Cara Mencegah dan Mengobati Pikun (Demensia Alzheimer)

“Lha, ini tadi aku sholat udah rokaat berapa ya?”

“Waduh, kayaknya tadi aku naruh kunci motor di laci, deh. Kenapa ini ada di atas mesin cuci?”

“Errr, kayaknya nggak asing sama wajah itu. Tapiiii siapa ya? Mosok tetangga belakang rumah sih?”

Familiar dengan kalimat barusan? Kalau sehari-hari kita kerap mengalami kejadian yang berkaitan dengan “lupa” (dalam taraf tidak semestinya), maka berhati-hatilah! Karena boleh jadi ada gejala Demensia Alzheimer yang menimpa diri kita.

Demensia Alzheimer ini dulu identik dengan kaum lansia. Tapi, belakangan ini, banyak ditemukan kasus orang muda yang juga terjerat penyakit ini. Kok bisa? Yap, gaya hidup kerap dituding sebagai penyebabnya. So, coba tanyakan diri sendiri. Apakah ada sejumlah gejala seperti ini?

Lupa waktu, lupa tempat

Menarik diri dari pergaulan

Perubahan perilaku kepribadian

Kesulitan memahami psiko-sosial

Kesulitan focus (padahal tidak ada apa-apa)

Kesulitan berbicara/ gangguan komunikasi

Menaruh barang tidak pada tempatnya

Duh, jadi inget film Still Alice, nih. Still Alice mengisahkan sosok Dr. Alice Hawland, seoarang psikolog kognitif sekaligus ahli linguistik terkemuka.  Di luar karirnya yang sangat bagus, kehidupan rumah tangga Alice pun terlihat bahagia.

Sayangnya, kehidupan yang sudah nyaris sempurna ini harus berubah total ketika Alice dinyatakan menderita  alzheimer. Alice seharian mengobrak-abrik rumah dan kantor hanya untuk mencari charger ponselnya. Dan ternyata charger ponsel itu ia temukan di soket samping tempat tidurnya.

Banyak adegan yang bikin terharu. Di antaranya, saat Alice lari pagi, tiba-tiba saja ia lupa arah pulang. Alhasil, berjam-jam dirinya hanya berputar-putar di taman. Bahkan, ia pun lupa di mana letak toilet di rumahnya sendiri. Belum lagi, saat Alice harus memberikan tanda stabilo pada teks pidatonya supaya dia tidak lupa batas kalimat yang sudah ia utarakan. Alice harus berjuang keras karena mengalami degradasi kinerja otak.

Alice harus berjuang keras untuk bisa menerima perubahan hidup baik dalam menjalani karir ataupun hubungan keluarganya. Beruntung sekali keluarga  selalu mendampingi dan memberikan dukungan Alice.

Minggu, 20 September lalu, saya mengikuti Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia yang digelar secara online di Zoom dan live Youtube. Festival ini merupakan bagian dari program kampanye edukatif #ObatiPikun.  Festival yang diadakan Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf (Perdossi) dan PT Eisai Indonesia (PTEI) dibuka oleh Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Kementerian Kesehatan (Kemenkes)  dr. Siti Khalimah, Sp.KJ, MARS

Demensia adalah suatu sindrom gangguan penurunan fungsi otak yang dapat mempengaruhi fungsi kognitif, emosi, daya ingat, perilaku, dan kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Masyarakat kerap kali menyebut kondisi tersebut sebagai pikun. Pikun sering dianggap sebagai hal normal yang dialami oleh lansia, sehingga seringkali penyakit tersebut tidak terdeteksi.

Padahal berdasarkan data dari Alzheimer’s Disease International dan WHO, terdapat lebih dari 50 juta orang di dunia mengalami demensia dengan hampir 10 juta kasus baru setiap tahunnya. Dari banyaknya kasus tersebut, alzheimer menyumbang 60-70% kasus.

Cara Pencegahan Pikun

Supaya nggak terbelenggu dalam sindroma pikun alias Demensia, ada beberapa cara yang bisa kita lakukan

(1). Menjaga kondisi tubuh

(2). Gerak, olahraga dan tetap produktif

(3). Konsumsi sayur, buah, makanan bergizi

(4). Stimulasi Otak, seperti bermusik, membaca dan ngeblog

(5). Sosialisasi. Ketika pandemic seperti saat ini, kita tetap bisa besosialisasi secara online.

