[Fiksi] Saya Cantik Nggak, Sih?

Follow me on Instagram: @bundasidqi

Haii…haii…haiii…

Gimana kabar ibadah Ramadhan-nya?

Semoga selalu semangat dan sehat sentosa yah! Huuum, kalo lagi ngabuburit, apa aja nih yang dilakoni teman-teman? Berburu paket menu buka puasa? Ngadem di Masjid? Baca Al-Qur’an? 

Naaah, saya lagi bikin cerpen nih. Ceritanya soal perempuan yang rada krisis pede gitulah hehe. 

Udah lama saya ngga posting cerita fiksi di blog ini. Baiklaaah, ini ada cerita pendek yang barangkali relate dengan banyak perempuan di muka bumi. Bisa banget dibaca pas lagi ngabuburit yak 🙂 Happy Ramadhan, everyone…!

Continue reading

Advertisements

Quick Updates Lebaran

Quick updates aja yah. Lebaran kali ini adalah lebaran ter-krik krik. Ibu saya sakit asam lambung. Ibu mertua sakit vertigo. Bapak mertua sudah beberapa tahun terakhir mengidap aneka ragam penyakit. Yah, maklum, faktor “U” alias sudah pada sepuh semua. Mohon doa ya, semoga kita semua sehat wal afiat selalu. Aamiiin.

Eniwei, pas Lebaran hari pertama dan kedua, berat badan saya naik 2 KILO! Aduduuhhh, ini apa kabar yak, kalo diterusin sampe Lebaran hari ke-7? Bisa-bisa naik 7 kilo dong!

Continue reading

Puasa Pertama Sidqi #AkuBisaPuasa

Yang namanya “pertama”, biasanya diiringi rasa yang tak biasa. Begitu juga dengan “Puasa pertama”. Beraaattt, jendral!

Sidqi pun mengalami hal serupa. Doi kan hobi banget makan, tuh. Jadi, tahun-tahun sebelumnya, Sidqi sama sekali tidak melewati fase “belajar puasa”.

Karena tahun ini, doi sudah gede, aku meng-encourage cah lanang supaya mau tunaikan salah satu Rukun Islam ini.

Continue reading

Hilal THR Sudah Tampak…..

Tanggal-tanggal segini, nyaris seisi kantor pada heboh. Kasak-kusuk di seluruh ruangan. Semua ngomongin satu topik yang HOT banget. Dan, sayup-sayup, ada sebiji manusia yang berkoar,

“Bro, brooo…. hilal THR sudah tampak…” 

Segitunya ya, mendambakan kehadiran makhluk bernama THR alias Tunjangan Hari Raya. Lebih heboh daripada mempersiapkan 10 malam terakhir, yang penuh dengan guyuran pahala, plus iming-iming Lailatul Qodar. Ckckckkk… sungguh, ther-laaaa-luuu!

Tapi, ya gimana lagi. Namanya juga manusia lah ya. Kalau dapat suntikan dana segar, nafsu membara pengin segera ngabisin tuh duit. Apalagi, THR itu kan kita dapetin hanya dengan menunggu datangnya Idul Fitri. Nggak kerasa banget kerja kerasnya. THR itu laksana segepok duit yang mak jegagig ada di hadapan kita. Beda dengan gaji. Kalau gaji, kita kudu kerja kenceng banget. Perform selama sebulan penuh, baru deh bisa dapat gaji.

That’s why, banyak yang mengeluh, kok duit THR gampang banget sih raibnya?

Itulah sifat asli duit. Easy come, easy go. Duit yang datangnya gampang (macem THR itu), ya gampang pula abisnya. Hihihi.

Makanya, kalau mau THR-nya “selamet”, begitu dapat ya better JANGAN dibelanjain. Dikekepin aja di rekening deposito, atau tabungan berjangka, semacam itulah.

Lah, kalau pengin belanja-belanji untuk lebaran? Silakan ambil duit gaji aja.

Hlo, apa bedanya? Kan sama-sama duit, ini?

Oh, ya beda. Kalau duit gaji, kita akan ada perasaan “berhati-hati” dan enggak ngawur pas belanja. Karena kita akan mengingat setiap tetesan keringat, rintihan, buliran air mata, pengorbanan yang kita lakukan ketika kerja. Duit gaji itu kan bukan duit yang easy come, tho??

