parenting, Uncategorized

Neno Warisman: It Takes a Village to Raise a Child

Sosok Neno Warisman kini kian dikenal sebagai praktisi Islamic parenting. Ia kerap didapuk sebagai pemateri dalam beragam seminar maupun workshop. Semangatnya untuk menginspirasi keluarga muslim Indonesia patut diapresiasi. Berikut petikan perbincangan saya  dengan Neno Warisman, dalam sebuah acara di Surabaya.

Bagaimana Bunda Neno meng-capture fenomena parenting belakangan ini?

Satu prinsip yang harus kita pegang: It Takes a Village to Raise a Child. Butuh orang sekampung untuk bisa membesarkan dan mendidik anak kita.

Coba kita lihat. Masalah pendidikan karakter dibicarakan di mana-mana. Tapi apa yang terjadi? Hampir setiap hari kita saksikan aneka penyimpangan yang dilakukan ataupun menimpa anak-anak kita. Mari kita sama-sama bersikap rendah hati tatkala membahas fenomena anak. Coba kita amati satu demi satu. Tayangan TELEVISI  kita, mayoritas berisikan program yang sama sekali tidak mendidik, sarat dengan adegan porno maupun kekerasan. Sementara itu, sejumlah lembaga yang peduli dengan perkembangan buah hati merilis hasil riset yang bikin hati kita miris. Tahukah Anda bahwa ternyata 90% anak-anak kita kelas 3 SD ke bawah sudah terpapar pornografi, di seluruh provinsi. Sebanyak 50% anak-anak malah sudah melakukan hubungan pasutri. Naudzubillahi min dzalik. Bapak dan Ibu adalah tokoh utama untuk mendidik anak. Kita juga tak boleh mengabaikan pengaruh lingkungan. Ini yang harus kita pahami dan terus jadikan panduan tatkala mendidik generasi bangsa.

 

Lantas, hal mendasar apa yang harus orang tua lakukan?

Jangan mendidik anak dengan cara ikut-ikutan! Banyak teori parenting yang beredar di masyarakat, kita harus cermat dan pandai dalam memilah dan memilih, mana yang sesuai dengan ajaran Islam. Agama kita ini begitu sempurna memberikan panduan dan teladan dalam mendidik anak. Sebagian masyarakat malah meneladani teori parenting dari barat, padahal kita sudah punya teladan yang luar biasa. Jangan malu dan malas ambil teladan dari Rasul! Justru beliau yang wajib kita jadikan panutan.

Islam itu sempurna. Sejak janin berada di perut, kita diajak untuk melantunkan ayat suci, agar bayi bisa ikut merasakan kebesaran Allah bersama orang tuanya. Kita harus tanamkan pondasi agama yang kuat untuk anak. Bahkan, ketika anak kita meninggal dunia kelak, kita bisa canangkan apakah ingin anak kita berpulang dalam kondisi mati syahid ataupun biasa-biasa saja.

Buat para orang tua, saya tak bosan-bosan mengatakan bahwa, berikan “nuansa spiritual”, jangan campur adukkan dengan hal-hal material. Kenapa? Karena spiritual tak akan nyambung dengan material.  Sering kan, para ibu yang memberikan iming-iming, “Kalau anak sholat tepat waktu, akan dikasih uang, atau sepeda atau hal-hal material lainnya.” Apabila segala hal diukur dengan materi, maka anak-anak akan mengalami kebuntuan jiwa! Anak akan terbiasa mengukur segala hal dari materi. Sampai anak bisa mengatur alias mengendalikan orang tuanya. Ada anak teman saya yang bicara begini ke mamanya, “Tahun lalu aku puasa penuh dapat 3 juta. Tahun ini, kalau puasaku full, aku mau 4 juta.” Nah, ini kan sudah nggak bener.

Alangkah baiknya, apabila sesuatu yang positif/ prestasi dalam ranah spiritual, juga mendapatkan reward secara spiritual juga. Misalnya, sang ibu berkata, ”Karena kamu sholat rajin, Ibu akan mendoakan kamu secara khusus, dalam tahajud Ibu, dalam tiap ibadah yang ibu lakukan. Ini doa yang amat spesial, Nak… Khusus untuk kamu anak Ibu yang gemar beribadah.” Nuansa spiritual ini yang harus terus kita bangun, agar bisa melembutkan hati dan jiwa anak.

