Anger Management dan Investasi Dunia Akherat

Life’s challenges are not supposed to paralyze youtheyre supposed to help you discover who you are.” (Bernice J. Reagon).

Siapa yang setuju dengan quote barusan? Well, kayaknya kita semua bakal ngerasa related ya. Karena pandemic corona ini efeknya menyerang SETIAP MANUSIA di kolong langit. Walaupun nggak kejangkit virusnya, tapi yang pasti jiwa raga kita terdampak. Jadi rada blangsak gitu lah, gampil ke-trigger, emosi jiwa meledak membahana, padahal hanya karena peristiwa yang (kalau dalam kondisi normal) sebenarnya biasa-biasa aja.

Contoh keciiil, aja. Siapa di sini ortu yang auto mengaum manakala anak ogah ikutan kelas online? Atau, nyap-nyap ala mercon bantingan, manakala si bocah mengaku lagi lelah dan menunda mengerjakan tugas dari guru? Wkwkwk. Kayaknya banyak nih, teman eikeh 😀

Entah karena bosan bukan kepalang, atau lantaran ga tau “ini gimana sih ujungnya si pandemic corona”, intinya sisi emosional kita jadi mudah terpantik. Wait, wait, KITA? Lo aja kali? Udahlaahh, jangan denial yaa, Bapak, Ibu, sodara-sodara sekalian. 😆 Akui sajalah, bahwa memang kita jadi lebih gampang marah/stress/frustrasi di musim pagebluk ini.

Karena itulah, Ketika blogger favorit sejuta umat, creameno mengajukan pertanyaan “Ceritakan dua hal yang ingin teman-teman improve dari diri teman-teman”, maka aku mencoba berkontemplasi, dan hadirlah artikel ini.

(1). Mempraktikkan Anger Management dengan Lebih Baik

Manajemen kemarahan? Yap, ternyata, rasa marah itu (seharusnya) bisa di-manage. Sebenarnya marah itu apa sih? Marah adalah emosi atau sesuatu hal yang wajar,  manusiawi dan bisa terjadi pada siapa saja.

Namun, kita semua juga paham, ketika api amarah meledak meronta-ronta dan tidak terkendali, bisa menimbulkan impact yang mengerikan. Bahkan bisa menghancurkan kredibilitas diri, dan menyakiti orang-orang di sekitar kita.

Entah bagaimana awalnya, saya harus mengakui kalo “Emak Sumbu Pendek” adalah nama tengah saya 🤪. Eits, bukannya nggak berusaha buat menekan gejolak emosi jiwa membahana badai lho. Selama sekian tahun, saya bergelut di Lembaga Filantropi berbasis Surabaya, dan mendapatkan aneka siraman rohani yang (saya anggap) cukup berkontribusi untuk meredakan nafsu amarah.

Saya (udah jelas yg jilbab abu2 😀) bareng teman-teman usai wawancara dengan Syekh Ali Jabeer (thn 2013)

Alhamdulillah, pelan tapi pasti, saya jadi sosok yang lumayan tenang dan agak penyabar (maaf kalau terdengar self-claimed wkwkw).

Selain aktif menyimak ceramah pemuka agama, saya juga rutin datang ke seminar parenting. Bagaimana menjadi Ibu yang lebih baik, lebih berkualitas, dan lebih sabar, tentu saja. Di sebuah seminar parenting, , saya bersua dengan psikolog baik hati nggak ada obat, mbak Anna Surti Ariani (yang nama panggilannya ‘Nina’ 😀 ) After lunch break, saya mendekati Mbak Nina, minta izin buat wawancara sebentar tentang anger management buat orang tua. Yes, saya ingin banget memperdalam khazanah seputar apa dan bagaimana mengelola marah yang baik dan benar. Apalagi, orang tua (terutama Ibu) mulutnya kan mujarab banget! Kata-kata apapun (entah itu baik atau buruk) yang disematkan pada anak, ibarat doa, yang bisa berdampak entah kini, ataupun nanti.

Penasaran bagaimana advise mba Nina? Silakan cuss ke video ini, ya.

Nah, begitulah. Semogaaaa di tahun 2021 ini, kita semua bisa semakin memperbaiki kualitas diri sebagai orang tua. Memang banyak aspek yang harus dibenahi, tapi mulai dari satu hal yang (menurut saya) amat krusial: Mengelola kemarahan. Tips ala mbak Nina di video ini, insyaALLAH bisa kita praktikkan 👌.

