Lika-Liku Korupsi di Republik Kami

Ketika KPK mengumumkan penangkapan koruptor, kemudian menggelar konferensi pers, lalu beritanya disiarkan di segala media massa, ada dua rasa paradoks yang bergemuruh di dada.

Di satu sisi, saya bersyukur, “Rasain!! Dasar rakus! Suka makan harta negara.. Nah lo, akhirnya ketangkap juga kan?” Lalu, saya dilanda fanatisme akut pada lembaga antirasuah ini. Sambil bernyanyi kecil, “KPK di dadakuuu… KPK kebanggaankuuu….”

Akan tetapi….di sisi lain, ada rasa yang menerobos begitu saja, tanpa diminta. Rasa pedih. Perih. Dan tersakiti. ”Astaghfirullah… Jadi jumlah koruptor bertambah lagi? Kok nggak tobat yaaa? Kok nggak ngerasa bersalah, hidup bermewah-mewah sementara rakyat buat makan sehari-hari aja susah?”

Saya selalu terperangah, membaca berita dengan terengah-engah, lantaran ulah para koruptor yang selalu bikin jengah.

***

Flashback ke tahun 2009

“Loh, ibuk… Ibuk…! Ibuk kan belum bayar kelengkengnya? Kok udah dimakan sih??”

Kelengkeng yang tengah saya kunyah, seolah-olah siap nyangkut di tenggorokan. Manusia seisi pasar menoleh ke arah kami. Menyaksikan seorang emak yang lagi “disidang” anaknya, gegara satu butir kelengkeng.

“Sstt, Sidqi… jangan keras-keras ngomongnya… Ini Ibuk kan cuma ngincipin ajaa…”

“Iyaa… tapi ibuk kan belum bayar… Dosa loh, ibuk…”

Ya ampuuun, nih bocah…! Pengin aku pitess deh… Si bakul kelengkeng senyam-senyum geje alias gak jelas. Doh. Saya yakin, mereka berdua—si bakul dan Sidqi—sedang terlibat konspirasi untuk mempermalukan saya!

“Ya udah. Ini ibuk beli 1 kilo deh, sama sekalian yang incip-incip tadi, ibuk bayar…”

“Naah, gitu dooong…”

***

Waktu itu, Sidqi masih berumur 4 tahun. Masih duduk di bangku TK. Entah apa yang membuat dia begitu kritis sedemikian rupa. Barangkali karena jiwa kanak-kanak masih sedemikian suci. Putih. Tulus.

Apa sih ambisi seorang bocah TK? Menang di lomba ini dan itu? Walah, haqqul yaqin deh, yang punya ambisi ini adalah emaknya *ngaku*

Karena itulah, kita harus belajar pada anak kecil. Belajar untuk kembali menyelami jiwa-jiwa mereka yang begitu tulus, ikhlas, tanpa tendensi. Anak kecil tak pernah menuntut orangtuanya untuk hidup bermewah-mewah. Anak kecil (yang masih genuine, tentu saja) sudah cukup merasa bahagia apabila kita meluangkan waktu untuk sekedar bercengkrama dengan mereka.

Dan, lihatlah. Si bocah umur 4 tahun itu, sudah bisa mengingatkan saya tentang “korupsi kecil-kecilan” yang “tidak sengaja” saya lakukan.

***

Tahun 2010

Om saya mencak-mencak. Raut mukanya memerah. Nafasnya tersengal, seolah menahan amarah yang siap tumpah.

Kowe niat gak, ngrewangi om-mu iki?” (Kamu niat nggak, membantu om-mu ini?)

Tangannya menunjuk-nunjuk ke arah Dirgo—sebut saja begitu—kemenakannya yang tengah ia “sidang”.

“Katanya kredit untuk rakyat kecil? Mana?? Buktinya, kalian malah mempermainkan duit bantuan 75 juta. Yang 40 juta buat penerima kredit, dan 35 juta mau dibalikin ke bosmu?? Ra sudi, aku! Wis kono, panganen duit-duit iki! (sudah sana, makan saja uang ini)”

Dirgo masih menunduk.

Sepupu saya ini seorang staf bagian kredit untuk masyarakat marginal. Ia berbaik hati memberi informasi ke om saya yang hendak beternak lele. Setelah melalui screening yang ketat, usaha om saya berhak dapat suntikan kredit. 75 juta, jumlah yang amat lumayan bikin om merasa girang. Tapi, tunggu dulu. Dengarkan apa kalimat Dirgo yang membuat om meradang, ”Kata bos saya, yang 40 juta dialokasikan untuk Om. Tapi, 35 juta adalah uang operasional untuk tim kami.”

Sumber: FB GNPK-Pusat

Sumber: FB GNPK-Pusat

***

Entahlah, azab apa yang tengah menimpa masyarakat republik ini. Muak telinga kita mendengar kata ‘korupsi’ berjejalan setiap hari. Saking seringnya, seolah-olah kita kebal, dan permisif dengan aneka bentuk korupsi. Oh, ada berita korupsi lagi.. Ya wajar laah… Indonesia gitu lo….Bahkan, Abraham Samad melabeli para anggota DPR sebagai “perampok yang mahir” alias “penjahat yang profesional”.

Naudzubillahi min dzalik.

Yang mengerikan adalah, banyak di antara para koruptor yang merasa tidak sedang menerima harta haram. Mereka berdalih, “Saya kira ini adalah hibah.” Sama sekali tidak berdesir rasa dosa di dada, ketika gratifikasi beraneka rupa singgah di rekening mereka.

Dari daftar CPI Tranparansi Internasional, Indonesia duduk di peringkat 107 dari 175 negara. Posisi negara kita, jauh berada di bawah Singapura, Malaysia, Filipina dan Thailand.

Bagaimana kita bisa melawan korupsi?

