Model Mukena Terbaru yang Wajib Dimiliki

Mukena merupakan peralatan yang digunakan untuk ibadah lebih tepatnya untuk sholat. Pada beberapa waktu yang lalu mukena mungkin hanya berwarna putih saja. Tapi seiring perkembangan mode, mukena mengalami berbagai perubahan yang cukup signifikan.

Salah satu contohnya adalah warnanya yang semakin beragam. Model mukena sekarang ini juga banyak modifikasinya yang membuat banyak orang terutama wanita tertarik untuk membelinya.

mukena_bali

Continue reading

Advertisements

Neno Warisman: It Takes a Village to Raise a Child

Sosok Neno Warisman kini kian dikenal sebagai praktisi Islamic parenting. Ia kerap didapuk sebagai pemateri dalam beragam seminar maupun workshop. Semangatnya untuk menginspirasi keluarga muslim Indonesia patut diapresiasi. Berikut petikan perbincangan saya  dengan Neno Warisman, dalam sebuah acara di Surabaya.

Bagaimana Bunda Neno meng-capture fenomena parenting belakangan ini?

Satu prinsip yang harus kita pegang: It Takes a Village to Raise a Child. Butuh orang sekampung untuk bisa membesarkan dan mendidik anak kita.

Coba kita lihat. Masalah pendidikan karakter dibicarakan di mana-mana. Tapi apa yang terjadi? Hampir setiap hari kita saksikan aneka penyimpangan yang dilakukan ataupun menimpa anak-anak kita. Mari kita sama-sama bersikap rendah hati tatkala membahas fenomena anak. Coba kita amati satu demi satu. Tayangan TELEVISI  kita, mayoritas berisikan program yang sama sekali tidak mendidik, sarat dengan adegan porno maupun kekerasan. Sementara itu, sejumlah lembaga yang peduli dengan perkembangan buah hati merilis hasil riset yang bikin hati kita miris. Tahukah Anda bahwa ternyata 90% anak-anak kita kelas 3 SD ke bawah sudah terpapar pornografi, di seluruh provinsi. Sebanyak 50% anak-anak malah sudah melakukan hubungan pasutri. Naudzubillahi min dzalik. Bapak dan Ibu adalah tokoh utama untuk mendidik anak. Kita juga tak boleh mengabaikan pengaruh lingkungan. Ini yang harus kita pahami dan terus jadikan panduan tatkala mendidik generasi bangsa.

 

Lantas, hal mendasar apa yang harus orang tua lakukan?

Jangan mendidik anak dengan cara ikut-ikutan! Banyak teori parenting yang beredar di masyarakat, kita harus cermat dan pandai dalam memilah dan memilih, mana yang sesuai dengan ajaran Islam. Agama kita ini begitu sempurna memberikan panduan dan teladan dalam mendidik anak. Sebagian masyarakat malah meneladani teori parenting dari barat, padahal kita sudah punya teladan yang luar biasa. Jangan malu dan malas ambil teladan dari Rasul! Justru beliau yang wajib kita jadikan panutan.

Islam itu sempurna. Sejak janin berada di perut, kita diajak untuk melantunkan ayat suci, agar bayi bisa ikut merasakan kebesaran Allah bersama orang tuanya. Kita harus tanamkan pondasi agama yang kuat untuk anak. Bahkan, ketika anak kita meninggal dunia kelak, kita bisa canangkan apakah ingin anak kita berpulang dalam kondisi mati syahid ataupun biasa-biasa saja.

Buat para orang tua, saya tak bosan-bosan mengatakan bahwa, berikan “nuansa spiritual”, jangan campur adukkan dengan hal-hal material. Kenapa? Karena spiritual tak akan nyambung dengan material.  Sering kan, para ibu yang memberikan iming-iming, “Kalau anak sholat tepat waktu, akan dikasih uang, atau sepeda atau hal-hal material lainnya.” Apabila segala hal diukur dengan materi, maka anak-anak akan mengalami kebuntuan jiwa! Anak akan terbiasa mengukur segala hal dari materi. Sampai anak bisa mengatur alias mengendalikan orang tuanya. Ada anak teman saya yang bicara begini ke mamanya, “Tahun lalu aku puasa penuh dapat 3 juta. Tahun ini, kalau puasaku full, aku mau 4 juta.” Nah, ini kan sudah nggak bener.

Alangkah baiknya, apabila sesuatu yang positif/ prestasi dalam ranah spiritual, juga mendapatkan reward secara spiritual juga. Misalnya, sang ibu berkata, ”Karena kamu sholat rajin, Ibu akan mendoakan kamu secara khusus, dalam tahajud Ibu, dalam tiap ibadah yang ibu lakukan. Ini doa yang amat spesial, Nak… Khusus untuk kamu anak Ibu yang gemar beribadah.” Nuansa spiritual ini yang harus terus kita bangun, agar bisa melembutkan hati dan jiwa anak.

Ingat ya, para orangtua. Mendidik anak tidak boleh minta instan. Jangan sampai kita bicara, “Mama sudah bayar banyak, habis jutaan untuk sekolah kamu, untuk les ini, itu… Kenapa kamu nggak jadi anak pintar?” Astaghfirullah, jangan bicara seperti itu lagi ya. Ingatlah, bahwa orangtua harus memegang teguh janji Allah. Bahwa anak adalah amanah dari Allah. Mendidik dengan baik adalah salah satu wujud ibadah kita sebagai hamba Allah.

Oh ya, berkali-kali saya sampaikan kepada para orang tua, jangan membandingkan anak dengan temannya. ”Lihat si fulan jadi rangking satu, kenapa kamu nggak bisa seperti dia sih?” Kalimat ini sangat menyakitkan. Siapapun tak suka dibanding-bandingkan. Kita juga tidak suka kan, kalau dibandingkan dengan perempuan lain, misalnya.

Tantangan yang dihadapi orang tua masa kini lebih berat ya?

Betul. Apalagi saat ini kita lebih banyak bertemu dengan tipikal ‘The Digital Family’. Dimana kita kerap kehilangan waktu untuk bisa ngobrol (secara riil) atau saling sentuh dengan kasih sayang antar anggota keluarga. Semua sibuk dengan gadget. Anak-anak SD, bahkan balita sudah akrab dengan Ipad dan sebangsanya. Ini berdampak amat buruk, melahirkan generasi yang tidak peka, kurang komunikasi, pudarnya kepedulian, dan saling buta kabar.

Ayo kita kembalikan teladan Rasul untuk keluarga kita. Tumbuhkan kecintaan anak pada Al-Qur’an. Teruslah tahajud dengan istiqomah, beri contoh agar anak kita bisa makin cinta agama ini. Biasakan dzikrullah setiap saat. Perkuat bonding dengan keluarga, termasuk para ayah harus berkiprah untuk mendidik anak.

Bicara tentang peran keayahan. Anak-anak merindukan sosok ayah yang ‘pulang ke rumah’ dan ‘benar-benar hadir’. Ayah sekarang jarang yang menemani anak duduk, mengelus kepala anak, ini hal-hal yang nampak sederhana tapi sesungguhnya penting untuk dilakukan. Kenapa ayah sering malu mengungkapkan perasaan? Kenapa ayah susah untuk bilang, “Anakku sayang….” kepada buah hati mereka? Bahkan kepada istrinya sendiri, coba kita tanya para ayah, kapan terakhir bilang “Aku cinta padamu” kepada sang istri? (*)

Pekan 1

Ditulis untuk menyemarakkan #LigaBloggerIndonesia2016  posting bebas

[Flash Fiction] Sang Pencinta Qur’an

Aku tidak tahu mengapa aku bisa berada di tempat yang luar biasa indah ini. Aroma harum, namun tetap lembut menguar dari seluruh penjuru ruangan. Ornamen yang menakjubkan… Tempat yang cantik… Dimana aku sekarang?

