Tentang Empat Pilar Kebangsaan MPR

“Serius kamu mau ke Amerika? Serius mau ikut acaranya Google? Kamu kan berjilbab! Di sana tuh kalo party pasti hidangannya aneka babi! Terus itu bir, wine, minuman beralkohol ada di mana-mana! Kamu perempuan loh! Nggak malu sama jilbabmu?”

Aku menelan ludah. Tenggorokanku rasanya tercekat. Bombardir yang dilayangkan salah satu sahabat, cukup dahsyat untuk membuat lidahku kelu….. tak mampu mengeluarkan kata-kata, walaupun hanya satu suku.

Bolak-balik dia mengernyitkan kening. Membelalakkan mata. Pertanda tak habis pikir dengan keputusan yang sudah aku ambil.

“Tapi ini kesempatan langka…. Aku diundang Google… Semuanya diongkosin….”

“Iya, aku tahu! Tapi apa iya, kamu rela menggadaikan keimanan kamu, dengan berkumpul bersama orang-orang nggak jelas macam gitu? Aku kok curiga ini semacam konspirasi yang terstruktur…..”

“Hah?? Menggadaikan keimanan? Menggadaikan di bagian mana?”

Kali ini, aku mulai muntab. Nada suaraku naik sekian oktaf. Heii! Aku cuma mau datang ke acara Google Local Guides Summit! Ini acara meet up para contributor dari seluruh dunia, bukan acara untuk pendangkalan akidah!

TIM GOGREEN LG

Sahabatku mulai melunak. Dia menarik napas sejenak, dan bertutur lembut, “Nurul… maaf kalo aku tadi terdengar sangat nyinyir. Aku cuma khawatir, kamu terbawa suasana di sana. Berkumpul dengan orang-orang bule, yang mayoritas punya gaya hidup beda dengan kita. Mereka party, dance, joget-joget, dan kamu juga ada di lokasi yang sama. Mereka minum-minum, having fun, trus… dengan alasan kudu jadi social drinker, kamu ikutan minum. Belum lagi, sorry… bukannya sekarang pemerintahan Donald Trump makin anti dengan Islam ya? Aku hanya mengingatkan. Ini bukti kalo aku perhatian sama kamu. Jangan salah paham ya….”

***

Kami berdua—aku dan sebut saja Lalita—bersahabat cukup lama. Kami kenal satu sama lain sejak duduk di bangku SMA dan semakin akrab, lantaran ikut dalam forum kajian yang sama. Demi mendengar kabar bahwa aku lolos dalam seleksi partisipan Google Local Guides Summit 2017 yang berlangsung di San Francisco, Amerika Serikat, Lalita berubah menjadi sosok yang demikian “posesif”.

Ia menyetorkan aneka rujukan artikel dari berbagi website. Tentang mudharatnya perempuan berkelana ke lain benua. Tentang bahayanya bergaul dengan kalangan yang tidak satu akidah. Tentang aneka keburukan yang siap menghadang, manakala kita berada di sebuah forum, di mana banyak minuman keras yang bertebaran di sana.

Tentu aku paham. Itu adalah wujud rasa sayang yang berkelimpahan. Lalita tidak ingin aku tersesat ke dalam rimba pergaulan level dunia, yang yeah, mau tidak mau harus kita akui, mengusung 2 sisi yang bertolak belakang.

Berada di forum dunia memang membuka mata kita tentang banyak hal. Mungkin selama ini, kita terlampau nyaman berada di rumah sendiri. Jadi, inilah kesempatan buat aku untuk lebih tahu, gimana rasanya bergaul dengan multi-bangsa? Apalagi, ini forumnya Google. Aku punya banyak kesempatan emas untuk lebih menggaungkan nama Indonesia. Itu sisi positifnya kan?