Ada baiknya kita melihat India. Dikutip dari BBC Indonesia, kepolisian Delhi, India sedang menyelidiki lima polisi yang diduga terlibat korupsi. Laporan itu datang dari layanan instant messenger whatsapp.  Maka, kita juga sangat bisa mengikuti jejak masyarakat India. Menunjukkan kepedulian kita, bahwa korupsi adalah penyakit mengerikan yang harus dibasmi dari muka bumi.

Kita bisa melaporkan setiap perbuatan korupsi ke website KPK Whistleblower’s System di https://kws.kpk.go.id. Atau, Anda juga bisa melaporkan ke berbagai lembaga anti-korupsi di republik ini.

4962_infografis_koruptor_disekeliling_kita_laporkan_777x1600

Beginilah seharusnya kita melawan korupsi! Media sosial kita fungsikan secara optimal, bukan untuk sarana nyinyir atau menebar kebencian. Teknologi adalah “pisau tajam” yang sangat bisa kita gunakan untuk “mematikan” virus korupsi. Seperti kata Pak Nukman Luthfie, salah satu praktisi media sosial, bahwa teknologi yang semakin canggih seharusnya menyulitkan orang untuk berbuat korupsi.

Kita sangat bisa menggaungkan semangat anti-korupsi, mulai dari diri sendiri, keluarga, rekan kerja, komunitas, tetangga satu RT, jamaah masjid….

Gerakan anti-korupsi harus digalakkan sejak dini. Anak muda kudu dibombardir dengan segenap informasi, supaya mereka aware dan tidak abai dengan beragam kasus korupsi. Salut dengan tim KPK yang terus-menerus melakukan edukasi. Salut dengan para pekerja seni yang menuangkan ide untuk mengambil sikap anti-korupsi.

Salut dengan aksi-aksi serta advokasi yang dilakukan Gerakan Nasional Pemberantasan Korupsi (GN-PK). Yang terus menunjukkan dedikasi, kredibilitas, komitmen dan keikhlasan yang tulus dalam melakukan pencegahan dan pemberantasan korupsi.

“Rusaknya sebuah negara bukan karena banyaknya orang jahat yang berkuasa, tapi karena banyaknya orang baik yang diam” (Anis Baswedan)

Masih mau berdiam diri melihat beraneka kasus korupsi? Do something! Paling tidak, kita mengedukasi dan menyebarkan semangat kepada masyarakat, agar peduli dengan berbagai kasus korupsi.

Lakukan apa yang kita bisa. Lola Amaria dengan film edukasi anti-korupsinya. Kikan dan Slank dengan lagu-lagunya yang menyuarakan semangat anti-rasuah. Saya dengan postingan blog ini. Dan, Anda?(*)

Tunjukkan Semangat Anti-Korupsimu bersama Lomba Blog GN-PK. Info lengkap di sini

Inovasi Tiada Henti Sinar Mas Land

sinarmasland-0

Kalau hari-hari mulai terasa suram *tsaah* salah satu taktik yang kerap saya lakukan adalah browsing quote orang-orang hebat. Salah satu yang bikin hari saya jadi hore adalah kutipan dari Pak Eka Tjipta Widjaja. Wow, quote beliau ini nampol” banget. Bikin BANGKIT. Membaluri semangat, sekaligus menciptakan gairah yang meletup-letup untuk ACTION! Do it NOW! 

Yap. Integritas dan tanggung jawab adalah dua hal yang amat sangat krusial dalam hidup. Tanpa keduanya, maka kita (sebagai individu maupun korporasi) akan terjebak dalam kondisi stagnan, tak bisa move on, ataupun melahirkan beragam inovasi yang memberi manfaat bagi orang banyak.

INNOVATE or… DIE!

Inilah yang jadi pegangan teguh bagi seluruh awak Sinar Mas Land. Lebih dari 40 tahun (sejak 1972), perusahaan properti ini berkiprah di bumi Indonesia. Semangat yang mereka pegang teguh adalah: Building for a better future. 

Sinar Mas tidak semata-mata membangun properti. Tapi, mereka membangun integritas, reputasi, dan kepercayaan.

No wonder, baru-baru ini, Sinar Mas Land sukses meraih 2 (dua) Penghargaan prestisius level internasional. Grup properti ini mengharumkan nama Indonesia melalui Cityscape Awards For Emerging Market dan Asean Energy Award 2014.

Widiiih. Jadi makin ngefans ama Sinar Mas Land kan?

Biar lebih terasa feel-nya, silakan putar video ini. Kita bisa tertulari ruh semangat Pak Eka Tjipta Widjaja.

Keren kan?

Saya happy dan bangga banget, di Surabaya ada properti Sinar Mas Land. Salah satunya, komplek perumahan Wisata Bukit Mas di Surabaya Barat yang awe…awe… awesomeee…!!

SINARMASLAND-1

Arch de Triomphe di Wisata bukit Mas

Gerbang Utama Wisata Bukit Mas

Gerbang Utama Wisata Bukit Mas

Wisata Bukit Mas mengusung tagline “Hunian Sejuta Pesona”. Kalau menyaksikan beragam landmark yang bercokol di sana, kita benar-benar bisa merasakan European Experience… Sedaaaapppp :))

Di Wisata Bukit Mas, ada 14 cluster yang diberi nama dengan destinasi impian di Eropa. Yaitu: Madrid, Alexandria, Acropolis, Versailes, Venesia, Street of London, Rome, Palazzo, Palais du Luxembourgh, Royal Palais, Palais du Louvre, du Lyon, Grand Palais, Street of Paris.

Yang pasti, kompleks ini jadi lebih cihuy, lantaran dilengkapi fasilitas Collosseum Club House dan Adventure Park

Serasa lagi di Eropa!

Serasa lagi di Eropa!

Seperti yang saya singgung di awal, INOVASI adalah kata kunci yang menjadi ciri khas properti Sinar Mas Land, termasuk  di Wisata Bukit Mas.

