Sabtu bersama Bapak; Happiness is Made Not Given

Ya ampuun, kok saya ngerasa 2021 ini kayak ngebuuutt gitu yak. Tau-tau udah akhir Februari aja. Time flies sooo fast!

Kalau ditanya, apa hal-hal membahagiakan yang saya dapatkan di bulan February? Huumm, banyaaakk! Makin ke sini, saya sepakat banget dengan filosofi “Bahagia itu Sederhana”. Juga, “Happiness is Made, Not Given.” Yep, SEMUA peristiwa dalam hidup itu pada dasarnya NETRAL. (Point of View) kita-lah yang menjadikan peristiwa itu Positif atau Negatif.

Lantaran sudah mbleneg/ bosen akut dengan semua negative vibes related to (yeah, you know) covid-19, ya sutralah… saya mencoba untuk SENANTIASA berupaya menggunakan point of view yang positive-vibes only.

Sooo… ini dia… TIGA HAL yang bikin February saya cerah ceria merona bagai ABG yang malu-malu bersirobok dengan gebetannya *haishhh! 😀

(1). HARTA KARUN BERUPA FOTO-FOTO MASA KECIL BERSAMA BAPAK

Bapak meninggal tatkala saya masih duduk di bangku kelas 4 SD. Rasanya seperti mimpi buruk yang sekonyong-konyong hadir. Sosok laki-laki gagah, sabar, jenaka yang saya sayang segenap jiwa, harus berucap selamat tinggal pada kami semua. Banyak yang bilang kepergian Bapak terlalu cepat, beliau masih usia 44 tahun saat itu. Berpulang tepat di 1 Syawal, membuat Lebaran kami terasa kelabu.

Setelah sekian purnama, tiba-tiba saya menemukan “harta karun” yaitu foto-foto Bersama Bapak. Masih tersimpan jelas dalam laci ingatan, Bapak yang mengarang puisi untuk saya bacakan Ketika Pengajian Umum bareng Dai Sejuta Umat, KH Zainudin MZ di Masjid Raya kompleks kami.

Bapak yang dengan sabarnya, membonceng Ibu, saya, dan kakak… dan kami berputar-putar mengelilingi Surabaya dengan riang gembira.

Bapak yang sekuat tenaga, mengajak kami mudik ke dua kota sekaligus, Pacitan (Jawa Timur) dan Temanggung (Jawa Tengah) saban Lebaran tiba.

Bapak yang mengenalkan buah kelengkeng, pisang molen, teh botol, biscuit mocca dan entah kenapa, saban menyaksikan entitas-entitas itu… tidak bisa tidak, PASTI saya akan membelinya. Mengunyahnya pelan-pelan, sembari merasakan bahwa Bapak ADA di sini. Di samping saya. Berkisah tentang aneka dongeng dan legenda.

Bapak…. I know you love me so much. Bangga sekali jadi putri Bapak. Walau kebersamaan kita di dunia nan fana ini tidak terlalu lama, semoga kita bisa reuni keluarga, nanti…. Kelak di alam yang berbeda.

(2). Kembali POSTING VIDEO DI YOUTUBE!

Beberapa waktu lalu, sebuah kabar duka muncul di timeline. Mas Yuyung Abdi, Maestro Fotografi Jurnalistik Republik ini berpulang ke Rahmatullah, setelah bertarung melawan corona. Saya pernah sekantor sama beliau di Jawa Pos, walaupun kami jarang berinteraksi (karena beda kompartemen) satu hal yang saya catat dari sosok mas Yuyung: Beliau pribadi yang super duper humble. Sangat ramah, perhatian, nggak ada sombong-sombongnya sama sekali padahal ilmu, wawasan, pengalaman beliau udah super duper cethar menggelegar.

Tatkala mendapat kabar berpulangnya Mas Yuyung, saya jadi teringat film “Sabtu Bersama Bapak”.

Teman-teman pernah nonton atau baca novel “Sabtu Bersama Bapak”?

Diceritakan kalau tokoh Bapak (yang diperankan Abhimana) tersengat kanker dan hidupnya diprediksi tidak akan lama. Supaya kedua putranya bisa tetap mengenang beliau, Sang Bapak merekam dirinya ketika sedang menyampaikan nasihat. Kemudian ia berpesan pada istrinya, agar sepeninggal beliau, tolong bikin acara Nobar (nonton bareng) bareng anak-anak setiap hari Sabtu. Jadilah, berbekal video-video tersebut, sang Bapak seolah-olah tetap “ada” di samping mereka.

