Hansaplast Spray, Cairan Antiseptik Pembersih Luka #GakPakePerih

Yihaaa…!! Liburan sekolah kali ini terasa super panjaaaaang dan lamaaa 😀 Sampe bingung dah, mau ngapain aja. Perasaan udah main-main ke Jakarta dan Pamulang (Tangerang Selatan), trus udah ribet antar Sidqi buat ikutan Tes Potensi Akademik (TPA) dan daftar masuk SMP. Trus, urusan administrasi lalala yeyeye terkait doi masuk ke sekolah menengah pertama ntuh. Arggghh, ternyata kok ya liburannya tak kunjung berakhir 😀

Ya sudah, segala aktivitas pun dilakoni oleh Sidqi dan bolo pleknya. Most of the time, udah pasti lah ya, MABAR alias main bareng 😀 Kalo mulai bosan, mereka bakal ambil sepeda masing-masing dan keliling komplek. Kadang nyampe ke jalan MERR (Middle East Ring Road) alias jalan raya (yang pastinya rame beuds) deket rumah kami. Aku bolak/balik bilang udahlah sepedaan deket sini aja. Tapi…. namanya ABG cowok sih ya… semakin dilarang makin penasaran, haha. Huffft, ya sudah, pokoke ortu kasih restu dan doa saja, supaya semua outdoor + indoor activities senantiasa dalam lindungan Allah ta’ala.

Kapan hari itu, habis sepedaan, Sidqi pulang dalam kondisi manyun. Usut punya usut, dia baru aja jatuh di dekat rumah sohibnya. Ahhh, iya. Namanya juga bocah jatuh bisa terjadi kapan saja dan di mana saja ya. Bahkan, kita lagi duduk bengong di rumah aja, eh… bisa aja tuh, tiba-tiba kejungkal, jatuuuh deh.

Begitu Sidqi datang, dan cerita soal lecet-lecet di kaki dan tangannya, otomatis saya jadi ingat dengan Hansaplast Spray Antiseptik. Soale, kapan hari, aku main ke rumah Sista Kaka (sepupuku) trus, ada bocil-bocil yang lagi sibuk main, plus siap sedia produk Hansaplast Spray Antiseptik gitu.

Penasaran kan…. Ini produk apa?

***

Basically, Hansaplast Spray Antiseptik ini adalah Solusi Praktis dan Modern untuk Membersihkan Luka #GakPakePerih, Tidak Berwarna dan Tidak Berbau

Hansaplast Spray, Cairan Antiseptik Pembersih Luka #GakPakePerih

Ada data menarik kayak gini lho, Moms. Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, berdasarkan urutan proporsi terbanyak untuk tempat terjadinya cedera, sebanyak 36,5% cedera terjadi di rumah dan penyebab cedera terbanyak adalah karena terjatuh sebanyak 40,9%.

Kalau zaman dulu kan kita pakai obat merah, ya. Kadang tuh ada rasa perih gitu, kalau luka ditetesi obat merah. Padahal, luka walau sekecil apapun tidak boleh dianggap ringan! Kudu banget ditangani dengan tepat.

Pertanyaannya, apa langkah pertama yang kudu dilakukan dalam proses penyembuhan luka? Jawabannya adalah….. yuk, kita membersihkan luka tersebut dengan benar untuk mencegah terjadinya infeksi.

Dokter Adisaputra Ramadhinara, selaku dokter spesialis luka bersertifikasi yang pertama dan satu-satunya di Indonesia menuturkan, “Kandungan dalam banyak produk pembersih luka yang dijual bebas mengandung bahan yang bisa menyebabkan sakit perih dan meninggalkan noda. Bagi saya, pembersih luka yang meninggalkan noda tidak menjadi pilihan karena menutupi luka dengan warna yang bukan warna asli luka tersebut sehingga keadaan luka yang sebenarnya tidak bisa terlihat. Di klinik dan rumah sakit, saya lebih memilih untuk menggunakan obat pembersih luka yang mengandung Polyhexanide (PHMB) sebab tidak meninggalkan noda. PHMB juga tidak berbau dan tidak menimbulkan rasa perih.”