Tercekat, aku pandang sekeliling. Masya Allah… buah-buahan mahal yang selama ini tak pernah bisa kubeli! Sekarang ada di sini! Dan, dan, oooh… aku bisa menggapainya dengan begitu mudah! Padahal, selama hidup, mati-matian aku menyisihkan uang hasil mengemis, tapi suliiit sekali bisa menyamai harga buah mahal-mahal itu. Ugh.

alquran2

Eh, tunggu dulu. Selama hidup?

Hidup? Berarti, apakah aku sekarang sudah enggak hidup?

“Silakan, Ibu… Anda berhak masuk ke jannah Firdaus.”

App…app…aappa?? Apa aku tidak salah dengar??? Jannah? Firdaus? Surga?

Ingin aku langsung bertanya, “Sumpeh looo? Ciyus looo?” Tapi… kuurungkan. Karena oh, masya Allah… jangan-jangan, makhluk ini, malaikat?

“Benar, Ibu. Saya malaikat yang bertugas mengantarkan Ibu ke surga. Saya juga sudah menyiapkan gaun untuk Ibu pakai. Gaun ini lebih indah daripada dunia dan seisinya.”

Masya Allah…. Merinding aku mendengarnya… Jantungku bergetar hebat. “Kenapa saya? Kenapa bisa? Ke.. keee… kenapa saya bisa mendapat ini semua, wahai malaikat?”

Malaikat itu tersenyum syahdu. “Karena putra Ibu. Dia telah istiqomah membaca, mentadabburi, menghafal dan mengamalkan Al-Qur’an.”

Hah?!? Kuingat-ingat lagi. Sidqi, anakku.

Dia laki-laki biasa-biasa saja. Tak terlalu ganteng. Badannya pun kalah gede dibandingkan teman-temannya. Tapi, satu hal yang membuat ia istimewa adalah, betapa Sidqi sangat mendamba Al-Qur’an. Ia berkali-kali memohon padaku, agar aku menghadiahi ia Qur’an.

Tak pernah ia minta sepeda, atau handphone, atau playstation, tak pernah! Tapi, ia selalu memohon sebuah Al-Qur’an.

Hingga suatu ketika, uang hasil ngamen-ku cukup untuk membeli Syaamil Quran. Mata Sidqi berbinar. Ia mengerjap sambil berucap hamdalah berkali-kali. Lalu, ia mencium pipiku, keningku, bahkan kakiku! Waduh, tolee… kaki emakmu ini kan lagi kena kutu air tho….

“Maturnuwun, ibu sayang… Sidqi akan semakin giat membaca Al-Qur’an, supaya ibu bahagia…”

Gerimis di mataku berubah jadi rintik. Dan, saat ini, aku tengah didera bahagia yang tak terperi.

“Kalau begitu, saya resmi masuk surgakah?” aku masih tak percaya. Malaikat di hadapanku mengangguk mantap.

“Lantas, dimana Sidqi, anak saya?”

Sekonyong-konyong, aku melihat tubuh laki-laki nan gagah berwibawa. Untaian senyum itu… Mata yang teduh itu… sebuah kombinasi indah yang selalu menerbitkan rasa haru. Dadaku kian sesak. Takzim, ia mencium kakiku. (*)

FF 366 kata. Ditulis khusus untuk Lomba Menulis Cinta Al-Qur’an.

Terinspirasi dari Hadits Rasul, “Kemudian kedua orang tuanya, dipakaikan dengan pakaian yang lebih indah daripada dunia dan seisinya.” Kedua orang tuanya berkata,”Apa yang menyebabkan kami mendapatkan hal ini ? Kemudian dikatakan kepda keduanya,”Karena anak kalian berdua membaca Al-Qur’an.”

lomba-nulis-cinta-al-quran

 

Dakwah adalah Cinta

Dakwah adalah Cinta

Sangat merindukan tausiyah menyejukkan… seperti yang disampaikan Ust Rahmat Abdullah

Memang seperti itu dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yang kau cintai”.

“Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu. Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yang menempel di tubuh rentamu. Tubuh yang luluh lantak diseret-seret. Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari”.

“Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah. Beliau memang akan tua juga. Tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat yang diturunkan Allah”.

“Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz. Dia memimpin hanya sebentar. Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung. Tidak ada lagi orang miskin yang bisa diberi sedekah. Tubuh mulia itu terkoyak-koyak. Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja. Tubuh yang segar bugar itu sampai rontok. Hanya dalam dua tahun ia sakit parah kemudian meninggal. Toh memang itu yang diharapkannya; mati sebagai jiwa yang tenang”.

“Dakwah bukannya tidak melelahkan. Bukannya tidak membosankan. Dakwah bukannya tidak menyakitkan. Bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan”.

“Tidak. Justru kelelahan. Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari. Satu kisah heroik, akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih tragis”.

Hidup Biasa dengan Ibadah Ekstra

Disclaimer : Artikel ini hak ciptanya ada pada profesor ustadz yang humble plus baik hati ini. Beliau rutin jadi kolumnis di Majalah kantor kami. Pas ngebaca sekilas, masyaAllah…. kok keren buangets ya? Rasanya sayang kalau tidak ditampilkan di blog tercinta ini. *eaaaa*

Semoga temans yang baca juga dapat manfaatnya. Dan, semoga Ramadhan kita tahun ini adalah Ramadhan TERBAIK so far 🙂

***

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan semua yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan makanlah yang halal dan baik dari apa yang telah diberikan Allah kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.” (QS. Al Ma-idah [5]:87-88)

Pada saat ayat ini turun, banyak tempat ibadah khusus (biara) yang dibangun oleh rahib Kristen, bahkan di tengah padang pasir atau di gua-gua pegunungan. Mereka tidak kawin selamanya dan memakai pakaian dari bulu domba seperti yang dipakai Nabi Yahya a.s. Satu di antara mereka adalah Rahib Buhaira. Inilah rahib yang dijumpai Muhammad kecil (12 tahun) ketika diajak pamannya, Abu Thalib melakukan perjalanan ke Syiria. Dialah yang menyatakan adanya tanda-tanda kenabian di wajah Muhammad kecil jauh sebelum diangkat menjadi Nabi.

Beberapa sahabat Nabi amat tertarik dengan cara hidup para rahib yang nampak suci, dekat dengan Tuhan dan bahagia, karena tidak lagi terganggu oleh nafsu duniawi. Para sahabat senior seperti Usman bin Madh’un, Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas’ud, Miqdad bin Aswad dan Salim Maula Abu Hudzaifah bersepakat untuk tidak mengonsumsi makanan yang enak dan berjanji menghabiskan malam hanya untuk beribadah serta tidak akan berhubungan dengan istri.

Beberapa sahabat yang lain mengikuti jejak sahabat seniornya. Inilah antara lain sumpah mereka: “Saya tidak akan makan daging, sebab membuat saya semakin bernafsu kepada wanita.”  “Saya tinggalkan kasur yang empuk, dan memilih alas tidur yang tipis, agar tidak hanyut dalam kenikmatan tidur.”  “Saya jauhi wewangian dan pakaian yang indah, sebab aku lebih suka keharuman akhirat dan pakaian kebesaran surga.”

