Uncategorized

Tiba-Tiba Aku Begitu Takut pada Kematian….

Tiba-Tiba Aku Begitu Takut pada Kematian….

Tiba-tiba aku menjadi khawatir bila sang Malaikat Maut mencabut nyawaku saat ini juga. Aku panik. Tak biasanya aku seperti ini. Selama ini, aku begitu ‘akrab’ dengan aroma kematian. Ayahku sudah meninggal sejak aku duduk di kelas 4 SD. Pas jadi reporter SCTV, berita tersangka didor polisi adalah ‘makanan sehari-hari’ bagiku.
Buatku, sesi kematian adalah adalah lonceng penanda berakhirnya momen perjalanan hidup di kawah dunia nan fana. Mati adalah sebuah katalisator menuju alam yang baru. Namun, hari ini, aku begitu takut pada kematian…..

***

Namanya Dwi Hartanti.
Manis, diimbuhi lesung pipi yang tak mau hengkang dari wajah ayunya. Dia adalah PELAJAR TELADAN TINGKAT NASIONAL (SMP) TAHUN 1995. Sengaja font-nya aku besarkan, karena aku begitu mengagumi dia…

Dulu, zaman SMP, aku sering banget diminta ngisi biodata ke diary temen-temen.
Nah, di kolom IDOLA: aku nyaris tak pernah absen menuliskan 3 (tiga) nama: Nabi Muhammad, ibuku, dan Dwi Hartanti.

Dwi Hartanti adalah idolaku. Idola yang sangat egaliter. Ia sepantaran denganku. Saat itu, ia berstatus siswi SMPN 1 Sby, dan aku SMPN 17 Sby. Kami berkenalan dalam sebuah kompetisi Pelajar Teladan. Menyaksikan makhluk semanis Dwi, aku merasa bahwa dalam lomba ini, aku tidak mungkin akan keluar sebagai jawara. Nyaliku ciut, aku kalah sebelum berperang demi bertemu dengan gadis semenarik dia.

Teladan. Dia memang layak menyandang predikat itu. Betapa kombinasi otak encer serta aura gaul yang positif dan fleksibel Tuhan sematkan padanya. Tak pernah aku melihat Dwi berkeluh, dia selalu mengerjakan SEMUANYA dengan sungguh-sungguh.

Cantik, baik, inspiring, nice… Kami kian akrab ketika sama-sama bergumul di dunia jurnalistik, di Kropel (Klub Reporter) Pelajar Surabaya Post. Lalu, Dwi masuk ke Fakultas Kedokteran UNAIR, dan aku terdaftar sebagai mahasiswi di Teknik Informatika ITS. Ternyata sahabatku di ITS adalah sahabat Dwi ketika di SMAN 5 Sby… Dan, kami kian akrab… Anak-anak pinter bin gaul yang semuanya adalah sahabat Dwi, kini menjadi temenku juga…

***

Tak henti-hentinya aku mengidolakan seorang Dwi Hartanti. Bahkan ketika ia memilih Amak Mohammad Yakoub – temen kami di Jawa Pos- sebagai pendamping hidupnya. Amak, di benak Dwi, adalah sosok yang membuat dia merasa ‘nyaman’… dan itu sudah lebih dari cukup sebagai syarat mutlak menjadi ‘soulmate’ dalam irama kehidupan Dwi… Lalu lahirlah ‘malaikat kecil’ dalam kehidupan mereka. Namanya Mika. Keluarga yang sempurna. Indah, penuh berkah…. Kudengar Dwi sedang mengambil program dokter spesialis di Univ. Indonesia Jakarta, lalu Amak menjadi dosen di School of Business Management di ITB Bandung. Cantik, cerdas, baik, menarik, antusias, brilian… sebutkan apapun sifat positif manusia, dan Dwi Hartanti punya itu semua…

***

Hingga 2 (dua) hari lalu–ketika aku sedang di Tulungagung, jenguk nenek suamiku yang lagi sakit keras– berita duka itu menerobos masuk. Dwi Hartanti berpulang. Komplikasi penyakit yang ia derita, membuat idolaku itu harus menyerah pada sang maut. Dwi berpulang diiringi kesedihan yang menyayat dari seluruh rekannya… Dwi yang cantik… Sang dokter ayu nan bersahaja, yang banyak teman… selalu open-minded… dadaku serasa tersayat….

***

Jangan-jangan giliranku sebentar lagi???
Jangan-jangan sang malaikat maut sedang mensurvey siapa lagi makhluk Allah yang segera berakhir jatah kontrak hidupnya???

Lalu,akan seperti apakah, jika jiwa telah berpisah dengan ragaku?
Apakah teman-teman, sanak saudaraku akan berduka?
Ataukah mereka justru bersyukur, karena 1 (satu) makhluk menyebalkan telah hengkang dari muka bumi?

Bagaimana aku nanti akan dikenang?
Apakah aku hanya akan berakhir di batu nisan, dan that’s it, itu aja? Atau, orang akan mengenangku sebagai ibu yang tak bertanggungjawab, pekerja sosial yang berjiwa kapitalis, oportunis, si lidah tajam yang bangga dengan label ‘Ratu Tega’? Oh, ya Allah…. ternyata aku harus banyak berbenah…. Tiba-tiba aku sangat takut dengan kematian…. Ternyata aku belum siap… Totally belum siap….