Trus, trusss… sebelum belanja untuk keperluan Lebaran, kita kudu banget bikin budget alias anggaran dengan pola pikir yang sehat bin waras. JANGAN IMPULSIF. Jangan mentang-mentang mau Lebaran, trus seenak udel belanja-belanji barang, yang boleh jadi, bakal enggak kita butuhin SAMA SEKALI.

Jangan terperdaya dengan rayuan toko-toko retail. Dengan baju-baju model Hana #CHSI, model kerudung ala Tukang Bubur Naik Haji, toh semua baju itu juga enggak kita pakai SEMUANYA pas Lebaran kan? 

Satu pertanyaan penting yang harus banget kita ajukan saban mau belanja “Are we living the lifestyle we deserve???”

Ngemeng-ngemeng, selama ini, ente ngejalanin hidup berdasarkan duit dan status lo SESUNGGUHNYA, atau… lo cuma ikut2an temen dan lingkungan lo, biar dinilai gaya dan gaul geto loooh???

a1 b2

Tulisan ini disertakan dalam “ngaBLOGburit” Blogdetik.

 

 

 

 

 

 

[Flash Fiction] Sang Pencinta Qur’an

Aku tidak tahu mengapa aku bisa berada di tempat yang luar biasa indah ini. Aroma harum, namun tetap lembut menguar dari seluruh penjuru ruangan. Ornamen yang menakjubkan… Tempat yang cantik… Dimana aku sekarang?

Tercekat, aku pandang sekeliling. Masya Allah… buah-buahan mahal yang selama ini tak pernah bisa kubeli! Sekarang ada di sini! Dan, dan, oooh… aku bisa menggapainya dengan begitu mudah! Padahal, selama hidup, mati-matian aku menyisihkan uang hasil mengemis, tapi suliiit sekali bisa menyamai harga buah mahal-mahal itu. Ugh.

alquran2

Eh, tunggu dulu. Selama hidup?

Hidup? Berarti, apakah aku sekarang sudah enggak hidup?

“Silakan, Ibu… Anda berhak masuk ke jannah Firdaus.”

App…app…aappa?? Apa aku tidak salah dengar??? Jannah? Firdaus? Surga?

Ingin aku langsung bertanya, “Sumpeh looo? Ciyus looo?” Tapi… kuurungkan. Karena oh, masya Allah… jangan-jangan, makhluk ini, malaikat?

“Benar, Ibu. Saya malaikat yang bertugas mengantarkan Ibu ke surga. Saya juga sudah menyiapkan gaun untuk Ibu pakai. Gaun ini lebih indah daripada dunia dan seisinya.”

Masya Allah…. Merinding aku mendengarnya… Jantungku bergetar hebat. “Kenapa saya? Kenapa bisa? Ke.. keee… kenapa saya bisa mendapat ini semua, wahai malaikat?”

Malaikat itu tersenyum syahdu. “Karena putra Ibu. Dia telah istiqomah membaca, mentadabburi, menghafal dan mengamalkan Al-Qur’an.”

Hah?!? Kuingat-ingat lagi. Sidqi, anakku.

Dia laki-laki biasa-biasa saja. Tak terlalu ganteng. Badannya pun kalah gede dibandingkan teman-temannya. Tapi, satu hal yang membuat ia istimewa adalah, betapa Sidqi sangat mendamba Al-Qur’an. Ia berkali-kali memohon padaku, agar aku menghadiahi ia Qur’an.

Tak pernah ia minta sepeda, atau handphone, atau playstation, tak pernah! Tapi, ia selalu memohon sebuah Al-Qur’an.

Hingga suatu ketika, uang hasil ngamen-ku cukup untuk membeli Syaamil Quran. Mata Sidqi berbinar. Ia mengerjap sambil berucap hamdalah berkali-kali. Lalu, ia mencium pipiku, keningku, bahkan kakiku! Waduh, tolee… kaki emakmu ini kan lagi kena kutu air tho….

“Maturnuwun, ibu sayang… Sidqi akan semakin giat membaca Al-Qur’an, supaya ibu bahagia…”

Gerimis di mataku berubah jadi rintik. Dan, saat ini, aku tengah didera bahagia yang tak terperi.

“Kalau begitu, saya resmi masuk surgakah?” aku masih tak percaya. Malaikat di hadapanku mengangguk mantap.

“Lantas, dimana Sidqi, anak saya?”

