Blogging with Benefit

Saya meyakini bahwa setiap profesi yang kita geluti tentu memiliki benefit and privilege, keunggulan, keistimewaan yang berbeda. Contoh nih, profesi tukang ojek online. Abang gojek sangat punya privilege untuk menentukan kapan dia mau narik sebanyak2nya, atau mau istirahat bobok siang bentar di bawah pohon Trembesi. Ini kan keistimewaan yang nggak dimiliki dokter yang standby di IRD, misalnya. Atau, dokter spesialis kandungan.

Bayangkan adegan ini. Jam 2 pagi.

“Dok… dok…. istri saya mau lahir niiih, ketubannya udah pecah,” teriak seorang (calon) bapak beraroma kepanikan yang tak bisa ditahan.

Dokternya angop (menguap) sebentar, lalu tanya, “Jam berapa ini? Haduh… saya masih ngantuk. Bisa ditahan sampai subuh, tak?”

Ngoooook. Kan ya impossible thoooo

Akan tetapi, dokter kandungan pastinya punya privilege juga dong, yang tidak dimiliki para babang gojek. Apakah itu? Hwahahahahah, teman temin pasti bisa menebak lah. Segabruk keistimewaan dan rezeki buat para dokter di muka bumi. Semoga Allah senantiasa beri kekuatan, semangat dan ikhlas yang menghunjam dalam jiwa. Aaamiiin.

***

Now, let’s talk about blogger. Apa sih, kesempatan istimewa yang pernah saya dapatkan selama ngeblog?

Huuum…. kalo mau di-list satu-satu, nih postingan kayaknya baru kelar setelah Lebaran deh 🙂 Ya udah, aku tulis seingatnya aja yah 🙂

(1). Ngeblog Membawa pada Pertemuan demi Pertemuan dengan Sosok yang tidak pernah aku kenal sebelumnya 

Aku di Surabaya, teh Ani Berta di Jakarta.

Kami tidak punya irisan latar belakang, riwayat pendidikan, atau backgroun kenalannya si anu… sama sekali nggak ada. Yang membuat kami bisa kenalan (dan kemudian berlanjut kopdar)… adalah blogging!

Yap! “Euforia” dapat kenalan dari ngeblog, mungkin belakangan tidak terlalu gimanaaa gitu ya. Tapi yang pasti, saya bersyukur, bisa punya banyaaaaaaak teman/ kolega/ sahabat karena ngeblog.

Lho, kok kamu kenal Grace Melia? Mba Shintaries? Mba Haya Aliya Zaki? (insert all cool bloggers se-jagat timeline)

Ya itu tadi. Gegara ngeblog!

(2). Ngeblog Membuat Jari-jariku Terbiasa Me-review APAPUN, hingga… diundang Google untuk ikutan Google Local Guides Summit di Amerika Serikat!

Kalo lagi males buka dashboard WordPress, biasanya aku cuss ke Google Maps dan nge-review aneka destinasi, plus add photos, nambahin titik-titik lokasi di map, gitu-gitu deh. Intinya, nulis/ nge-review itu udah kayak auto-pilot, haha! Sehari engga ketak-ketik-ketak-ketuk, rasanyaaaaa ada yang kurang.

Karena itulah, sekarang saya udah berstatus Local Guide level 8 lho! Dan, segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam…. akhir tahun lalu, bersama 4 rekan dari Indonesia, saya terbang ke San Francisco California Amrik, untuk ikutan Google Local Guides Summit 2017.

TIM INDONESIA

Wakil Indonesia di Google Local Guides Summit 2017: ki-ka : Budiono, Nurul (saya), Mutiah, Nunung, Fahmi

Baca: Tips Jadi Local Guides dan Diundang Google ke Amerika Serikat

Waduuuh, Amrik kan jauh? Tiketnya pasti mahal! No need to worry, SEMUANYA ditanggung Google. Semuaaaa, mulai dari tiket pesawat, hotel, makan-minum, sampai biaya pengurusan visa ke Amrik!

(tapi karena kami extend, ya siapin duit tambahan hihi)

Intinya adalah…. dengan ngeblog, kita jadi terbiasa menuangkan APAPUN dalam wujud (biasanya) tulisan. Dan yeah, here I am. Saya (atas izin Allah) bisa merasakan nikmatnya berkelana, lantaran hobi ngeblog plus nge-review yang dijalani dengan suka cita.

(3). Menuangkan Ide lewat Media Vlog/ Short Movie dan Bisa Dapat Banyak Kebahagiaan dari Sana

Karena ngeblog, itu artinya saya konsisten sharing cerita. Pokoke bawaannya pengin critaaaaaa melulu 🙂 Ndilalah, saya ketemu beberapa sahabat yang doyan bikin film plus editing.

Kami pun kolaborasi. Short movie (yang cuma berdurasi semenit) ini mengantarkan saya ke Gala Premiere “My Stupid Boss” di Kuala Lumpur, Malaysia, dan bersua dengan dedek ((DEDEK)) Reza Rahadian

Baca: Drama di Balik Foto Bareng Reza Rahadian 

Setelah ikut Google Local Guides summit, saya juga kian ikrib dengan Fahmi Adimara, salah satu outstanding content creator spesialis outdoor traveling. Kami pun kolaborasi bikin vlog. Hasilnya? Tadaaaaa….!