Sinar mentari yang begitu bengisnya menjajah bumi Surabaya, dijawab dengan menghadirkan inovasi brilian. Apakah itu? Yap. Mereka menghadirkan Notredame Garden Suites

notredame

Notredame Garden Suites

Notredame Garden Suites bakal membawa suasana ala resort dan vila. Bayangkan… ada danau resort yang terpampang nyata di depan mata… Penghuni bakal dimanjakan dengan udara segar bebas polusi… plus setiap unit rumah punya private flying garden dengan pemandangan green area seluas 3 hektar!

Wowww…. heaven on earth..!!

Surgaa.....

Surgaa…..

Aaarrggh, sepertinya saya kudu banget merancang (plus mengeksekusi) financial planning dengan lebih smart.

Karena, salah satu tujuan finansial saya tahun depan adalah: punya properti di Wisata Bukit Mas Surabaya.

Can I have ‘Amiiiin’ for this? 🙂

458 kata

Diikutsertakan dalam lomba blog Sinar Mas Land

images

Ada Apa dengan Cintamu, Wahai Ibu?

Tidak banyak air mata yang tumpah. Kendati tersendat, perempuan itu masih tetap sanggup berujar. Pilu membaluri hatinya, tapi ia tak kenal kata rapuh. Apalagi putus asa. Atau, menyalahkan takdir Tuhan. Dalam sebuah tragedi yang amat menyesakkan, berulang-ulang, ia sibuk mengucapkan mantra, ”Sabar… sabar… yang ikhlas… insyaAllah Bapak masuk surga…”

Tangisku pecah.

“Relakan Bapak pergi ya Nak… InsyaAllah Bapak masuk surga, dan ia akan bahagia berada di sana…”

Ibu berucap dengan suara bergetar. Seolah menahan air mata yang nyaris tumpah, Ibu memagari dirinya dengan ketegaran yang mengerikan.

Aku—si anak kecil berusia 10 tahun—tak henti-hentinya tergugu. Menangis dalam jeri.

Bapakku meninggal. Tak lagi bernyawa. Bapakku, tulang punggung keluarga kami, sekarang sudah tidak hidup lagi. Tak ada lagi, manusia ganteng, lucu, sabar, yang akan membawakan seplastik pisang goreng setiap sore. Yang memanggilku dengan bumbu sayang tak terbilang, ”Deeek, iki Bapak nggowo pisang goreng isih anget.” (Dik, ini Bapak membawa pisang goreng masih hangat).

Lalu, aku menghambur ke pelukannya. Bau badan Bapak yang masih terpanggang matahari, itu adalah parfum ternikmat yang aku rasai. Lalu, Ibu ikut nimbrung, sembari membawakan teh manis yang masih mengepul. Kalau kau tanya dimanakah aku berada, maka aku akan menjawab, inilah surga. Sebuah surga yang demikian indah, walaupun sederhana.

Dan, 16 April 1991, dinding surgaku bolong. Ada satu makhluk yang tak lagi berkontribusi dalam semarak surga kami. Lagi-lagi, aku melolong. Aku belum siap. Sungguh, kalau boleh memilih, aku lebih suka aku saja yang mati duluan. Jangan Bapakku. Jangan pria ganteng, baik, lucu itu.

“Bapak… bangun Pak… Aku setelkan lagu kesukaan kita Pak… “ aku—si bocah kelas 4 SD kala itu—membawa sebuah radio tape bermerek Sony, yang siap memutarkan lagu Bimbo. Kesukaan Bapak dan aku, apalagi kalau bukan Aisyah adinda kita. ”Bapak, bangun Pak… kita nyanyi lagi Pak…”

Surgaku kini tak sama lagi.

***

Ibuku bagai batu karang. Sekeras apapun badai yang mengoyak, ia tetap tegar. Kepergian Bapak di usia amat muda—44 tahun—sama sekali tak membuat ia menjadi pribadi yang lunglai. Justru, ibuku tampil sebagai superhero. Pahlawan sejati bagi aku dan abangku.

images

Ibuku tak sempat bersedih. Ia gembok rapat-rapat stok duka dalam dada. Ia coret jauh-jauh kosakata “Mengapa harus suami saya?” Ia menutup pintu kerapuhan, lalu melangkah mantap, demi mewujudkan masa depan bagi kami, kedua buah hatinya.

Maka, kalau ada yang bertanya siapa perempuan terkuat di dunia, tentu aku jawab dengan lantang: Ibuku. Tak pernah kudengar sepenggal keluhan yang terlontar dari bibirnya. Duka-nestapa separah apapun senantiasa ia telan sendirian.

Tak pernah kulihat bias lara di mata indahnya. Mata itu selalu pancarkan inspirasi sekaligus motivasi­­ untuk mau berbuat kebaikan dari hari-ke-hari. Ibu hadir untuk menguatkan jiwa. Ibu hadir membawa sekeping optimisme, berbalur rasa syukur yang tak kenal kata udzur.

”Sabar ya Nak… insyaAllah, setiap peristiwa yang kita alami, sepahit apapun, yakinlah, bahwa Allah PASTI memberikan yang terbaik untuk kita…”

***

Sebagaimana kisah-kisah para Nabi dan wali, yang selalu mendapat cobaan dalam hidup; maka begitulah aku menganalogikan kehidupan Ibu.

Pasca berpulangnya Bapak, hantaman cobaan seolah enggan hengkang. Mulai masalah finansial, yang membuat Ibu harus jumpalitan menambal kekurangan di sana-sini.

Sepulang mengajar—ibuku adalah guru—beliau harus pergi kulakan ke Pasar Turi. Beraneka alat masak pecah belah, sprei, baju, daster selalu ia bawa pulang, untuk kemudian dijual secara kredit ke tetangga.