Mas Yuyung ini fotografer, HARUSNYA banyaaak ya, foto-foto beliau dengan keluarga. Tapii… apakah keluarga beliau menyimpan VIDEO mas Yuyung? Karena, in my humble opinion, foto itu kan nggak ada audio-nya. Sementara video bisa menghantarkan kesan “ah, orang ini lagi ngobrol sama aku, nih.”

Saya pun mulai berpikir hal serupa. Memang detik ini, saya merasa sehat. Tapiii, bukankah kematian tidak melulu mensyaratkan sakit parah? Tokoh Bapak yang diperankan Abhimana itu berinisiatif bikin video, lantaran vonis “Umur pendek” yang ia terima. Nah, saya kan nggak tahu, kapan dan dengan cara apa saya berpulang?

Maka… saya berpikir, bagaimana caranya supaya Sidqi (anak saya) dan boleh jadi elemen keluarga/sahabat tetap merasakan keberadaan saya, walaupun kelak saya sudah tiada.

Jalan yang bisa saya ambil adalah: Upload video di Youtube!

Mulai Februari ini, saya mulai mengatur strategi, konten apa yang bakal saya upload. Well, ternyata men-deliver nasihat via video itu bukan perkara gampang, yha. Maka, sebagai “pemanasan”, ya sudahlah, saya upload saja beberapa video Ketika tengah berkelana ke Amerika 😀

Kalaupun suatu hari nanti saya ber-hasta la vista dengan bumi nan fana ini, at least saya sudah meninggalkan “warisan” berupa konten audio visual. Yeah, siapa tahu… Sidqi tetiba rindu suara dan cekikikan emaknya. Cukup dengan memutar YouTube, maka Sidqi bisa mengenang dan merasakan “keberadaan” Ibunda, Aahh, ternyata, bikin akun YouTube nggak perlu dilandasi niat monetize. Untuk merekam memori, itu sudah lebih dari cukup 🙂

Well, kayaknya, setelah ini, saya mau bikin video monolog, yang mengisahkan perasaan, nasihat, saran, celetukan, atau apapun itu, yang ingin saya ungkapkan pada Sidqi.

Anak saya kini beranjak remaja. Dan entah kenapa, challenging banget untuk menyampaikan nasihat kebaikan pada remaja yang hormonnya tengah bergejolak. Pikir punya pikir, ada baiknya saya pakai media yang ‘relatable’ dengan teenager. Kalau nggak bisa ngomong langsung, siapa tahu nasehat itu justru makin efektif tersampaikan lewat video YouTube?

(3). Mensyukuri 15 Tahun Perjalanan Rumah Tangga

MasyaAllah… Waktu benar-benar kayak lariiii gitu aja. Kayaknya baru kemarin deh, saya nikah sama pak suami, eh la dalah… ternyata sudah 15 tahun. LIMA BELAS TAHUN 😀 Usia makin tua, tantangan hidup makin bikin stok sabar harus digenjot, yaaa… apapun itu, Alhamdulillah, Segala Puji teralamatkan pada Sang Maha.

Sebenarnya, saya pengin banget memeringati Ultah Pernikahan ini dengan plesir ke Coconut Island wkwkw. Akan tetapi, karena virus corona masih bergentayangan di mana-mana, ya sutralahhh, kita tunda dulu rencana traveling ini.

Sebagai wujud syukur, saya pesan Nasi Kotak ke sahabat (sebut saja mba Anya) yang lagi ‘krisis karena deraan pandemi’. Kemudian, saya minta tolong untuk antarkan Nasi itu ke Panti Asuhan yang ada di dekat rumah.

Barangkali, orderan yang saya kasih ke mba Anya nominalnya tidak seberapa. Tapii, kita nggak pernah tahu, ‘tidak seberapa’ itu menurut kacamata siapa. Yang jelas, pandemic ini, sedapat mungkin, kita terus berempati dengan sesama. Order makanan ke tetangga/saudara/sahabat yang lagi ‘paceklik’, dan minta kirimkan makanan itu ke komunitas/ Panti Asuhan yang kondisinya juga masih butuh bantuan. Yeah, small things, but I hope it means a lot.

Begitulah kisah-kisah Februari saya yang bikin hati sumringah. Well, mixed feelings sih sebenarnya. Tapi, sekali lagi…. Happiness is Made, Not Given. Bahagia atau tidak, itu masalah pilihan dan bagaimana cara kita memandang sebuah peristiwa.

