[Fiction] : Bimbang (part 2)

Cerita sebelumnya: Arya, sahabat masa kecil yang begitu cerdas, tiba-tiba hadir dalam kehidupan Salma. Padahal, Salma sudah di-khitbah oleh Raditya. Apa yang akan dilakukan Salma? Siapa yang terpilih menjadi pendamping hidupnya?

Life’s like a multiple choice question, sometimes the choices confuse you, not the question itself.

Aku tersenyum kecut. Quote yang berseliweran di timeline twitter ini hak jleb banget. Sangat menohok. Apalagi, kalau dikaitkan dengan kondisi hatiku saat ini. Ahaaii, wahai hati, hati yang begitu rapuh, apa kabar kamu hari ini?

“Menikah itu mudah. Asalkan dilandasi niat untuk beribadah, sebagai wujud penghambaan pada Allah, dan niat berdakwah, maka Allah akan mempermudah itu semua. Allah yang akan memilihkan pasangan terbaik untuk hamba-Nya yang taat dan bertaqwa.” Masih kuingat tausiyah Ustadzah Tania tempo hari. Ya. Aku sepakat dengan kalimat yang ia gulirkan. Menikah itu, bagi beberapa orang, memang mudah. Mendapatkan jodoh, bagi beberapa orang, memang tampak seperti, yaaa… seperti sedang memilih baju yang akan dipakai hari ini. Gampil. Simpel. Banget. Dan, di mata beberapa orang, apa yang aku alami, memang terlihat sederhana. Sangat menyenangkan, membahagiakan, sekaligus inspiratif.

Subhanallah… Jadi, anti sudah dilamar Raditya? Barakallah, semoga semuanya lancar yaa…”

Anti memang cocok dengan Radit. Kalian berdua insya Allah bisa jadi pasangan dakwah yang saling menguatkan…”

Begitulah. Nyaris sulit menemukan teman yang tak setuju atas perjodohan—ups, ta’aruf—kami. Semua sepakat bahwa aku dan Radit adalah “dua jiwa yang ditakdirkan untuk bersatu”.

Sampai…. sampai ketika Arya datang. Keberadaan dia memporakporandakan sebongkah hati yang begitu lemah. Tiba-tiba, fragmen kebersamaan aku dan dia, terputar di benak. Aku bisa saksikan kepingan kenangan yang terajut. Ketika kami sedang jalan-jalan di toko alat elektronik. Dan, aku memegang sebuah “harta karun” bernama flashdisk.

“Arya! Lihat ini!”

“Apaan? Ya ampun, cuma flashdisk? Kenapa sampai histeris sih?”

“Inii… kayaknya aku harus punya ini deh. Aku bisa simpan file-file tulisan yang aku tulis di lab komputer sekolah, trus nanti aku bisa kirimkan email cerpen-cerpenku dari warnet. Iiih, keren banget kan?”

“Ya udah. Beli aja gih. Gitu aja heboh amat.”

“Iiih, Arya! Komentar yang lebih asik dikit, napa? Berapa nih yaa… harganyaa… E yaampuuun, 200 ribu dong?! Giling!”

Laki-laki si remaja tanggung di sebelahku itu tersenyum sinis. ”Napa? Beli aja! Katanya mau nge-save cerpen pake itu?”

“Iyaaa… tapiii, mihiiil banget, Arya…. Hiks…”

“Ya, kamu nabung dulu aja.”

Duh. Hatiku perih, demi merelakan sebuah fakta, bahwa saat itu aku tak bisa membawa pulang flashdisk idaman. Tapi, Tuhan rupanya tak mengizinkan aku berlama-lama berkubang dalam perih. Karena, di ulang tahunku, ada hamba-Nya yang datang, mengirimkan sebuah kado mungil, berbungkus kertas sampul cokelat, persis seperti yang dipakai anak SD untuk menyampuli buku tulisnya.

Aku ngikik. “Ndeso banget sih bungkusnya? Pasti isinya nggak kalah ndeso. Mi Anak Mas? Atau, cokelat Superman? Atau, jangan-jangan… telor cicak, hahahah…”

Arya merengut sebal. “Komennya entar aja, kalo kamu udah buka bungkusnya.”

“Oke. Aku buka sekarang yaa…”

Mataku terbelalak. Hatiku? Apalagi. Meleleh. “Aryaa… ini kan mahal….”

“Gapapa. Aku udah planning sejak lama. Kamu memang butuh barang itu. Supaya cerpen-cerpenmu bisa dimuat di banyak majalah. Dan, impianmu untuk jadi penulis kondang bisa segera kamu raih. Mulai sekarang, kamu kudu lebih rajin nulis yaaa…”

So sweet… Manusia satu ini, memang sulit sekali dienyahkan dari memori. Sikapnya memang kadang nyinyir. Acapkali jutek. Tapi, itu tak menghalangi kelembutan plus perhatian yang bercokol di hatinya. Aku menggenggam flashdisk itu erat-erat. Seperti aku menggenggam sebuah rasa, yang entah sampai kapan aku pendam dalam dada.