Tapi, memang tak bisa dipungkiri, gaya hidup orang barat sudah pasti jauuuuh berbeda dengan gaya hidup yang aku anut. Saya muslimah. Saya berhijab panjang. Saya berusaha keras untuk tidak makan babi, dan elemen haram lainnya. Saya mantan aktivis lembaga amil zakat. Saya tipikal orang yang selama ini lebih banyak berinteraksi dengan kalangan yang memiliki banyak kesamaan dengan diri sendiri, baik dari segi suku, ras, agama maupun anatomi tubuh. 😀

Kurasa, tak ada salahnya aku coba sebuah pengalaman baru. Yang benar-benar baru. Langsung terjun di sebuah forum dunia. Langsung bergaul dan membaur dengan 150 manusia (yang jauuuuhhh berbeda dari segi apapun, APAPUN!) yang berasal dari 62 negara. Heiii…. Ini era di mana kita memang harus saling terkoneksi. Suka tidak suka… siap tidak siap…. Ya inilah era globalisasi. Semuanya terhubung satu sama lain, dan saling memberikan pengaruh. Ga usah lah ketemu segambreng bule di Amrik. Wong, leyeh-leyeh di Rungkut Surabaya saja, kita tetap bisa tersengat pengaruh budaya barat, lewat tontonan TV, YouTube, artikel di beragam situs, ataupun di media konvensional.

Tahukah Anda, siapa yang awalnya mengenalkan budaya kebarat-baratan pada seorang @nurulrahma? (Mantan) boss saya, di sebuah redaksi surat kabar! Dia lama kuliah di Amerika, lalu pulang ke Indonesia, dan cerita… “Kalo di Amrik itu begini begini. Anak muda di Amrik begitu begitu.”

See? “Penularan budaya” itu sudah berlangsung sejak saya kuliah, atau tahun 2000-an. TUJUH BELAS TAHUN YANG LALU.

Maka… dengan mantab jiwa, saya katakan pada Lalita. “Dear… aku terima kasih banget atas atensi kamu. Tapi yang jelas, keberagaman itu kan sesuatu yang natural. Sunnatullah. Kita udah biasa lah dengan segala hal yang berbeda. Insya Allah, aku tetap jadi @nurulrahma yang sama. Nurul yang orang Indonesia, muslimah, berhijab, dan nggak terseret dengan hal-hal yang kamu khawatirkan. Mau tahu rahasianya?”

***

Pertama, tentu saja, berkali-kali saya harus sampaikan terima kasih ke Ibunda, yang demikian ketat mengajarkan nilai-nilai agama kepada saya. Sejak kecil, Ibunda tak kenal Lelah mendidik saya untuk jaga sholat, tutup aurat, jaga pergaulan, jaga kehormatan, intinya, Ibunda betul-betul menancapkan semangat bahwa “Islam is the way of life”. Ini yang saya pegang sampai detik ini, dan semoga sampai maut menjemput.

Kedua, ini yang juga saya jadikan “mantra” dalam menjalani dinamika pergaulan dan kehidupan yang makin acakadut belakangan ini. Saya adalah warga Negara Indonesia. Ada 4 Pilar Kebangsaan yang saya jadikan “penyangga bangunan” manusia Indonesia, agar tetap kokoh dalam menjalani badai dan tantangan dunia.

Pilar pertama adalah Pancasila

Tentu kita mafhum, kelima sila yang termaktub dalam Dasar Negara ini adalah komponen yang sanggup memberikan semangat “Bangga Indonesia” terhadap para warga. Pancasila sebagai ideologi bisa mengikat bangsa Indonesia yang demikian besar dan majemuk. Pancasila adalah konsensus nasional yang dapat diterima semua paham, golongan, dan kelompok masyarakat di Indonesia. Dalam posisinya, Pancasila merupakan sumber jati diri, kepribadian, moralitas, dan haluan keselamatan bangsa. Nilai-nilai luhur Pancasila yang juga bisa menjadi identitas kita ketika berada di sebuah forum level dunia.