Bagus yha> Bagus yhaaa? Ya iyaaa dong, yang bikin kan Fahmi. (Follow IG-nya @fahmiadimara ) Saya kan cuma numpang ngomel, mrengut, dan buang2 barang doang hahahaha

Video ini saya ikutkan kontes di Instagram. Engagement lebih dari 1000, komentar lebih dari 200… dan hasilnya… ZONK! Kami kalah, sodara-sodaraaaa hahahahah

Ofkorsss, rasanya pedih pedih gimanaa gitu. Mau protes, tapi kok yaaa, piye? ya sudah, saya putuskan untuk let it go aja. Untunglah, Fahmi engga cranky dengan ke-belum beruntung-an ini. Cukup emaknya Sidqi aja yang sewot, hahahahaha

Etapiiii, memproduksi konten semacam ini menerbitkan rasa bahagia dan puas yang tak bisa digantikan dengan materi apapun lho. Yeah, walaupun belum dapat hadiah, rasanya tetep hepi karena kami udah do our best bikin konten untuk aneka socmed

(4). Dipercaya untuk Sharing/ Mengajar/ Jadi Fasilitator untuk Sejumlah Workshop Blogging

Ini nih…. ini nih…. yang Pecaaaaahhh banget!

For your info, keluarga besar saya mayoritas berprofesi sebagai guru atau dosen. Almarhumah Ibu guru. Bulek di Surabaya dan Mataram, Om di Pacitan guru. Om di Kediri, om di Mataram dosen. Adik ipar saya dosen ITB, istrinya dosen di Fak Kedokteran Univ. Padjajaran (dua yang terakhir sengaja disebutin kampusnya, soale kece abis! Dan mereka berdua emang pasutri yang awesome, sama-sama brilian dan rendah hati, JUARA pokoke!)

Baca: Bagaimana Menjadi Pintar dan Rendah Hati

Di tengah gempuran keluarga yang mayoritas guru/ dosen ini, saya malah (waktu muda) terjun sebagai jurnalis/ reporter. BEDA JAUUUH! Saya mah orangnya gitu, suka yang anti-mainstream, hoahaha. Walaupun udah bolak/ balik dibilangi kalo guru/ dosen itu pahala jariyahnya mengalir terus, tapi…. yaaa, namanya anak muda. Kadang-kadang semakin dinasehati, semakin pengin ngebantah 🙂 

Daaaann…. watch your words!

Ternyata, setelah jadi jurnalis, saya ngerasa “Kok sharing ilmu ke orang lain tuh menyenangkan ya?”

Workshop BI

Jadi Pemateri Workshop Social Media and Writing untuk Penerima Beasiswa Bank Indonesia. Acara di  Ibis Styles, Surabaya

Yap! Tatkala masih jadi reporter di SCTV, saya pun memutuskan untuk jadi pemateri dalam workshop di beberapa kampus. Bicara di depan para mahasiswa, yang energi dan antusiasmenya menyala-nyala dalam dada. SAYA SUKA! Ternyata DNA mengajar itu mengalir dalam keluarga kami!

Setelah tak lagi berstatus jurnalis, saya pun pindah haluan jadi public relations, lalu menjadi volunteer di lembaga amil zakat. Lagi-lagi, saya suka mengajar. Saya suka memberikan materi/ cerita di depan adik-adik yatim dhuafa, ataupun mengajar mereka agar punya cita-cita setinggi bintang kendati saat ini mereka tinggal di samping rel KA.

I don’t know…. rasanya sungguh “berbeda”.

Karena itulah….. ketika Makpon Mira Sahid (founder Kumpulan Emak2 Blogger) mengajak saya untuk isi materi workshop socmed and content creator, saya langsung sigap menjawab, “SAYA MAU, Makpooon!” Heiiii, saya mengajar! Bersama siberkreasi.id saya siap lontarkan aneka knowledge yang saya punya!

—Mengajar adalah Cara Terbaik untuk Belajar—

Super happy menyaksikan antusiasme mereka. Anak-anak SMA yang punya keingintahuan tinggi, semangat yang meledak-ledak, tapi malu-malu meong kalo diminta merangkai kalimat di hadapan rekan-rekannya. Haha!

Pemateri workshop Bank Indonesia

Yang paling GRES adalah… pada suatu siang yang biasa-biasa, saya dapat tawaran untuk mengisi workshop buat adik-adik penerima Beasiswa dari Bank Indonesia – Bengkulu.

Wawwww… it’s BEYOOONDDD my imagination! Gilak! Ini super awesome!

***

 

 

Advertisements

Rangga Umara, Geliat UKM dan Masyarakat Ekonomi Asean

Pernah dengar Rangga Ada Apa dengan Cinta Umara kan?

Kalo pecel Lele Lela?

