Kurangi Polusi = Tanda Cinta Lingkungan

Sudah sekitar setahun terakhir, tidak ada sepeda motor yang nangkring di rumah kami. Yep, saya memutuskan untuk meminjam-pakaikan motor buat dipakai kakak saya nggojek. Keputusan yang awalnya ditentang Sidqi. Karena kalau nggak ada motor yag stand by, trus kami kudu pergi ke minimarket atau ke manaaaa gitu, gimana dong?

“Ya jalan aja. Atau naik sepeda. Kan sehat. Mengurangi polusi pula,” sahut saya enteng.

Yap! Zonder sepeda motor, artinya saya ikut berkontribusi menjaga kelestarian lingkungan. Well, mungkin ‘porsi’-nya minimalis banget, karena toh faktanya masih buanyaaaaak kendaraan yang seliweran dan lalu lalang di sekitar kompleks kami.

(o iya, rumah mertua saya ada di pinggir jalan raya, so…. bayangkanlah betapa berisik dan heboh jumebohnya kendaraan yang lewat. Kadang saya susah tidur gegara suara-suara motor. Tapi lebih seringnya ya molorrrrr aja sih hahaha)

Biarpun terkesan nggak ada kontribusi apapun terhadap berkurangnya polusi udara, saya tetap yakin kok, small things means a lot. Gimanapun juga, budget beli bensin dan biaya maintenance motor jadi 0. Trus, kami juga jadi lebih sehat! Kalo dulu ke Indomaret yang cuma sepelemparan kolor 200 meter aja kami naik motor. Sekarang? Jalan dong!

Mau beli buah-buah di pasar berjarak 500 meter? Jalan kaki dong.

Sidqi mau sekolah di SD-nya yang berjarang 800 meter? Naik sepeda lah ya.

***

Mengajarkan cinta lingkungan memang gampil-gampil susah. Kayaknya buanyaaak hal-hal di sekitar kita yang menjerumuskan siapa saja untuk berkontribusi merusak bumi. Bahan-bahan semacam plastik yang sulit terurai, atau material yang bakalan jadi “racun” buat alam sekitar… hmm, udah nggak kehitung lagi deh.

Tapi yang namanya manusia kan emang diciptakan dengan otak dan hati. Jangan terus-menerus menghitung segalanya dengan otak. Terutama para pedagang kuliner tuh.

“Wah, kita kalau mau untung banyak ya harus pakai bungkus stereofoam. Kalau pakai kardus jatuhnya mahal, ntar malah tekor…” gitu deh, beberapa excuse yang sering saya temui.

Yah gimana yaaaa… di satu sisi kita pengin banget mereduksi jumlah sampah plastik atau stereofoam….. tapi keberadaan para bakul sepertinya membuat cita-cita mulia itu sulit tercapai.

Well… kata kuncinya adalah: Berusahalah sekuat yang kita bisa!

Kalau selama ini, ortu udah menjalankan peran dengan mendidik anak cinta lingkungan… kurangi polusi…. sedapat mungkin menghindarkan dari material sampah yang sulit terurai…. sepertinya, generasi mendatang (semoga) bakal lebih baik kesadarannya daripada generasi masa kini.

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s