Sekonyong-konyong, aku melihat tubuh laki-laki nan gagah berwibawa. Untaian senyum itu… Mata yang teduh itu… sebuah kombinasi indah yang selalu menerbitkan rasa haru. Dadaku kian sesak. Takzim, ia mencium kakiku. (*)

FF 366 kata. Ditulis khusus untuk Lomba Menulis Cinta Al-Qur’an.

Terinspirasi dari Hadits Rasul, “Kemudian kedua orang tuanya, dipakaikan dengan pakaian yang lebih indah daripada dunia dan seisinya.” Kedua orang tuanya berkata,”Apa yang menyebabkan kami mendapatkan hal ini ? Kemudian dikatakan kepda keduanya,”Karena anak kalian berdua membaca Al-Qur’an.”

lomba-nulis-cinta-al-quran

 

Dakwah adalah Cinta

Dakwah adalah Cinta

Sangat merindukan tausiyah menyejukkan… seperti yang disampaikan Ust Rahmat Abdullah

Memang seperti itu dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yang kau cintai”.

“Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu. Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yang menempel di tubuh rentamu. Tubuh yang luluh lantak diseret-seret. Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari”.

“Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah. Beliau memang akan tua juga. Tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat yang diturunkan Allah”.

“Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz. Dia memimpin hanya sebentar. Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung. Tidak ada lagi orang miskin yang bisa diberi sedekah. Tubuh mulia itu terkoyak-koyak. Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja. Tubuh yang segar bugar itu sampai rontok. Hanya dalam dua tahun ia sakit parah kemudian meninggal. Toh memang itu yang diharapkannya; mati sebagai jiwa yang tenang”.

“Dakwah bukannya tidak melelahkan. Bukannya tidak membosankan. Dakwah bukannya tidak menyakitkan. Bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan”.

“Tidak. Justru kelelahan. Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari. Satu kisah heroik, akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih tragis”.

Keajaiban Puasa

Selama sebulan puasa selama Ramadhan, umat Islam jalani runititas sahur, menahan diri dari makan, minum & seks, serta amalan ibadah. Penelitian menunjukkan bahwa pengaturan dan pembatasan asupan kalori meningkatkan kinerja otak. Subhanallah, puasa Ramadhan terbukti bermanfaat untuk membentuk struktur otak baru dan merelaksasi sistem saraf.

Otak merekam kegiatan yang dilakukan secara simultan. Begitu juga dengan aktivitas puasa. Selama satu bulan, tubuh diajak menjalani rutinitas sahur, menahan diri dari makan, minum, dan seks, kemudian berbuka di petang hari serta menjalankan ibadah Ramadan lainnya.

Berpuasa menjadi bagian dari perintah agama. Sementara itu agama dan spiritualitas merupakan bentuk perilaku manusia yang dikontrol otak. Ketua Centre for Neuroscience, Health, and Spirituality (C-NET) Doktor Taufiq Pasiak mengatakan bahwa puasa menjadi latihan mental yang berkaitan dengan sifat otak, yakni neuroplastisitas. “Sel-sel otak dapat mengalami regenerasi dan membentuk hubungan struktural yang baru, salah satunya karena latihan mental yang terus-menerus,” kata Taufik.

Bahasa awamnya, kata dia, apabila seseorang melakukan perbuatan baik secara terus-menerus, struktur otaknya akan berubah. Waktu yang dibutuhkan untuk mengubah sel saraf itu minimal 21 hari. Menurut Taufik, puasa adalah latihan mental yang menggunakan perantara latihan menahan kebutuhan fisik (makan, minum, seks).

    …Apabila seseorang melakukan perbuatan baik secara terus-menerus, struktur otaknya akan berubah…

Selain membentuk struktur otak baru, Taufik menjelaskan bahwa puasa merelaksasi sistem saraf, terutama otak. Tetapi ada perbedaan mendasar antara relaksasi sistem pencernaan dan sistem saraf. Selama puasa, sistem pencernaan benar-benar beristirahat selama sekitar 14 jam, sementara di dalam otak orang yang berpuasa justru terjadi pengelolaan informasi yang banyak.

Contohnya, kata dia, otak dapat mengingat dengan baik di saat tenang dan rileks. Ketika tidur, biasanya orang bermimpi. Kenapa? Karena di waktu ini otak hanya menerima dan mengelola informasi yang berasal dari dalam dirinya. Di dalam Al-Quran, menurut Taufik, ada istilah an-nafsul-muthmainah (jiwa yang tenang) karena memang dalam suasana tenang orang dapat berpikir dengan baik dan memiliki kepekaan hati yang tajam. “Ketenangan membuat kita tidak reaktif menghadapi permasalahan,” katanya.

