘trigger’ mengajarkan anak buat rajin baca, mentadaburri, apalagi ngapalin Qur’an. 

Image

Bener aja. Suatu ketika, iseng, aku ngetes Sidqi. 

“Ayo dek, setor hapalan Qurannya…”

FYI, Sidqi, di umur 6 tahun sudah bisa menghapal surat-surat panjang yang ada di Juz 30. Let say, Surat Al-Infithoor, At-Takwir bahkan Al-Muthofifin –> yang mana daku malah blom apal! 

Nah, sekarang, umur Sidqi sudah 7 tahun lebih. HARUSNYA dia nambah hapalan dong. Dan, apa yang terjadi, ketika aku ngetes doi? 

“Ngggghhh…. bu…. aku lupa…. semua hapalan surat aku lupa….”

Jedeerrr!!

“Naah… tau penyebabnya kan dek? Karena enggak pernah diulang2 hapalannya… Jadi, ya lupa….”

Sidqi menunduk dalam. Khas ABG masa kini kalo lagi kesambet galau. Haha.

“Masa Sidqi umur 7 hampir 8 tahun, kalah dengan Sidqi yang masih umur 6? Inget lo dik, ibu ini MEMBANDINGKAN Sidqi tahun ini dengan Sidqi tahun lalu. Sidqinya masih Sidqi yang sama. Tidak mengalami perubahan apapun loh. Tapi, kok masih hebat-an Sidqi yang umur 6 tahun, ketimbang Sidqi umur 7 tahun yak?” 

Sidqi makiiiin nunduk dalam. Dia sama sekali enggak punya amunisi buat ‘melawan’ cercaan emaknya ini. 

***

Siapa yang menuding saya emak ambisius? Go ahead… Karena saya juga udah nyadar diri banget siy kalo saya emang masuk kategori emak2 ambisius. Dulu, saya seriiing banget MEMBANDINGKAN anak saya dengan bocah2 lain. Tapi, setelah sering baca situs parenting, ternyata sikap MEMBANDINGKAN DENGAN INDIVIDU LAIN sama sekali tidak bermanfaat positif buat perkembangan karakter anak kita. Yang BOLEH dilakukan adalah MEMBANDINGKAN SI ANAK DENGAN KONDISI DIRINYA SENDIRI, DI MASA ATAU TEMPAT YANG BERBEDA. Ya, seperti yang aku lakukan di atas. Walaupun sometimes, ngerasa agak gimanaaa gitu yaaa…. Nghhh… yep, life is unfair, anyway….

Aku sibuk membandingkan ANAKKU dengan ANAKKU DI MASA LALU. 

Tapi, aku nyaris-tidak-pernah-bahkan-cenderung-ogah kalo diminta membandingkan DIRIKU SAAT INI dengan DIRIKU DI MASA LALU. Takut. Ngeri. Gamang. Ahhhh…. cemen!! 

Kalau lihat potret2 @nurulrahma di masa lampau, olalalaaaa……. apa iya, gue, pernah, sekurus iniiiih???

Dan, sekarang? Huhhh…. buat nurunin sekilooo aja, rasanya seperti kudu mengangkat senjata ke arena perang. 

Saya sedang membandingkan NURUL SAAT INI dengan NURUL DI MASA LAMPAU. 

Nurul yang pernah kurus. 

Pernah lincah

Pernah begitu sehat, semangat, passionate. 

Rajin nggowes

Selalu lari keliling kompleks setiap ngeliat tanda2 ada penggemukan sedikiiiiit aja di bagian betis….

Arrggggh….Studi komparatif ini sungguh mengerikan!! Dan menyakitkan!!!!

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s