 Nabi SAW pernah bertanya kepada sahabatnya, Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash yang menjalani dunia kerahiban. “Apa benar, menurut kata orang, engkau berpuasa setiap hari dan shalat sepanjang malam?” “Benar, wahai Nabi,” jawabnya. Nabi SAW lalu bersabda, “Jangan kau lakukan itu. Puasalah dan berbukalah (pada hari yang lain), shalatlah di tengah malam dan tidurlah. Sungguh, tubuhmu mempunyai hak yang harus engkau penuhi, demikian juga matamu. Istrimu mempunyai hak yang wajib engkau penuhi, demikian juga para peziarah (tamu) yang datang kepadamu. Engkau cukup berpuasa tiga hari setiap bulan, sebab setiap kebajikan dilipatkan pahalanya, dan itu berarti sama dengan puasa setahun. Abdullah menjawab, “Saya yakin,  saya kuat.” Nabi melanjutkan sabdanya,  “Berpuasalah seperti puasa Nabi Daud, jangan lebih!” “Bagaimana cara puasa Daud?,” tanya Abdullah. Nabi SAW menjawab, “Puasa setengah tahun (sehari puasa dan sehari tidak).” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dauddan Al Nasa-i)

Sahabat senior lainnya, Abu Darda’ yang dipersaudarakan oleh Nabi dengan Salman Al Farisi sewaktu hijrah di Madinah juga menyukai hidup dengan menjauhi kenikmatan duniawi. Suatu saat, Salman bertamu ke rumah Abu Darda’. Ia iba melihat melihat istri Abu Darda’ yang kusut dan muram. Di meja makan, Salman berkata, “Saya tidak akan makan jika tidak kau temani.” Maka Abu Darda’ terpaksa membatalkan puasa sunatnya.  Menjelang tidur, Abu Darda’ terus saja melanjutkan shalatnya. Maka Salman mengajak tidur. Setelah tidur sebentar, ia bangun lagi untuk shalat. Lalu Salman berkata lagi, “Mari tidur dulu.” Pada ujung malam, barulah Salman mengajak Abu Darda’ shalat malam. Setelah shalat, Salman menasehatinya, “Tuhanmu mempunyai hak yang harus kau penuhi. Demikian juga hak istrimu. Maka lakukan semua kewajibanmu untuk semua pemilik hak itu.” Esok harinya, mereka berdua menghadap Nabi SAW untuk menceritakan apa yang terjadi, lalu Nabi bersabda, “Salman benar.”

Usman bin Madh’un, sahabat yang pertama kali menghentikan minuman keras ketika mendengar Nabi SAW melarangnya dan amat terkenal kesalehannya menghadap Nabi bersama beberapa sahabat dengan membawa sebilah belati. Mereka meminta ijin kepada Nabi untuk mengebiri diri mereka, sebab hasrat biologis kepada wanita selalu mengganggu ibadah dan semangat perjuangan. Pada masa itu, mengebiri selalu dengan memotong kemaluan. Berbeda dengan sekarang, cukup dengan “suntik kebiri” atau chemical castration untuk mengurangi hormon atau libidonya yang tinggi. Nabi terdiam, tidak memberi jawaban. Ketika itulah, Malaikat Jibril datang membawa ayat sebagaimana dikutip di atas.

Mendengar obrolan mereka, Nabi SAW lalu menjelaskan kesehariannya sekaligus memberi peringatan, “Orang-orang berbicara ini dan itu. Ketahuilah, aku shalat dan aku juga tidur, aku berpuasa (pada hari tertentu) dan tidak berpuasa (pada hari lain). Aku juga menikahi wanita. Siapapun yang tidak suka dengan cara hidupku, maka ia bukan pengikutku.” (HR Muslim).

Sejak itu Usman bin Madh’un merubah pola hidupnya, termasuk kepada istrinya. Tidak lama setelah itu, Haula, sang isteri datang  kepada Aisyah dengan pakaian rapi dan wajah berseri karena telah mendapatkan kepuasan nafkah batin dari suaminya. Sebelumnya, ia bermuka kusut dengan rambut acak-acakan. Para isteri Nabi sampai tertawa mendengar kepolosan cerita Haula.

Banyak hal yang dihalalkan Allah: daging hewan, ikan, buah, sayur-sayuran, pakaian yang bagus, bersetubuh dengan isteri. Mengapa semua itu tidak dinikmati hanya karena dianggap menghalagi kedekatan dengan Allah? Islam menolak konsep hidup “sengsara” demi mencapai “nirwana.”

Orang yang anti daging dan makanan bergizi, lalu fisiknya lemah dan tidak bisa melakukan kewajibannya sebagai suami atau kepala rumah tangga tentu bukan muslim yang baik. Layakkah Anda disebut pengikut Nabi, jika Anda meninggalkan tugas-tugas rumah tangga dan hanya fokus berdzikir sepanjang hari sampai anak-anak dan rumah tangga berantakan?

Untuk menikmati semua yang halal di atas, Allah menetapkan pedoman seleksinya, yaitu halal (halal), baik (thayyib) dan proporsional (wala ta’tadu). Daging sapi, buah, sayur dan sebagainya  halal, tapi jangan dimakan jika dokter melarangnya,  atau daging itu hasil korupsi. Jika halal dan baik untuk tubuh, silakan dikonsumsi, tapi  makanlah sesuai dengan porsi yang benar menurut dokter, jangan berlebih,  apalagi untuk menunjukkan kemewahan dan kesombongan satus sosial. Silakan bersetubuh dengan isteri, sebab itu kewajiban yang mendatangkan pahala, tapi lakukan secara proporsional.

Tiupkan semangat beragama pada diri Anda, tapi jangan tinggalkan tugas dan kenikmatan dunia. Jika orang-orang shaleh seperti Anda “bertapa” di masjid dan menjauhi kehidupan riil dalam dunia politik, perdagangan, dan kegiatan-kegiatan sosial lainnya, lalu orang-orang yang tidak beragama atau tidak bermoral menjadi pimpinan dalam semua lini kehidupan, siapakah yang disalahkan?  

Sebagai hamba Allah, tidak dibenarkan satu menitpun Anda lewatkan tanpa ibadah, tapi artikan ibadah dalam arti yang seluas-luasnya. Anda wajib beribadah secara ekstra, tapi tetap hiduplah sebagai manusia biasa: sebagai individu, kepala keluarga dan warga masyarakat dan negara. Panggilan ibadah tidak hanya adzan untuk shalat, tapi juga panggilan kemanusiaan dan kepemimpinan (khalifah) di panggung dunia. Semua lini kehidupan itu bisa Anda jadikan sajadah untuk investasi pahala.(*)

  

 

 

 

 

 

 

 

Blast from My Past : My UMPTN Story (part 1)

Eh, eh, sekarang SNMPTN lagi trending topic gak seh? Rasanya bikin gw pengin mengenang masa-masa jadul deh.

Pertama kali ikut UMPTN, tahun 1999*duh,langsung kebayang tuanya ya :-( (dan agak terhibur sih, waktu mak Lies Hadi sempat komen kalo akyuu adalah mahmud alias mamah-mamah muda, hihihi….)

Lulus dari SMA Negeri di kawasan Prapen Sby, saya blasss gak ada gambaran bahwa “Oh, okai, gw bakal daftar di jurusan ini, because it’s my PASSION. And I’m gonna totally menekuni tuh jurusan, karena cinta banget.”

Yang ada cuma bayangan bahwa, oke, saya lulus SMA. What next?!