Luqman Al-Hakim pernah menasihati anaknya, “Wahai anakku, apabila perut dipenuhi makanan, maka gelaplah pikiran, bisulah lidah dari menuturkan hikmah (kebijaksanaan), dan malaslah segala anggota badan untuk beribadah.

”Otak terdiri atas triliunan sel yang terhubung satu dengan lainnya. Di dalamnya bisa disimpan 1 miliar bit memori atau ingatan. Ini sama dengan informasi dari 500 set ensiklopedia lengkap.

Di dalam otak, ada sel yang disebut sebagai neuroglial cells. Fungsinya sebagai pembersih otak. Saat berpuasa, sel-sel neuron yang mati atau sakit akan ‘dimakan’ oleh sel-sel neuroglial ini. Fisikawan Albert Einstein dikenal sebagai orang yang suka berpuasa. Ketika mendonasikan tubuhnya, para ilmuwan menemukan sel-sel neuroglial di dalam otak Einstein 73 persen lebih banyak ketimbang orang kebanyakan.

    ….Penelitian Universitas Harvard, Amerika Serikat, menunjukkan bahwa pengaturan dan pembatasan asupan kalori meningkatkan kinerja otak…

Sebuah penelitian yang dilakukan John Rately, seorang psikiater dari Universitas Harvard, Amerika Serikat, menunjukkan bahwa pengaturan dan pembatasan asupan kalori meningkatkan kinerja otak. Dengan alat functional Magnetic Resonance Imaging (fMRI), Rately memantau kondisi otak mereka yang berpuasa dan yang tidak. Hasilnya, orang yang shaum memiliki aktivitas motor korteks yang meningkat secara konsisten dan signifikan.

Taufik mengatakan bahwa puasa adalah salah satu bentuk tazkiyatun nafs (menumbuhkan nafsu) dan tarbiyatun iradah (mendidik kehendak). Karena itu, sejak niat puasa, perilaku selama berpuasa dan ritual-ritualnya berada dalam konteks memperbaiki nafsu, menumbuhkan, kemudian mengelola kemauan-kemauan manusia.(*)

Kembali ke Fitrah dengan Berzakat

Sudah menjadi tabiat manusia berjiwa kikir bin medhit. Ini manusiawi dan amatlah lumrah. Karena Allah sendiri yang berfirman dalam Al-Qur’an, Surat Al-Ma’arij ayat 19-21 : “Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh.Apabila dia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah. Dan apabila mendapat kebaikan dia menjadi kikir.”

Kikir. Pelit. Bakhil. Ogah berbagi pada sesama.

Kikir. Dan selalu mementingkan diri sendiri. Pada akhirnya, ini berimbas pada sikap egois. Nafsu serakah. Serasa dunia ini harus ada dalam kendali kita. Dan ketika kita makin berambisi untuk menaklukkan dunia, detik itu juga kita bertransformasi menjadi peminum air laut. Semakin diminum, semakin hauslah kita. Semakin kita diberikan peluang untuk mengecap nikmatnya dunia, detik itu pula kita tergoda untuk memiliki “dunia-dunia” lainnya.

Apakah ini anomali?

Tidak. Sama sekali tidak. Persis seperti yang saya singgung di atas. Sudah tabiat manusia untuk menjadi kikir. Tapi, apakah kita hanya berdiam diri dan justru mengakrabi sikap kikir yang sudah merasuk dalam jiwa? Apakah kita justru membiarkan berkubang dalam sikap egoism taraf dewa? Apakah kita membiarkan diri asyik-masyuk dalam gemerlap dunia, sementara saudara-saudara kita tengah merintih, menahan lapar, dan tak tahu harus mengadu ke mana?

Tidak.

Dan, di sinilah keindahan Islam bermuara.

Agama yang luar biasa indah ini, tidak hanya mengundang kita untuk hablum minAllah alias beribadah secara vertikal, dengan menyembah Sang Penggenggam Kehidupan. Islam juga menekankan pentingnya hablum minannas alias hubungan dengan sesama manusia. Kebaikan juga harus kita lakukan secara horizontal. Percuma saban hari pergi ke Masjid, umroh 10 kali, naik haji 5 kali, tapi sama sekali tak ada rasa peduli yang mengusik hati, manakala kita tahu tetangga kita tengah didera lapar tiada tara.

