Lika-Liku Korupsi di Republik Kami

Ketika KPK mengumumkan penangkapan koruptor, kemudian menggelar konferensi pers, lalu beritanya disiarkan di segala media massa, ada dua rasa paradoks yang bergemuruh di dada.

Di satu sisi, saya bersyukur, “Rasain!! Dasar rakus! Suka makan harta negara.. Nah lo, akhirnya ketangkap juga kan?” Lalu, saya dilanda fanatisme akut pada lembaga antirasuah ini. Sambil bernyanyi kecil, “KPK di dadakuuu… KPK kebanggaankuuu….”

Akan tetapi….di sisi lain, ada rasa yang menerobos begitu saja, tanpa diminta. Rasa pedih. Perih. Dan tersakiti. ”Astaghfirullah… Jadi jumlah koruptor bertambah lagi? Kok nggak tobat yaaa? Kok nggak ngerasa bersalah, hidup bermewah-mewah sementara rakyat buat makan sehari-hari aja susah?”

Saya selalu terperangah, membaca berita dengan terengah-engah, lantaran ulah para koruptor yang selalu bikin jengah.

***

Flashback ke tahun 2009

“Loh, ibuk… Ibuk…! Ibuk kan belum bayar kelengkengnya? Kok udah dimakan sih??”

Kelengkeng yang tengah saya kunyah, seolah-olah siap nyangkut di tenggorokan. Manusia seisi pasar menoleh ke arah kami. Menyaksikan seorang emak yang lagi “disidang” anaknya, gegara satu butir kelengkeng.

“Sstt, Sidqi… jangan keras-keras ngomongnya… Ini Ibuk kan cuma ngincipin ajaa…”

“Iyaa… tapi ibuk kan belum bayar… Dosa loh, ibuk…”

Ya ampuuun, nih bocah…! Pengin aku pitess deh… Si bakul kelengkeng senyam-senyum geje alias gak jelas. Doh. Saya yakin, mereka berdua—si bakul dan Sidqi—sedang terlibat konspirasi untuk mempermalukan saya!

“Ya udah. Ini ibuk beli 1 kilo deh, sama sekalian yang incip-incip tadi, ibuk bayar…”

“Naah, gitu dooong…”

***

Waktu itu, Sidqi masih berumur 4 tahun. Masih duduk di bangku TK. Entah apa yang membuat dia begitu kritis sedemikian rupa. Barangkali karena jiwa kanak-kanak masih sedemikian suci. Putih. Tulus.

Apa sih ambisi seorang bocah TK? Menang di lomba ini dan itu? Walah, haqqul yaqin deh, yang punya ambisi ini adalah emaknya *ngaku*

Karena itulah, kita harus belajar pada anak kecil. Belajar untuk kembali menyelami jiwa-jiwa mereka yang begitu tulus, ikhlas, tanpa tendensi. Anak kecil tak pernah menuntut orangtuanya untuk hidup bermewah-mewah. Anak kecil (yang masih genuine, tentu saja) sudah cukup merasa bahagia apabila kita meluangkan waktu untuk sekedar bercengkrama dengan mereka.

Dan, lihatlah. Si bocah umur 4 tahun itu, sudah bisa mengingatkan saya tentang “korupsi kecil-kecilan” yang “tidak sengaja” saya lakukan.

***

Tahun 2010

Om saya mencak-mencak. Raut mukanya memerah. Nafasnya tersengal, seolah menahan amarah yang siap tumpah.

Kowe niat gak, ngrewangi om-mu iki?” (Kamu niat nggak, membantu om-mu ini?)

Tangannya menunjuk-nunjuk ke arah Dirgo—sebut saja begitu—kemenakannya yang tengah ia “sidang”.

“Katanya kredit untuk rakyat kecil? Mana?? Buktinya, kalian malah mempermainkan duit bantuan 75 juta. Yang 40 juta buat penerima kredit, dan 35 juta mau dibalikin ke bosmu?? Ra sudi, aku! Wis kono, panganen duit-duit iki! (sudah sana, makan saja uang ini)”

Dirgo masih menunduk.