Bingung tanya sana-sini, ada satu temen Ibu–dosen teknik sipil di ITS Sby–yang mengarahkan aku buat ikutan Psikotest pemilihan jurusan ke Psikolog, namanya Nurhadi, di kawasan Ngagel.

Iiih, niy orang serius banget dah. Waktu itu gw datang telat kan ya. Wuah, habis deh,eike didamprat abis2an!

“Tidak disiplin!! Jam berapa Anda berjanji akan ikut Psikotest?!! Anda telattt! Besok datang lagi!! Dan jangan telat lagi!!!”

Malu banget, neik. Etapii, untungnya waktu itu gw kan masih fase-fase yang ‘muka tembok’ gitu ye.#emang sekarang kagak Buw?

Jadi ya, gitu deh, gw besokannya datang lagi, di-test secara personal oleh Bapak Psikolog yg rada-rada “psikopat” ntuh. Hahaha….

Dan, a few days later, gw dipanggil utk diceramahi bahwa “Dengan IQ dan bakat yang kamu punya, you should enter medical faculty Unair.”

What?@((*^^$ FK?? Oh, NOOO. Gw takuuuutttt banget sama darahhhh… Iiiih, ndak, ndaakkkk… Apalagi, anak-anak FK kan sering praktik bedah-bedah mayat gitu kan??? Iiiiihhh, ndaaaakkk….#ngeles jilid 1

Loh, jangan khawatir… Lama-lama kamu bisa mengenyahkan rasa takut itu! Percayalah, jangan sia-siakan kemampuan yang sudah Tuhan percayakan kepada kamu….” (si psikolognya keukeuh)

Oh, okai, bapak psikolog yang saya hormati. Masalahnya, biaya kuliah di FK tuh mahal amiiiirrr… emak gw kan janda, secara bokap udah meninggal since I was in elementary school. Jadi, gw kuatir, ntar bakal prothol di tengah jalan pas kuliahh…. #ngeles jilid 2

“Di FK banyak beasiswa yang bisa kamu apply… Pasti ada kemudahan, apalagi kalo kamu mau belajar dengan ekstra keras dan semangat…”

 

Glek. Aku pulang dengan bimbang. Secarik hasil Psikotes ada di tanganku. Psikolog ini bukan psikolog kemarin sore. I’m quite sure dia adalah “somebody” di dunia per-psikologian. Tapiii… aku kok ndak minat blas ya untuk ke FK?? FK itu kan ngurusin manusia ya? Lah, kalo suddenly gw diserang “gebleg mendadak”, kemudian pasien yang daku pegang kenapa-kenapa, trus bigimene mpok??

Ah, emohlah. Gw gak jadi Dokter juga gak akan ngaruh terhadap pemetaan dunia kedokteran di bumi ini kok.

Tapiiiii… jadi dokter kan konon katanya bikin orang cepet kaya yak?

Mmmmhhh… tiap orang bukannya doyan sama perduitan yak?

Jurusan apa ya, yang urusannya sama benda mati, tapi bisa bikin kaya raya dengan seksama, dan dalam tempo sesingkat-singkatnya???

Nah. Ngobrol2 dgn temen satu kelas, muncullah satu nama:Teknik Informatika.

 

Weits. Keren amiiir niiih… Kata tentor gw di SSC, jurusan ini hanya menerima anak-anak dengan IQ di atas rata-rata. Persaingannya ketat, man. Yah, jaman gw, correct me if I’m wrong ya, sekitar 1 banding 400 gitu deh. Artinya, 1 anak yg diterima di jurusan ini, berarti telah mengalahkan 400 bocah yang lain. Prestisius mampus kan???

Gradenya di atas FK. Daaaannn… (ini bagian yang paling gw suka) Informatika melahirkan lulusan yang siap kerja di bidang IT plus duitnya buanyaaaaaakkkk…. Wuahhhh, I like itttt….. *joget-joget ala orang kesurupan*

Pas saatnya UMPTN, gue contreng dah ntuh jurusan. Informatika di pilihan 1. Matematika di pilihan 2. Pokoke yang gw pilih, ada unsur kata ‘matika’ gitu dah. Hehehhe…

Ternyataaaaaaa…..

*drum roll*

Gw ketrima neeeekkkkkk

Di Informatikaaaaa!

Kebayang deh, gw bakal jadi programmer komputer yang nerd, pake kacamata tebel, pake kawat gigi, trus tiap hari melotoooottt aja di depan compie.

Daan, nih kampus ternyata mengajarkan satu hal: We have to be proud to be informatics people. No wonder, pas Ospek, angkatan gw bikin yel-yel:

“We are the one, One, Only One…

We are the Nine, Nine, Ninety Nine…

We are the one, one, one…

We are the Nine, Nine, Nine…

We are the One

And Only Ninety Nine….”

Serruuuu banget pas Ospek. Apalagi bocah-bocah angkatan ‘99 tuh lumayan gokil dan beberapa di antaranya urat malu mereka dah pada putus deh. Hehhehehe… Jadi, biarpun di-bully senior, yeah, gw bener2 impressed sama all the details pas Ospek.

I think I’m just in love with this Jurusan. Sampai kemudian, kebenaran yang pahit itu mulai datang.

(to be continued)

 

Me (kanaaaannn banget, pake baju item polkadot). Poto jadul mampus dah... Ni tahun 1999 boww....

 

PS: Eh, perhatiin cowok Tionghoa baju biru yang duduk di depan. Tahukah dia siapa? Yeeep, my buddy pas kuliah di ITS ini adalah penulis sekaligus traveler handal: Agustinus Wibowo!

Aam Amiruddin: Tips ‘Ngobrol Asik’ Ortu dan Anak

“Kok, anak zaman sekarang susah diatur ya? Berani ngelawan orangtua? Beda banget dengan anak-anak zaman dulu…”

Image

Sering dengar keluhan semacam ini? Kalau melihat tren perkembangan anak dan remaja, kita semua memang patut mengelus dada. Menjadi orangtua di era kekinian sama sekali bukan hal yang mudah. Sejumlah orangtua mengeluhkan perilaku anaknya yang kian temperamen. Nah, liburan akhir tahun kemarin, saya sempat ikuti kajian Ustadz Aam Amiruddin. Sebagai ustadz pemateri acara religi di TVOne, RCTI, SCTV dan Trans TV, Aam akrab dengan beragam curhat jamaahnya seputar parenting. Yuk, simak obrolan dengan Ketua Pembina Yayasan Percikan Iman ini.

Ustadz, sebenarnya mengapa anak-anak sekarang begitu gampang ‘naik darah’ dan amat sulit dikendalikan orang tua?

Mengapa anak temperamental? Kita tidak bisa menuding hanya dari satu aspek saja. Karena, karakter anak terbentuk sejak dalam kandungan. Maka dari itu, ketika seorang wanita sedang hamil, usahakan temperamen ibu hamil (bumil) tidak naik. Orang kalau marah, hormon adrenalin melewati ambang batas. Hormon masuk plasenta, sehingga bayi ikut marah. Kalau bumil sering marah, maka bisa menyebabkan anak menjadi temperamental.

Jadi, ketika anak kita kerap naik darah, coba lihat masa lalu, kita flash back sejenak. Ibunya sering marah atau tidak? Bagaimana dengan lingkungan tempat anak kita bertumbuh kembang? Apakah anak kita dibesarkan di lingkungan yang juga keras dan kasar?