***

Ow, ow, ow… sekarang aku paham, kenapa buibu millennial seperti sist Kaka selalu nyetok Hansaplast Spray Antiseptik di rumah.

Yep! Ini adalah inovasi terbaru yang praktis dan modern untuk membersihkan luka, dengan kandungan utama Polyhexanide (PHMB).

Sebenarnya, Polyhexanide (zat antiseptik yang banyak digunakan oleh para dokter karena tidak perih, tidak meninggalkan noda dan dan tidak berbau) banyak digunakan di klinik dan RS dan tidak dijual bebas. Akan tetapi, Hansaplast sudah memformulasikan zat antiseptik tersebut agar tersedia dalam bentuk produk OTC / Over The Counter – produk yang djual bebas tanpa resep dokter. Jadi kita bisa beli kapan saja, di apotek terdekat deh 😀

Untuk informasi lebih lanjut, silakan kunjungi http://www.hansaplast.co.id dan melalui akun Instagram resmi Hansaplast @Hansaplast_ID dan Facebook Fanpage @HansaplastID

Teruslah Berkiprah, Wahai Pasar Syariah!

Saya paling suka kalau diajak blusukan ke pasar tradisional ala pakde Jokowi. Di mata saya, pasar itu kan semacam miniatur rakyat Indonesia. Jadi, bisa  merepresentasikan kondisi rakyat yang sesungguhnya.

Kita bisa ngobrol—dengan sangat-sangat humanis—bersama para pedagangnya. Kita juga bisa bercengkrama sejenak dengan tukang parkir. Atau, berbagi informasi dengan pembeli yang lain… Bisa dapet “hosip-hosip” hahahahaha, ataupun bisa membeli plus menikmati jajan pasar yang mak nyus dengan harga murah meriaaaah, pokoke mantaapp!

Walaupun tempat tinggal saya “dikepung” puluhan minimarket, hipermarket, toserba dan lokasi shopping modern lainnya, saya tak bisa move on dari pasar tradisional. Aura kehangatan, sapaan yang genuine, tidak dibuat-buat, interaksi yang ngangenin, itulah yang saya rindukan selalu dari pasar tradisional.

Persis seperti mas Riri Riza—sutradara handal itu—yang kerap blusukan di pasar demi mendapatkan plus mendalami karakter tertentu. Ya jelas lah, pasar kan kumpulan karakter manusia.

Mau cari pedagang bakhil? Ada! Pembeli yang nggak sopan karena nawarnya nggak kira-kira? Banyak! Tapi, percayalah, kita akan selalu merindukan semua “drama” yang terjadi di pasar tradisional!

Saya berusaha meluangkan waktu untuk silaturahim ke berbagai pasar di Surabaya. Meski terkadang kudu berjalan miring ala mister crab di kartun Spongebob (maklum badan saya kan “luas”) saya tetap “fanatik” dengan pasar tradisional. Salah satu yang saya jadikan jujugan adalah Pasar Syariah Az-Zaitun, di kawasan Kutisari Selatan Surabaya.

Pasar Syariah? Serius??

Yap, serius banget. Pasar ini memang mengusung semangat syariah dalam perjalanan bisnisnya. Adalah seorang Prof Dr. H. Suroso Imam Zadjuli, SE, pakar sekaligus guru besar Ekonomi Syariah Unair (Univ. Airlangga) yang mengusung ide pendirian pasar syariah.

Beliau ingin mengaplikasikan prinsip syariah dalam sebuah pasar. Maklum saja, selama ini, tidak sedikit masyarakat yang skeptis dengan konsep syariah. Ada yang menuding bahwa syariah hanya sekedar “label”. Wuitss, ini nih, yang membuat Prof Suroso terpanggil untuk melahirkan gebrakan pasar syariah.

