lifestyle, parenting, Review, sekolah, Uncategorized

Membedah Mitos Anak Bilingual dan Multilingual bersama EF – English First

Sebenernya bijak nggak sih, memperkenalkan bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya kepada anak sejak usia dini? Apakah kita termasuk golongan ortu ambisius, apabila sudah mengajarkan bahasa Inggris ketika anak masih balita atau duduk di bangku playgroup? Jangan-jangan, anak bakal bosan, frustrasi atau malah trauma dengar kata “belajar bahasa Inggris” gegara ambisi kita sebagai orang tua? Atau, lebih parah lagi… jangan-jangan anak kita bakal mengalami speech delay (terlambat berbicara) ketika kita terlampau dini mengenalkan bahasa Inggris kepada para bocil?

IMG20170715141303

Well… banyaaaaaak banget, mitos-mitos yang beredar di masyarakat seputar multilingual kids alias anak-anak yang menguasai bahasa asing sejak dini. Mayoritas mitos itu ujung-ujungnya ngomporin kita untuk “Jangan sekarang deh, kalau mau ngajarin bahasa Inggris ke anak. Ntar aja kalo dia udah gedean! Kalo masih kecil, nanti malah bahaya loh, buat tumbuh kembangnya.”

Kali ini, saya dan teman-teman BloggerCrony dapat undangan dari EF (English First) Surabaya, untuk menghadiri  talk show yang mengusung tema  “How to  Help Your Kids Learn English”. Ada psikolog favorit aku mba Roslina Verauli (akrab disapa “Mbak Vera”) yang jadi narasumber dalam acara ini. Nggak ketinggalan, dynamic duo, pasutri super inspiring Donna Agnesia dan Darius Sinathrya yang didapuk sebagai brand ambassador EF (English First) dan siap berbagi cerita soal gimana dia ngajarin ketiga bocilnya untuk berbahasa Inggris.

Bilingualisme dan Perkembangan Area Berbahasa pada Korteks Otak

Mbak Vera membedah mitos yang selama ini beredar di masyarakat, bahwa bayi harus menguasai bahasa Ibu terlebih dahulu.

Faktanya, ada golden moment perkembangan area berbahasa pada korteks anak, yang justru berlangsung di 6 tahun pertama, dengan puncaknya di 1 tahun pertama kehidupan bayi.  Mbak Vera menunjukkan Grafik “Golden Moment” di mana kurva warna biru, yang menjadi pusat area berbahasa, berkembang sebelum anak lahir (masih berada dalam janin), dan menurun di usia 6 tahun.

IMG20170715150530
Bareng psikolog kesayangan akuuuh mba Roslina Verauli

“Jadi, anak-anak sudah bisa diajari bahasa asing sejak di dalam perut Ibu. Misalnya, ketika hamil, ibu baca Al-Qur’an, sama artinya anak-anak tengah mengenal bahasa Arab dengan mendengarkan suara ibunya,” kata psikolog yang jadi narasumber acara di Trans TV ini.

Begitu bayi lahir, lagi-lagi, suara Ibu dan orang-orang sekitarnya yang jadi sumber ia belajar bahasa. Loh,  bayi kan belum bisa ngomong? “Betul, bayi belum bisa ngomong. Tapi ia sanggup encoding alias merekam stimulasi yang didengar dari sekitarnya. Dan ini semua mencapai puncaknya di  1 tahun pertama kehidupan bayi.”

Wah wah wah… golden moment ini yang harus kita tangkap ya buibuk. Jangan mau termakan mitos,  bahwa bayi harus menguasai bahasa Ibu terlebih dahulu, baru ia boleh belajar bahasa asing lainnya

Lantas, mitos berikutnya, anak yang bilingual (diajari dua bahasa sejak dini) akan alami speech delay alias keterlambatan berbicara

Coba kita tengok Teori Perkembangan Bahasa dari Naom Chomsky. Dalam otak manusia, sudah lebih dulu ada program “Language Acquisition Device (LAD)” yang memungkinkan bayi melakukan “analisis dan memahami aturan dasar bahasa yang mereka dengar”. Bayi punya kapasitas bawaan menguasai bahasa.

