islam, Uncategorized

[Flash Fiction] Sang Pencinta Qur’an

Aku tidak tahu mengapa aku bisa berada di tempat yang luar biasa indah ini. Aroma harum, namun tetap lembut menguar dari seluruh penjuru ruangan. Ornamen yang menakjubkan… Tempat yang cantik… Dimana aku sekarang?

Tercekat, aku pandang sekeliling. Masya Allah… buah-buahan mahal yang selama ini tak pernah bisa kubeli! Sekarang ada di sini! Dan, dan, oooh… aku bisa menggapainya dengan begitu mudah! Padahal, selama hidup, mati-matian aku menyisihkan uang hasil mengemis, tapi suliiit sekali bisa menyamai harga buah mahal-mahal itu. Ugh.

alquran2

Eh, tunggu dulu. Selama hidup?

Hidup? Berarti, apakah aku sekarang sudah enggak hidup?

“Silakan, Ibu… Anda berhak masuk ke jannah Firdaus.”

App…app…aappa?? Apa aku tidak salah dengar??? Jannah? Firdaus? Surga?

Ingin aku langsung bertanya, “Sumpeh looo? Ciyus looo?” Tapi… kuurungkan. Karena oh, masya Allah… jangan-jangan, makhluk ini, malaikat?

“Benar, Ibu. Saya malaikat yang bertugas mengantarkan Ibu ke surga. Saya juga sudah menyiapkan gaun untuk Ibu pakai. Gaun ini lebih indah daripada dunia dan seisinya.”

Masya Allah…. Merinding aku mendengarnya… Jantungku bergetar hebat. “Kenapa saya? Kenapa bisa? Ke.. keee… kenapa saya bisa mendapat ini semua, wahai malaikat?”

Malaikat itu tersenyum syahdu. “Karena putra Ibu. Dia telah istiqomah membaca, mentadabburi, menghafal dan mengamalkan Al-Qur’an.”

Hah?!? Kuingat-ingat lagi. Sidqi, anakku.

Dia laki-laki biasa-biasa saja. Tak terlalu ganteng. Badannya pun kalah gede dibandingkan teman-temannya. Tapi, satu hal yang membuat ia istimewa adalah, betapa Sidqi sangat mendamba Al-Qur’an. Ia berkali-kali memohon padaku, agar aku menghadiahi ia Qur’an.

Tak pernah ia minta sepeda, atau handphone, atau playstation, tak pernah! Tapi, ia selalu memohon sebuah Al-Qur’an.

Hingga suatu ketika, uang hasil ngamen-ku cukup untuk membeli Syaamil Quran. Mata Sidqi berbinar. Ia mengerjap sambil berucap hamdalah berkali-kali. Lalu, ia mencium pipiku, keningku, bahkan kakiku! Waduh, tolee… kaki emakmu ini kan lagi kena kutu air tho….

“Maturnuwun, ibu sayang… Sidqi akan semakin giat membaca Al-Qur’an, supaya ibu bahagia…”

Gerimis di mataku berubah jadi rintik. Dan, saat ini, aku tengah didera bahagia yang tak terperi.

“Kalau begitu, saya resmi masuk surgakah?” aku masih tak percaya. Malaikat di hadapanku mengangguk mantap.

“Lantas, dimana Sidqi, anak saya?”

Sekonyong-konyong, aku melihat tubuh laki-laki nan gagah berwibawa. Untaian senyum itu… Mata yang teduh itu… sebuah kombinasi indah yang selalu menerbitkan rasa haru. Dadaku kian sesak. Takzim, ia mencium kakiku. (*)

FF 366 kata. Ditulis khusus untuk Lomba Menulis Cinta Al-Qur’an.

Terinspirasi dari Hadits Rasul, “Kemudian kedua orang tuanya, dipakaikan dengan pakaian yang lebih indah daripada dunia dan seisinya.” Kedua orang tuanya berkata,”Apa yang menyebabkan kami mendapatkan hal ini ? Kemudian dikatakan kepda keduanya,”Karena anak kalian berdua membaca Al-Qur’an.”

lomba-nulis-cinta-al-quran

 

Advertisements

6 thoughts on “[Flash Fiction] Sang Pencinta Qur’an”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s