Wajahnya memang penuh peluh, toh Ibu tak mau berkubang dalam keluh. Dan kau tahu, apa stigma yang melekat pada janda? Walaupun itu janda karena suaminya meninggal? Yang aku tahu, ada beberapa pasang mata yang menghadiahkan tatapan tidak suka. Janda. Ke sana ke mari bawa dagangan. Ada yang membeli karena ingin, ada yang karena kasihan, ada yang lantaran terpaksa.

Yang bikin sebal, beberapa customer Ibu terjerat “kredit macet”. Apa boleh buat, Ibu memang tak piawai berdebat. Dengan senyum simpul, Ibu membiarkan piutangnya berubah jadi sedekah.

Aku—yang memang bakat protes—menganggap apa yang Ibu lakukan sebagai tindakan “aneh” “menggelikan” “tak masuk akal”. Ibu kan jualan, jadi rugi dong kalau begini terus?

“Nggak papa. Allah tak pernah tidur. Pasti kita akan dapat ganti yang lebih baik,” begitu ucap Ibu, sembari mengelus-elus rambutku.

***

Mom_Quotes-Images_LikeLoveQuotes_SMS_Sayings_Messages_ImageQuotes

“Adik mau nggak, kalau punya Bapak lagi?” Seorang tante menanyaiku pada suatu pagi.

Bapak? Bapak tiri, maksudnya? Tidak. Bapakku cuma satu. Bapakku sudah di surga. Aku tidak mau punya Bapak jilid dua.

Sebenarnya, kalau mau, Ibuku sangat bisa menikah lagi. Beliau masih terbilang muda ketika menjanda. Pun, tidak sedikit pria—berstatus bujang ataupun duda—yang naga-naganya memang ingin menjadi bapak sambung. Tapi, ibuku bergeming.

Ada apa dengan cintamu, wahai Ibu?

Terkadang, aku merasa bersalah karena jangan-jangan aku yang membuat Ibu tak mau menikah lagi?

Tapi, rupanya Ibu bisa menjawab risau yang aku rasa. Ia punya satu cinta nan agung, yang ia persembahkan hanya pada bapakku. Maka, ketika bapak berkalang tanah, cinta itu ikut terkubur di sana. Bersemayam dalam jasad yang fana. Barangkali, cinta itu akan kembali menemukan mahkotanya, di surga firdaus. Kelak. Entah kapan.

***

Aku selalu ingat setiap serpihan kalimat yang meluncur dari Ibu. Segumpal kata yang sarat makna. Seutas diksi yang membekas di hati. Setiap melihat sorot matanya, yang begitu tangguh dan berani—kalau tak boleh dibilang nekad—nyaliku langsung bangkit. Tak mau aku jadi pecundang, yang terus merutuki nasib. Tak rela aku jadi perempuan menye-menye, yang gampang terperosok dalam sedih tak berujung. Aku mau TEGAR. Aku ingin BANGKIT.

“Kalau saat ayah meninggal, ibu menangis kencang, barangkali saat ini aku tumbuh menjadi perempuan yang rapuh.”

Suatu sore yang cerah. Seperti biasa, kami minum teh, sambil menikmati jajan pasar. Berdua. Hanya aku dan dia.

“Kenapa begitu?”

“Ya, karena Ibu adalah role model buatku. Ibu itu panutanku, pahlawanku. Waktu itu, aku mau nangis dan protes sama Tuhan. Aku benci banget dengan kenyataan bahwa ayah meninggal. Kenapa ayahku yang begitu baik malah meninggal? Kenapa bukan orang jahat saja yang meninggal duluan? Ayah umurnya kan masih 44? Kenapa aku yang masih sekecil itu malah dibikin nggak punya ayah? Tapi, gara-gara lihat Ibu, aku malu kalau nangis. Wong Ibu nggak nangis, ya sudah, aku juga brenti deh, nangisnya.”

Setengah dipaksa, bibir Ibu mengukir senyum. ”Kamu ini bisaaaa aja!”

Pada akhirnya, aku belajar, bahwa untuk survive dalam menjalani hidup, kita hanya perlu berbekal syukur dalam volume yang tak berhingga. Agar kita punya hati dan kesabaran seluas samudera. Dan itu semua, kupelajari dari ibuku.

Laa Tahzan. Innallaha ma’ana…

Jangan sedih. Sesungguhnya Allah bersama kita.

Mantra itu yang membuat ibu kuat.

Mantra itu yang membuat cinta kami kian rekat.

Mantra itu yang menjadikan hati Ibu begitu luas…. Seluas samudera….

I love you mom. I love you to the moon and back.

 

 

Traveling Makin Asik bareng Ace Hardware

Alhamdulillah, tulisan ini menjadi Juara dalam Lomba Blog Ace Hardware

“The world is a book and those who do not travel read only one page.” ― Augustine of Hippo

Barangkali, salah satu “dosa besar” yang saya lakukan terhadap Sidqi–anak saya—adalah: saya amat-sangat-jarang-banget membiarkan ia berinteraksi dengan alam. Maklum, alasan khas ibu-ibu perkotaan: capek didera kerjaan kantor. Pulang ke rumah, bawaannya pengin molor melulu. Sibuk bikin pulau di bantal deh 🙂

Walhasil, anak saya tumbuh menjadi bocah yang “anak kota” banget. Saban liburan, jujugannya selalu ke mal, mal, dan mal.

Di satu sisi, saya senang; karena toh biarpun terkesan hedon, libur ke mal tidak terlalu menguras kantong kok. Anak saya cuman minta main-main di playground—biasanya main animal Kaiser—lalu makan siang bareng di food court. Paling banter, habis 100 ribuan gitu deh.

Nah, suatu ketika, ada tawaran dari temen-temen suami untuk traveling bareng ke Jember.

Hah?! Jember? Aduh, emangnya ada apa di sonoh?