Ingat ya, para orangtua. Mendidik anak tidak boleh minta instan. Jangan sampai kita bicara, “Mama sudah bayar banyak, habis jutaan untuk sekolah kamu, untuk les ini, itu… Kenapa kamu nggak jadi anak pintar?” Astaghfirullah, jangan bicara seperti itu lagi ya. Ingatlah, bahwa orangtua harus memegang teguh janji Allah. Bahwa anak adalah amanah dari Allah. Mendidik dengan baik adalah salah satu wujud ibadah kita sebagai hamba Allah.

Oh ya, berkali-kali saya sampaikan kepada para orang tua, jangan membandingkan anak dengan temannya. ”Lihat si fulan jadi rangking satu, kenapa kamu nggak bisa seperti dia sih?” Kalimat ini sangat menyakitkan. Siapapun tak suka dibanding-bandingkan. Kita juga tidak suka kan, kalau dibandingkan dengan perempuan lain, misalnya.

Tantangan yang dihadapi orang tua masa kini lebih berat ya?

Betul. Apalagi saat ini kita lebih banyak bertemu dengan tipikal ‘The Digital Family’. Dimana kita kerap kehilangan waktu untuk bisa ngobrol (secara riil) atau saling sentuh dengan kasih sayang antar anggota keluarga. Semua sibuk dengan gadget. Anak-anak SD, bahkan balita sudah akrab dengan Ipad dan sebangsanya. Ini berdampak amat buruk, melahirkan generasi yang tidak peka, kurang komunikasi, pudarnya kepedulian, dan saling buta kabar.

Ayo kita kembalikan teladan Rasul untuk keluarga kita. Tumbuhkan kecintaan anak pada Al-Qur’an. Teruslah tahajud dengan istiqomah, beri contoh agar anak kita bisa makin cinta agama ini. Biasakan dzikrullah setiap saat. Perkuat bonding dengan keluarga, termasuk para ayah harus berkiprah untuk mendidik anak.

Bicara tentang peran keayahan. Anak-anak merindukan sosok ayah yang ‘pulang ke rumah’ dan ‘benar-benar hadir’. Ayah sekarang jarang yang menemani anak duduk, mengelus kepala anak, ini hal-hal yang nampak sederhana tapi sesungguhnya penting untuk dilakukan. Kenapa ayah sering malu mengungkapkan perasaan? Kenapa ayah susah untuk bilang, “Anakku sayang….” kepada buah hati mereka? Bahkan kepada istrinya sendiri, coba kita tanya para ayah, kapan terakhir bilang “Aku cinta padamu” kepada sang istri? (*)

Pekan 1

Ditulis untuk menyemarakkan #LigaBloggerIndonesia2016  posting bebas

Advertisements

26 thoughts on “Neno Warisman: It Takes a Village to Raise a Child”

  1. Thanks for share, Mak. Masukan2 dr Mba Neno okeh punya banget. Semoga bs jd masukan bagi para org tua dlm mendidik anak2 ke arah yang jauh lebih Islami ya, Mak…

  2. “karena spiritual nggak akan nyambung dengan materi” ini yg selalu saya khawatirkan ketika mndidik si kecil, semoga saja tidak tergelincir. Yg bagian akhir menggelitik saya “kapan suami bilang pada istri aku cinta padamu?” ….-___- mimpi kalee

  3. Mbakyuuuu. Maturnuwun banget ilmunya. Meskipun komenku terkesan gak baca tapi tak woco kok sampek entek. InsyaAllah nanti dibuka lagi buat lebih diresapi.

  4. bagian terakhir itu…

    seharusnya para bapak ikut wawancara dengan mbak Neno juga ya mbak. biar ga muspro gitu. kadang para bapak kalo dinasihati pada ogah. padahal anak-anak itu ya anak-anak para bapak juga.

    @diahdwiarti

  5. Nasihat yang baiiik sekali dan bermanfaat bagi orang tua. Yang paling aku suka adalah jangan mencampurkan unsur material kedalam kegiatan spiritual. Thank you for sharing this mbak 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s