Dalam kesempatan itu pula, peserta juga diperkenalkan pada sebuah aplikasi deteksi dini demensia alzheimer bernama aplikasi E-Memory Screening (EMS).

“Melalui Aplikasi EMS ini kami berharap semakin banyak masyarakat yang mengetahui gejala awal Demensia Alzheimer dan juga bagaimana penanganannya,” jelas dr Pukovisa Prawiroharjo Sp.S(K).

Yuk, mari Bersama-sama kita cegah dan atasi Demensia Alzheimer!(*)

39 thoughts on “Cara Mencegah dan Mengobati Pikun (Demensia Alzheimer)

  1. Nurul Sufitri says:

    Jangankan lansia kayak orangtuaku yang suka lupa. AKu ini justru kadang kelupaan kalau naruh barang yang dibereskan di lemari hahaha 🙂 Payah deh rasanya tiap berbenah eh lupa barang di mana. Kalau orangtua yang lansia sepertinya rata2 memang mulai dementia / pikun ya mbak? ALhamdulillaah dengan pola makan, gaya hidup dan olahraga mama papaku ga pikun2 amat alhamdulillaah. TFS.

  2. Rui Akaruicha says:

    Ngeblog jadi salah satu cara agar tetap kreatif biar nggak gampang lupa ya.

    Saya jadi penasaran sama film Still Alice deh. Jadi pengen banget nonton dan meljhat langsung apa yang terjadi pada penderita Alzheimer.

  3. Lia Yuliani says:

    Nah, iya saya pun kadang lupa nyimpen barang-barang kaya kunci gitu. Perlu waspada juga ya kadang kehilangan fokus soalnya. Jadi penasaran sama aplikasi EMSnya, Mbak.

  4. Mia Yunita says:

    Iya ya, di usia yg belum lanjut pun kadang udah pelupa. Saya kadang suka lupa, biasanya di waktu Isya. Maksudnya, sbenernya udah shalat Isya tuh eh pas sekitar 2-3 jam setelahnya malah mau shalat lg. Haha…

  5. Ada Resensi says:

    Salah satu alasanku tetap menulis ya itu, Mbak. Upaya mencegah demensia. Alhamdulillah, genre nulisku random. Bosan nulis ini, pindah nulis itu. Bosan,pindah lagi.

    Tapi iya sih, banyak yang mesti diperbaiki.

  6. annienugraha says:

    Saya pernah juga menghadiri seminar yang membahas mengenai Dimensia Alzheimer beberapa tahun yang lalu. Saat itu bareng teman-teman golden age (hihihihi). Kita merasa penting karena sudah berada di usia setengah abad.

    Dari seminar itu poin terpenting untuk menghindar dari penyakit ini adalah terus melatih otak. Misalnya dengan membaca, menulis, mengerjakan art, dibantu dengan nutrisi yang pas untuk mendukung kemapanan otak.

    Jadi ketika membaca artikel ini ilmu tentang DA pun bertambah.

  7. Rizka Edmanda says:

    Kapan hari pernah nonton video yang menyentuh banget soal alzheimer. Ada ibu yang sampai lupa sama anaknya karena penyakit ini. Jadi harus ektrsa penjagaan. Semoga ortu kita sehat semua ya

  8. andyhardiyanti says:

    Kalau ngomongin alzheimer gini tuh, saya langsung ingat film Korea berjudul A Moment To Remember. Soalnya saya pertama kali mendengar istilah Alzheimer ya dari sana. Dan emang semengerikan itu yaa, gimana si pemeran utama wanita di situ mengalami Alzheimer dan jadi gak bisa melakukan apapun.

  9. niaharyanto says:

    Duh aku jadi keingetan sama sifat pelupaku. Udah jadi sering nih lupanya. Takut nih kalo jadi Alzheimer. Kudu banyak stimulasi dan praktekkan tips dari Mbak Nurul deh ih.

  10. HM Zwan says:

    Ikut webinar ini jadi tambah pengetahuan ya mbk. Aku pernah lihat drama Korea yang ibunya kena Alzheimer, huhu sefih banget karena pelan pelan nggak mengenal orang terdekat

  11. ndiievania says:

    alzheimer ini ga main2 yaa.. jadi kasihan sama keluarga yang nemenin, karena kan ada jg yang sampe ga dikenalin.
    btw aku baru tahu kalau selalu aktif dan produktif bisa mencegah kepikunan ya?