Selamat Menjalani Hari di 2021, dan selamat berbahagia. Karena kita semua berhak untuk bahagia.

Sabtu, 27 February 2021

Blogpost ini diikutsertakan dalam CR Challenge #2 by CREAMENO

Diramu dengan segenap cinta di Rungkut, Surabaya, ber-background rinai gerimis yang super menenangkan.

91 thoughts on “Sabtu bersama Bapak; Happiness is Made Not Given

  1. Ranger Kimi says:

    Aku nangis kejer, Mbak, nonton dan baca Sabtu Bersama Bapak. Dan, ah, keren Mbak bikin Youtube. Aku masih belum sanggup, selain karena malu, ya karena malas juga. Padahal boleh juga sih alasannya buat meninggalkan kenang-kenangan. Tapi, untuk saat ini kenang-kenanganku blog aja dulu deh

    • @nurulrahma says:

      Tadinya aku juga mualesss upload YT.
      Tapii gegara banyak berita kolegaku yg berpulang (di usia relatif muda) trus combined with cerita Sabtu bersama Bapak, ya akhirnya tercetus ide untuk maintain Youtube.

      Gapapa Kimi. Apapun jalan yg kita tempuh, ssmoga ttp semangat tebar kebaikan di kancah digital yak

      • malica ahmad says:

        Saya sepakat happiness ia maden, not given. Kadang kita terllau rumit memaknai bahagia ya mbak. Akhirnya kebahagiaan tidak hadir justru akan menghilang. Hihi

        Btw, lihat foto keluarga mbak jadi pengen foto juga nih

  2. Rudi G. Aswan says:

    Selalu kangen sama bapak ya, aku pun sering merindukan beliau. Dari foto itu Mbak Nurul ga banyak berubah ya wajahnya sampai tua eh dewasa. Kalau YouTube aku belum bisa konsisten, bingung mau isi apaan yang satu tema. Follower ga genap 100 hehe, yawes jadi penonton.
    Bulan ini aku nanonano, Mbak, mixed feeling kuwi, tapi ya biasa aja wes, banyak hal yg bisa disyukuri. Semongko!

  3. CREAMENO 🐰 says:

    Hi hi, mba Nurul, terima kasih sudah join CR Challenge, yayyyy! 😍

    As usual, baca cerita bahagia teman-teman membuat saya jadi senyam-senyum sendiri, termasuk ketika membaca cerita mba Nurul yang dimulai dengan penemuan harta karun berupa foto Bapak. Hehehe, saya sama seperti mba, sudah ditinggal Ayah saya, dan satu-satunya yang saya miliki sekarang hanya beberapa foto serta video yang sempat saya ambil sebelum Ayah saya meninggal. Kebetulan keluarga kami dari dulu nggak hobi foto, apalagi video, jadi saya nggak punya banyak dokumentasi related to Ayah. Since then, saya berjanji sama diri sendiri untuk lebih sering mendokumentasikan apapun termasuk keluarga, pasangan dan teman-teman selagi bisa, agar kelak, ketika mereka sudah nggak ada, bisa tetap saya kenang (nggak hanya di hati saja) 🙈

    Eniho, saya barusan klik salah satu video-nya, and it looks fun, mbaaa 😆 hihihi, within this comment sekalian mau kasih semangat untuk mba Nurul, semoga semakin sering upload Youtube agar semakin banyak kenangan yang bisa disimpan untuk nantinya diturunkan ke anak tercinta 🥳 Jadi penasaran mau lihat seperti apa video nasehat yang ingin mba beri untuk anak mba yang sudah menginjak usia remaja. Apapun itu, semoga lancar mbaaaaa 😍💕

    Dan selamat sudah menjalani biduk rumah tangga sampai 15 tahun lamanya 🥳 Bahagia dan langgeng selalu bersama pasangan tercinta hingga akhir hayat, dan semoga Corona cepat hilang agar mba Nurul soon bisa liburan ke Coconut Island 😆 huehehehe. Thank you sudah berbagi cerita, mbaaa. Mari tutup Februari dengan hati senang 😍

    • @nurulrahma says:

      Yeayyy, makasiii udah bikin challenge ini ya mba Eno😍 super excited buat ikutan. Udah ngedraft sejak kemaren. Tapi sengaja publish hari Sabtu. Biar related ama Sabtu bersama Bapak 😆