Sepupu saya ini seorang staf bagian kredit untuk masyarakat marginal. Ia berbaik hati memberi informasi ke om saya yang hendak beternak lele. Setelah melalui screening yang ketat, usaha om saya berhak dapat suntikan kredit. 75 juta, jumlah yang amat lumayan bikin om merasa girang. Tapi, tunggu dulu. Dengarkan apa kalimat Dirgo yang membuat om meradang, ”Kata bos saya, yang 40 juta dialokasikan untuk Om. Tapi, 35 juta adalah uang operasional untuk tim kami.”

Sumber: FB GNPK-Pusat

Sumber: FB GNPK-Pusat

***

Entahlah, azab apa yang tengah menimpa masyarakat republik ini. Muak telinga kita mendengar kata ‘korupsi’ berjejalan setiap hari. Saking seringnya, seolah-olah kita kebal, dan permisif dengan aneka bentuk korupsi. Oh, ada berita korupsi lagi.. Ya wajar laah… Indonesia gitu lo….Bahkan, Abraham Samad melabeli para anggota DPR sebagai “perampok yang mahir” alias “penjahat yang profesional”.

Naudzubillahi min dzalik.

Yang mengerikan adalah, banyak di antara para koruptor yang merasa tidak sedang menerima harta haram. Mereka berdalih, “Saya kira ini adalah hibah.” Sama sekali tidak berdesir rasa dosa di dada, ketika gratifikasi beraneka rupa singgah di rekening mereka.

Dari daftar CPI Tranparansi Internasional, Indonesia duduk di peringkat 107 dari 175 negara. Posisi negara kita, jauh berada di bawah Singapura, Malaysia, Filipina dan Thailand.

Bagaimana kita bisa melawan korupsi?

Ada baiknya kita melihat India. Dikutip dari BBC Indonesia, kepolisian Delhi, India sedang menyelidiki lima polisi yang diduga terlibat korupsi. Laporan itu datang dari layanan instant messenger whatsapp.  Maka, kita juga sangat bisa mengikuti jejak masyarakat India. Menunjukkan kepedulian kita, bahwa korupsi adalah penyakit mengerikan yang harus dibasmi dari muka bumi.

Kita bisa melaporkan setiap perbuatan korupsi ke website KPK Whistleblower’s System di https://kws.kpk.go.id. Atau, Anda juga bisa melaporkan ke berbagai lembaga anti-korupsi di republik ini.

4962_infografis_koruptor_disekeliling_kita_laporkan_777x1600

Beginilah seharusnya kita melawan korupsi! Media sosial kita fungsikan secara optimal, bukan untuk sarana nyinyir atau menebar kebencian. Teknologi adalah “pisau tajam” yang sangat bisa kita gunakan untuk “mematikan” virus korupsi. Seperti kata Pak Nukman Luthfie, salah satu praktisi media sosial, bahwa teknologi yang semakin canggih seharusnya menyulitkan orang untuk berbuat korupsi.

Kita sangat bisa menggaungkan semangat anti-korupsi, mulai dari diri sendiri, keluarga, rekan kerja, komunitas, tetangga satu RT, jamaah masjid….

Gerakan anti-korupsi harus digalakkan sejak dini. Anak muda kudu dibombardir dengan segenap informasi, supaya mereka aware dan tidak abai dengan beragam kasus korupsi. Salut dengan tim KPK yang terus-menerus melakukan edukasi. Salut dengan para pekerja seni yang menuangkan ide untuk mengambil sikap anti-korupsi.

Salut dengan aksi-aksi serta advokasi yang dilakukan Gerakan Nasional Pemberantasan Korupsi (GN-PK). Yang terus menunjukkan dedikasi, kredibilitas, komitmen dan keikhlasan yang tulus dalam melakukan pencegahan dan pemberantasan korupsi.

“Rusaknya sebuah negara bukan karena banyaknya orang jahat yang berkuasa, tapi karena banyaknya orang baik yang diam” (Anis Baswedan)

Masih mau berdiam diri melihat beraneka kasus korupsi? Do something! Paling tidak, kita mengedukasi dan menyebarkan semangat kepada masyarakat, agar peduli dengan berbagai kasus korupsi.