“Woohooo… macem-macem… pantainya bagus-bagus… Sekarang Jember lagi happening banget loh… Tahu sendiri kan, Jember Fashion Carnival (JFC).. .. Anang-Ashanty saja sampe bela-belain ikut perform di JFC. Berarti, kita emang HARUS ke Jember!”

Sidqi manut-manut saja diajak bapaknya.

Aku yang males. Ngepak-ngepakin baju. Nyusun perbekalan. Itung budget travelling. Kalau solo-traveling mah enak, cukup bawa backpack sebiji. Udah cukup banget. Lah ini, kudu ngurusin baju saya, suami, plus bocah cilik! Rempooong!

Untunglah, ada luggo trolley back yang emang jadi “partner in crime” banget buat liburan keluarga. Muatnya banyak, bisa tertata rapih dan well-organized. Problem solved!!

***

Perjalanan Surabaya-Jember ternyata makan waktu lumayan lama. Sidqi mulai cranky. Bosen, karena terjebak berjam-jam di dalam mobil. Saya sampai sungkan (nggak enak hati) sama Pak Joko, yang kita nunuti selama traveling ini.

”Nggak apa-apa. Biarkan saja Sidqi nangis. Biar puas. Nanti dia juga capek-capek sendiri,” kata Pak Joko, yang tetap tenang dan tidak terintimidasi raungan Sidqi.

Well, jangan pernah remehkan urusan logistik. Maksudnya, makanan dan minuman buat anak. Sidqi sudah saya bekali dengan botol minum yang kiyut abiiisss… Beli di Ace Hardware dooong… Heheheh….Anti tumpah dan cranky anak juga berkurang drastis.

Trusss… jangan pernah remehin faktor kenyamanan. Itu penting pakai banget! Makanya, saban traveling, kudu ada bantal leher. Lumayan loh, bisa mengurangi cenat-cenut yang biasa bergentayangan di daerah rawan ini.

Alhamdulillah, Setelah sampai di Pantai Watu Ulo, “zona cranky” Sidqi sudah berakhir. Tangisnya berhenti. Dan ia malah asyik lari-lari bareng semua peserta piknik. Tapi, begitu lihat pasir pantai, oh no! Sidqi langsung minta gendong!

13775072471233658324

“Jijiiiik!! Aku nggak mau kena pasiiirrr!”

Duh. *lap kringet, tepok jidat, bibir maju tujuh senti secara serempak* Malu-maluin banget nih bocah.

“Sidqi kan cowok… Ayoo… turun..! Jangan minta gendong! Sana, mainan pasir sama basah-basah di pantai…”

Sidqi tetap ngerasa nggak punya “chemistry” dengan Pantai ini.

”Biarin aja. Tetep bawa ke pantai, tapi jangan dipaksa…” Pak Joko kembali memberi tips.

1377507308257276688

Puihh. Bete juga sih. Capek-capek pergi ke Jember, eh, Sidqinya sama sekali nggak ‘enjoy’ seperti bocah cowok pada umumnya. Maklum. Selama ini, Sidqi selalu main ke tempat-tempat yang enggak ada becek-beceknya sama sekali.

Yep. Mal, mal, dan mal.

Apakah petualangan pantai kita berakhir disappointing-ending?

Oh, untunglah, nggak jauh dari Pantai Watu Ulo, ada sebiji pantai lagi. Namanya Pantai Papuma. Sedikit beda dari Watu Ulo, nih pantai pasirnya putiiiiihhh banget. Awalnya, Sidqi—si mister steril itu—ogah main-main di pantai. Tapi, beberapa menit kemudian, dia lumayan tergoda untuk mencicipi pasir-pasir putih dan deburan ombak yang menyapa di sepanjang Pantai Papuma.

Awalnya hanya lari-lari di sekujur pasir pantai. Lalu, Sidqi mulai melakukan “manuver” : ia membiarkan kaki mungilnya terguyur ombak yang mampir di bibir pantai.

13775073681160991954

Wuah. Sidqi mulai ketawa-ketawa riang. Bapaknya senang. Emaknya pun girang…!!!

Ahh, yaaa… paling tidak, traveling kami kali ini mengajarkan satu hal: Bahwa kita musti berani meninggalkan zona nyaman!

Mosok nggak bosen sih, pergi ke mal melulu?! Bersyukurlah bahwa kita tinggal di surga dunia, Indonesia. Banyak spot yang sungguh ajaib dan luar biasa memukau, seolah-olah meminta kita untuk segera berkunjung ke destinasi wisata yang indah. Walaupun traveling memang rempong, percayalah, akan ada “hikmah” dalam setiap perjalanan yang kita lakoni. Anak kita kian bertambah kadar “petualang”-nya; kitapun bakal belajar untuk jadi ortu yang sigap dan smart traveler.

1377507415581968920

1377507518541547478

13775076601323667448

Kedua pantai ini—Watu Ulo dan Papuma–berada di pesisir selatan Jawa Timur, atau lebih tepatnya terletak di desa Lojejer, kecamatan Wuluhan, 45 Km arah selatan kota Jember.

Kalau wisata, emang paling assoy bisa menikmati pemandangan alam yang cihuy. Tapiii, kita kudu siap-sedia dengan berbagai kondisi kan?

Makanya, saya addicted banget buat selalu shopping ke Ace Hardware. Siapa sih, yang enggak kenal akrab sama one-stop-shopping yang sumpeeeehh—kereeen—beraaatttss ini?

Selain bisa banget buat shopping online, kita juga bisa berkunjung langsung ke store terdekat di kota kita. Kalau di Surabaya, paling sering saya nongkrong di Ace Hardware Royal Plaza atau yang di Galaxy Mall. Udahlah tokonya sip markosip, mbak-dan mas-nya sigap tiada tara, barang-barangnya komplit, servisnya cihuy, what can I ask for more??

Artikel ini diikutsertakan dalam Ace Hardware Writing Competition.