Marah itu butuh energi, dan alangkah baiknya, apabila energi yang kita pakai Ketika marah, dikelola sedemikian rupa, dan menghasilkan output yang amazing!

Ini cerita kemarahan seorang Ibu yang bolak-balik ngendon di benak saya.

Sudais kecil dikenal sebagai sosok yang sangat nakal. Karena ulah dan perangainya, ia sering membuat geram ibunya. Tapi, sang ibu tak pernah melontarkan kata-kata buruk. Bahkan, saat memarahi Sudais akibat  kenakalannya, ibunya justru melantunkan doa.

Suatu ketika, Sudais sedang bermain pasir di depan rumah. Saat itu, ayah dan ibunya sedang kedatangan tamu penting. Ibunya menyiapkan hidangan kambing untuk disantap sang tamu. Saat masakan telah siap dan dihidangkan, Sudais kecil berulah. Ia dengan polos, menaburi sajian kambing dari ibunya dengan pasir. Sontak, kejadian ini membuat ibunya marah. Tapi, sungguh, hanya kata-kata kebaikan yang meluncur dari  lisannya. “Pergilah, semoga Allah menjadikanmu imam Masjidil Haram,” kata ibunya.

Dan, benarlah doa orang tua itu mustajab. Sudais yang dikenal nakal masa kecilnya kini menjadi imam besar Masjidil Haram. Suaranya didengar bukan hanya di Makkah, melainkan di seluruh dunia.

Tak terlintas dalam hati sang ibu, bagaimana mungkin anak yang nakal dan malas belajar bisa menjadi seorang imam Masjidil Haram? Namun, perkataan seorang Muslim adalah doa. Apalagi, doa orang tua untuk  anaknya.

sumber: Republika online

Gimana? Mak clekiittt banget yhaaa. Kisah yang sangat inspiring, tapi yo ngalaahh susah banget buat dilakoni 😭 It’s okay, Bund. Bismillah, yuk sama-sama kita berusaha yaaa.

(2). Semangat Investasi Dunia Akherat

Lagi-lagi saya mau ambil contoh Han Ji Pyeong (HJP), boleh yhaa, wkwkw. Sebagaimana yang kita ketahui bersama, tokoh fiktif di Drakor Start Up ini berhasil menggedor-gedor hati netizen. Kok bisa? Yap, selain lesung pipi dan wajah gantengnya, kontribusi yang HJP berikan, memang sungguh bikin kalbu meronta-ronta!

Doi dengan senang hati berbagi ilmu seputar dunia investasi, tentang serba-serbi usaha rintisan, manajemen keuangan, saham, dll. Selain itu, di episode akhir Start Up, dikisahkan bahwa HJP juga melakukan pendanaan/investasi sosial senilai Ratusan Juta won, untuk Start Up yang memberdayakan anak-anak yatim piatu. Wahh, beneran nih HJP udah mempraktikkan dua metode untuk mendapatkan pahala jariyah:

(a). Membagikan ilmu yang bermanfaat

(b). Sedekah jariyah

Saya tahu, HJP ini fiktif 😉. Tapi, nggak ada salahnya kan, kita meng-ATM-isasi (Amati, Tiru, Modifikasi) hal-hal baik yang doi lakukan?

Apalagi, tidak lama lagi, bulan suci Ramadhan yang umat muslim nantikan segera datang. Maka, semangat untuk menambah ilmu investasi –dunia dan akherat— menggelora dalam jiwa. 🙏

Tentu, mengalokasikan sumber dana dan daya untuk kehidupan duniawi di masa kini dan masa datang, kudu dilakukan. Saya juga belajar banyak dari akun-akun financial planner di IG, juga dari blog Diskartes, DaniRachmat dan Windiland.

Yang tak boleh lupa, saya juga kudu improve aneka ilmu untuk melakoni investasi demi kampung akherat yang abadi. HJP sudah memberi teladan, bahwa kita kudu semangat membantu dan menebar ilmu bermanfaat. HJP sukses investasi saham, tapi ia juga mengusung kredo “Pay It Forward” alias meneruskan kebaikan-kebaikan, sebagaimana yang Halmeoni sarankan untuk ia. Dan, aku baru baca berita kalo Kim Seon Ho (aktor pemeran HJP) mendonasikan 1,2 Milliar untuk penderita leukimia! DAEBAAAKKK!