Lakukan apa yang kita bisa. Lola Amaria dengan film edukasi anti-korupsinya. Kikan dan Slank dengan lagu-lagunya yang menyuarakan semangat anti-rasuah. Saya dengan postingan blog ini. Dan, Anda?(*)

Tunjukkan Semangat Anti-Korupsimu bersama Lomba Blog GN-PK. Info lengkap di sini

Advertisements

33 comments

  1. Fier · December 5, 2014

    Kalau saya memulai dari diri sendiri untuk selalu bersikap adil dan tidak mengambil yang bukan hakku (amin) 🙂

    • bukanbocahbiasa · December 5, 2014

      Yap! Harus dimulai dari diri sendiri… kesadaran itu yang harus ditumbuhkan.

      • Fier · December 5, 2014

        Setuju,
        Ngomong2 saya takjub dengan Sidqi, kepolosannya benar2 mengejutkan dengan kata2 tersebut. Semoga ananda bisa terus mempertahankan sikap seperti itu, kritis dan isnya Allah adil dan jujur 😀

      • bukanbocahbiasa · December 5, 2014

        Amin, amin, ya robbal alamiiin…
        Terima kasih om Fier.

        Kalau mental tulus ini ada di tiap manusia Indonesia, insyaAllah, korupsi tdk akan membudaya

      • Fier · December 5, 2014

        Sama-sama. Salam ya buat de Sidqi 😀

        Semoga apa yang kita harapkan benar-benar bisa tercapai, walaupun itu butuh waktu 🙂

  2. JNYnita · December 5, 2014

    Reblogged this on JNYlink and commented:
    Aku dgn reblog post ini.. 😀
    Hahaha.. ✌

  3. Dwi Puspita · December 5, 2014

    berarti orang baik harus bicara ya mak biar negara kita nggak rusak 🙂
    benar mak,,,mereka para koruptor merasa dirinya gak menerima harta haram, padahal loh dibuat makan keluarganya,,,semoga kita selalu dilindungi Allah mak 🙂

    • bukanbocahbiasa · December 5, 2014

      Kadang dgn santainya bilang “Wah, saya lagi apes. Makanya ketangkap KPK.”

      Ya ampuuuun…. **tepok jidat lebar**

  4. nengwie · December 5, 2014

    Prihatin sama perilaku para juragan yg ngga malu-malu memakan uang haram, pdhl banyak yg paham dosanya orang yg korupsi, apa sudah kebiasaan, jd dianggap wajar2 saja..?? Du..du..du… Indonesiakuuu… Sadar wooi sadar para jurangan yg sebetulnya buruh rakyat… !!!

  5. Burhan · December 5, 2014

    Heuuuuhh… klo sdh bicara korupsi rasanya gueeeemes bgd. Sampe2 waktu rame2nya kasus ratu atut aq bikin tulisan kyk gini ni *ini hasil bongkar2 coretan lama di lepi*
    Puisi buat Ratu Atut
    Owhhhh…Ratu Atut
    Rasanya tidak patut
    Kaya dari hasil nyatut
    sementara rakyatmu cma cembetut
    diam berlutut…
    Nyari tutut berbaju butut
    merindukan sedapnya sop buntut
    Apakah engkau tak takut dituntut
    dan terkurung spt burung perkutut
    diruang sempit bertekuk lutut

    • bukanbocahbiasa · December 8, 2014

      Bihihihik…. ini puisinya josss markojoosss :))
      Bikin puisi soal Fuad Amin jugakah?

      • Burhan · December 8, 2014

        Waduhhh…. saya lagi puasa media bberapa minggu ini jadi gk update dgn isu2 terkini. Media detox, sekali2 diperlukan gitu mbak..heheu

      • bukanbocahbiasa · December 8, 2014

        Aaakkk… yaaa… bener bangeeet
        Biar jiwa tetap “waras”, kudu detoksifikasi media yaa 🙂

  6. dani · December 5, 2014

    Saya sendiri adalah salah satu korban korupsi, pernah nih dikasih beasiswa dapetnya sejuta dikasih ke saya 800. Hiks alesan biaya operasional. Gakbisa ngomong apa-apalagi. Smeoga bisa segera hilang dari bumi Indonesia ini ya mbakyu..

  7. evrinasp · December 5, 2014

    sebagai orang yg bekerja di lingkungan pemerintahan saya paling serem kalo udah nyangkut beginian, gak usah diomongin ya pasti ngerti maksudnya, suka ngingetin diri sendiri jangan ambil yg bukan haknya walo sesen or seperakpun, dampaknya ga berkah dan ngerinya mak bis anurun ke anak, naudzubillah, say no to corruption, liat aja kab bogor gak punya bapak gegara apa?