Doakan saya yaaaa….:-)

Tujuh Tahun

Assalamualaikum mas Sidqi yang ganteng, sholih dan baik hati,

Hari ini, Ibu pengin nulis apa yang Ibu rasakan selama 7 tahun jadi orang tua mas Sidqi.

Wah, waktu berjalan ngebut banget! Rasanya baru kemarin loh, Ibu mengalami kontraksi yang luar biasa, di detik-detik jelang kelahiran mas Sidqi.

Rasanya baru kemarin, Ibu bersihkan ompol, gumoh, plus bangun tengah malam karena dengar jerit tangis si bayi imut bin ganteng.

Sekarang, mas Sidqi sudah makin gede aja. Udah bisa melakukan banyak hal. Temen gaul mas Sidqi juga banyaaak banget! Mereka suka main-main ke rumah kita, karena mas Sidqi memang baik hati dan selalu menyambut dengan riang gembira.

Sidqi bareng bolo pleknya

Sidqi bareng bolo pleknya

Tapiii, Ibu tahu persis, biarpun punya teman banyak, mas Sidqi paling suka mainnya sama Ibu kan?

Hayooo… ngaku deh… Kalo nggak ngaku, ntar Ibu nggak bawain es krim loh, hehehe…

Kalau dianalisa lebih dalam *eciyeeee*, Mas Sidqi memang punya banyaaak kemiripan dengan Ibu.

Sama-sama suka berpetualang. Hobi santai di pantai. Trus, menginap di rumah pohon. Demen berenang….

Santai di pantai Papuma, Jember

Santai di pantai Papuma, Jember

CIMG4674

Asiknya di Rumah Pohon, Taman Dayu, Pasuruan

CIMG5332

Renang di Vila Jambuluwuk, Batu, Malang

Kita berdua juga doyan berargumentasi. Bahasa simpelnya sih, “hobi ngeyel”. Hehehee… Tiap kali ada nasehat yang terlontar dari mulut Ibu, mas Sidqi selalu mendebat, “Loh, kenapa gitu? Mestinya kan bisa begini.”

Ibu kudu pontang-panting kasih penjelasan secara ilmiah dan mudah dicerna oleh bocah berusia 7 tahun, yang punya daya kritis dan analitis luar biasa *prok, prok, proook*

Kita berdua juga punya kegemaran yang sama. Bergumul dengan LAPTOP! Kalau Ibu lagi duduk anteng di depan laptop, sepersekian detik kemudian, mas Sidqi PASTI mau ikut-ikutan. “Ibuuu… aku bantu ngetik yaa….”

Inilah momen quality time kita berdua.

Kita bermain-main bareng laptop. Browsing banyak hal. Belajar ngetik. Belajar matematika. Belajar paint.

Nge-game? So pasti dong ah. Hihihi.

Asik Ngegame bareng laptop ramping

Asik Ngegame bareng laptop ramping

TEMA W-3-GAME LAPTOP-2

Wuih, josss banget dah, ngegame pakai nih notebook!

Emang cakep banget dah, kalau main-main dengan laptop yang enteng ya. Niiih, ada Acer Aspire E1 Slim Series, yang didukung oleh  prosesor Intel®. Mulai dari Intel® Celeron® dan Core™ i3, dan 30% Lebih Tipis.

Notebook ramping, fitur asik dan menawan

Notebook ramping, fitur asik dan menawan

ASpire-E1-432-Silver-1 ASpire-E1-432-Silver-3 E1-432

Ibu harus akui. Eksistensi laptop itu membantu banget dalam “karir” Ibu sebagai orang tua. Ibu bisa tahu banyak hal, setelah menjelajah dan bercengkrama dengan dunia online. Termasuk, pas cari nama kamu! Ibu browsing, sampai ketemulah nama “Adkhilni Mudkhola Sidqi”. Artinya: masukkanlah ke dalam golongan dan dengan cara yang baik.

Ibu berharap, kamu akan menjadi sosok muslim yang hebat dan bisa menghebatkan banyak orang! Aamiiin…

Eh, mas Sidqi. Laptop seri terbaru dari Aspire Acer ini juga handal banget buat dipakai kerja loh. Seperti yang udah Ibu bilang, Acer Aspire E1 Slim Series didukung performa Intel® Processor di dalamnya. Jadi, karena ibu setiap hari bergulat dengan dunia tulis-menulis, nih notebook super-duper-hero banget!

Apalagi, Ibu bisa tampil keren dengan notebook slim yang paling tipis di kelasnya. Yah, maklum, selama ini Ibu kan harus mobile, buat ketemu banyak narasumber, interview, dan kudu nulis on the spot! Jadi, kemana-mana, Ibu bawa tas ransel yang bawa laptop segede gaban! Beraaaat!

Ngobrol sama Fadly-PADI sambil ngusung ransel isi laptop gede *uhuk-uhuk*

Ngobrol sama Fadly-PADI sambil ngusung lemak plus gelambir ransel isi laptop gede *uhuk-uhuk*

Ah, untunglah, ada solusi brilian buat kita berdua ya.

Ibu tetap bisa kerja dengan optimal karena lahirnya inovasi mutakhir dan spektakuler dari Acer Aspire. Kalau ditemani notebook yang ramping, ide-ide bakal mengalir deras… Jari-jemari Ibu (yang semuanya segede jahe ini) bisa menari lincah di atas tuts keyboards notebook.

Biarpun bodinya 30% slimmer, notebook Acer Aspire E1 Slim Series tetap mengusung fitur yang cihuy.

Laptop tipis Aspire E1-422, misalnya.  Nih laptop ciamik banget, dilengkapi dengan optical drive DVD Super Multi. Jadi kita tidak perlu lagi bawa DVD-RW external. Kan, fitur ini sudah terpampang nyata plus terintegrasi pada Aspire E1-422.