      Sehaattt selalu mba Eno. Supaya lebih banyak menebar bahagia buat semuaaaa😍😍😍

  4. Ihwan says:

    Ya Allah Mbak wajah sampean itu kayak nggak berubah lho sejak kecil sampai sekarang, aku langsung bisa mengenali kalo itu sampean.
    Cerita tentang almarhum Bapak bikin aku teringat almarhum Bapakku juga, aku aja yang ditinggal saat SMA sangat merasa kehilangan karena beliau kerja di Surabaya sehingga kami jarang bersama. Semoga kita semua nanti reuni bareng keluarga masing-masing di Surga Allah aamiin YRA.

    Yuk Mbak bikin video yg rajin, sampean itu kalau ngomong itu enak, bulat dan intonasinya jelas. Sayang kalo gift itu nggak dieksplorasi.

    Happy Anniversary ya Mbak, semoga bahagia dan langgeng selalu, aamiin.

  5. imaesha says:

    Semangat Mba buat video dokumentasinya, semoga istiqomah dan rajin ngonten. Hehe. Saya jd ingat kalo gak salah Ringgo dan Sabai juga pernah bikin channel youtube yg isi’y pesan2 utk anak pertamanya, Bjorka..

    Pengennya memang kita dampingi anak2 sampai dewasa, kita punya cucu dsb2 ya, Mba. Tapi ya namanya umur nggak ada yang tau. Hiks. Btw, Mba ditinggal Bapak sejak kelas 4 SD dan sampai skrg semua kenangan2 manis sama Bapak masih ingat ya Mba. Alfatihah semoga khusnul khotimah 😇

  6. Era Sapamama says:

    Artikel ini mengandung bawang. Peluk dari jauh mba…..
    Btw, saya kan baru saja membuat channel yputube Sapamama Bercerita. Salah satumotivasi saya agar bisa longlast. Orang yang saya cintai bisa selalu mendapat akses untuk mendengar cerita-cerita dari saya. Semoga makin sukses ya mba…

  7. astin astanti (@astinas) says:

    ‘tidak seberapa’ itu kadang menjadi sangat berarti untuk rejeki orang lain ya, Mbak

    Melow banget saya membaca artikelnya. Semoga hal-hal baik selalu di dekatku, baik itu melalui penglihatan secara tak langsung maupun secara langsung.

  8. Shyntako says:

    Duh mba kalo ngomongin papa, the best man in the world deh. Even kita udah segede ini aja tuh, kadang masih diperlakukan kaya princess yaa sama papa/ayah kita.

  9. rafahlevi says:

    Ahaha… aku sepakat bikin akun yutub gak perlu niat monotize, personal vlog buat dokumentasi pribadi pun tak masalah dan jadilah akun memorable kita yg bisa diakses kapan aja…

  10. Triani Retno says:

    Nah loh. Baru kemarin banget nih aku kepikiran, “Kalo ntar aku udah nggak ada, anak-anak bisa melihatku di Youtube….” Sekarang agak melo kalo kepikiran gitu.

    Btw, aku punya buku Sabtu Bersama Bapak, hadiah dari editorku. Bagus ceritanya :

  11. Dian Restu Agustina (@dianrestoe) says:

    Al Fatihah untuk Ayah tercinta ya Mbak Nurul.
    Happy Anniversary juga, semoga Sakinah Mawaddah Warahmah, sebumi dan sesurgaNya
    Btw, menarik banget idenya, bikin video buat dikenang anak cucu kita syukur-syukur bermanfaat bagi anak lainnya/sesama. Jadi teringat pada akun Youtube-ku yang mati suri…wah bisa diadopsi ini idenya

  12. annienugraha says:

    Pandemi membawa hikmah (juga) ya Nur. Banyak hal yang dulu terkubur karena kesibukan luar rumah, sekarang kita malah jadi punya waktu cukup untuk melakukan banyak hal dalam keterbatasan. Termasuk diantaranya menggali memori lama dan menuliskannya.

    Dan sekarang Covid-19 sudah ulang tahun di negara kita. SubhanAllah. Semua berjalan bagaikan mimpi. Pembuka tahun 20an yang mengajarkan banyak hal tentang hidup dan betapa berartinya makna kehidupan.

