Hidup Biasa dengan Ibadah Ekstra

Disclaimer : Artikel ini hak ciptanya ada pada profesor ustadz yang humble plus baik hati ini. Beliau rutin jadi kolumnis di Majalah kantor kami. Pas ngebaca sekilas, masyaAllah…. kok keren buangets ya? Rasanya sayang kalau tidak ditampilkan di blog tercinta ini. *eaaaa*

Semoga temans yang baca juga dapat manfaatnya. Dan, semoga Ramadhan kita tahun ini adalah Ramadhan TERBAIK so far 🙂

***

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan semua yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan makanlah yang halal dan baik dari apa yang telah diberikan Allah kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.” (QS. Al Ma-idah [5]:87-88)

Pada saat ayat ini turun, banyak tempat ibadah khusus (biara) yang dibangun oleh rahib Kristen, bahkan di tengah padang pasir atau di gua-gua pegunungan. Mereka tidak kawin selamanya dan memakai pakaian dari bulu domba seperti yang dipakai Nabi Yahya a.s. Satu di antara mereka adalah Rahib Buhaira. Inilah rahib yang dijumpai Muhammad kecil (12 tahun) ketika diajak pamannya, Abu Thalib melakukan perjalanan ke Syiria. Dialah yang menyatakan adanya tanda-tanda kenabian di wajah Muhammad kecil jauh sebelum diangkat menjadi Nabi.

Beberapa sahabat Nabi amat tertarik dengan cara hidup para rahib yang nampak suci, dekat dengan Tuhan dan bahagia, karena tidak lagi terganggu oleh nafsu duniawi. Para sahabat senior seperti Usman bin Madh’un, Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas’ud, Miqdad bin Aswad dan Salim Maula Abu Hudzaifah bersepakat untuk tidak mengonsumsi makanan yang enak dan berjanji menghabiskan malam hanya untuk beribadah serta tidak akan berhubungan dengan istri.

Beberapa sahabat yang lain mengikuti jejak sahabat seniornya. Inilah antara lain sumpah mereka: “Saya tidak akan makan daging, sebab membuat saya semakin bernafsu kepada wanita.”  “Saya tinggalkan kasur yang empuk, dan memilih alas tidur yang tipis, agar tidak hanyut dalam kenikmatan tidur.”  “Saya jauhi wewangian dan pakaian yang indah, sebab aku lebih suka keharuman akhirat dan pakaian kebesaran surga.”

 Nabi SAW pernah bertanya kepada sahabatnya, Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash yang menjalani dunia kerahiban. “Apa benar, menurut kata orang, engkau berpuasa setiap hari dan shalat sepanjang malam?” “Benar, wahai Nabi,” jawabnya. Nabi SAW lalu bersabda, “Jangan kau lakukan itu. Puasalah dan berbukalah (pada hari yang lain), shalatlah di tengah malam dan tidurlah. Sungguh, tubuhmu mempunyai hak yang harus engkau penuhi, demikian juga matamu. Istrimu mempunyai hak yang wajib engkau penuhi, demikian juga para peziarah (tamu) yang datang kepadamu. Engkau cukup berpuasa tiga hari setiap bulan, sebab setiap kebajikan dilipatkan pahalanya, dan itu berarti sama dengan puasa setahun. Abdullah menjawab, “Saya yakin,  saya kuat.” Nabi melanjutkan sabdanya,  “Berpuasalah seperti puasa Nabi Daud, jangan lebih!” “Bagaimana cara puasa Daud?,” tanya Abdullah. Nabi SAW menjawab, “Puasa setengah tahun (sehari puasa dan sehari tidak).” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dauddan Al Nasa-i)

Sahabat senior lainnya, Abu Darda’ yang dipersaudarakan oleh Nabi dengan Salman Al Farisi sewaktu hijrah di Madinah juga menyukai hidup dengan menjauhi kenikmatan duniawi. Suatu saat, Salman bertamu ke rumah Abu Darda’. Ia iba melihat melihat istri Abu Darda’ yang kusut dan muram. Di meja makan, Salman berkata, “Saya tidak akan makan jika tidak kau temani.” Maka Abu Darda’ terpaksa membatalkan puasa sunatnya.  Menjelang tidur, Abu Darda’ terus saja melanjutkan shalatnya. Maka Salman mengajak tidur. Setelah tidur sebentar, ia bangun lagi untuk shalat. Lalu Salman berkata lagi, “Mari tidur dulu.” Pada ujung malam, barulah Salman mengajak Abu Darda’ shalat malam. Setelah shalat, Salman menasehatinya, “Tuhanmu mempunyai hak yang harus kau penuhi. Demikian juga hak istrimu. Maka lakukan semua kewajibanmu untuk semua pemilik hak itu.” Esok harinya, mereka berdua menghadap Nabi SAW untuk menceritakan apa yang terjadi, lalu Nabi bersabda, “Salman benar.”