Semangat Pay It Forward juga udah diterapkan mbak Eno, yang membantu Asistennya untuk mengelola keuangan secara lebih baik. Konten seputar strategi bisnis buat pegiat UMKM, juga kerap muncul dalam beberapa postingan. Alhamdulilah, saya bersyukur punya banyaaakk role model yang bisa jadi suri tauladan untuk terus berbuat baik. Semoga di tahun 2021 kita semua bisa melakukan improvement, untuk menjadi manusia yang bermanfaat buat sesama.

Nggak perlu improve yang maklhaaaarrr, sekadar “kemenangan-kemenangan kecil”-pun tidak jadi soal. Selamat berbahagia dan semoga keberkahan menaungi hidup kita, yeayyy!👌👍😀💪

102 thoughts on “Anger Management dan Investasi Dunia Akherat

  1. fanny_dcatqueen says:

    Hai mba, loveeee sekali dengan tulisannya. Apalagi sangat relate dengan yg aku rasain utk poin pertama . Anger management itu bener2 perlu aku pelajari, trutama kalo menyangkut anak2 :(. Terlalu sering meledak emosi, tapi setelahnya aku nyeseeel udah marah2 segitunya, walopun kemudian terulang lagi dan lagi :(. Aku sampe kepikiran apa sebaiknya manggil guru les yg bisa lebih sabar mengajari anak2 yaaa.

    Tapi sepertinya, aku juga hrs niat kuat utk bisa berubah. Cara2 yang mba lakuin, bisa banget jadi referensi untuk pembaca yang mengalami hal yg sama.

    Tx untuk semua insight nya mba 🙂

    • niaharyanto says:

      Huhu sama banget. Aku juga nih, anger menagement masih payah. Apalagi di masa pandemi dan PJJ-nya. Kudu belajar banyaaak 😦

  2. Heyraneey.com says:

    MasyaAllah rani setuju banget. Anger management, bener-bener dibutuhkan. Rani yang menemani dan membimbing adik kelas online saja kadang ada rasa gedegnya kalau lama paham haahha. Namun, selalu ingat juga manajemen emosi. Namanya juga anak-anak, kemampuan mereka berbeda-beda. Apalagi misal ada barang rani yang dirusakin adik, tarik napas hembuskan. Berusaha tenang dan ga marah-marah, disitu reaksi yang sangat dinanti. Rani selalu ingat untuk apa marah-marah, selama bisa manajemen kemarahan, tenang, hasilnya akan lebih baik. Tulisan yang relateee bgt Mbak

    • Irma Firdawanti says:

      Mbaa bagus banget artikelnya buat emak emK sumbu pendek yang tiap ngajarin anak keluar tanduk kaya aku. Sulit ya mempraktikan anger management tapi memang harus dimulai dari kesadaran diri sendiri.

  3. CREAMENO says:

    Hi mba Nurul 😁

    Mengelola amarah memang susah susah gampang, apalagi kalau disulut setiap hari, bisa panas kepala hahahaha. Tapi mau nggak mau, suka nggak suka, kita perlu mengelolanya, karena itu demi kebaikan emosional kita pula. Which is, saya pun masih berusaha agar bisa jadi orang yang lebih sabar dalam segala aspek kehidupan 🙈

    Dan mengenai investasi, saya setuju, kalau bisa dilakukan balance, why not, hehehe, tapi kalaupun belum bisa, it’s okay, pelan-pelan saja, yang penting, prioritasnya tetap kita kerjakan. Semangat untuk mba Nurul, semoga bisa keep improving ya, mba. You are great, and you will always doing great in the future 😍 Terima kasih untuk insights-nya 🥳

  4. Rella Shaliha says:

    Hangat banget bacanya, Kak Nurul…
    Berbagi amal kebaikan lewat tulisan juga jadi jariyah buat banyak orang.

    Akuu ngacung yah, bagian jadi mamak macan yang suka mengaum-ngaum kala anak susah diajak kerjasama, hehe

  5. Lidya says:

    Banyak auman dong ya mbak hehehe. Namanya perubahan tiba-tiba termasuk buat anak kadang belum siap menerimanya ya saat harus sekolah online. Wah pernah ketemu dengan Syekh Ali Jabeer ternyata mbak.
    AKu tonton ah videonya pasti bermanfaat untuk mengatasi kemarahan

  6. Maria G Soemitro says:

    Tentang Manajemen kemarahan, sulitnya kerasa banget sama aku

    Tanpa bermaksud nyalahin ya, saya punya Ibu yang galak, galak banget, dan otomatis jadi role model
    Saya harus mati matian keluar dari role model tersebut