  13. Mia Yunita says:

    Jadi bingung mau komen apa nih… Soal kebahagiaan? Sederhana sih kalo dalam pikiran saya yaitu bisa kumpul bareng keluarga. Februari ini meski sempat mengalami kebanjiran tapi Alhamdulillah masih beruntung nggak ampe masuk rumah. Jadi dari kelebihan ini, mengingatkan kami sekeluarga untuk banyak bersyukur dan ikutan bantu para korban banjir lainnya.

  14. alaniadita says:

    Aku bacaa dan nonton sabtu bersama bapak.
    Sampai sekarang yang diinget tuh, dua orang itu harus sama sama kuat, bukan saling melengkapi. huhuhu.

    Setuju banget, waktu balapan terus.
    Kabar buruk kek yang bertubi tubi dateng.
    Emang udah masanya kita hidup ‘present’ yaa.
    Menikmati sepenuh hati apa yang terjadi hari ini.

    Karena, besok tuh abu abu banget akan jadi kaya apa.
    Huhuhu.

    Semangat terus ngontennya, Mbaaa Nuruul :’)
    Dan selamat 15 tahun pernikahan! Samaan nih annivnya sama superjunior. eh? XD
    Menua bahagia bersama yaa ^^

  15. Siti Nurjanah says:

    Kehilangan seseorang yang begitu berarti sangat menyesakan ya..
    Apalagi sosok ayah. Aku juga suka tuh film Sabtu bersama Bapak, tema keluarga yang diangkat punya pesan cukup kuat dimana sosok ayah yang tetap ingin mendampingi anaknya walaupun (dia)sudah enggak ada.

  16. Henny says:

    Terharu deh membaca kisah sabtu bersama Bapak nih. Oh, ternyata begitu kisahnya. Hm, pas ngelihat konten youtubenya jadi auto semangat nih buat konten juga. Semoga bisa istiqomah ke depannya. Auto subscribe langsung nih. Semoga semangatnya bisa nular juga.

  17. Iid Yanie says:

    Kenangan bersama Bapak memang gak terlupakan ya mba karena pasti banyak memori hepinya dibanding sedihnya, btw selalu suka liat gaya bercerita mba yang selalu riang, ngintip yutubnya juga sama riangnya 🙂

  18. Syamsiah says:

    Kenangan tentang Bapak. Jangankan setelah meninggal. Saat masih hidup aja kalau inget beliau, saya suka nangis kejer banget.
    Dulu saya ga mau disuruh bapak masuk pesantren, saya pilih sekolah negeri. Tapi ketika lulus kuliah, saya lebih tertarik dengan ilmu2 agama. Ternyata Bapak saya jauh lebih tau saya ketimbang diri saya sendiri. Andai saja saya dulu menuruti mau Bapak 😦
    Bapak lah orang pertama yang mengenalkan saya huruf hijaiyyah hingga akhirnya saya bisa khatam Quran saat masih kelas 5 SD. Bapaklah yang selalu mengingatkan untuk berwudlu sebelum keluar rumah. Bapaklah yang selalu mengingatkan kami untuk rutin membaca Quran setiap lepas shalat Magrib. Bapaklah yang membuat saya mencintai Quran dan selalu rindu untuk terus membacanya.

    Jadi penasaran pengen nonton film “Sabtu bersama Bapak”

  19. Heni says:

    Hmmm jadi merasa diingatkan nih. Pas kecil saya sering foto2 bareng orang tua. Sekarang ada DSLR kok malah lebih banyak motret produk daripada motret keluarga haha.

  20. Sri Al Hidayati 19 says:

    Wah ide bagus buat video nasihat seolah olah utk memberi nasihat pada anak. Tapi saya bukan tipe yang seneng ngomong, hehe.. lebih seneng nulis juga bisa tetep dinikmati ga ya hehe ^^ belum nonton Sabtu Bersam Bapak. Jadi pengen baca dan nonton filmnya nih

    • Sri Al Hidayati says:

      kebetulan sebulan lagi suami saya ulang tahun, jadi ingin dokumentasiin foto-foto dan dijadikan video, sama ingin satuin video hal-hal terkait pak suami saat memberi nasihat pada anak

  21. Zahra Madany says:

    Ah mba, aku selalu larut dengan tulisanmu. Di awal2 baca udah mrebes mili… Gak kebayang lagi lebaran ditinggal bapak yg sosoknys luar biasa. Foto itu lebih berharga dari apapun ya mba :’

    Happy anniversary. Wowo udha 15 tahun, aku baru 4 hihi masih seumur jagung. Selebrasinya masyaallah bikin inspirasi. Ga cuma bersedekah untuk anak2 di panti, tapi juga memberi peluang usaha untuk kerabat.