***

Itulah. Terkadang, apa yang nampak di permukaan tak melulu sesuai dengan isi hati. Raditya memang baik. Tak perlu ragu soal itu. Tapi, apa iya, Raditya si manusia baik itu memang benar-benar jodoh yang tepat untuk aku? Ayah-ibuku begitu bersemangat ketika Raditya dan keluarga besarnya serius meng-khitbah. Terlebih, ia dengan begitu tangkasnya, menirukan ucapan Bilal Bin Rabbah, tatkala meminang shalihaat idamannya. “Jika Bapak-Ibu menerima pinangan kami, maka segala puji bagi Allah. Jika Bapak-Ibu tidak menerima, maka Allah adalah Tuhan Yang Maha Besar….”

Melting. Hati kami semua langsung meleleh, detik itu juga. Untuk beberapa saat, aku dihampiri sebuah eureka, “This is it! Ini dia imamku!” Aku mantap dipilih dan memilih dia. Aku mantap bersanding dengan tukang insinyur elektro ini. Rasa mantap itu kuperoleh dari sholat istikharah, tahajud dan beragam ibadah sunnah lainnya. Seperti yang disarankan Ustadzah Tania.

Namun, ketika rasa mantap itu sudah tampak begitu membulat, rupanya ada letupan rasa lain, yang menyeruak tanpa permisi. Apa yang harus aku lakukan? Waktu berjalan begitu cepat. Aku hanya punya waktu dua bulan untuk memutuskan, siapakah yang aku pilih? Aku menghormati Raditya. Aku respek dan salut pada dia. Tapi, Arya? Arya adalah satu-satunya orang yang bisa memberikan efek butterfly in my stomach. Bersama Arya, hidupku semakin hidup. Arya, dia satu-satunya orang yang bisa menggoreskan pelangi di langit hidup nan kelam.

Tapi, sangat tidak adil, kalau kemudian aku meninggalkan Raditya begitu saja. Aku harus bicara pada dia. Harus.

“Assalamualaikum, halo, ini dengan akhi Raditya?”

“Waalaikumsalam, iya ukhti. Bagaimana? Oh, tunggu sebentar yaa… Ada teman yang lagi manggil-manggil aku, sebentar yaa… teleponnya jangan ditutup dulu… Wooiii… ada apa?? Ntar, bentar lagi aku beresin network-nya…! Tunggu bentar nih, nanggung… calon istriku lagi nelpon….!”

Calon istri.

Raditya berkata pada teman-temannya, bahwa sang “calon istri” tengah menelepon, dan minta untuk tidak diganggu sejenak. Calon istri. Kupingku tidak salah dengar. Calon istri.

“Iya, Salma. Ada apa ya?”

Aku membisu. Hanya buliran air yang menetes pelan. Lalu menggenangi kedua bola mataku. Tegakah aku? Tegakah aku mengatakan kondisi hati yang sebenarnya pada pria baik yang menyebutku sebagai “calon istri”?

***

Ini kesempatan terakhir, untuk menunjukkan bahwa aku tengah dilanda bimbang. Raditya harus tahu. Kami bertemu di sebuah cafe sederhana. Berkali-kali kuaduk milk shake yang sudah nggak jelas teksturnya.

”Nggak tahu kenapa, aku merasa, aku belum siap untuk berlanjut ke pelaminan, dengan kamu…”

“Karena… ada…. Arya?!” suara Raditya terdengar sedikit serak. Mungkin, hatinya tengah berpacu, melawan amarah yang siap tumpah.

“Maafkan aku… Aku tak tahu harus berbuat apa…”

Raditya menghembuskan nafas. “Ukhti Salma. Saya mengapresiasi kejujuran yang ukhti sampaikan. Memang berat, karena bila saya ada di posisi ukhti, barangkali saya juga dilanda kebimbangan yang sama. Untuk kasus kita ini, ada baiknya kita kembali pada pedoman yang disampaikan Rasul. Seorang mukmin adalah saudara mukmin lainnya. Maka tidak halal bagi seorang mukmin membeli barang yang telah dibeli saudaranya, dan mengkhitbah wanita yang sudah dikhitbah saudaranya, hingga laki-laki itu meninggalkannya (HR Muslim). Dalam hal ini, ukhti Salma memang sudah saya khitbah. Keluarga besar juga sudah menentukan tanggal akad nikah. Jadi, ketika saya belum membatalkan khitbah, maka Arya tidak boleh mengkhitbah anti. Kecuali jika…..”

Napasku tercekat. Astaghfirullah… aku sudah menyakiti laki-laki baik ini….

“Kecuali jika, saya membatalkan khitbah itu….”

Astaghfirullahal ‘adzim… Salma… What the h*ll are you doing?

“Apakah itu yang anti inginkan?”