  12. Eryvia Maronie says:

    Saya pernah baca, salah satu cara mencegah pikun adalah menulis menggunakan tangan.
    Jadi otak dan otot bekerja. terutama motorik halus terstimulasi.
    Sementara sekarang ini sepertinya sudah jarang yang menulis tangan karena era digital, mengetik di laptop atau di hp.

    Semoga kita terhindar dari penyakit pikun deh ah.
    Menua dengan tetap sehat. Aamiiin…

  13. Mugniar says:

    Nah, saya pun pernah baca artikel yang menceritakan profesor – seorang laki-laki, tiba-tiba mengalamai demensia saat sedang mengajar, Mbak …. padahal kan kalo dipikir dosen, doktor itu kan otaknya terlatih berpikir kan ya tapi masih saja bisa kena.

    Semoga kita terhindar dari kepikunan ya

  14. Erin says:

    Aku juga suka khawatir terkena Alzheimers karena kadang suka lupa naruh barang. Sempat cari kacamata, padahal mah lagi dipakai. Duh, serem juga kalau menderita penyakit demensia. Pola hidup sehat memang harus dijalankan ya, mba.

  15. nurulsufitriblog says:

    Wah, kepikunan ternyata bisa dikendalikan ya. Gaya hidup sehat, pola makan benar dan teratur juga olah raga yang disesuaikan adalah cara2nya 😘😘 Kita gemar menulis juga menjadi salah satu terapi biar ga pikun ya mbak hehehe…

  16. halochichie says:

    Kuncinya memang di pola hidup dan makan sehat ya mbak, karena ini bisa kita kendalikan. Mamahku semenjak pensiun menyibukan diri di rumah dengan melakukan kegiatan yang dia sukai, ini untuk menghindari dia cepat pikun katanya.

  17. Helena says:

    That’s why aku menulis blog, sampai tua insya Allah bakal begini terus, supaya enggak pikun!
    eh mengisi TTS termasuk mencegah pikun, gak?

  18. aswindautari says:

    Jujur nih gejala diatas kadang pernah mengalami. Hampir semua. Hihi.

    Tp diimbangi dg makan bergizi, dampingin anak belajar, ngeblog, baca buku dsb sy jd tidak merasa pikun. Seisi rumah malah sll nanya tanggal sm sy. Duh.

    Padahal bneran deh kalo masalah ingatan ttg jalan sy itu parah banget. Huft

  19. niaharyanto says:

    Ngomongin Demensia dan Alzheimer, aku suka parno sendiri. Abisnya aku pelupa orangnya. Tapi ternyata pelupa beda ya. Pelupa itu lebih ke kurang fokus atau kurang konsentrasi saat mengingat atau me-recall. Tapi tetep ya, kayaknya kudu banyak stimulasi. Biar pelupanya gak parah. Btw, kepengen tahu lebih jauh deh aplikasinya

  20. AdrianaDian says:

    Udah mulai khawatir ngeliat orangtua berusia lanjut, takutnya terkena dimensia.. Alhamdulillah papa walaupun udah pensiun tapi masih ada kegiatan RW, inshaaAllah bisa jadi kegiatan yang menstimulasi otaknyaa.. aamiin..

    • Sapti nurul hidayati says:

      Wah, aku juga kadang suka lupa naruh barang nih…huhu..tenyata bisa seperti itu ya, efek demensia. Harus dicegah dengan pola hidup sehat dan rajin ngeblog ini. Pencegahan yang bikin produktif nulis..hihi…mksh mb, sharingnya. Bermanfaat.

  21. AndiMirati says:

    ternyata banyak cara yg bisa kita lakukan sedini mungkin supaya bisa mencegah alzheimer.. yg paling mudah adalah menjaga pola makan dan rajin lakukan aktivitas stimulasi otak..

  22. sarwono0 says:

    sama kayak aku sering lupa naruh barang dimana padahal baru 10 menitan. apalagi soal pulpen gak pernah habis tapi ngilang gak tau dimana. kalau gak dicari baru ketemu.
    terimakasih kak artikelnya sangat membantu tugas kuliah saya. sukses terus dan ditunggu artikel selanjutnya
    perkenalkan nama saya Sarwono dari ISB Atma Luhur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s