    Dan… Aku bener2 jadi bersemangat memulai Youtube. Niatnya untuk kebaikan, untuk anak2 nanti mengingat ibunya jika saya meninggal. Ya Allah… jadi sedih :’ makasih mba udah bikin hati dan mata saya hangat 🙂

  22. Sio Nona Lita says:

    Aku sedih juga baca ceritanya. inget bapakku. ortu yang tinggal satu ini emang selalu aku inget. apalagi ketika mengenang masa kecilku yang sering dilambung2kan keatas, bikin aku ketawa kalau udah mantul2 diudara.

    Doakan bapakku sehat selalu ya mba…

  23. lendyagasshi says:

    ((speechless))
    Kak Nurul memang selalu penuh cinta kalau menulis. Terlihat dari kata per-kata yang dituliskan dengan santun dan bikin pembaca merasakan apa yang kak Nurul ingin sampaikan.
    Semoga berbahagia selalu, kak.

    Barakallahu fiik~

    • Ulfah Wahyu says:

      Sungguh sebuah keinginan dan perbuatan yang sedeehana tapi mampu memberikan pesan mendalam bagi diri dan keluarga ya mbak Nurul. Tidak perlu melakukan hal yang besar, agar bisa memberikan kenangan indah, bahkan hanya dengan selembar foto, tulisan, berbagi nasi kotak dan membuat video sudah cukup memberikan pembelajaran yang bermakna buat keluarga. Sukses selalu ya mbak.

      • lendyagasshi says:

        Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu.
        Semoga Allah melapangkan kubur Ayahanda.

        Aku juga sudah ditinggal sama Bapak, kak.
        Memang rasanya separuh hatiku rontok gak karuan.
        Aku gak minat ngapa-ngapain sampai 6 bulan, waktu itu.

  24. Shyntako says:

    Bapak seharusnya jadi sosok yang kuat dan panutan di keluarga yaa mba, huhu terharu aku jadi inget gimana papaku tuh sampe sekarang aku udah jadi ibu anak satu aja masih perhatiannya kaya aku masih kecil loh huhu

    • Wahid Priyono says:

      Sama kak, betul, saya pun begitu, kasih sayang orang tua (ayah dan ibu) memang tidak bisa kita balas dengan harta dan apapun itu ya. Kasih sayang mereka sepanjang waktu…makainya kita harus berbakti kepada mereka, misalnya pas mereka mumpung masih bersama kita, rawat dan jagalah mereka dengan baik dan tulus tentunya…

  25. Prita Hw says:

    inna lillahi wa inna ilaihi rojiun, aku baru tau Mas Yuyung Abdi baru meninggal mbak.. MasyaaAllah membaca ini tuh jadi bahagia jugaaa, melakukan hal2 yg dulunya mungkin ga ada waktu. Dan juga ada pesan yg aku catat, bahwa menghadapi kematian adl. keniscayaan, dan memicu kita memanfaatkan waktu sebaik2nya. Sehat2 ya mbakk

  26. sunglow mama says:

    Wow, 15 tahun menikah. Amazing. Suka saya dengan konsep mengorder pesanan ke kenalan yang lagi butuh bantuan.

    Saya belum pernah nonton Sabtu Bersama Bapak, yang jelas membuat konten video memang harus perhatikan editingnya. Kalo gelundungan kaya vlog mungkin minim edit, tapi kalo ga bisa ribet hehe

  27. ainun says:

    novel sabtu bersama Bapak, sampe saat ini belum kebeli, padahal baca reviewnya bagussss
    dan filmnya juga nonton ga tuntas pula, hiks
    aku kaget mbak waktu temen post story soal Pak yuyung ini, soalnya aku dulu pernah ikut kelas fotografi jurnalistik waktu masih kuliah di Malang
    aku pikir semua pasti tau pak yuyung dan banyak disegani orang

  28. Lusi says:

    Yg paling kehilangan selama pandemi adalaj kebersamaan dh ortu. Udah setahun gak ketemu. Walaupun masih kirim uang & kadang mesenin gofood jarak jauh. Tapi gak sama dg ketemu. Semoga semua sehat, insya Allah ada kesempatan bertemu.