Prof Suroso terinspirasi sebuah riwayat, bahwa Rasulullah pernah mengumpulkan sejumlah sahabat di sebuah tanah lapang yang kosong untuk membahas pendirian pasar. Pada waktu itu, Rasulullah merasa prihatin lantaran menyaksikan aneka praktik ribawi, tipu muslihat dan sebagainya yang berlangsung di pasar. Dengan amar ma’ruf nahi mungkar (menyebarkan kebaikan, menolak kemungkaran), Rasul mengajak sahabat untuk mendirikan pasar yang menegakkan syariat Islam. Pasar ini harus bebas riba, bebas kecurangan timbangan, bebas tipu muslihat sekaligus hanya menjual barang-barang yang halal sesuai syariat. Dari situlah, Prof Suroso terinspirasi untuk meneladani jejak Rasul.

Ada lahan seluas 800 meter persegi milik Prof Suroso yang berada di kawasan Kutisari Selatan. Lahan inilah yang akan beliau “hidupkan” sebagai pasar syariah. Beliau menawari sejumlah pedagang (yang kesulitan cari lahan) untuk membuka lapak, dengan masing-masing kios berukuran 2×2 meter. Pasar ini diresmikan dan mulai beroperasi sejak tahun 2010. Harga sewanya amat terjangkau, 5000 rupiah per hari. Karena sewa kios amat murah, tak heran, pedagang juga bisa memberlakukan harga yang amat bersahabat. Saya sempat berbincang dengan Ibu Laila, salah satu pedagang sayur di sana. ”Alhamdulillah, saya bersyukur bisa berjualan di sini, karena suasananya enak,” ucap beliau.

Yang jelas, para pedagang di Pasar ini harus memegang teguh 7 konsep khas pasar syariah Az-Zaitun Pertama, barang yang diperdagangkan halal. Kedua, alat timbang dan alat hitung tepat. Ketiga, kebersihan yang terjaga. Keempat, kejujuran. Kelima, persaudaraan  antar pedagang. Keenam, larangan merokok di dalam pasar. Ketujuh, harga yang murah meriah.  

Apabila dijalankan dengan benar, maka konsep pasar syariah bakal menguntungkan semua stakeholder di pasar. Yap, ketujuh konsep ini berpihak pada rakyat, para konsumen, pedagang (pelaku usaha) sekaligus investor atau pemilik lahan. Ada 120 kios yang beroperasi, dan ini adalah pasar syariah pertama di Indonesia.

Eh, karena namanya syariah, apakah semua stakeholder harus beragama Islam? Oh, tentu tidak. Konsep ekonomi syariah ini bermanfaat untuk seluruh penghuni semesta. Jadi, beberapa pedagang ada yang beragama Nasrani, Hindu dan sebagainya. Pembelinya juga begitu. Betul-betul pasar yang memberi kemanfaatan optimal untuk semua.

Prof Suroso menuturkan, bahwa apa yang beliau lakukan tulus untuk menghidupkan ekonomi kerakyatan. Selain menghidupkan pasar, beliau juga mendirikan At Tiin Islamic Foundation. Yayasan ini yang memberikan fasilitas pendanaan, berupa bantuan pinjaman bagi para pedagang tanpa bunga. Tentu, ekonomi dan prinsip syariah berlaku di konsep pinjaman modal perdagangan ini. Tidak ada persaingan yang sampai “berdarah-darah” antara pedagang, karena yang ditonjolkan adalah prinsip saling menolong, sesuai perintah syariat Islam.

Wah, wah, wah… Keren sekali ya, pasar syariah ini. Barangkali, pengelola pasar lain bisa melakukan studi banding dengan Prof Suroso, di Kampus B Fakultas Ekonomi Syariah Universitas Airlangga Surabaya.

Hidup Pasar Rakyat!

Hidup Pasar Syariah!

Toko Buku, Sang Pelepas “Dahaga Jiwa” yang Tak Seramai Dulu

Toko Buku.