Kalau orangtua mengajarkan dengan cara yang keras, dengan berteriak, “Sholaaaat!!!” maka anak kita pasti akan belajar untuk menjawab dengan cara serupa, “Bentaaaarrrr!!” Jadi, bentakan dibalas dengan bentakan.

Lalu, apa yang harus kita lakukan? Misal anak main game, pas masuk waktu sholat. Elus punggungnya. Kita ajarkan bagaimana cara bernegoisasi. “Tadi kan sudah ibu kasih waktu main game selama 10 menit. Sekarang, ayo kakak berhenti dulu main game-nya. Sholat berjamaah dulu.”

Ingatlah, ibu-bapak, kalau anak dibesarkan dengan caci maki, maka ia akan belajar berkelahi. Kalau anak dibesarkan dengan motivasi, maka ia akan belajar percaya diri. Besarkan anak kita dengan cinta kasih, supaya ia tidak menjadi anak yang temperamen tinggi.

Apa tips komunikasi yang bisa dibagikan pada kami?

Al-Qur’an sudah menjabarkan 6 (enam) strategi komunikasi yang harus dijalankan antara orangtua dan anak. Yang pertama, Qaulan Sadida, artinya perkataan yang benar, baik berdasarkan aspek isi, maupun cara penyampaian. Artinya, saat berbicara kepada anak, isi pembicaraannya harus benar menurut kaidah ilmu. Kalau anak bertanya, orangtua jangan asal menjawab, sebab bisa jadi jawaban kita itu salah menurut kaidah ilmu.

Misalnya, “Mama, kenapa ikan kok matanya nggak berkedip padahal ia ada di air?” Ibunya menjawab, ”Emang maunya gitu. Kamu yang gitu aja kok ditanyakan?” Ini adalah contoh jawaban yang asal-asalan dan tidak benar menurut kaidah ilmu.

Kalaupun orangtua tidak bisa menjawab pertanyaan anak, lebih baik berterus terang sambil memuji pertanyaan itu. Katakan, “Aduh sayang, pertanyaan kamu hebat sampai Mama nggak bisa jawab. Nanti kita cari jawabannya di buku ya.” Jawaban seperti ini adalah qaulan sadida.

Yang kedua, Qaulan Baligha. Artinya, perkataan yang berbekas pada jiwa. Agar ucapan berbekas pada jiwa anak, kita harus memahami psikis atau kejiwaan anak. Orangtua yang baik pasti mengetahui karakter anak-anaknya. Perkataan orangtua akan bisa menyentuh emosi atau perasaan anak, apabila mereka memahami karakter anaknya.

Yang ketiga, Qaulan Ma’ruufan. Perkataan yang baik, yang penuh dengan penghargaan, menyenangkan dan tidak menistakan. Apabila kita menemukan kesalahan dalam perilaku atau ucapan anak, tegurlah dengan tetap menjaga kehormatan anak, jangan dinistakan di depan orang banyak.

Yang keempat, Qaulan Kariiman. Perkataan yang mulia, yang memberi motivasi, menumbuhkan kepercayaan diri, perkataan yang membuat anak bisa menemukan potensi dirinya. Misal, ada anak yang mengeluh pada orangtuanya karena nilai fisika selalu jelek. Ayahnya berkata, “Waktu SMP, nilai fisika ayah juga selalu jelek. Tetapi, sekarang ayah malah jadi guru besar fisika. Ayah yakin kamu bukan bodoh, tapi belum menemukan teknik belajarnya.”

Ini contoh ucapan yang qaulan kariiman, ucapan mulia yang penuh motivasi. Apa contoh yang tidak qaulan kariiman? Ortu yang komentar, “Emang kamu nggak ada bakat di fisika, sampai kapan pun pasti jelek nilainya.” Hati-hati, ucapan ini bisa membunuh semangat dan karakter anak.

Yang kelima, Qaulan Layyinan. Perkataan yang lemah lembut. Ucapan lembut mencerminkan cinta dan kasih sayang, sementara ucapan kasar mencerminkan kemarahan dan kebencian. Islam mengajarkan kita layyin alias lembut, penuh cinta dan perhatian.

Dalam riwayat Imam Ahmad, diungkapkan bahwa Rasulullah bertemu dengan seorang sahabat yang sangat melarat. Rasul bertanya, “Mengapa kamu mengalami kesengsaraan seperti ini?” Sahabat itu menjawab, ”Ya Rasulullah, saya mengalami kemelaratan ini karena selalu berdoa, ’Ya Allah, berikanlah kepadaku kemelaratan di dunia, sehingga dengan kemelaratan itu aku bisa bahagia di surga.”

Mendengar jawaban ini, Rasul bersabda, ”Inginkah aku tunjukkan doa yang paling baik? Robbanaa aatina fid dunya hasanah, wafil aakhirati khasanah wa qinaa ‘adzaabannar (Ya Allah, berikan kepada kami kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akherat serta jauhkan kami dari azab neraka).”

Coba kita perhatikan kasus tersebut. Doa yang diucapkan sahabat itu salah. Ia minta melarat di dunia, karena berharap kebahagiaan di akherat. Akan tetapi, Nabi tidak memarahinya. Beliau menunjukkan doa terbaik dengan penuh kelembutan. Apa hikmah yang bisa kita ambil? Dalam berkomunikasi dengan anak, bila mereka melakukan kesalahan, jangan dihadapi dengan kemarahan, apalagi menggunakan bahasa yang kasar. Gunakanlah bahasa yang lembut, penuh cinta dan hikmah.

Yang keenam, Qaulan Maysuura, perkataan yang mudah. Maksudnya, ucapan yang mudah dicerna, tidak berbelit-belit. Bisa juga bermakna ucapan yang membuat anak merasa mudah untuk melaksanakan apa yang kita katakan. Misal, ada seorang anak mengeluh bahwa belajar Bahasa Inggris itu susah.

Ada orangtua berkomentar, ”Teman Mama sekarang sekolah di Amerika. Padahal dulu, nilai bahasa Inggrisnya jelek. Tapi, ia tekun, maka sesulit apa pun pelajaran, kalau kita tekun insyaAllah jadi biasa dan akhirnya bisa.”

Inilah contoh ucapan yang maysuura, ucapan yang membuat orang yang mendengarnya merasa mdah dan ringan. Sayangnya, ada ortu yang berkomentar begini, ”Emang Nak, kalau nggak cerdas, belajar sekeras apapun tetap aja bodoh!” Inilah contoh ucapan yang tidak maysuura karena ucapannya membuat anak menjadi semakin merasa sulit, bahkan jadi putus asa. (*)

ASMA NADIA : Sebarkan Virus Bunda Anti-Galau

Image

Asma Nadia (tengah) dan saya kompak pakai jilbab pink-fuschia gitu deeh 🙂

“Cerita-cerita yang tertulis di buku saya, memang sarat pesan khususnya buat para Ibunda. Tujuannya? Tentu supaya para Ibu tidak galau. Coba bayangkan, Ibu itu kan tugas utamanya mendidik dan membesarkan buah hati. Kalau ibunya galau, gimana nasib anaknya, coba? Seorang ibu tak boleh berlama-lama lemah, sebab ada anak-anak yang memerlukan senyum dan kehadirannya di sisi mereka.”(Asma Nadia)

Siapa tak kenal Asma Nadia?

Nama yang demikian kuat bercokol di dunia sastra. Nama dan karyanya kian melanglang buana, seiring dengan aneka novel, kumpulan cerpen dan karya literaturnya yang banyak bermuatan edukasi, khususnya bagi orangtua. Banyak misi menarik yang mencuat dari ragam karya yang ia lahirkan. Yang paling menonjol adalah, bagaimana supaya kita menjadi sosok orangtua yang semakin baik dari hari ke hari.