    • naniknara says:

      Iya, orang tua tentu pengen jadi role model yang baik bagi anak-anaknya. Namun disatu sisi orang tua ternyata dapat contoh yang tidak baik dari orang tuanya dulu. Dan perjuangannya berat banget

  7. Wiwied Widya says:

    Marah menghabiskan banyak energi? Bener banget, makanya aku bertekad untuk lebih rutin meditasi, mbak. Salah satu caraku buat menenangkan jiwa. Lumayan sih, hati lebih tenang. Soalnya aku tuh punya asma yang kalau emosinya naik turun, asmanya jadi gampang kambuh. Hehehe

  8. Efi Fitriyyah says:

    Aku ga percaya Mak Nurul dulunya suka gampang ngamuk. Beneran boong deh . Coba buktiin *eh ga usah ding*
    Kapan hari pernah wawancara Bang Maher, trus Syekh Ali Jaber. Asik ih. Ini mungkin reward dari anger managementmu ya, Mak

  9. Keke Naima says:

    Jadi ingat film berjudul Anger Management hehehe. Di saat pandemi ini, PJJ gak begitu menguras emosi saya. Karena anak-anak memang sudah terbiasa belajar. Tetapi, memang tetap aja kadang-kadang batin tuh berasa rapuh. Ada masanya di mana kesenggol dikit udha emosian. Harus terus dikelola juga selama pandmei ini

    • Keke Naima says:

      Duh, baru nyadar kalau komentar saya itu ada beberapa yang typo hihihi. Ya intinya kalau untuk saya tuh rasa marah juga harus dikelola. Soalnya pernah di posisi yang marah melulu. Bikin lelah lahir batin

  10. Siti Nurjanah says:

    Anger managemen, yakni melatih kesabaran dengan pengendalian diri lewat kecerdasan emosional juga mental. Cukup menarik ya..karena biasanya orang kalau marah suka tidak terkendali

    • Dhenok Hastuti says:

      moooom rikues dooong. video waktu mengaum 😂

      cakep tulisannya.. sukaaa.

      sepakat, kemampuan anger management harus dimiliki semua orang. biar hidup lbh damai ya. dan sepakat juga itu utk mengerem kemarahan dg tetap memilih kata2 positif spt ibu sudais. saya bukan muslim, tp juga meyakini setiap kata adalah doa. sayang kan ya.. krn ga bisa mengontrol kemarahan lalu omongannya jd ngawur.

  11. Mia Yunita says:

    Keren mbak artikelnya, jadi teringat masa-masa kerja wkwk. Duh anger managementku ancur deh. Mungkin kurang tausiyah wkwkwk. Semoga seiring waktu aku bisa pelan-pelan membenahi diri salah satunya rajin dengerin tausiyah & dialog dg orang yang kompeten ya.

  12. Nanik Nara says:

    Yes, manajemen kemarahan ini emang penting banget, apalagi buat emak-emak di masa sekarang ini. Marah karena suatu alasan boleh, asal jangan marah-marah

  13. Dwi Ananta says:

    Aku anaknya emosian jadi kalau bocah berulah cara paling masuk akal ya masuk kamar sampai tenang. Kalau enggak wah kasian si bocah hehehe…

    Apa cuma aku ya yang gak tertarik nonton Starup 🤣

    Amin! Semoga kita di tahun 2021 ini bisa improve menjadi lebih baik…

  14. niaharyanto says:

    Huhu reminder banget deh ini ke aku. Kudu bisa manage anger dengan baik. Soalnya nambah umur, kok malah makin gampang emosi terpancing. Huhu… dan iyes, investasi dunia akherat juga diingetin. Banyak PR banget nih aku. 😦

  15. annienugraha says:

    Melanjutkan uraian sangat apik yang Nurul sampaikan di atas, saya ingin menambahkan satu sudut pandang saat saya mengikuti pelatihan Anger Management sembari melakukan meditasi. Karena saat itu saya (sangat) membutuhkannya terkait dengan pekerjaan/posisi jabatan yang saya pegang di satu perusahaan.