Duluuu, waktu kecil, saya paling demen main ke toko buku. Membaui aroma kertas. Mendengar bunyi mesin kasir. Koin-koin yang bergemerincing. Mbak-mbak petugas yang dengan telaten-gegas-dan cepat memberikan sampul plastic untuk tiap buku yang sudah kita beli.

Dan, yang tak kalah penting…. Ketika aku membaca NYARIS SEMUA isi novel/komik yang segelnya terbuka di rak 😀

Toko buku yang menghadirkan semangat IQRO. Bacalah. Bacalah.

Sekian decade berlalu. Sekian purnama terlewati.

Toko buku masa kini….. ah, kenapa tampak tak menarik lagi?

Di beberapa mall besar Surabaya, eksistensi toko buku mulai punah. Tergantikan oleh toko pernak-pernik seperti Ace Hardware, Mr DIY, Miniso, semacam itu.

Terakhir kali, aku ke TGA di Galaxy Mall Surabaya. Sepiiiii buanget. Hanya ada 6 atau 8 pengunjung. Lagi-lagi aku menjumpai wajah yang sama di antara selasar rak buku. Itu-itu saja. Padahal, ini musim liburan kenaikan kelas!

Mungkin anak-anak lagi mudik ke desa?

Atau lagi liburan ke luar kota/negeri?

Bisa jadi.

Tapiii… manakala aku melewati food court ataupun bagian permainan (time zone/fun world), suasana riuh langsung terasa. Wajah-wajah anak sekolah sangat mudah ditemui di sana. Juga ketika aku melewati sebuah resto Jepang yang baru aja grand opening, voilaaaa…. Malah buayaaaakk yang antre rapi jali mengular di depan pintu masuk resto!

Trus, seperti biasa, aku juga pengin beli cincau station. Lagi-lagi super rame! Harus antre sekitar 20 menit, hanya untuk mendapatkan 3 gelas cincau seharga 10 ribu/pax.

Kenapa wajah-wajah itu tidak aku temui di toko buku ya?

***

Era digital memang mengubah segalanya. Tren penjualan koran atau majalah fisik menukik tajam. Semua berganti ke format digital. Baca berita terkini bisa di portal berita online. Opini-opini yang kredibel juga bisa kita temukan di berbagai website. Hiburan, gossip review film, hal-hal yang menyangkut daily life ataupun opini tertentu, juga gampang kita temukan manakala berselancar di dunia maya.

Toko buku—mau tidak mau—harus terus beradaptasi menghadapi pola hidup yang kian berubah. Kalau dibilang minat baca masyarakat kian turun, bisa ya bisa tidak. Yang jelas, membaca tidak harus dalam format buku fisik, kan?

Dan, menurutku, toko buku harus melakukan sebuah revolusi luar biasa agar tetap bisa mengikuti perubahan zaman.

Apa saja?

(1). Rebranding toko buku menjadi Café and Book store

Manakala lihat koleksi buku yang buanyaaaak di TGA, tapi pengunjungnya seuprit, aku membayangkan andaikata kami kami ini bisa nongkrong minum cappuccino latte, sambil baca buku sample. Ahhh, enaknya. 

(2). Lengkapi dengan live music

Makin sip lagi kalau ada live music (band local aja yang akustikan) dan ini bisa memantik anak muda untuk nongkrong di toko buku

(3). Gandeng Content Creator untuk Mengampanyekan Rebranding Ini

Ayolah! Tiap kota pasti punya instagrammer/content creator/blogger yang bisa diajak berkolaborasi untuk kembali meramaikan book store.

(4). Bikin promo Gila-gilaan

Sesekali kerjasama dengan penerbit/bank/fintech untuk menghadirkan SALE 80% misalnya. Big Bad Wolf, sependek pengamatanku, tidak pernah sepi, karena ya itu tadi. Banyak promo gokil.

Sky Castle, (So Far) Drakor Favoritku

Saya tuh bukan penonton Drakor. Trus kalo ada orang yang histeris pas ngeihat tampang actor Korea, sampai detik ini saya gagal paham, bagian mana sih yang di-histeris-kan. Bukaaan, saya bukannya lagi julid. Cuma menurut saya, nggak semua orang kudu terpesona tergila-gila dengan semua hal berbau Drakor, dan begitu pula sebaliknya, tidak semua orang kudu punya sikap kayak eikeh.