Sebagai novelis, Asma menurunkan bakatnya ke dua buah hatinya. Eva Maria Putri Salsabila dan Adam. Mereka berdua sudah menerbitkan novel anak-anak, dengan ciri khas masing-masing. Jiwa sastrawan nan puitis begitu kuat mengakar dalam diri Caca, panggilan akrab Putri Salsa. ”Pernah, suatu ketika Caca datang dan menyodorkan kertas yang ia hias seperti penghargaan. Di kertas itu tertulis: Number One Mom, atau The Best Mom in The World. Sering juga Caca membungkus kado untuk saya, terutama kalau saya baru pulang dari perjalanan jauh berhari-hari. Kado itu berisi barang-barang lama saya, seperti kotak tisu, bingkai foto, jepit rambut. Uniknya, selalu ada kalimat penuh cinta yang tertera di bungkusnya, seperti “For My Beloved Mom”.

Kasih sayang yang tak terperi antara Ibu dan anak ini memang menggetarkan hati. Rasa sayang Caca terhadap Bundanya adalah buah dari cinta kasih yang membuncah dari orangtua kepada anak. Di tengah jadwalnya yang begitu padat, suatu ketika, Asma meluangkan waktu untuk hadir dalam pentas drama di sekolah Caca. ”Usai tampil dan turun dari panggung, Caca kontan menubruk saya dan mengatakan ‘Aku punya surprise untuk Bunda’. Tangan kecilnya menyodorkan sebuah hadiah yang ia bungkus dengan kertas putih berhias dan bertuliskan ‘Thanks for Watching Me, Mom!’ Subhanallah, perasaan saya langsung nyess ketika memeluknya saat itu. Tulisan Caca menyadarkan saya betapa berartinya kehadiran saya bagi anak seperti dia,” lanjut Asma.

Asma merasa bersyukur lantaran bisa menyaksikan performance buah hatinya. Betapa banyak orangtua yang enggan terlibat dalam kegiatan sekolah sang buah hati, dengan dalih kesibukan yang menggunung. ”Untunglah saya mengundurkan jadwal keberangkatan saya ke luar kota. Dengan membaca tulisan Caca, saya merasa menjadi sosok yang begitu berharga untuk dia.”

Selain melahirkan puluhan buku best seller, Asma Nadia juga kerap mengisi seminar seputar Keluarga Sakinah, di berbagai pelosok daerah, hingga ke mancanegara. Suami Asma, Isa Alamsyah adalah seorang motivator sekaligus penulis. Sepasang suami-istri ini begitu kompak dalam menjalani bahtera rumah tangga, dus memberikan pendidikan yang terbaik bagi buah hati mereka. ”Sebagai orangtua, tugas kita untuk terus mengompori anak-anak, agar mereka terpacu dan berbuat. Agar mereka percaya, they do own the ability to do something. Mereka bisa berbuat sesuatu dan lebih percaya diri untuk menjalani hari sekaligus menatap masa depan,” tukas Asma, “Jadi, ayolah kita para orangtua sama-sama memberi ruang seluas-luasnya, bagi anak-anak kita dan belajar mempercayai. Bahwa mereka bisa!”

Kendati tampak kompak luar dalam, bukan berarti sosok Asma Nadia tampil sebagai “super-mom” di keluarga mereka. ”Kadang ada kalanya anak-anak saya kalau lagi asyik main sama ayahnya, terus saya nyamperin ’Eh, udah pada belajar belum?’ Spontan, anak-anak saya nyeletuk, ’Waduh ada GAN nih… Gangguan Asma Nadia’ Hehehhe,” kelakar Asma. Pun ketika Asma dan suaminya menjalankan Ibadah Haji. Ketika tengah wukuf di Padang Arafah, di luar dugaan, Isa Alamsyah, sang suami, memanjatkan doa yang cukup ‘unik’, ”Ya Allah, semoga ibunya anak-anak tidak bawel-bawel amat…”

Asma percaya bahwa tidak ada pasangan ataupun keluarga yang sempurna. Sebagaimana yang tertulis di cover buku Sakinah Bersamamu. Begini bunyinya: Cinta bukanlah mencari pasangan yang sempurna, tapi menerima pasangan kita dengan sempurna. ”Sakinah memang harus diusahakan. Berusaha menjadi pasangan yang menyenangkan, bersyukur atas bagaimanapun kondisi pasangan kita. InsyaAllah dengan memiliki tujuan yang sama, yaitu menggapai ridho Yang Maha Kuasa, maka perjalanan rumah tangga kita akan menjadi indah,” pungkasnya.(*)

Image

Sempat dinasihatin juga, supaya saya istiqomah berdiet *uhuk!*

 

[Portofolio] Pengin Jadi Anak Sholih…..

Siang-siang gini, ngantuuuuk banget, byuuuh…. Biar ngantuknya ilang, ngeblog aahhh *teriak pake toa

Sepagian tadi, saya cukup kaget pas baca blog Pak Iwan Yuliyanto. Infonya dapat dari Mak Myra Anastasia. Jadi, critanya, ada satu akun FB yang isinya haduuuh, na’udzubillah banget… Statusnya itu lho, bener-bener bikin kita harus istighfar terus-menerus. Si neng bolak-balik nulis status yang isinya menjelek-jelekkan ortu (terlebih ibu) .

Wah, sebagai emak, jelas saya panik banget. Jangan sampai, kelakuan durhaka semacam itu menular ke saya ataupun ke anak saya.  Naudzubillahi min dzalik

Sebagai “obat” pelipur lara gegara baca berita “FB anak durhaka” tadi, saya mau parade hasil karya euy.

Saya dan beberapa teman plus mas ini ditugasi untuk bikin Konsep, Foto sekaligus Copywriting kalender. Biar ga kaya kalender kebanyakan (kita kan anti-mainstream, hehe) kalender kita ini ada “Tema”-nya. Tahun ini, temanya: “Birrul Walidain” alias Akhlak (anak) yang harus berbuat baik terhadap orang tua.

Yuk ah, nikmati parade hasil karya banting tulang peras keringat kuras airmata kami.  Hihihi.

FOTO DI BAWAH INI, FAVORIT SAYA BANGET! Karya mas boss di kantor. Konsepnya, kurang lebih ambil kisah Sahabat Rasul yang mendarmabaktikan jiwa, fisik, tenaganya untuk menggendong ibu tercinta ketika THAWAF! Itu artinya, muterin Ka’bah 7 kali putaran dalam kondisi PUANAAASS, gilak. Nah, si model profesional menggendong mbahnya (karena ibunya masih muda, jeeeh…) seolah-olah menapaktilasi jejak Sang Sahabat. Untuk Naskah Copy-writing kalender tema ini, saya tulis di bawahnya.

Image

Image

KALAU YANG INI, MODELNYA ADALAH Mbak Lala, istrinya si model profesional di atas 🙂 Yang jadi anaknya, Afif, salah satu santri di Panti Asuhan Pesantren Anak Sholih Nurul Hayat. Ceritanya, si Afif jadi anaknya mbak Lala, trus Afif cranky banget, minta gendong, minta pentol, minta duit, minta kawin *hlo?! Nah. Biasanya, kita sering cranky dan ‘gak sengaja’ bilang “AH!” ke ortu kan? *kita?!?! Lo aja kaleee** Tujuan gambar kalender ini pengin ‘nabok’ kita biar kagak melontarkan kata-kata buruk nan kasar ke ortu. Bahkan “AH!” saja udah dosa loh. Copywriting-nya saya taruh di bawah foto yak.