    Dari pelatihan yang saya dapatkan itu, intinya adalah kembali kepada diri sendiri (niat, tujuan hidup dan keikhlasan). Banyak hal-hal kecil yang diajarkan untuk mengontrol emosi. Seperti berhitung hingga 20, duduk terus inhale dan exhale, berwudhu saja atau dilanjutkan dengan sholat, atau yang paling extrem adalah minum 1/2 obat tidur lalu lelapkan tubuh dan pikiran. Saat sudah melewati ini baru setelah itu masuk dalam dunia meditasi.

    Alhamdulillah dari latihan itu saya jadi lebih tenang dalam memimpin ribuan orang, dapat berpikir lebih logis dan obyektif serta tidak menjadikan dunia satu-satunya pegangan hidup.

    Aaahh panjang banget yak hahahahaha.

  16. fennibungsu says:

    Daku sering mendengar itu bahwa ucapan orangtua adalah doa, apalagi ucapan emaknya. Makanya sebisa mungkin jangan membuat orang tua kesal atau marah ya. Masukan penting buat saya saat nanti menjadi orangtua

  17. lianny says:

    Mengelola kemarahan itu bukan hal yang mudah, tapi asal kita punya tekad yg kuat untuk berusaha, pasti akan bisa ya, meskipun mungkin sedikit demi sedikit dulu, karena semua memang perlu waktu.
    Amin, semoga di th 2021 ini kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

  18. nurulfatkhani says:

    Anger management ini butuh proses yang cukup panjang. Saya rasakan sendiri, Mbak. Dulu waktu anak-anak suka berantem, ibunya malah ikutan ribut. Kalau sekarang, setelah belajar, belajar dan belajar terus, akhirnya lebih memilih melipir kalau anak-anak lagi ribut. Biarkan mereka melewati proses menyelesaikan masalah mereka sendiri.

  19. imaesha says:

    Masha Allah ngena banget nih, Mbaa. So far kalo anak saya berulah saya belum pernah (jangan sampai) melabeli anak dgn label tidak baik, bisa dicoba nih dgn mengatakan hal2 yg baik krna doa ibu itu mustajab yekaann..

  20. Nursini Rais says:

    “Pergilah, semoga Allah menjadikanmu imam Masjidil Haram,” kata ibunya.

    Masyaallah. Menilik kehebatan sang Ibu Sudais memanajemen emosinya, saya merasa berdosa kepada diri sendiri. Sebab semasa muda menghadapi anak saya yang belum senakal Sudais saja saya belum dikaruniaiNya kesabaran yang begitu mendalam.

    Ulasan yang bermanfaat. Terima kasih telah berbagi kebaikan melalui tulisan Mbak Rahma. Selamat malam.

  21. herva yulyanti says:

    Huhuhu susah banget mba buat bisa nahan nahan hahaha ni kayak malm ini daku merepet berapa kali abis anakku yg cilik berulah kucing kecil dilempar dari lantai 2 *kumenangis wkwkwk emamg betul mba kalau uda dpt siraham rohani tuh bawaannya adem tp kalau ga dpt wow hahaha

  22. Eni Martini says:

    Aku jadiingat film anger management yang pernah kutonton saat remaja dulu. Memang gak mudah menata emosi kita, teelebih dulu aku ada masalah dengan emosi. AlhaMdullilah, setelah menikah semakin stabil meski kadang meledak jika dipicu sikon yang ga nyaman.

  23. Uniek Kaswarganti says:

    Jleb banget itu mba contohnya yang Sudais. Jadi ngerasa selama ini kalau marah sama anak belum bisa kayak gitu. Semoga bisa ikut mempraktekkan anger management ini, menahannya dan mengkompensasikan energi yang kita punya lebih ke hal positif daripada marah-marah.

  24. Kurnia amelia says:

    Anger management itu penting banget sih dan jujur aja saya belum begitu baik menjalankannya. Btw aku juga kagum banget sama kang HJP di dunia nyata dia juga baik banget ya bisa menyumbang 1 miliar lebih duhh benar-benar menginspirasi banget deh.

  25. Idah Ceris says:

    Benar2 tertampar dengan postingannya mbak. Anger managementku yang masih sangat berantakan apalagi jika berhadapan dengan si kecil di rumah. Contoh Sudais bakalan saya tiru banget nih nantii. Salam buat Pak Han mbakk. Hahaha
    Terima kasih sudah menulis inii

  26. Nchie Hanie says:

    Hahhaaa..ngakak, kbyang deh kalo dirimu mengauuuuum, keknya semut, cicak di rumah pada ngummpet juga tuuh..
    Cuss ahh belajar terus Anger management, seruuu. Eike udah insyaaf, jadi sekarang udah kalem, sholehah ga pernah mengaum lagi. Sekali mengaum cuma lirikan mata ajaa hahaaa.