    • bukanbocahbiasa · December 6, 2014

      Kadang2 saya mikir, masyarakat kita ini autopilot kok… Bahkan, tanpa bupati/gubernur/what-so-ever, masyarakat tetep bisa survive menjalankan kehidupan sehari2.

      Iya mak.. haruss banget ngingetin diri sendiri dan keluarga… karena korupsi itu nampak sedap dan menggoda. Naudzubillah.

      • evrinasp · December 6, 2014

        yo sedih mak, kalo lagi pas kumpul tingkat provinsi aja, yg lain mah bangga, saya mah ciuut lha wong pemimpinnya terlibat begituan, apalagi lahan pertanian yg kena pdhl Beliau mencanangkan revitalisasi pertanian, semua runtuh krn satu kata KORUPSI

  8. aira abdullah · December 5, 2014

    sy jdi ngebayangin gmn ekspresi sidqi waktu itu mak,heheee… eh mak,seperti’y yg soal dana bantuan itu dimn2 emang dipotong ya,klo bantuan’y melalui anggota DPR dipotong kt’y buat partai,klo bantuan’y mlalui desa/lurah dana dipotong buat operasional kantor kelurahan dll.ngeriiii….

    • bukanbocahbiasa · December 6, 2014

      Naaah, kaan… emang korupsi udah jadi virus yang dahsyaaat banget

  9. Liswanti · December 5, 2014

    Memang suka pengen timbuk tv kalao ada berita korupsi, “tapi sayang tvnya kalo dilempar..hihi”, yang aneh raut wajah korupsi saat ditangkap merasa minta dikasihani, padahal ya udah rakus dan gila dunia tuh….korupsi memang meski dibrantas ya mak

    • bukanbocahbiasa · December 8, 2014

      Apalagi yang mendadak pakai jilbab atau kopiah atau atribut agama semacam itu, duuuh bikin kesel kuadrat!

  10. ianmisdiantoro · December 6, 2014

    memang bukan bocah biasa…….semoga memberi sumbangsih untuk negeri…..meski secuil namun berarti>>>>

    • bukanbocahbiasa · December 8, 2014

      Maturnuwun sangeeet Pak Yanto. Makasi kunjungannya di blog sederhana ini 🙂

  11. Rinrin Irma · December 6, 2014

    korupsi berawal dari kebiasaan, yang tadinya kecil tapi gak ketauan lama-lama penasaran… akhirnya malah jadi korupsi gede-gedean… tapi ya itu, pas ketangkep malah bilang lagi apes, soalnya selama ini kebiasaan korupsinya itu gak ketauan…

  12. Wahyu Wahyono · December 6, 2014

    Saya mulai dengan….Tidak mendekati peluang menjadi pemberi atau penerima apapun yang menurut saya “tidak pantas” saya terima, dimulai dari diri, orang terdekat dan semoga menjadi kebiasaan

    • bukanbocahbiasa · December 8, 2014

      Sepakaat mas Wahyu!
      Btw, sekarang udah gak megang agensi Dancow sama sekali ya?
      Katanya, mau ada program lagi siy, buat bunda2 alumnus DPC 2012.

      Apa ya Mas? *kepo

  13. Susanti Dewi · December 6, 2014

    saya kalo liat muka2 para koruptor di TV, rasanya pengen nonjok. Sadis ya? 😀

    • bukanbocahbiasa · December 8, 2014

      Manusiawi Mak…
      Kayaknya itu cita2 semua orang deh 🙂

  14. buzzerbeezz · December 6, 2014

    Kalau aku lihat berita koruptor tertangkap malah senang. Karena aku merasa bahwa terjadi penegakan hukum di sana. Dulu jaman orde baru tidak ada koruptor yang tertangkap bukan berarti jumlah koruptor dikit lho. Tapi dulu memang karena gak ada penegakan hukum yang tegas

  15. Hartomo · December 28, 2014

    Tetapi tetep saja mba, lika liku korupsi masih kalah rumit sama lika liku hati wanita #halah #gagalfokus

    Mantaap mbaaa… !! Dukung Gerakan Nasional Pemberantasan Korupsi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s