Pilar kedua adalah Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945

Konten yang terdapat dalam Pembukaan maupun isi UUD ’45 adalah sebuah pilar yang juga menyangga kokohnya diri kita sebagai manusia Indonesia. Tentu banyak hal detail, yang harus dijabarkan dalam berbagai pasal dan ayat. Bersyukur bila kita sebagai bangsa Indonesia mampu dan MAU untuk menelaahnya dan menjadikan sebagai pijakan dalam kehidupan.

Pilar ketiga adalah NKRI atau Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Hayati dan amalkan nilai-nilai yang termaktub dalam Pilar pertama dan kedua. Maka, nasionalisme akan terinjeksi dalam diri kita. Jiwa Pancasilais sejati akan mampu mengusung nyawa “Bahwa Menjadi Bangsa dan Bangga Indonesia adalah sebuah harga mutlak!”

Yap. Entah gimana awalnya, tapi belakangan ini kita kerap dibombardir dengan beragam ide, agar Indonesia berubah format menjadi bentuk negara yang lain. Oh, come on… apa sih yang mau dicari dengan hal-hal seperti itu? Kerjasama dan niat baik sangat diperlukan, untuk menjaga keutuhan bangsa ini, apapun yang terjadi.

Pilar keempat adalah Bhinneka Tunggal Ika

Bhinneka Tunggal Ika adalah anugerah yang harus terus dijaga dengan sepenuh jiwa. Seperti yang saya singgung di atas, keberagaman adalah sesuatu hal yang natural, sunnatullah. Dan memahami keberagaman adalah hal yang sangat HQQ (baca : hakiki, ikut gaya alay anak zaman now). “Berbeda-beda tapi tetap satu jua.” Inilah yang harus menjadi nafas dalam tiap jengkal kehidupan kita.

***

Maka, optimisme saya membumbung tinggi, manakala tergabung dalam Komunitas Netizen MPR (Majelis Permusyarawatan Rakyat). Awalnya saya join dalam Netizen Gathering yang berlangsung di kota Solo, 3 tahun lalu. Para peserta berasal dari beragam daerah di seluruh Indonesia. Kami intens berdiskusi, menyerap aspirasi dan menularkan energi positif, agar 4 Pilar bisa menjadi jiwa untuk diaplikasikan dalam hidup sehari-hari.

Kami tergabung dalam sebuah grup Whats App, yang saling menyemangati untuk menularkan semangat dan nilai-nilai 4 Pilar, kepada siapa saja, dengan medium bervariasi. Bisa lewat blog, media social, YouTube, ataupun tatkala berjumpa langsung dengan komunitas di sekitar. Ketemu ibu-ibu arisan RT? Yuk, jangan sungkan buat tularkan semangat 4 Pilar! Bersua komunitas sosialita ala-ala? Nilai-nilai 4 Pilar sangat dahsyat untuk dijadikan bahan perbincangan. Ketimbang rumpi soal postingan Lambe Turah, lebih asyique membahas 4 Pilar kan?

Saya menggarisbawahi pesan yang disampaikan Sekjen MPR RI, Ma’ruf Cahyono, dalam forum #NgobrolBarengMPR yang dihelat Sabtu, 4 November lalu di Surabaya.

“Peran dan blogger netizen luar biasa dalam ikut serta menginformasikan kepada masyarakat, khususnya kegiatan MPR terkait Sosialisasi Empat Pilar. Sehingga ayo kita bekerja sama dalam upaya membangun kesadaran terhadap implementasi Pancasila, membangun kesadaran konstitusi UUD NRI 1945, bangun kesadaran semboyan Bhinneka Tunggal Ika dan demi berlangsungnya Negara Kesatuan RI,” ujar Maruf Cahyono.

Lebih lanjut, Maruf menghimbau generasi muda agar terlibat aktif dalam sosialisasi Empat Pilar. ”Generasi muda harus menjadi generasi yang mampu mempersatukan bangsa dan negara. Sejak tahun 1908,1928,1945 hingga era reformasi pada 1998 selalu melibatkan para pemuda.”