  27. Chela says:

    Aku nih yg masih suka emosi kalau ngadepin anak. Harus banyak belajar supaya gak sering ngomel-ngomel gak jelas.. Huhuhuhu.. Makasih sharingnya mbak.. Apalagi ada HJP yg bikin gagal move on dr start up 😂

  28. monicaang says:

    Tulisan yang bagus, terima kasih sudah berbagi ya, Mbak. Anger management ini susah-susah gampang, terutama yang berpembawaan meledak-ledak dan punya mood swing kayak saya. Butuh banyak latihan (banget), belum lagi hal-hal sepela yang kadang jadi pemicu dan sulit dihindari. Meditasi jadi salah satu cara saya untuk mengelola pikiran dan mengendalikan diri, juga menulis di jurnal. Tapi tetap saja, kadang masih suka lost control… hahaha.

  29. puspitaheni says:

    Mengelola emosi dan praktik komunikasi produktif ke anak itu PR buat saya. Dan IMHO perjalanan belajar seumur hidup ya karena ada kalanya kita sdg lelah, pusing, dan pengaruh ke tingkat kesabaran. Di saat2 begini harus cooling down nth dengar tausiyah atau baca2 lagi ttg mengelola emosi khususnya perasaaan marah

  30. Ulfah Wahyu says:

    Mengelola kemarahan membutuhkan latihan kalau menurut saya mbak. Berlatih menaham emosi secara bertahap, apalagi bagi para emak-emak yang harus membagi waktu untuk mengurus anak, rumah dan pekerjaan di luar rumah. Saya pribadi semakin bertambahnya usia jadi semakin legowo dalam menerima permasalahan.

    Terutama yang menyangkut masalah anak. Kalau dulu masih suka meledak2 kalau ada sesuatu yang gak sesuai harapan, tetapi setelah 2 anak beranjak remaja, saya lebih berusaha untuk meredam emosi. Seperti yang mbak nurul bilang, lebih baik memanfaatkan energi untuk yang lain, daripada untuk marah. Makasih sharingnya mbak.

  31. Aprillia Ekasari says:

    Thank you artikelnya mbak, relate banget sama kondisi skrng di mana emak2 dan anak tu ketemu 24 jam wkwkw
    Jd reminder juga nih utk lbh berhati2 ketika bicara sama anak, walaupun sedang marah sekalipun ya.
    Pastinya semua emak2 maunya anaknya kelak dewasa jd membanggakan seperti sosok Sudais

  32. Nunu Halimi says:

    Aishh, kayaknya ada yang terpapar second lead sydrome nih.hehe..
    Btw, ini insighful banget, alih-alih emosi ujungnya marah-marah ngabisin energi, kalau dikelola ternyata impact positif nya jauh lebih banyak

  33. Susi Susilawati says:

    Saya fikir dalam hidup itu ada time management ajaaaa ternyata anger management pun harus ya, cocok banget nih untuk ibu muda apalagi yang baru punya anak. Maklum, emosi kami sering terkoyak wkkkkkk

  34. Ucig says:

    Pandemik gini aku jadi sulit ngatur esmosiii mba. Pas mau haid terasa banget. Kayaknya duhh tersiksa nahan esmosiii haha. Makclekit cerita sudais ya mba. Harus belajar dari cerita ituuu. Doakan doakann selalu anak2
    Foto sama almarhum syeikh ya mba.. masya Allah

  35. Ade UFi says:

    anger management ya memang obatnya siraman rohani plus mau berubah. Atuh ya percuma ilmu banyak masuk dan siraman rohani bak diguyur hujan, tapi ga ada niat dr diri kita sendiri untuk berubah. bablas aja itu maaah.. xixixi.. btw, saya seneng deh dengan gaya tulisan Mba Nurul. Santai dan runut.Apalagi bagian han jipyong.. ga papa mba nulis berkali2.. hahaha.. kali nular baiknya bisa nyumbang 1,2M.. xixixi

  36. ophiziadah says:

    amiin…seru banget nih2 resolusinya mba…
    setuju klo anger harus bisa di manage…akupun emak2 sumbu pendek meski cinta cinta sama anak2 besarnya ga ketulungan hehehe…
    udah ikutan workshop juga ku mba utk anger management ini dan masih strugling utk terus bs memanage dg baik

  37. lendyagasshi says:

    Kudu banget ini memanage emosi.
    Gak hanya marah sih yaa…tapi ini yang damagenya parah.