**Obituari untuk Dwi Hartanti, kuyakin ALLAH akan menyambutmu dengan Taman Surga-Nya yang terindah**
Dwi Hartanti dan 'malaikat kecil'nya, MikaDwi Hartanti dan ‘malaikat kecil’nya, MikaDwi Hartanti & Amak Yaqoub, a happy couple...Dwi Hartanti & Amak Yaqoub, a happy couple…

Tulisan ini saya publish di FB, beberapa hari setelah kabar duka itu datang. Versi asli dan komen para FB-ers bisa dilihat di sini

Advertisements

53 thoughts on “Tiba-Tiba Aku Begitu Takut pada Kematian….”

    1. Temen saya ini baiiiiiikkk banget mas.
      Saya kayak yang mengidolakan dia banget nget.

      Kayaknya, Allah memang sangat sayang sama Dwi, sehingga “dituntaskan” urusan duniawinya agar ia bisa tenang di jannah-Nya kelak.

      Masya Allah… saya mbrebes mili lagiii….

      1. itu modifikasi kode HTML yg muncul di versi teks saat posting dan bikin link ke tulisan lain. gampangnya gini :


        kalimat_keterangan

        nggak tahu kode yang di atas itu kelihatan apa nggak. tapi kalau kelihaan tulis semuanya dalam satu baris dan tanpa sepasi kecuali saat menulis kalimat keterangan

  1. *Hugs* semoga mb Dwi Hartanti tenang dan bahagia di Kubur dan mendapati Jannah-Nya kelak.. aamiin. Dan semoga kelak kita ketika di panggilNya sudah bnr2 siap.
    btw pnh ikut Kropel jugak toh brrti pnh tau nama mas Agung Djatmiko ato pak Imung Mulyanto yaa?,. 🙂 mmg jiwa jurnalis yak dr muda mb Nurul inih..

      1. Oalaaaah, masyaAllah… putrinya Pak Imung tho? Hihihi… Angkatan Kropel yang bareng aku tuh : Mas Achmad Supardi, Mbak Magdalena Irawati Ovi, Mas Anes, siapa lagi yaa?? Coach kita, mas Heri Priyono ya kalo ga salah nama lengkapnya, lupa… *faktor U* baiklaaah, senang bisa ketemu di blog… mungkin Pak Imung enggak tahu aku, say… karena aku dulu di Kropel pendiaaam bangeeett *hahahah* kalau almarhumah Dwi Hartanti ini orangnya aktif-supel-humble. Energinya WOW banget

      2. Hehehe.. ya nnti aku tnykan papa ya.. mg2 msh inget. Mestine sih inget 🙂 dulu aku seneng banget klo diajakin k kntr trs dikenalin sm tmn2 kropel. Rasa2nya jd pgn gt klo sdh gede ikutan jd reporter.. halah.. hehehe.. sygnya kejayaan koran itu akhirnya runtuh sejak di tinggal alm bu Azis

      3. Aku kayaknya masih ada deh poto2 jaman aku di Sby Post dulu… Ntar aku ubek2 poto2 di rumah yak…

        Yang jelas, dulu jaman di Kropel *dan artinya aku & Dwi Hartanti masih SMA* aku masih kuruuuusss banget, hehehe… Beda ama sekarang *lirik gelambir*

      4. Hihihi… aku ga ada YM. Ga ada WA. Ga Ada Line. Ga ada BBM. Yang ada… SMS *generasi jadul* Tapi aku ada FB, atau twitter aja kali yaa… @nurulrahma. Yuk kita saling berbalas mention di sana 🙂

  2. aku juga sering merasa takut seperti itu lho mak..apalagi ada beberapa juga dari teman SMA,teman kuliah, teman kerja sekantor, saudara, dan tetanggaku yang udah pada berpulang duluan. cuma bisa berdoa setiap hari semoga kelak saat kita mati, kita bisa berpulang dalam keadaan khusnul khotimah. amin. turut berduka cita ya maksay

      1. Gpp, Dan. Udah biasa 🙂
        Dani gitu loh, heheheh…

        Well, well, well, sepertinya ini bisa jadi materi postingan tersendiri nih. Ketemu adik kelas yang ngikuuuuuuut aja, sejak SD sampe kuliah 😛 Hihihi.

  3. Kalau mendengar kabar duka meninggalnya orang yg kita kenal, pasti selalu muncul perasaan bahwa kematian lah yg sesungguhnya paling dekat dengan kita.
    Semoga beliau ditempatkan yang terbaik di sisi-Nya.

  4. Teriring doa, semoga Mbak Dwi HArtanti khusnul khotimah dan keluarganya diberikan kekuatan.

    SEtiap kali mendengar teman/tetangga/keluarga, spontan terbersit “Jika giliranku tiba?, sudahkan aku siap dengan bekal yg cukup? APakah ada yg akan mengenangku? dsb.

    Beberapa teman sekolah (SMA) jg sdh ada yg berpulang, saat ada acara kumpul2 dan ada yg mengabarkan si A, B..meninggal, ” Betapa maut benar2 rahasia yg tak tertebak”

  5. Ikut berduka Mak, sahabatnya sudah pulang dengan tenang, orang-orang yang ditinggalkan ikhlas dan kelak bisa berkumpul di Jannah-Nya.
    *Sahabat saya sudah banyak yang berpulang juga*
    Entah tua, muda, kita sama2 mempersiapkan diri untuk dipanggil *aku juga belum siap, dosanya masih bejibun, hiks.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s