Image

Image

TEMA BERIKUTNYA TENTANG…… *Jreng-jreeng* MERTU-HA-HAA-HAAA-HAAAA….

Siapa sih yang nggak pernah ‘kesenggol’ ama mertua? Wuahaa, thumbs up dah! Biarpun ngaku sebagai mantu yang asik, baik, easy-going, suka menabung dan tidak sombong *tsaaah* gini-gini saya juga pernah lah ‘terintimidasi’ oleh mertua.

Lah, mertua saya itu lho, tipikal ibu yang ‘almost perfect’. Cantik. Jago masak. Jago jahit. Jago merawat anak. Jago dagang. Baik. Gak pernah bikin sakit hati orang. Makanya, saya suka kesel, kalo ada yang ngebandingin ibu mertua dan saya.

“Iiiih, mba Nurul kok nggak elegan kayak ibu mertuanya sih?” *gampar*

Nah, gara-gara itu, saya jadi sebel ama mertua –> mantu sesat. Hehhe, tapi sekarang udah tobat kok. Dipikir-pikir, aneh banget deh, logika saya. Dapat mertua baik, mestinya bersyukur tho? Ini kok malah nggondhok hanya karena dibanding2in. Istighfar nduuuk…

TEMA di bawah ini mengakomodir keinginan Bos di NH (kagak berani nge-link ke twitter doi, heheheh). Penginnya ada kalender yang memberikan nasihat (tapi tidak menggurui) soal bagaimana adab dan etika kita pada mertua. Nggak terlalu suka ama fotonya, tapi demen banget ama copywriting-nya. (lah iya, lha wong yang bikin aku dewe, heheheheh….)

ImageImage

Duh.

Ini maapkeun, file-nya segede gaban, tauk nih kok ga bisa di-resize. Sepertinya laptop saya ingin pensiun dini dan digantiin Acer Slim Series. Hihihi…

Baiklah, sekian update pamer karya dari saya. Semoga kita dilindungi Allah, dibimbing terus untuk jadi anak yang sholih dan sholihah. Juga jadi ortu yang baik dan benar. Jangan nuntut anak sholih mulu, sih… Kitanya juga harus ngaca.

Twitter-an yuk, boleh mention saya di @nurulrahma. Have a Great Day!

Hajiku, Hajimu, Haji Kita

“Braaaakkkk…..”

Allahu Akbar, Ibuuuu…..ibuuu… ini gimana nih, Ibu….”

Astaghfirullah… Allah… Allah….”

Buru-buru saya berucap istighfar. Tak kuasa saya melihat “pemandangan ngeri” yang terjadi persis di depan saya. Seorang nenek-nenek bermukena lengkap, menaiki eskalator bareng bolo-bolonya. Semua serba lansia. Kalau lihat gaya bicara mereka, tampaknya, nenek-nenek sepuh ini berasal dari desa dan sama sekali tidak akrab dengan eskalator! Pantasss… Mereka kelihatan kemrungsung (panik dan ribet) ketika harus menapaki tangga berjalan. Pantas, satu dan yang lain kelihatan berusaha saling menguatkan, menyemangati agar bisa naik. Tapi, yang terjadi adalah…. Mukena salah satu dari mereka nyangkut, tergilas pijakan eskalator dan nenek tadi harus jatuh berguling-guling.

Untunglah, cukup banyak jamaah haji pria yang berada di sekitar kami. Setelah eskalator berhasil dihentikan, pak haji tadi langsung menolong nenek sepuh yang tak berdaya.

Yak, selamat datang di Masjidil Haram, Mekkah. Inilah momen terbesar dalam ibadah umat muslim sedunia. Berjubel manusia memadati bangunan suci ini. Masjid yang teramat sangat luas, penuh dengan beragam aksesoris hi-tech, sehingga kerap menjadi “jebakan betmen” buat para jamaah haji. Apalagi, yang berasal dari desa, dan minim pengalaman dengan teknologi.

Image

(bukan) jamaah ndeso lah yauw Heheheh

Kalau mau berhaji, bukan hanya hati, jiwa dan iman yang harus dimantapkan. Duit, juga, hehe… Yang tak kalah penting, siapkan “mental” untuk menghadapi beragam hal di luar kebiasaan hidup kita.

Soal naik eskalator tadi, misalnya. Jauh-jauh bulan, ada baiknya CJH yang berasal dari desa diajak untuk jalan-jalan ke kota. Tujuannya? Ke mal! Ngapain? Coba naik-turun eskalator. Selain itu, biasakan diri untuk berakrab ria dengan kumpulan manusia dalam jumlah segabruk. Betul lho, kalau tidak terbiasa, lihat ribuan manusia bisa bikin sukses keliyengan!

Tahun 2010, Alhamdulillah saya memenuhi undangan Sang Penggenggam Kehidupan untuk beribadah ke Baitullah. Rasa haru yang meruap, rasanya sulit dipercaya, karena usia saya terbilang masih muda (untuk ukuran rata-rata jamaah haji Indonesia). Ya, saya berhaji di usia 29 tahun. Bersyukur lantaran usia muda ini memudahkan saya untuk melakoni sejumlah ibadah fisik. Bayangkan, SELURUH ritual dan aktivitas haji mensyaratkan fisik yang prima. Thowaf, kita harus memutari Ka’bah sebanyak 7 putaran. Lalu, sa’i, bolak-balik antara bukit Shofa-Marwah sebanyak 7 kali. Belum lagi berjibaku ketika antre bus. Ketika harus berjejalan di dalam Masjidil Haram. Ketika berjalan kaki dari pemondokan ke terminal. Macam-macam. Tak habis syukur saya karena undangan Allah yang begitu indah, sudah saya terima di usia 29 tahun.

Muncul pertanyaan, bagaimana saya bisa berhaji di usia semuda itu? Hmm, jawaban versi bijaknya: begitulah skenario Allah. Kadang, kita tidak pernah tahu dan tak bisa memprediksi jalan hidup kita. Kalau jawaban versi financial planning: Ya, boleh dibilang, berangkat haji adalah salah satu “tujuan finansial utama” saya. Apapun saya lakukan demi bisa berhaji. Saya rela ngirit-ngirit ongkos makan, asal ada duit yang bisa saya tabung di Rekening ONH. Saya sanggup tak beli baju modis, tak nonton film bioskop premiere, tak ikut gaul dan berhedon-ria dengan teman-teman. Mengapa? Karena saya meniadakan budget “having fun” dan mengalokasikan semua itu dalam rekening Haji. Alhamdulillah, duit tabungan sudah cukup. Plus, undangan Allah sudah tiba.  Sebuah harmoni nan indah. Lebih elok lagi, karena abang dan ibunda saya juga berhaji di tahun yang sama. Subhanallah, sungguh indah rencana Allah.

Demi Ngirit, Masak Sendiri

Masih membahas soal financial planning. Urusan hidup hemat harus berlanjut di tanah suci. Sebenarnya, negeri onta ini  tidak terlampau “mencekik” dalam urusan harga sembako. Ya, adalah harga-harga yang dikatrol, karena demand yang luar biasa meningkat. Kalau ketemu pedagang yang baik, insyaAllah kita nggak bangkrut-bangkrut amat-lah. Tapi, apabila Anda lagi apes, dan bersua pedagang yang ‘minta ditambah ajaran’ (istilah ini diperhalus dari ‘kurang ajar’) ya apa boleh buat. Saya pun pernah beradu mulut dengan si pedagang bahlul itu. Saya ngomel-ngomel pakai Bahasa Inggris, dia pakai Bahasa Arab. Nggak nyambungBiarin, yang penting puas, sudah bisa komplain ke dia. Hehe.