    Semoga dengan pengendalian diri yang baik dan pengelolaan emosi serta tau cara “membuang sampah” yang baik, maka amarah ini relatif tidak destruktif, justru menjadi energi yang luar biasa.

  38. Suciarti Wahyuningtyas says:

    ih itu ada mantan aku, Pak Han ;))) tapi ya aku tuh belajar dari suamiku menahan amarah karena suamiku gak pernah marah jadi dari jaman pacaran pun aku selalu belajar gimana bisa menahan emosi kayak dia. Karena memang marah itu tak ada guna dan hanya menguras energi gak penting.

  39. Siska Dwyta says:

    Saya juga selalu ingat dengan kisah Sudais itu. Maa syaa Allaah sebagai orang tua terutama ibu memang kudu banget cerdas dalam mengelola kemarahan atau anger management . Dan ini memang masih PR banget buat saya.

  40. Dian E. Suryaman says:

    Aku mungkin termasuk yang santai kali ya ngadepin PJJ. Karena yang penting suasana di rumah tetap kondusif gituh.. Paling cuma ngingetin jam kelas online ..tugas udah dikumpulin/dikerjakan belum..sesekali cek WA bocah mana tahu ada info penting yang terskip ..

  41. astin astanti (@astinas) says:

    Masya Allah, Mbak. Aku pernah mendengar cerita Suadis ini dari ceramah seorang ustad. Itulah kenapa akupun mulai mempelajari kepribadian diri dimulai dari memahami fitrahnya kita sebagai manusia, watak sampai hal yang sebaiknyakeluar dari mulut seorang ibu.

    Ibu ini sumber atau awal menjadi apa si anak kelak. Secara sadar atau tidak, ibulah yang menjadikan anak ini masa depannya bagaimana. Makasih banyak ya Mbak sharingnya

  42. Dedew says:

    Artikelnya jleb banget say, aku juga mau memperbaiki dua hal yang kamu tulis, lebih sabar sebagai mamak hihi dan juga ingin berbuat baik lebih banyak lagi..bismillah..

  43. ira duniabiza says:

    Auto mikir hari ini udah mengaum berapa kali ya… Upsss… tapi belum banyak kok. Paling gemes aja.. hihi… #BelaDiri..

    Aniwei benar ya mba, penting banget buat manajemen kemarahan ini, dan yang lebih penting lagi itu poin nomor 2. Hari ini pas tambahan umur, dan yang paling kepikir itu ya soal investasi dunia akhirat ini.. Sudah sampai di mana, sudah sesiap apa… Ah banyak deh pokoknya..

  44. HM Zwan says:

    Setuju banget, kemenangan kemenangan kecil yang bikin kita bahagia harus disyukuri. Soal anger managemen, kadang kerasanya pas habis marah. Sering banget mbatin, capek juga ya marah, kok aku tadi segitu marahnya ya huhuhu..
    Semoga tahun ini menjadi pribadi yang lebih baik lagi..

  45. Dian says:

    ah penutupnya ngena banget mbak..
    kemenangan kemenangan kecil juga wajib disyukuri dan dirayakan ya mbak
    jadi kangen pengen ngobrol ngobrol sama mbak nurul

  46. Tatiek Purwanti says:

    Kisah tentang Imam As-Sudais memang melegenda ya, Mbak. Ibunya keren. Lha wong lagi marah kok malah doain yang baik2. Yups, anger management emang perlu bangeeet. Teruji sekali pada kondisi pandemi seperti ini.

    Eh, ada Mas Ji Pyeong. Bucin juga ternyata Mbak Nurul, haha. Setuju banget. Pada akhirnya Ji Pyeong juga berinvestasi untuk ‘akhirat’ setelah sebelumnya terlihat provit oriented banget, selektif banget dalam berinvestasi.
    Makasih remindernya 🙂

  47. Ruli retno says:

    Ya ampun speechless gimana bisa ada foto syekh ali jaber tau2 dibawahnya ada foto pak han, hahaha.. tapi aku sepakat bahwa anger management ini loh harus bener2 di pelahari dan diterapkan

    • Hani says:

      Sudah hampir setahun ini memang sih kebawa jadi setress juga sih. Jenuh dan bosan.
      Musti dipraktekkan bagaimana mengelola anger tersebut. Supaya engga lalu jadi sakit deh…

  48. Susi says:

    Akhir-akhir ini saa agak mudah marah karena si nomor 2 yang sulit belajar. Sampai susah payah menahan ucapan. Alhamdulillah sering berhasil. Baca ini jadi punya semangat lagi untuk lebih sabar.