Namun, semua itu berubah gara-gara satu Drakor, yang berjudul “SKY CASTLE”. Nih serial emang gokil abis! Dibesut dengan skenario yang rapih jali, departemen acting yang luar biasa paripurna. Intinya, SKY Castle yang berhasil membuat saya nyadar, heiiii, nggak semua Drakor tentang cinta-cintaan kok. Ternyata adaaaaa yang menguak tentang dunia Pendidikan, parenting, drama ambisi, ya semacam itu dah.

***

Tapi apakah kemudian saya berubah jadi pecinta Drakor? Enggak juga hehehehe. Kayaknya cuman si SKY Castle itu doang yang berhasil merebut atensi. Selanjutnya, ya saya lebih demen cari-cari video traveling di YouTube. Atau, yeah… film dokumenter gitu, semacam…. Sexy Killer? Eaaaa 😀

Saya angkat topi banget dengan pengorbanan, dedikasi, keberanian, gagasan brilian yang ditampilkan oleh para documentary-film-makers. Kebayang gimana rasanya jadi jurnalis cum film makers kayak Sexy Killer gitu kan? Medan syutingnya sungguhlah berat warbiyasak. Trus, blum lagi tantangan “terror” yang pasti mereka  terima, sebagai konsekuensi ambil kerjaan kayak gitu.

Pokoke, applause…. Standing Ovation buat yang berani ambil kerjaan sebagai creator film documenter!

Bersyukur itu Butuh Skill, lho!

Getting older is a fact of life.

Don’t stress out about it, because it’s beyond our power to control anyway.

But, there are things that we CAN control. Like our lifestyle

Take care of what we have, physically and mentally.

Learn new things

Don’t procrastine,

Love hard

Work hard

Surround yourself with positivity

(the older I get the more hesitant I am to deal with negativity, because it drains my energy and I simply don’t have time or patience for it)

Be kind with your wrds

Give compliment and encouragement

Stay away from people that bring you down

Don’t define yourself by the number of your age

So just do whatever it is you’ve always wanted to do

Don’t let your age hold you back!

We’re only as old as we think

Age is just a number!

Cihuy yaaaa kalimat pembukanya? 😀 Iya dong, aku screen capture dari IG story beauty-influencer favortitku, Teh @HenyHarun. Coba deh, scroll ke Instagram-nya, dijamin bakal ternganga lihat kulitnya yang soooo hinyai, kinclong memesona, padahal umurnya udah hampir 50 tahun aja, sodara!

Jadi cantik (aja) kayaknya semua orang juga bisa lah ya. (Asal ada duitnya qiqiqiq dan memang kudu rajin perawatan). Tapi, menjadi cantik, berkarakter, punya kharisma, dan inspiring (in her own way) itu belum tentu bisa dilakukan setiap orang. Ini butuh SKILL Kheusus, ceunah! (Ini gaya nulis-nya agak-agak ter-influence Teh Heny yang asli Sunda qiqiqiqi).

Karena itulah, di umurku yang kian senja ini (uhuks), ada beberapa SKILL yang pengin bangettt aku dalami. Apa sajakah?

(1). Skill Bersyukur

Seperti judul postingan ini, (sekedar) bersyukur itu butuh skill. BANGET. Udah deh, ngaku aja, saban lihat postingan orang di socmed (baik yang kita kenal maupun tidak), rasanya clekit-clekit gimanaaaaa gitu kan ya?

Lihat si A lagi traveling ke Maldives….. “Duh, enak banget ya hidupnya? Cantik, suaminya tajir, bisa pose-pose gemaaasss di spot yang instagrammable”

Lihat si B lagi pamer cerita kalo anaknya lulus sekolah negeri (favorit pulak!)… “Ih, si B kok bisa sih punya anak pinter macam gitu? Padahal, otaknya B kayaknya pas-pasan aja deh. Oh, atau jangan-jangan anaknya beruntung gegara sistem zonasi doang nih?”