Kelengkapan input/output Aspire E1-422 antara lain tiga buah port USB, yang satu diantaranya sudah menggunakan USB 3.0 dengan transfer data 10x lipat lebih kencang dibandingkan USB 2.0. Ada juga sebuah card reader yang dapat membaca memori berbasis SD Card dan MMC.

Nah. Ibu kan doyan presentasi. Kalau pakai Aspire E1-422, gimana? Oh,  Tenaaang…. Laptop yang slim, langsing dan aduhai ini menyediakan port VGA/D-Sub yang umum digunakan pada proyektor yang ada di pasaran.

Buat multimedia, fiturnya okekah? Tenaaaang…. Aspire E1-422 ini juga menyediakan sebuah port HDMI yang bisa digunakan untuk menghubungkan notebook dengan layar LCD/LED berukuran besar. Jadi, selain bisa nge-games bareng, kita sekeluarga juga bisa nonton film Full HD ataupun main game favorit lewat layar berukuran besar!

Acer juga punya sebuah Webcam HD buat kita-kita yang eman doyan banget foto-foto dan video chatting.

Untuk konektivitas, Acer Aspire E1-422 menyertakan satu buah port LAN (RJ-45), dan sebuah wireless adapter Acer Nplify 802.11b/g/n. Ini memudahkan banget kalau kita mau internetan lewat jaringan hotspot.

Keren banget kan, laptop ini, Mas Sidqi?

Sekeren akhlak kamu.

Jump, Sidqi, Jump! Reach Your Dream!

Jump, Sidqi, Jump! Reach Your Dream!

Ibu juga bakal mengoptimalkan pemakaian notebook untuk membimbing kamu jadi anak yang kian sholih dari hari ke hari. Kita bisa belajar ajaran wudhu, sholat, haji… Macam-macam! Ibu juga bakal setelkan murottal (bacaan Al-Qur’an) dari para syaikh. Supaya hafalan Qur’an kita bertambah. Ibu juga akan meng-encourage mas Sidqi, untuk tahu jalur apa yang akan diambil mas Sidqi, sebagai sarana untuk berbagi kemanfaatan buat sesama.

Bisa jadi penulis. Ulama. Atau, syeikh di Masjidil Haram.

Go ahead! Reach your dreams!

Sidqi (plus emaknya) ngefans sama Ust. Yusuf Mansur.

Mas Sidqi mau jadi Ustadz, penulis plus entrepreneur ala  Yusuf Mansur? Go ahead, kid!

IMG_4899

Semoga Mas Sidqi bisa se-brilian cendekiawan muslim, Syafii Antonio *aamiiin…*

Mas Sidqi, inilah yang bisa Ibu sampaikan di surat hari ini. InsyaAllah, Ibu akan selalu meningkatkan kapasitas untuk jadi orangtua yang lebih baik.

Ya, bekerja menjadi orangtua, artinya Ibu sudah “melamar” ke pekerjaan tanpa cuti dan nggak boleh resign. Pada akhirnya, Ibu akan diminta untuk menyetorkan “laporan pertanggungjawaban” seputar amanah yang Allah berikan pada Ibu.

Makanya, Ibu bersyukur banget, ada Kumpulan Emak Blogger. InsyaAllah, bisa jadi bekal berharga bagi Ibu, untuk jadi “coach” dalam hidup mas Sidqi.

Semangaaaaat, mas Sidqi yang ganteng, sholih, taqwa dan pemberani!

Ibu always love mas Sidqi.

Wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

@nurulrahma 

*Tulisan ini diikutsertakan dalam event “30 Hari Blog Challenge, Bikin Notebook 30% Lebih Tipis” yang diselenggarakan oleh Kumpulan Emak Blogger (KEB) dan Acer Indonesia.

Notebook Slim Acer, Obat Keren Emak buat Mobile & Online

Haiiii…. kenalin, namaku Iza… Aku hobi membersihkan halaman rumah.

Image

Si cantik Iza (anaknya tetangga) lagi nyapu halaman

Eh. Ada cowok ngintip-ngintip tuh. Namanya Mas Sidqi. Sudah kelas 1 SD.

“Dek Izzaaa…. Main yuuuuk….”

Hihihi. Aku seneng-seneng aja main sama Mas Sidqi. Mainannya banyak. Ibunya baik, lagi. Namanya ibu Nurul. Itu lho, yang ngeblog di bukanbocahbiasa.wordpress.com *langsung keselek*

Image

Sidqi mengendap-endap menuju Iza

“Mas Sidqi mau ngajak Iza main apa?”

“Ayo main game!”

“Oke. “

Iiih. Mas Sidqi ini jagoan banget main game-nya. Angry-Birds, Bad Piggies, macem-macem deh… Tapi, layar HP-nya kan kecil banget tuh. Iza nggak bisa lihat jelas. Duh.

Image

Ini game apaan sih? Iza gak bisa liat niiih….

“Mas Sidqi, Iza nggak bisa lihat niiih…”

“Dooh, gimana ya?”

“Kita main game di laptop aja yuk… Ibu Nurul biasanya bawa laptop dari kantor kan?”

“Sekarang Ibuku jarang bawa laptop. Soalnya, laptop kantor berat banget. Punggungnya sering capek. Kalau malam aku sering disuruh pijetin.” *lah, malah curcol.

“Mmm…. Emang laptopnya beratnya kayak apa sih?” Iza kepo

“Wuiiiih, berat banget! Pernah aku coba angkat, waduh! Nggak kuat!”

“Ya, ganti laptop aja. Cari notebook yang enteng. Biar nggak pegel bawanya.”

“Masalahnya, ibuku kan sering banget nulis pakai laptop. Jadi, ibuku butuh laptop yang layarnya gede. Biar matanya nggak sakit….”

Image

Chibi-chibi ala Iza… Semoga bu Nurul dapat hadiah notebook slim yak

Iza ngangguk-ngangguk. ”Eh, Mas Sidqi. Ibu Nurul kan barusan ulang tahun ya. Hmm, moga-moga abis gini, ibu Nurul dapat hadiah notebook yang enteng ya. Aamiiin….”