Inilah indahnya Islam.

Lebih-lebih kita diberikan kesempatan berlian (bukan hanya emas) untuk bisa bersua dengan bulan yang penuh gelimang rahmat: Bulan Ramadhan. SubhanAllah, Maha Suci Allah… Maha Besar Allah yang memberikan peluang bagi kita untuk “menjadi bayi lagi”. Sebagaimana sabda Rasul, “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah mewajibkan puasa Ramadhan. Barangsiapa berpuasa dan menegakkannya mengharapkan ridho Allah SWT, maka ia diampuni dosa-dosanya yang telah lampau, seperti bayi fitri (suci) yang baru dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Ahmad).

Ah, Ramadhan. Sungguh, kalau kita mengaku beriman, tentu Ramadhan adalah momen yang terlampau berharga, agar kita bisa meleburkan segala dosa. Kembali ke fitri. Berpuasa, memperbanyak amal kebaikan, dan tentu berempati dengan sesama.

Inilah yang terajarkan dalam Zakat Fitrah. Dengan 2,5 kilogram beras, kita dituntun Allah untuk menjadi pribadi yang suci dan tersucikan. Berbagilah beras atau makanan pokok itu. Berikan kepada mereka yang berhak untuk menerimanya. Distribusikan kepada kaum fakir dan miskin. Agar mereka yang papa bisa kenyang di Hari Raya. Agar mereka yang dhuafa sanggup tersenyum, lantaran kepedulian yang kita punya.

Karena itu, bayarkanlah! Singkirkan semua ketakutan, bahwa kehilangan 2,5 kilo beras tidak akan membuat kita jatuh miskin! Justru dengan menzakat fitrahi diri, maka kita murni bertransformasi menjadi “bayi yang suci”. Bayi yang baru saja terlahir dari rahim sang ibunda. Bayi yang rela mengeluarkan sebagian hartanya, demi memenuhi apa yang diperintahkan Sang Maha Sutradara Kehidupan.

Maha Suci Allah….

Maha Suci Allah, yang telah mengajarkan kita untuk berempati dan menjunjung solidaritas kepada fakir miskin. Maha Benar Allah, yang telah memberikan kita peluang untuk berzakat fitrah, membersihkan diri dan perilaku kita dari tindak-tanduk dan perilaku yang menyesatkan.

Berterima kasihlah pada Allah, yang menyediakan sarana untuk pembersih segala khilaf yang barangkali entah sengaja atau tidak, telah kita lakukan selama bulan puasa. Rasul bersabda, “Zakat Fitrah merupakan pembersih bagi yang berpuasa dari hal-hal yang tidak bermanfaat dan kata-kata keji (yang dikerjakan waktu puasa), dan bantuan makanan untuk para fakir miskin.” (Hadits Hasan riwayat Abu Daud).

Alangkah komprehensifnya Islam!

Bahkan, Islam telah menyediakan “sarana penambal” apabila puasa kita tidak sempurna. Ini seperti yang dituturkan Waki’ bin Jarrah, “Manfaat zakat Fitrah untuk puasa seperti manfaat sujud sahwi untuk shalat. Kalau sujud sahwi melengkapi kekurangan dalam shalat, begitu juga zakat fitrah melengkapi kekurangan yang terjadi ketika puasa.”

Alhamdulillah… Alhamdulillah….

Bersyukurlah lantaran Allah telah memberikan begitu banyak kemuliaan dan kesempatan beramal bagi kita. Tunaikan zakat fitrah. Perbanyak sedekah. Hadirkan nama-Nya pada kalbumu, setiap waktu.

Lalu, kapan kita berzakat fitrah?

Memang, waktu paling utama untuk menyerahkan zakat fitrah adalah pagi hari sebelum kita tunaikan shalat Idul Fitri. Tapi ingat, zakat fitrah tidak sah, apabila kita baru tunaikan sesudah shalat Ied. Jadi, tak ada alasan untuk menunda-nunda. Tunaikan SEKARANG juga.

Inilah sabda Rasul, “Barang siapa yang membayar zakat fitrah sebelum shalat ied maka termasuk zakat fitrah yang diterima; dan barang siapa yang membayarnya sesudah shalat ied maka termasuk sedekah biasa (bukan lagi dianggap zakat fitrah).” (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasakan kebahagiaan itu….