Lihat si C bolak/balik ngetrip ke luar negeri gratisan (bahkan dibayar!)….”Dia kenapa se-beruntung itu sih? Aku kapan yhaaa?”

Dan seterusnya

Dan seterusnya.

Seolah-olah orang lain tuh hepi hepi syalala, dan hidup kita jalan di tempat. Huft!

Di sinilah, aku pengin banget menggarisbawahi kalo kudu banget ningkatin skill bersyukur. Allah Maha Tahu takaran rezeki yang PAS buat kita. Tenaaaanggg, rezeki kita sudah tertakar, tidak akan tertukar. 😀

(2). Skill Mengapresiasi Orang Lain

Mengakui kehebatan/keunggulan/prestasi orang lain, terkadang bukan hal yang mudah lho. Ada kalanya ego kita mengemuka dan rasa “tidak mau kalah” menjelma pada sebuah sikap “Ogah kasih selamat kalo dia yang menang, ah!”

Haha. Jadi orang tua dewasa emang banyak drama rempongwati nya ya?

Lagi-lagi, ini emang perlu ketulusan hati dan kebesaran jiwa. Jangan sampai, ego dan pongah membungkam nurani kita, sehingga tak mau mengapresiasi bakat/ kinerja/ kontribusi pihak lain.

(3). Skill Jujur pada Diri Sendiri.

Just be yourself! Mantra ini terus kita dengung-dengungkan, tapi heiii…. di era kekinian, tidak sedikit dari kita yang justru sibuk dengan “topeng” dan “polesan”

Kalau teman-teman yang budiman, saat ini sedang memperdalam skill apa? Boleh sharing di komentar yaaa

Cara Naik MRT Jakarta

Yeayy! Akhirnyaaaaa…… kami sekeluarga sudah coba naik MRT di Jakarta! Hahaha. Maaf yaaa, kalo norak-norak bergembira. Soale, sebagai orang Indonesia, kami super duper excited dong dengan perkembangan moda transportasi umum dalam negeri ini. Apalagi, aku kan hobi naik KA. Dan beberapa kali udah coba naik MRT di Singapura dan Bangkok. Jadi, begitu ada berita bahwa MRT hadir di negara kita tercintaaaa, ulala! Ini sih, jadi bucket list banget buat segera menjajalnya!

Ketika libur Idul Fitri beberapa waktu lalu, kami sekeluarga menginap di Pamulang, Tangerang Selatan. Iyeee, itu rumah adik iparku. Naik MRT pas masih bulan puasa. Cuaca cukup HOT, sodara-sodara! Walhasil supaya nggak batal puasanya, kami putuskan naik MRT jam 06.30 pagi dari stasiun Lebak Bulus Grab. (btw, kenapa sih kudu ada kata ‘Grab’-nya di stasiun enih?)

Continue reading

Aldi Ferdian, CEO DanaProspera yang Aktif Berdayakan UKM

R Aldi Ferdian

Pengusaha Muda yang Aktif Berdayakan Usaha Kecil dan Menengah

Aldi Ferdian, adalah sosok yang berada di balik Koperasi digital danaprospera.id . Bersama sejumlah rekannya, ia mendirikan Cakradhara Grup, yang menaungi sejumlah koperasi digital dan beragam bisnis lainnya. Kamis (27/06/2019), Aldi menjabarkan seputar kiprah DanaProspera di hadapan ratusan peserta Pelantikan Pengurus HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) Surabaya, di Hotel Shangri-La Surabaya.

Continue reading

Moms, Mau Menang Ratusan Juta dari #BekalPrestasi Morinaga? Begini Caranya!

Hola, moms!