  29. winda - dajourneys.com says:

    saya selalu iri dengan mereka yang memiliki bapak yang baik, yang memiliki bapak yang siap sedia di samping kita di masa-masa pertama kita mencoba berbagai hal 😦 dulu waktu saya masih kecil, saya sering bertanya pada Tuhan, kenapa saya nggak di kasih bapak yang baik tapi seiring usia sudah bisa menerima hehee

  30. Marita Ningtyas says:

    Terharu beud memang film Sabtu Bersama Bapak. Buat saya yang nggak begitu dekat dengan sosok bapak jadi terharu biru, kangen… juga sedih karena banyak hal yang ingin saya lakukan bersama beliau, tapi belum terlaksana.

    Saya pun bikin video di YouTube awalnya untuk menyimpan video-video kenangan sama keluarga, nggak kepikiran buat monetisasi hehe. Lagian malah lebih santai, bebas-bebas aja, nggak mikir bagus enggaknya, yang penting kenangannya terjaga.

  31. indah nuria says:

    I have the book and I really enjoy the story for sure.. menyentuh sekali yaaa mba. And you are right. Happiness itu ngga jauh ke mana – mana lho.. ada di dalam diri dan sekitar kitaaa

  32. Rach Alida says:

    Nonton film Sabtu Bersama Bapak bikin terenyuh sedih. aku juga udah bac novelnya. Satu sisi aku pun berusaha merekam video video saat masih bersama keluarga dan upload ke youtube

  33. Kurnia amelia says:

    Film sabtu bersama bapak ini dari dulu aku pengen banget nonton tapi masih belum juga katanya bagus banget itu ditonton untuk para orang tua dan katanya penuh air mata juga ya. Semoga bisa nonton Sabtu Bersama Bapak.

  34. Shyntako says:

    Sabtu bersama Bapak memang sukses bikin cirambay kalo kata orag Sunda mah, huhuhhuhu, mewek plus inget gimana bokap sayang and jagain aku walopun sudah jadi emak-emak pun

  35. Nabilla DP says:

    aku juga pernah kepikir untuk punya project pribadi buat anak2 mbaa.. lagi ngusahain sih semoga kesampaian hehe

  36. cicidesri says:

    aku setuju banget mba, teman2 ku sekarang sering patungan buat jumat berkah, order makanannya pun dari tetangga yang terdampak pandemi. Saling membantu dan menguatkan.

  37. Aprillia Ekasari says:

    Wow banyak mbak catatannya. Iya sering2 ntgumpulin poto eh catatan perjalanann jg bisa jd harta karun lho.
    Ternyata mbak Nurul mirip sama ayahnya ya 😀
    Aku dulu gak nonton pilem Sabtu Bersama Bapak, tp kyke bojoku duwe bukunya blm sempet baca hehe

    • Aprillia Ekasari says:

      Iki opo to kakean typo wkkwk
      Itu catatan yg di awal maksudnya “catatat bersyukur di februarinya” hehehehehe

  38. Rahmah Chemist says:

    Kenangan sama Bapak itu memang tak terlupakan bagi anak perempuannya
    Bahkan sampai sekarang momen itu ga terlupa walau bapak sudah 11 tahun pergi selamanya

  39. Kata Nieke says:

    Sabtu Bersama Bapak itu salah satu film favoritku. Sutradaranya Monty Tiwa. Pas nonton pas setahun Bapakku wafat. Jadi kerasa bagusnya. Kupikir bakal nangis meqek ternyata enggak.

  40. Nur Sahadati Amir says:

    Kok sedih ya, jadi ingat dengan almarhum Bapak. Sy blm baca dan tonton “Sabtu Bersama Bapak”. jadi pengen baca dan nonton

  41. Alfa Kurnia says:

    Nurul, meski sudah kehilangan bapak sejak kecil ternyata banyak kenangan yang terukir di hati ya. Aku suka banget sama buku Sabtu Bersama Bapak. Udah kubaca bolak-balik tapi belum nonton filmnya karena takut nggak sesuai sama bukunya. Dan bikin kepikiran untuk buat sebuah video kaya karakter Bapak. Tapi kutakut mewek pas bikin video, secara memikirkan pas anak-anak nonton video itu kan berarti aku udah nggak sama mereka ya. Duh kah, nulis komen gini aja udah mewek aku.

