ASMA NADIA: Kenapa Saya Berdakwah Lewat Film

ASMA NADIA

Film adalah Media Dakwah dengan Jangkauan Lebih Luas

Sepuluh tahun lalu, ketika mendengar nama “Asma Nadia”, barangkali kita langsung teringat pada puluhan novel Islami yang telah dia lahirkan. Yah, Asma Nadia adalah novelis yang sangat produktif. Lebih dari 40 buku karyanya terpajang cantik di berbagai toko buku se-Indonesia. Ibu berputra dua ini juga kerap didapuk sebagai narasumber dalam berbagai seminar maupun pelatihan kepenulisan. Passion-nya akan dunia literasi, membuat Asma Nadia mendirikan “Rumah Baca Asma Nadia”, sebuah gerakan sosial untuk mengajak anak-anak di pelosok negeri agar gemar membaca dan menulis.

Belakangan ini, kiprah Asma Nadia melebar hingga ke ranah media film, maupun sinetron di layar kaca. Beberapa novelnya dijadikan inspirasi untuk pembuatan aneka tayangan. Banyak yang mengapresiasi, tidak sedikit pula yang mencibir. Asma Nadia dianggap terlampau komersil, dan gampang diajak bekerjasama dengan produser program picisan. Toh, Asma Nadia tetap tegak berdiri, ia yakin dengan langkah dakwah yang tengah ia emban.

Continue reading

“I am Hope”, Harapan adalah Mimpi yang tidak Pernah Tidur

Halohalooo.

Pastinya kita semua udah sering baca twit, postingan blog dan aneka macam info seputar film “I am Hope” yang berseliweran di timeline kan? 

Yep, harus diakui, model campaign via medsos adalah jalan mudah (plus relatif murah) untuk meraih atensi masyarakat. Film2 yang dipopulerkan via medsos, biasanya akan menjaring seribu ke-kepo-an:

“Sedramatis apakah ceritanya?”

“Gimana akting para pemainnya?”

“Bakal seperti apa ending-nya?” 

I AM HOPE

Bertempat di Ciputra World XXI Surabaya, para bloggers dapat kesempatan untuk nobar I AM HOPE. 

Jalan ceritanya, tentang sosok Mia (Tatjana Saphira) yang punya obsesi sebuah pementasan teater. Ia sempat ngerasa terpuruk, lantaran vonis kanker yang mendera. Yap, sebelumnya, ibunda Mia juga harus berpulang karena kanker. Dari penjabaran tokoh aja, udah kebayang kan, betapa nih film rentan bikin kita mewek kejer :(((

Eits, tapi jangan salah! Biarpun kena kanker, bukan berarti dunia berakhir! Selalu ada optimisme dan spirit yang harus diinjeksikan. Mia punya (semacam) partner imajinasi bernama Maia yang senantiasa men-support dia, agar bangkit dari keterpurukan. 

Apapun itu, kemoterapi, rambut yang kudu digunduli, uang dan emosi yang terkuras habis, semua seolah menjadi “paket lengkap” bagi survivor kanker, seperti Mia. 

Tapiiii, ya itu tadi….sesuai tagline film I am Hope, bahwa “Harapan adalah Mimpi yang tidak Pernah Tidur”… inilah yang benar-benar ditunjukkan oleh sosok Mia. Ia bisa bangkit, terus berjuang, do the best dan memberikan teladan pada kita semua, bahwa nothing is impossible…. 

Film ini sungguh bikin emosi teraduk. Antara sedih, nelangsa, lalu bersemangat, optismistis dan passionate banget. Yuk ah, segera meluncur ke bioskop terdekat, supaya kita bisa saksikan hasil karya anak bangsa yang “bergizi” dan sarat edukasi.

O iya, yang unik lagi dari nih film, kita juga bisa membeli gelang yang mereka jadikan “simbol harapan” Info lengkap, bisa meluncur ke: gelangharapan.org yah