Tahukah mama kalo tanggal 7-13 April 2019 ada World Allergy Week yang mengusung tema “The Global Problem of Food Allergy”? Iniprogram tahunan yang diinisiasi oleh World Allergy Organization (WAO). Wohooo, ternyata masalah alergi “aja” sampai ada badan level dunia ya? Karena memang gini, moms. Masalah alergi anak ini masih menjadi masalah kesehatan yang umum ditemui dan bisa menghambat tumbuh kembang anak. World Allergy Organization (WAO) menyatakan bahwa tema World Allergy Week tahun ini berangkat dari fakta bahwa masalah alergi telah menjadi masalah global. Kondisi alergi terkait makanan, bisa berbeda antara satu individu dengan individu lainnya.

Morinaga sebagai salah satu brand unggulan PT Kalbe Nutritionals, secara rutin mendukung program World Allergy Week setiap tahunnya melalui berbagai rangkaian program untuk membantu Si Kecil yang alergi, tetap berprestasi.  Kali ini, dalam rangka Morinaga Allergy Week 2019, Morinaga berkomitmen untuk mendukung penuh Si Kecil dari segala aspek kehidupannya.

Morinaga memahami bahwa tumbuh kembang dan prestasi anak adalah prioritas dan keberhasilan seorang ibu.

“Dalam rangka mendukung penuh Si Kecil yang alergi, tahun ini Morinaga Allergy Week mempersembahkan program #BekalPrestasi. Program ini terdiri dari edukasi alergi lewat hospital seminar yang didukung oleh dokter spesialis anak ahli alergi di berbagai kota besar di Indonesia, kesempatan berkonsultasi langsung dengan dokter spesialis anak dari KLIKDOKTER, penyediaan asuransi pendidikan anak*, penyediaan asuransi jiwa untuk orangtua*, serta inovasi produk berupa varian terbaru dari Chil Kid Soya rasa madu untuk memenuhi kebutuhan dan kelengkapan nutrisi Si Kecil. Dukungan penuh dari Morinaga dalam program #BekalPrestasi ini diharapkan bisa membantu generasi platinum untuk mencapai cita-cita dan kualitas terbaik dirinya,” jelas Dewi Angraeni, Senior Brand Manager Kalbe Nutritionals.

Dewi Angraeni, Senior Brand Manager Kalbe Nutritionals, meneruskan, “Di samping seminar edukasi, dalam rangka program #BekalPrestasi, Morinaga Allergy Week tahun ini mendukung prestasi Si Kecil lewat:

(1) Dana Persiapan Pendidikan dari Astra Life senilai total Rp 500.000.000,- untuk 5 orang pemenang;

(2) Dana Asuransi Jiwa senilai total 1 Miliar rupiah untuk 2.000 pemenang; (3) Voucher Belanja masing-masing 200.000* rupiah untuk 3 orang pemenang mingguan selama periode program berlangsung.

Program ini dapat diakses di berbagai channel seperti supermarket, hypermarket dan website Morinaga Allergy Week yaitu http://www.cekalergi.com/BekalPrestasi. Program ini berlaku secara nasional dan diharapkan bisa mendukung banyak orangtua dan anak dari segi finansial dan pendidikan”.

CHIL KID SOYA VARIAN MADU UNTUK KENIKMATAN NUTRISI SI KECIL

Bentuk inovasi dari program #BekalPrestasi dalam rangka Morinaga Allergy Week 2019, menghadirkan varian terbaru dari Chil Kid Soya yaitu rasa madu yang digemari Si Kecil.

Selain rasanya yang nikmat, madu sebagai kandungan yang berkhasiat, memberikan banyak sekali manfaat kesehatan untuk anak karena mengandung banyak nutrisi, antioksidan. Selain itu, madu juga dapat membantu proses pertumbuhan sel-sel dan jaringan tubuh anak dan melawan sumber penyebab alergi atau histamin yang menyebabkan reaksi alergi tersebut, sehingga anak tidak mudah sakit.