  42. apura1 says:

    Baca postingan ini jadi kepikiran juga pengin bikin dokumentasi video keluarga di YouTube. Foto aja jarang sih aku cetak 😀 kayaknya boleh dicicil yah buat menyimpan memori

  43. jessmite says:

    Hai mbak Nurul, selamat ya atas ulang tahun pernikahannya yang ke-15! Saya tuh seneng banget deh memperingati dan merayakan (meski kecil-kecilan tapi diusahakan bermakna) sama wedding anniversary karena disimbolkan dengan berbagai macam benda berharga yang ada di bumi. Contohnya, nih, seperti mbak yang wedding anniversary ke-15 maka disimbolkan dengan crystal. Kalau saya, pernikahannya masih berusia 9 tahun, maka Desember tahun lalu pas merayakan ulang tahun pernikahan ke-9, usia pernikahan kami diibaratkan seperti pottery. Ya, kira-kira simbol keberhargaan usia pernikahan seperti itu.

    Wah ternyata mbak kerja di Jawa Pos, ya? Dulu pas SMA saya pernah bu guru kesenian yang mantan karyawan Jawa Pos. Bu Diana, namanya. Suaminya sendiri juga seorang ilustrator di Jawa Pos. Daaaan, pas SMA saya suka tuh ikut acara-acara yang diselenggarakan oleh Jawa Pos, seperti lomba mading 3 dimensi dan DBL. Saya sempat datang ke acara coaching clinic DBL dengan Danny Granger di DBL Arena. Sungguh pengalaman yang tak terlupakan ☺.

    Aaaah mbak Nurul dapat kesempatan ke Amerika Serikat! Aduh, saya jadi pengeeeen. Menurut saya itu ide bagus mbak, mendekati remaja melalui platform yang mereka sukai agar lebih mudah didekati hehehe 😁. Saya belum pernah nonton Sabtu Bersama Bapak, pasti bikin Mellow. Dan yes, melihat foto-foto atau video orang tersayang itu bikin kita nostalgia akan kehadiran dan kontribusi yang pernah dilakukan orang tersebut pada sekitarnya :’)

  44. annienugraha says:

    Setuju banget dengan quote HAPPINESS IS MADE NOT GIVEN. Karena pada dasarnya kita sendirilah sumber pembuat kebahagiaan dan kita bertanggungjawab atas diri kita sendiri. And it’s a must menurut saya. Don’t even count on others to make you happy and vice versa.

  45. Tian Lustiana says:

    Jadi kangen bapak, yang sudah berpulang 65 hari lalu. Yaa Rabb, kedekatan anak perempuan dengan bapaknya emang sedekat itu yah.

  46. Jajan Nae says:

    Ya Allah baca ini jadi sedih, alhamdulillah kedua orang tuaku masih lengkao, tetapi semakin sulit bertemu karena pembatasan yang masih belum dicabut. Untung ada teknologi jadi bisa berkirim berita online.

  47. Ratna Kirana says:

    Ya Allah baca ini jadi sedih, alhamdulillah kedua orang tuaku masih lengkao, tetapi semakin sulit bertemu karena pembatasan yang masih belum dicabut. Untung ada teknologi jadi bisa berkirim berita online.

  48. Shyntako says:

    Well kalo ngomongin Bapak, saya manggilnya Papa, kadang ya gitu ada ngeselinnya, ada bikin meltednya, nano-nano deh, apalagi generasi ortu kita kan generasi yang sulit or enggan menunjukkan kasih sayangnya

  49. Heizyi says:

    Happiness is Made, Not Given

    Setuju banget sma quote ini kak.
    Klau dipikir lagi, bahagia itu kan sederhana. Ngapain meratapi yang belum jelas. Yang ada aja dibikin happy. Entah anak, pasangan, keluarga, orangtua. Semuanya bisa dibikin senang.

    Iya gk?

  50. niaharyanto says:

    Duh, lihat foto Mbak Nurul sama bapak dan keluarganya, aku jadi keinget juga. Huhu, aku gak punya deh foto lengkap begitu. Aku yang sama bapak aja juga gak punya. Palingan waktu foto nikah aja ada bapak. Huhu aku jadi kangen beliau. Walopun saat dimarahin beliau. Alfatihah buat alm. bapak. :'((((((

  51. nurhilmiyah says:

    Untung diingetin Mbak Nurul nih, saya hampir kelupaan belum nonton film yg ini padahal udah sering baca review an nya tp pas searching judulnya di aplikasi nonton film lupa terus. Al fatihah utk bapaknya Mbak Nurul juga ya, samaan nih kita cuma bpk saya berpulang tahun 2018 lalu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s