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Bagian Pusat Data dan Sistem Informasi (PDSI), Andrianto juga me-wanti-wanti netizen agar kian bijak dalam menyampaikan informasi dan cerdas dalam memanfaatkan teknologi informasi.

“Kita tidak bisa menangkal arus informasi yang begitu deras, tapi kita bisa membentengi diri lewat Empat Pilar. Yang penting antara pengetahuan dan literasi harus dilakukan. Konsep penebalan literasi sangat penting terkait dalam kehidupan bernegara,” kata Andrianto.

***

Intinya, TIDAK ADA YANG PERLU KITA TAKUTKAN DENGAN ADANYA KEBERAGAMAN. Yang kita butuhkan adalah Pondasi dan Pilar yang kuat. Di Indonesia saja, kita jumpai beragam hal yang berbeda. Selama nyala semangat 4 Pilar terus bersemayam dalam jiwa, maka… all is well. Mau bertemu hal-hal yang beda di negeri sendiri, maupun di benua nun jauh di sana, tak ada yang perlu kita khawatirkan.

Tak perlu ciut nyali dengan perbedaan. Tak perlu takut dengan keragaman. Dengan segenap kebanggaan yang meluap dalam dada, lantang saya teriakkan, “SUNGGUH BANGGA AKU JADI ORANG INDONESIA!”

 

Advertisements

8 comments

  1. Fajar Oktobriarto · 17 Days Ago

    Indonesia emang keren.. bisa menyatu walau beda2 yo mas

  2. kegagalau · 17 Days Ago

    Udah ke amrik aja ya mbak. Anyway, semakin kita berinteraksi dengan orang yang berbeda latar belakang, semakin kita tenang dan selalu berpikir positif dalam menjalani hidup. Istilah kurang piknik, mungkin adalah salah satu cibiran orang jamansekarang untuk orang yang selalu over curigaan. Curiga boleh, tapi kita pandai jaga diri itu penting daripada terus menghindar 🙂

  3. halonetizen · 17 Days Ago

    keren nih pengalaman hidupnya mba Nurul. Postingan yang sangat menarik, anak muda jaman now, wajib baca postingan ini nih!

  4. 082231399209 · 16 Days Ago

    huhuhu…Amriknya bikin mupeng…

  5. cK · 16 Days Ago

    Setuju. Tidak perlu takut dengan keberagaman. Aku malah heran dengan orang-orang yang takut banget dengan perbedaan ini. Padahal kalau mau melihat dari keseluruhan Indonesia aja, betap banyaknya keberagaman dan semua itu indah.

    Apalagi kalau melihat sampai ke luar Indonesia. Pasti akan takjub dengan hal-hal yang gak ada di Indonesia.

  6. Novi Rosita Rahmawati · 14 Days Ago

    Harusnya aku ikut ini dulu baru ikut tes CPNS biar nilai Tes Wawasan Kebangsaan semakin top markotop. 😀

  7. newhildaikka · 14 Days Ago

    Ya Allah sedih deh kalo orang terdekat bukannya mendukung 100% tapi sempet kontra dulu. Iya tau itu tanda sayang, tapi kok seolah-olah memojokkan dan kayak gak percaya gitu ya. Harusnya sih mendoakan yang terbaik gitu hehe.

    Lagipula kalo dalam hidup kita cuma bergaul dengan orang-orang ‘sealiran’ jelas cara pandang kita ya sempit. Di situlah keindahan traveling, untuk membuka lebar cara pandang kita.. tapi tetap teguh berprinsip intinya. Salut ama Mbak Nurul yang kuat iman! (y)

  8. Munasyaroh F. · 14 Days Ago

    Pengalaman ikut ke Amerika bikin mupeng, tapi kesederhanaan dan kemantapan imannya membuat rasa bangga dan salut luar biasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s