Usman bin Madh’un, sahabat yang pertama kali menghentikan minuman keras ketika mendengar Nabi SAW melarangnya dan amat terkenal kesalehannya menghadap Nabi bersama beberapa sahabat dengan membawa sebilah belati. Mereka meminta ijin kepada Nabi untuk mengebiri diri mereka, sebab hasrat biologis kepada wanita selalu mengganggu ibadah dan semangat perjuangan. Pada masa itu, mengebiri selalu dengan memotong kemaluan. Berbeda dengan sekarang, cukup dengan “suntik kebiri” atau chemical castration untuk mengurangi hormon atau libidonya yang tinggi. Nabi terdiam, tidak memberi jawaban. Ketika itulah, Malaikat Jibril datang membawa ayat sebagaimana dikutip di atas.

Mendengar obrolan mereka, Nabi SAW lalu menjelaskan kesehariannya sekaligus memberi peringatan, “Orang-orang berbicara ini dan itu. Ketahuilah, aku shalat dan aku juga tidur, aku berpuasa (pada hari tertentu) dan tidak berpuasa (pada hari lain). Aku juga menikahi wanita. Siapapun yang tidak suka dengan cara hidupku, maka ia bukan pengikutku.” (HR Muslim).

Sejak itu Usman bin Madh’un merubah pola hidupnya, termasuk kepada istrinya. Tidak lama setelah itu, Haula, sang isteri datang  kepada Aisyah dengan pakaian rapi dan wajah berseri karena telah mendapatkan kepuasan nafkah batin dari suaminya. Sebelumnya, ia bermuka kusut dengan rambut acak-acakan. Para isteri Nabi sampai tertawa mendengar kepolosan cerita Haula.

Banyak hal yang dihalalkan Allah: daging hewan, ikan, buah, sayur-sayuran, pakaian yang bagus, bersetubuh dengan isteri. Mengapa semua itu tidak dinikmati hanya karena dianggap menghalagi kedekatan dengan Allah? Islam menolak konsep hidup “sengsara” demi mencapai “nirwana.”

Orang yang anti daging dan makanan bergizi, lalu fisiknya lemah dan tidak bisa melakukan kewajibannya sebagai suami atau kepala rumah tangga tentu bukan muslim yang baik. Layakkah Anda disebut pengikut Nabi, jika Anda meninggalkan tugas-tugas rumah tangga dan hanya fokus berdzikir sepanjang hari sampai anak-anak dan rumah tangga berantakan?

Untuk menikmati semua yang halal di atas, Allah menetapkan pedoman seleksinya, yaitu halal (halal), baik (thayyib) dan proporsional (wala ta’tadu). Daging sapi, buah, sayur dan sebagainya  halal, tapi jangan dimakan jika dokter melarangnya,  atau daging itu hasil korupsi. Jika halal dan baik untuk tubuh, silakan dikonsumsi, tapi  makanlah sesuai dengan porsi yang benar menurut dokter, jangan berlebih,  apalagi untuk menunjukkan kemewahan dan kesombongan satus sosial. Silakan bersetubuh dengan isteri, sebab itu kewajiban yang mendatangkan pahala, tapi lakukan secara proporsional.

Tiupkan semangat beragama pada diri Anda, tapi jangan tinggalkan tugas dan kenikmatan dunia. Jika orang-orang shaleh seperti Anda “bertapa” di masjid dan menjauhi kehidupan riil dalam dunia politik, perdagangan, dan kegiatan-kegiatan sosial lainnya, lalu orang-orang yang tidak beragama atau tidak bermoral menjadi pimpinan dalam semua lini kehidupan, siapakah yang disalahkan?  

Sebagai hamba Allah, tidak dibenarkan satu menitpun Anda lewatkan tanpa ibadah, tapi artikan ibadah dalam arti yang seluas-luasnya. Anda wajib beribadah secara ekstra, tapi tetap hiduplah sebagai manusia biasa: sebagai individu, kepala keluarga dan warga masyarakat dan negara. Panggilan ibadah tidak hanya adzan untuk shalat, tapi juga panggilan kemanusiaan dan kepemimpinan (khalifah) di panggung dunia. Semua lini kehidupan itu bisa Anda jadikan sajadah untuk investasi pahala.(*)

  

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s