Bahagia karena bisa peduli dan berbagi dengan sesama….

Bahagia karena Ramadhan telah menjadi “kawah candradimuka” yang meningkatkan level derajat ketaqwaan kita.

Bahagia karena kita menjadi pribadi baru, yang insyaAllah lebih optimis menatap dan menjalani hari. Yang siap bertempur mengarungi kehidupan dengan semangat Laa ilaaha illAllah… (*)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Percuma Baju Baru, tapi Hati (masih) Bau

Late Night Sale! Get Your Eid Fitri Costume! Discount Up to 70%

Promo Idul Fitri! Tampil Cantik dan Istimewa di Hari Raya. Kunjungi Counter Kami Sekarang Juga

Tampil Modis dengan Busana Muslim! Diskon Besar-Besaran!

Hebat! Luar biasa hebat!

Beginilah cara para pemasar mal dan toko fashion untuk mendongkrak omzet penjualan jelang Idul Fitri. Aneka sale dan program Gebyar Ramadhan plus Idul Fitri, seolah menggoda iman. Yang tadinya tak ada niat belanja, jadi window shopping dan pada akhirnya malah KALAP dan main borong baju satu toko.

Hebat! Sungguh marketing strategy yang brilian!

Dari tahun ke tahun, kita seolah terperangkap dalam tipu daya butik busana dan beragam department store. “Idul Fitri harus pakai baju baru.” Itulah premis yang selalu dijejalkan di otak kita. Suka-tidak suka, kita terhanyut, dan mencoba merancang logika sendiri, bahwa belum sah bila sholat Idul Fitri tanpa mengenakan baju baru.

Apalagi, dunia fashion muslim saat ini sedang berkiblat ke Indonesia. Ini membuat kita merasa “mati gaya” kalau tidak ikut tren. Dan pada akhirnya, lagi-lagi kita terjebak pada budaya konsumtif yang tak berkesudahan.

Tapi, Idul Fitri kan cuma sekali dalam setahun? Nggak ada salahnya dong, kalau kita beli baju baru?

Memang betul. Momen Idul Fitri tidak terjadi setiap hari. Tapi, coba dicek sekali lagi, betulkah Anda hanya membeli baju baru satu kali dalam setahun? Coba Anda periksa lemari. Berapa stok baju baru yang sama sekali belum pernah Anda pakai? Berapa baju yang masih ada bandrol harganya dan teronggok pasrah di wardrobe closet Anda?

Itu dia. Sebelum terjebak dalam kungkungan “sale” ; “diskon besar-besaran” ; “potong harga Ramadhan” dan istilah-istilah “komodifikasi Idul Fitri” lainnya, ayo kita buka kitab panduan hidup kita. “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan.” (QS. Al Isro’: 26-27)

Dilarang berboros-boros, masbro!

Rasulullah teladan kita pun tidak mewajibkan dirinya untuk pakai baju baru saban Idul Fitri. Yang terpenting, harus tampil bersih. Suci. Karena sekali lagi, harus kita ingat bahwa selama menjalani “kawah candradimuka” bernama Ramadhan, target kita adalah mensucikan hati. Supaya kita lahir menjadi insan yang suci. Laksana bayi yang baru lahir dari perut ibundanya.

Satu yang perlu selalu kita ingat: percuma baju baru, tapi hati (masih) bau.

PS: Saya sendiri sudah 7 tahun terakhir tidak membudayakan beli baju baru saban Lebaran. Bahkan, anak saya, Sidqi, memakai baju seragam sekolahnya ketika Lebaran tiba. Baju taqwa serba-putih berkopyah putih itu juga dipakai Sidqi saat menghadiri pernikahan saudara kami di Bojonegoro. Juga dipakai ketika foto studio bareng para sahabatnya. Dan dipakai ketika perpisahan kelas di TK. Well, saya memang mak irit ingin mengajarkan ‘Islamic financial planning’ padanya sedari kecil. Mumpung belum terlambat.

Image

Sidqi pakai kopiah putih, Lebaran tahun lalu

Image

Sidqi, masih berkostum putih-putih jelang akad nikah Saudara di Bojonegoro

Image

Sidqi and his friends saat foto studio

Image

Masih pakai baju yang sama di perpisahan TK Darussalam