IMG20170715150411

Mitos seputar speech delay ini terbantahkan lantaran faktanya, perkembangan kemampuan berbahasa atau fungsi wicara sangatlah kompleks, melibatkan area berpikir, interpretasi bunyi, kemampuan verbal, aspek emosi dan sosial individu.

Jadi… pilih mana? Anak Monolingual atau Bilingual

Yang jelas, anak bilingual, secara kognitif, mereka punya performa IQ lebih baik dalah beberapa hal: tes atensi, penalaran analitikan pembentukan konsep, kemampuan verbal dan fleksibilitas berpikir.

Secara sosiokultural, anak bilingual lebih handal dalam kesadaran metalinguistik serta punya kemampuan komunikasi yang lebih baik.

Dan tentu sudah jadi rahasia umum, mereka yang bilingual/multilingual punya kemampuan bersaing dalam memperoleh pekerjaan yang lebih baik.

Darius Sinathrya dan Donna Agnesia Sharing soal Mendidik Anak

Selain dapat hidangan aneka cake dan pastry mak nyus dari EF, hadirin yang hadir di Food Society, juga dapat “kesegaran” tersendiri, lantaran hadirnya pasutri hot momma and hot papa Darius Sinathrya dan Donna Agnesia

Punya tiga anak yang lucu-lucu, tentu ada perbedaan tumbuh kembang di antara putra-putri mereka. Tapi, pasutri ini kompak mengajarkan bahasa Inggris sejak dini kepada sang buah hati.

“Pas aku hamil Shabrina, Darius bikin lagu untuk dia, sering dinyanyikan di perutku nih. Ternyata, ketika batita, Shabrina tuh bicaranya lebih lambat dibandingkan kakak-kakaknya, tapi dia seneng banget bersenandung,” kata Donna.

Toh, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, selama ortu tetap memberikan stimulasi yang pas. “Sekarang tiga-tiganya rajin banget kursus di EF. Kadang, kalau saya ajak ‘Eh, kita pergi jalan-jalan yuk hari Selasa’, nah anak saya langsung ngingetin tuh….’Yah, mama… kan sekarang waktunya les di EF. Jadi dengan kursus di EF, anak saya belajar disiplin, menikmati banget momen kursusnya dan dia belajar sosialisasi juga,” lanjut Donna.

Lebih lanjut, psikolog Vera menambahkan, untuk mengatasi anak yang kadang suka bicara campur-campur antara bahasa Indonesia dan Inggris, atau masih kurang jelas dalam pengucapan, maka orang tua bisa melakukan hal berikut:

  • Child directed speech (bicara per-kata atau dua kata)
  • Intonasi jelas, kencang, diulangi di berbagai konteks.
  • Re-cast: benarkan pronounce-nya
  • Expansion: harus mampu mengembangkan agar lebih bervariasi, pakai teknologi untuk belajar.

“Banyak metode dan pembelajaran yang menyenangkan di EF. Mumpun masih golden moment, ayo segera daftarkan buah hati Anda untuk kursus di English First, karena nantinya anak akan dikelompokkan berdasarkan usia dan kemampuan juga. Jadi sangat menyenangkan,” tukas Darius.(*)

 

Advertisements

9 thoughts on “Membedah Mitos Anak Bilingual dan Multilingual bersama EF – English First”

  1. Anaknya tetangga saya yg 2 tahun udh bisa bahasa jawa totok dan Indonesia fasih. Apa itu termasuk bilingual ya? Yg jelas dia udah bisa memilah2 perbedaannya ini.

  2. Waah sejak di dalam perutpun sudah bisa diajari ya ternyata..nanti harus langsung diajari nih kalo hamil..
    Terima kasih sharing nya ya mbak..jadi bisa nambah ilmu walopun gak ikut dateng ke lokasi acaranya..

  3. Sebenernya secara ga langsung anak anak udah dibiasakan bilingual lho…bahasa indonesia dan bahasa darrah. Berhubung lingkungane begitu semua jadi banyak yeman bicaranya. Tapi kalau diajari bahasa asing, jarang teman bicaranya. Jadi terkesan speech delay…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s