Masya Allah… Lagi-lagi, sebuah tonjokan keras, yang langsung mengenai ulu hati. Benarkah? Benarkah ini yang kamu inginkan, wahai jiwa yang cengeng, manja dan tak tahu diri? Puaskah engkau menyaksikan kemelut rasa yang tergambar di wajah Raditya? Antara sedih, terpukul, shock, dan berupaya tegar. Begitukah? (bersambung)

Advertisements

18 comments

  1. danirachmat · September 15, 2014

    Ish. Radityanya kayaknya oke banget. Hahahaha. Naca bagian 1 dulu ah saya mbakyu..

    • bukanbocahbiasa · September 15, 2014

      Wiwww… Dani udah mampir iiihhh makasiii yaaa… *terhura*

  2. jampang · September 15, 2014

    lelaki yang baik adalah lelaki yang tidak mengambil apa yang sudah menjadi milik lelaki lain 😀

    • bukanbocahbiasa · September 15, 2014

      Sedaaaapppp… jadi Bang, dikau lebih memilih Raditya niih??

      • jampang · September 15, 2014

        masa jeruk makan jeruk? 😛

        kejadian serupa saya masukkan juga dalam novel saya 😀

      • bukanbocahbiasa · September 15, 2014

        Hahahaha….
        Okesiiip… Bang Jampang novelnya judulnya apa?
        Ntar aku cari di tobuk yak.
        *atau, novelnya baru mau diluncurin?*

      • jampang · September 15, 2014

        novelnya terbit indie dan udah nggak cetak lagi. lagi coba diajukan ke penerbit cuma nggak ada kabar. akhirnya saya masukin satu-satu babnya ke blog ini

        bab pertamanya ini :
        http://jampang.wordpress.com/2013/10/26/lima-delapan-lima-sembilan/

        dan sudah ada beberapa bab kelanjutannya

  3. ysalma · September 15, 2014

    Duh, Radit OK,
    Arya membuat hidup menjadi lebih hidup
    Menikahkan sehari dua hari, seumur hidup boo *ikut bingung.

    • bukanbocahbiasa · September 15, 2014

      Secaraaaa… nama tokohnya mirip kamyuuu bangeeet ya mbak, hehehe

      Btw, ini aku juga masih bimbang, endingnya kayak gimana? Hehe.

  4. Pingback: [FICTION] BIMBANG (part 3) | bukanbocahbiasa
  5. joeyz14 · October 8, 2014

    ehmmmm nyimakkkk! yang begini2 nihhh bikin galau akut!
    eh keren deh diksimu mak! aku mesti banyak belajar nih *meratapi cerpen2 yang masih nangkring di draft* 😀

    • bukanbocahbiasa · October 8, 2014

      Laaahhh, mbak Joey malah top markotop euy, bikin minderrr abiss…

      Kayaknya sesekali bolehlah kita men-challenge diri kita berdua buat nulis fiksi berbahasa Inggris *guayaa…*
      Sounds challenging, eh?

      • joeyz14 · October 8, 2014

        isssshhh makasi banget bisa minder sama aku yang cupu ini….hahaha
        asli ini baca fiksi begini bikin makin semangat ngelanjutin cerbungku yang ga kelar2. belum tau mau dibawa kemana endingnya. Jadi belom berani publish diblog, ini rencananya padahal mau coba lanjutin mumpung lagi libur sekolah. Temenku malah ga bisa nulis fiksi dalam bahasa indonesia, Inggrisnya emang jago. Aku belum berani nulis pake keminggris untuk fiksi gini mba….
        tapi suerrr dehhh pemilihan katamu keren2 banget sih! mirip2 Rosi simamora or Ilana Tan hihihi *gak gombal yeeee*

      • bukanbocahbiasa · October 8, 2014

        BRB ya mbak, mau googling Rosi Simamora dan Ilana Tan.
        Duh, literatur fiksiku emang sauprit banget mbak.
        Paling ngefans ama Dewi Lestari. Andrea Hirata dan Ahmad Fuadi, bolehlaah…
        Tapi cerita fiksi (plus nonfiksi) yang paling aku doyan adalah… My Stupid Boss! Kerani, itu loh mbaak… Wah, kubaca bolak/i masiiiih aja ngakak :)))

      • joeyz14 · October 8, 2014

        Toss….ngepansss abis ama DeeLest..
        Suka banget ika natassa, AleaZalea….those 3 Ladies!! Argghhh!! Gemes.
        My stupid boss? Siapa penulisnya? *ke gramed nih besok*

      • bukanbocahbiasa · October 9, 2014

        Itu diaaa, mbaa… Karena My Stupid Boss ini isinya cerita dodol yang berkisah seputar Bos alakazam banget… dan, konon cerita ini adalah KISAH NYATA tapi dikemas dengan storytelly yang lucuuuu banget… maka nama pengarangnya disamarkan :))
        Doi cuman minta dipanggil sebagai Kerani.

        Lucuuuuu doooh, aku mules deh kalo baca ini. Very recommended book :))

  6. Pingback: [Fiction] BIMBANG (part 6) – bukan bocah biasa
  7. buku harian ikha triazhna · October 13, 2015

    mbak nurul cerita nya bagus banget aku suka lohh 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s