Hmmm, haqqul yaqin deh, brand Pecel Lele Lela ini sering nancep di benak kita. Ear catching, gampang dikenali, dan siap menyajikan lele yang dikemas ala resto. Lelenya ini di-fillet, dibaluri dengan tepung nan crispy, pokoke yum-yum-yum. Enggak kelihatan kepala berkumis plus bodi item yang biasanya jadi ciri khasnya si lele.

Rangga Umara berhasil mendobrak stereotipe lele dan bikin lele “naik kelas” jadi makanan yang instagrammable bingits. Kudos to Lele Lela! 🙂

Nah, kapan hari, si Rangga ada di Surabaya dalam rangkaian workshop bisnis buat para pengusaha UKM.

Asiknya ikut acara ini, kita bisa incip-incip aneka cemilan errrr…. kekinian (?) duh, bosen dah, pake terminologi kekinian muluuk 😛

Sebelum cerita soal materinya Rangga Umara, nih, saya mau jembrengin beberapa jajan cemilan ketjeh yang kemarin sempat bagi-bagi tester buat para peserta dan mengendap di lambung eikeh.

 

 

Yang ini, PUKIS. Gimana rasanya pukis, anak-anak? Manis bin lezaaaaaat! Ya, sebagaimana pukis pada umumnya sih, tapiiii… ada tambahan ornamen yang unyu-unyu. dan pukisnya ini sooo… colorful! Once again, instagrammable!

Ada juga beverages yang siap menghalau dahaga, gundah dan gulana *tsaaah*.

Intinya,  ikut acara ini, kenyaaaaaangggg dah *elus-elus perut nduts*

***

Nah, tadi saya mau nyinggung soal Rangga Umara kan?

Oke. Gini. Bayangan saya, seorang enterpreneur muda seperti Rangga Umara pasti yang “penuh semangat, antusias, optimis, ambisius, dan ya pokoke yang passionate alias penuh gairah terhadap dunia bisnis” gitu kan?

Jadi, aku sudah memasang ekspektasi bahwa seorang Rangga bakalan presentasi di depan publik dengan gaya yang meledak-ledaaaaak ala mercon bantingan.

Ternyata?

Rangga ini tipikal cowok yang kalem. Kaleeeeem banget. Dia menyampaikan pengalaman di blantika bisnis dengan style yang… apa ya? Santun, dan jauuuh dari kata ‘meledak-ledak’ itu tadi 🙂

Justru, Rangga Umara malah mengajak kita untuk banyak-banyak instropeksi, meluangkan waktu untuk merenung/ kontemplasi, banyak bersyukur, dan hal-hal spiritual gitu deh. Sungguh di luar bayangan akoh.

***

Begitulah… Setelah ikutan acara ini, ada satu yang bikin batin saya agak mencelos 🙂 Apa memang Rangga sengaja “menggembosi” ambisi hadirin untuk enggak terlampau bernafsu pada dunia? Atau, biar ‘ngurangi saingan’ getoh? Entahlah, hanya Tuhan dan Rangga yang tahu 🙂

Tapi yang jelas, ketika sebuah entitas bernama “Masyarakat Ekonomi ASEAN” sudah kita jalani, mau nggak mau, ya kita kudu survive dengan metode yang kita yakini. Yang sudah berada di jalur yang sesuai passion, teruskanlah! Terus melaju, enggak usah khawatir dengan serbuan kompetitor dari segala penjuru.

“Lihat deh, di Al-Qur’an, Allah menyandingkan kata ‘kaya’ BUKAN dengan kata ‘miskin’. Lawan kata ‘kaya’ itu bukan ‘miskin’… tapi ‘cukup’. Yakin selalu, kalau Allah pasti memberikan rezeki yang cukup untuk kita,” tukas Rangga Umara.

Makaaaa… walaupun MEA sudah menggempur *tsah*, saya sih tetep ngerasa Optimis. Bahwa rezeki tidak akan tertukar. Bahwa Allah sudah menakar rezeki kita dengan sempurna. Gak perlu kuatir dengan persaingan. Yang kita upayakan adalah berupaya semaksimal mungkin, demi memberikan performa terbaik dari aktivitas apapun yang kita jalani.

Sebagai blogger, ya silakan terus berupaya agar “naik kelas”. Tingkatkan interaksi (baik kualitas maupun kuantitas) di komunitas yang memang “pas” dan “cocok” dengan kita. Kagak perlu jadi kaum al-nyinyirun ataupun al-baper-iyah 😛 Semua yang ada itu wajib buat disyukuri.

“Karena Allah berfirman, bahwa bila engkau bersyukur, maka nikmatKu akan Aku tambah kepadamu. Namun, bila engkau kufur, maka azab-Ku amatlah pedih. Ayat ini yang harus jadi pegangan buat kita semua,” tambah Rangga Umara.

Sepakaaaat ama Rangga 🙂 Ya, gitu sih. Intinya, ada MEA ataupun tidak, resepnya tetap sama: Kudu banyak bergelimang syukur, optimis, positive-vibe, silaturahim dikembangkan, jalin persahabatan dengan ikhlas. Say NO to negative-thinking dan aneka turunannya 🙂

Selamat pagi, have a GREAT day!