  49. Diah Kusumastuti says:

    Cerita tentang Sudais kecil itu selalu teringat di benakku, Mbak. Dan mungkin juga di benak ibu-ibu muslimah lainnya, ya. Inspiratif sekali ceritanya, mengingatkan kita para ibu agar tetap berkata yang baik meskipun saat marah.
    Btw, Mbak Nurul nih bisaaa aja ya ngambil hal-hal positif dari HJP. Niceeee 😀

  50. Shafira Adlina says:

    Anger management memang investasi dunia akherat ya mbak..semoga aku bisa mengikuti langkahnya ibunda Suaid…jangan marah insyaAllah syurga ya

  51. Ugik Madyo says:

    Kayaknya memamng jadi gampang marah ya selama pandemi ini. Aku sadar diri kok Mbak. Masih belajar sabar terus nih. Semoga tahun ini bida tuntas belajar sabar.

  52. Mister Blangkon says:

    Baca postingan ini jadi mikir aku, Mbak. Mengelola kemarahan jadi isu yang perlu kuhandle juga, terutama hadapi anak-anak. Juga lingkugan sekitar yang menurutku kadang ga bisa dikompromi. Semua serbasalah jadi pengin muntab aja rasanya. Untuk investasi dunia, kudu mulai berbenah–apa yang bisa jadi aset dan modal kerja. Investasi akhirat lebih berat lagi, sejak sakit aku jadi absen ikut kegiatan komunitas. Jadi helpless, tapi semoga tetap hopeful. Makasih diingatkan.

  53. Jiah says:

    Rasanya emang perlu banget buat belajar Anger management. Pagebluk bikin aku gampang nyap-nyap gara-gara Bocah. Sebisa mungkin gak ngeluarin kata-kata jelek sih. Paling, makanya baca, dibaca dulu, kaya gitu

  54. Dedew says:

    Aku juga sering marah dan mengomel pada bocah tapi pas PJJ ini lebih selow soalnya tinggal di rumah saja cukup bikin stres nggak usah ditambah mamak nyap-nyap hihi

  55. Ghina Rahma says:

    wuih ikutan tantangannya mba eno nih, mantep ada video wawancarany juga nih.. Aku menenangkan diri biasanya nguras nih, hehe.. emang harusnya menanangkan diri dulu ya sebelum menghadapi anak..

  56. Anisa says:

    Duh, jadi malu sendiri karena sering lepas kontrol dan meledak-ledak amarah kepada anak karena sedang mumet kejar deadline atau lelah keliling cari nafkah.

  57. Gadis Sidiq says:

    Liat foto Han Jipyeong oppa jadi membayangkan gambar meme. Han Jipyeong versi belum menguasai anger management vs sudah menguasai anger management wkwkw.
    Tapi iya lo mbak Nurul, pagebluk sekarang emosi jadi nggak bener. Pakai nada keras sedikit aja kedengaran kayak omelan. Anger management penting banget emang ya. Demi kebahagiaan dan ketenangan hati.

  58. Alya Putri says:

    Waduuh Han Ji Pyeong ada di mana-mana nih, kisah drakor Startup memang inspirasi banget untuk bagi para start-up dan bisnis seperti Anger management dan investasi.

    Saya sendiri belum pernah nonton Start-up

  59. Sapti nurul hidayati says:

    Wah, bener bangett ..pandemi ini memang bikin menguras emosi jiwa. Saya sampai ikut kelas seft (self emotional freedom therapy) via zoom biar tenang jiwa raga..hihi…

  60. Sapti nurul hidayati says:

    Bener banget mbak…pandemi memang bikin emosi jiwa tidak terkendali. Saya sampai ikut kelas Self Emotional Freedom Therapy via zoom…biar tenang jiwa dan raga…

  61. tari says:

    kayaknya tengah 2021 bakal byk cobaan emosi lg nih. sdh enak2 sekolah dr rumah tau2 ada wacana anak masuk sekolah. anaknya senang, kitanya shock. hah, seragam, buku, antar-jemput, wkwk! bukannya bersyukur.
    sehat terus mbak, semoga ramadan ini kita sdh bebas dr covid, aamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s