“Hasil survey terhadap ibu-ibu di Indonesia dengan anak yang alergi susu sapi, menunjukkan bahwa 100% Bunda SETUJU Morinaga Soya MoriCare+ Prodiges mengurangi gejala alergi dan alergi tidak muncul, berdasarkan hasil survey Home Tester tahun 2018. Artinya, Chil Kid Soya sesuai untuk dikonsumsi Si Kecil yang alergi dan memiliki nutrisi yang diperkaya, setara dengan kebaikan susu sapi untuk tumbuh kembang Si Kecil. Kini hadirnya varian madu diharapkan bisa memenuhi kebutuhan Si Kecil terhadap variasi rasa,” ungkap Helly Oktaviana, Group Business Unit Head Nutrition for Kids Kalbe Nutritionals.

Untuk informasi lebih lanjut bisa cek pada akun resminya di bawah ini ya:
· Faceboook : Morinaga Platinum·

Instagram : @Morinagaplatinum·

Twitter : @MorinagaID·

Youtube : MorinagaPlatinum

#MorinagaAllergyWeek
#AlergiTetapBerprestasi
#SusuAlergiAnak#SusuAlergi
#SusuMorinaga#AllergySolution #Morinaga#ChilkidSoya#SolusiAlergi
#AlergiAnak#ChilkidSoyaSolusiAlergi #BekalPrestasi


Mudik Asyik bareng DAIA

Namanya rezeki itu, terkadang datang begitu saja, dari arah yang tidak disangka-sangka. Begitu juga dengan rezeki mudik tahun ini. Alhamdulillah wa syukurilah, Lebaran 2019 kali ini, kami berkesempatan untuk mudik dan explore Jakarta! Thanks to #MudikWarnaWangiDAIA 😀

Kami berangkat Kamis, 30 Mei dari Stasiun Gubeng Surabaya, bareng pemenang kuis lainnya.

Seruuu pake banget! DAIA udah mem-book satu gerbong KA wisata khusus buat kami.

KA-nya kereeennn buanget! Fasilitas lengkap top markotop! Dan, kita bisa karaoke sepuasnya qiqiqiqiqi 😀

Sebagai “banci mic karaoke” udah pasti dong, eikeh yg siap maju grak, buat nyenyong ama temen2 semua.

Mulai lagu “INIKAH CINTA” by ME, trus “DAN”-nya Sheila on 7, sampai “Price Tag”-nya Jessie J dan “Can’t Stop The Feeling” by Justin Timberlake, hayuk dah, hajar bleeehh. Aku juga duet ama Kak Andy dari Wings Group (yg jadi tour leader acara ini) nyanyik “Cinta dan Rahasia”-nya Yura Yunita feat. Glenn Fredly.

Makanan yg disajikan juga serba maknyuss! Trus, kita juga bisa ambil Mie Sedaap Cup, Teh Javana dan aneka snack dari WingsFood.

Pokoke ini mudik ter-assoy geboy deh 😀

Makasiiii buanyaaakk DAIA 😀

Resep Kue Cubit Menul menul dan Anti-Gagal

Resep Kue Cubit ala Dapur Emaknya Sidqi

Salah satu keberkahan Ramadan yang aku rasakan adalah: Tersiram hidayah untuk semangat nguprek di dapur! Ini ajaib banget sih 😀 Soale, selama ini aku lebih suka order Go-Food atau jajan di aneka destinasi kuliner sekitar rumah. Lha kok di bulan puasa ini, rasanya kayak ada ”panggilan jiwa” (halah) untuk uji nyali keterampilan, kepekaan dan kesabaran dengan MEMASAK.

Bisa jadi nih, karena aku lagi demen buangeeettt ngikutin aneka tutorial masak di channel YouTube “Puguh Kristanto Kitchen”. Dek Puguh ini slogan channel-nya super cihuy banget. “Masak Sederhana, Diawali dengan Doa, Bahan Seadanya Hasil Istimewa!” Udah gitu, doi tuh suaranya khas arek Jatim banget! Penjelasannya runtut dan pokoke inspiring deh. Coba kalian main-main ke YouTube-nya. Dijamin, bakal teracuni buat masak juga kayak diriku! Hahahaha.

Continue reading