Nah, kami bertiga termasuk keluarga menengah yang tak tega bila harus menghamburkan duit. Untungnya, ibu saya termasuk perempuan dengan kecerdasan finansial yang sungguh patut diberi standing ovation. Dari tanah air, ibu membawa beragam properti dan bahan mentah, bumbu plus perintilan dapur lainnya. Mulai kompor listrik, rice-cooker mini, panci, wajan, teko, beras, kacang ijo, bahkan daun pandan! SubhanAllah banget kan?

Ternyata, strategi Ibu amat-sangat bisa menyelamatkan kantong dari “kepunahan penduduk”. Kalaupun beli di Arab, kami hanya belanja telor, sayur kangkung dan buah-buahan saja. Selebihnya, please welcome…. Chef Siti Fatimaaahh! Hehehhe….

Image

(mendadak) Chef Siti Fatimah (kanan)

Lebih bersyukur lagi, karena lidah saya ternyata tak berjodoh dengan masakan Arab. Hampir semua masakan Arab diberi bumbu kapulaga, jinten yang rasanya justru (menurut saya) bikin eneg. Alhamdulillah, justru di Arab, saya merasakan bahwa masakan Ibunda adalah menu paling juara sedunia!

O iya, ibu saya juga menyiapkan stok bumbu pecel, abon, mie instan, ikan wader goreng, kripik usus, kripik belut, dan aneka snack yang bisa berfungsi sebagai teman makan nasi. Nggak ada judulnya kita bosan dengan sajian Ibu. Yang ada, teman-teman satu KBIH sibuk bersilaturrahim ke kamar kita. “Halo, Assalamualaikum, hari ini Chef Fatimah masak apa ya?”

Perbaiki Hati, demi Raih Haji Mabrur

Seolah tidak ada habisnya kalau harus mengulik memori ketika berhaji. Adaaaa saja yang mau diceritakan. Kenangan ketika wukuf di Arofah. Drama berebut bus Saptco gratisan. Pengalaman diusir asykar (petugas) Masjidil Haram karena ketahuan bawa kamera. Adu strategi simpan kamera poket di dalam kaos kaki, lantaran takut disita asykar di Masjid Nabawi. Macam-macam!

Image

Yang jauh lebih penting dari itu semua adalah, apa dan bagaimana upaya kita untuk meraih predikat Haji Mabrur. Karena rupiah yang kita gelontorkan, sungguh amat disayangkan bila tidak kita optimalkan untuk ibadah haji setulus hati. Memang, godaan kerap menghantam. Ujub (bangga pada diri sendiri) hanya karena sudah berhaji, adalah sebuah rasa yang harus kita enyahkan. Sekuat jiwa. Karena itu, sebelum berhaji, sesudah berhaji, dan setiap momen haji tiba, saya selalu baca untaian nasehat dari Ja’far Ash Shadiq, sufi besar keturunan Rasul, yang saya cantumkan di akhir tulisan ini. Resapi dalam-dalam. Hayati, dan amalkan. Yang tahu mabrur-tidaknya ibadah hanya Allah. Tugas kita adalah melakukan upaya dan menguatkan hati agar tidak tergelincir dalam riya’ (pamer). Selepas itu, tak perlulah kita panik dengan embel-embel “Pak Haji” atau “Bu Hajjah” atau “Umi” dan sebagainya. Satu-satunya hal yang esensial, semoga Allah mengganjar kita dengan surga-Nya, sebagaimana sabda Rasul, “Haji mabrur itu tidak ada balasan lain, kecuali surga.” (HR Nasai dari Abu Hurairah).

Allahu Akbar. Indah nian… Dan, ingat-ingat juga sabda Rasulullah berikut, “Barang siapa berhaji di Baitullah, kemudian dia tidak berkata-kata kotor atau berbuat dosa, ia kembali dari haji seperti bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya.” (HR Bukhari dari Abu Hurairah).

Baiklah, di bawah ini saya untaian nasehat dari Ja’far Ash Shadiq:

Jika Engkau Berangkat Haji….

Kosongkanlah hatimu dari segala urusan dan hadapkanlah dirimu sepenuhnya kepada Allah Swt.

Tinggalkan setiap penghalang dan serahkan urusanmu pada Penciptamu.

Bertawakkallah kepada-Nya dalam setiap gerak dan diammu.

Berserahdirilah pada semua ketentuan-Nya, semua hukum-Nya, dan semua takdir-Nya.”

“Tinggalkan dunia, kesenangan dan seluruh makhluk.

Keluarlah dari kewajiban yang dibebankan kepadamu dari makhluk.

Janganlah bersandar pada bekal, kendaraan, sahabat, kekuatan, kemudaan, dan kekayaanmu.”

“Buatlah persiapan seakan-akan engkau tidak akan kembali lagi.

Bergaullah dengan baik.

Jaga waktu-waktu dalam melaksanakan kewajiban yang ditetapkan Allah dan sunnah Rasul, yaitu berupa adab, kesabaran, kesyukuran, kasih sayang, kedermawanan, dan mendahulukan orang lain sepanjang waktu.

Bersihkan dosa-dosamu dengan air tobat yang ikhlas.”

“Pakailah pakaian kejujuran, kerendahan hati, dan kekhusyukan.

Berihramlah dengan meninggalkan segala sesuatu yang menghalangi kamu mengingat Allah.

Bertalbiahlah kamu dengan menjawab panggilan-Nya dengan ikhlas, suci, bersih dalam doa-doa kamu seraya tetap berpegang pada tali yang kokoh.”

“Bertawaflah dengan hatimu bersama para malaikat sekitar Arasy, sebagaimana kamu bertawaf dengan jasadmu bersama manusia di sekitar Baitullah. Keluarlah dari kelalaianmu dan ketergelinciranmu ketika engkau keluar ke Mina dan janganlah mengharapkan apapun yang tidak halal dan tidak layak bagimu.”

“Akuilah segala kesalahan di tempat pengakuan (Arafah). Perbaharuilah perjanjianmu di depan Allah, dengan mengakui keesaan-Nya. Mendekatlah kepada Allah di Muzdalifah. Sembelihlah tengkuk hawa nafsu dan kerakusan ketika engkau menyembelih dam. Lemparkan syahwat, kerendahan, kekejian, dan segala perbuatan tercela ketika melempar Jamarat.”

“Cukurlah aib-aib lahir dan batin ketika mencukur rambut. Tinggalkan kebiasaan menuruti kehendakmu dan masuklah kepada perlindungan ke Masjidilharam. Berputarlah di sekitar Baitullah dengan sungguh-sungguh mengagungkan Pemiliknya dan menyadari kebesaran dan kekuasaan-Nya. Ber-istilam-lah kepada Hajar Aswad dengan penuh keridhaan atas ketentuan Allah dan kerendahan diri di hadapan kebesaran-Nya. Tinggalkan apa saja selain Allah ketika engkau melakukan tawaf perpisahan. Sucikan rohmu dan batinmu untuk menemui Dia, pada hari pertemuan dengan-Nya ketika kami berdiri di Safa. Tempatkan dirimu pada pengawasan Allah dengan membersihkan perilakumu di Marwa.”(*)