“Aaamiiiin….”

***

Hihihiii…. Coba deh, ikut nguping obrolan bocah-bocah cilik masa kini. Omongannya seputar gadget melulu!

Jadi emak, jelas kagak boleh gaptek dong. Begitu resmi jadi emak, kita langsung “menandatangani kontrak kerja” dengan Tuhan. Kudu ngrawat dan mendidik anak….. Plus, kudu teteup aktualisasi diri. Ngeblog, nulis naskah, editing, dan seterusnya… sometimes pas ngeliat load tugas dan kewajiban yang segabruk, rasanya bikin sutris dah!

Tapi, inget aja lah maks. Sutris karena banyak aktivitas tuh jauh lebih kece dan menyenangkan ketimbang sutris karena gak ada aktivitas blas loh. *bijak mode on*

Image

Kerjaan Segabruk, kudu teteup SMILEEEEE

Yeah, makanya bersyukur banget lah, kita-kita para emak ini bisa join di Kumpulan Emak Blogger. Nambah temen. Banyak tantangan buat nulis. Bisa having fun sekaligus sharing ilmu. Asik banget kan?

Gue ngeblog tuh bisa dimana aja dan kapan aja. Kalo ide lagi muncul *ting!* ga boleh banyak pending. Kudu langsung diketak-ketik di atas laptop. Termasuk pas outbound training, dimana gue dan beberapa teman jadi trainer-fasilitatornya gitu deh. And… You know what? Lokasi outbound-nya di resort Singgasana Hotel. Yang mana kontur tanahnya tuh menanjak naik, dan arealnya bujubuneng…. Luasssss bangggeeetttss!

Dan, this is the worst thing –> Gue ketiban sampur buat SELALU bawa laptop!

Hoshhh, hosshhh, hoossssh…. 

Image

Badan berat + laptop berat = gak keren banget sih gue *hiks*

Ya kalo laptopnya enteng sih kagak masalah. Lah ini, udah badan gue membal-membal gak karuan, kudu nggendong laptop SEHARIAN! *sigh*

Laptop itu emang urgent banget, kita pakai buat nampilin slide materi, trus buat kirim laporan, buat ngetik berita yang kudu di-upload di website, buat ngeblog juga…

Aduuuh, kalo tulang-belulang gue mengalami osteoporosis dini, masak gue kudu daftar jadi pasiennya dr Ryan Thamrin siih? *kagak nyambung, cyiin*

Ternyata hukum Law of Attraction berlaku di sini.

Ketika gue mulai dilanda kerinduan yang amat sangat akan sebuah produk notebook slim, eh, si Iza ujug-ujug berdoa supaya gue dikasih kado notebook slim yang bikin gue keren mendadak! Hiks, terhura deh, eike.

Eh, btw, emangnya ada gitu ya, notebook slim dengan fitur cihuy dan harga yang ramah di kantong?

Image

Notebook Idaman Sejuta Emak!

Waahahahah, kalau belum tahu, berarti kudu cek ke: Acer Aspire E1-432. Nih notebook slim paling tipis di kelasnya. Yang bikin makin happy, kalau pakai nih notebook, artinya kita udah langsung berpartisipasi aktif di go green movement!

Kok bisa? Ya iyalah, notebook ini kan hemat daya.

Trus, trus, trus, buat yang bodinya udah sering keserang encok-pegel-linu *tunjuk diri sendiri*, no worries mak. Ketebalan si notebook slim cuma 25,3 mm saja dong cyiiin. Acer Aspire E1-432 emang punya dimensi 30% lebih tipis.

Mata kita juga gak perlu jereng natapin layar monitor notebook. Karena Acer Aspire E1-432 monitornya LED 14”. Resolusinya? 1366×768 px.

Eh, maks, sekedar info nih ya, Acer Aspire E1-432 punya tiga buah port USB. Satu diantaranya menggunakan USB 3.0 dengan transfer data 10x lipat lebih kencang dibandingkan USB 2.0! Wooooo… asik banget nih, buat ‘partner in crime’ pas ngeblog!

Ada juga card reader yang bisa baca memori berbasis SD Card dan MMC yang biasa digunakan pada kamera.

Image

Elegan, elegan, elegan….

Yang mau narsis, eh, Acer ternyata mewadahi suara terdalam kita lho, maks. Ada Webcam HD yang bisa dipakai buat streaming, video chatting dan narsis-narsisan ituh. 

Untuk kebutuhan konektivitas, Acer Aspire E1-432 ini punya satu buah port LAN (RJ-45) yang dapat dipakai tanpa converter apapun! Cakeeeppp…. Ada juga sebuah wireless adapter Acer Nplify 802.11b/g/n untuk berselancar ke dunia maya menggunakan jaringan hotspot yang tersedia disekitar kita. Duh, kece badai banget sih, kamyuuuu….

Acer emang juara! Ini obat keren termutakhir dan paling spektakuler yang kudu dimiliki para emak abad ini. Kalau udah pakai Acer Aspire E1-432si notebook slim yang paling tipis di kelasnya ini, udah jelas banget, bikin mobile & online Emak makin praktis!

Duh, makin cinta deh sama Acer!

Gue lirik si Iza, anak cantik yang hobi banget minta dipoto itu. 

Image

Good luck yah, Bu Nurul…..

“Ngggh…. Mbak Iza. Bu Nurul doakan supaya doa kamu terkabul yaaa….”

Iza garuk-garuk kepala. “Doa yang mana ya?”

“Itu tuh, supaya Bu Nurul dapat notebook yang slim, enteng dan paling tipis di kelasnya….”

Aaamiiiin…..

*Yang kenceng dong ‘Aamiiiinnn’-nya 🙂 

 

“Tulisan ini diikutsertakan dalam event “30 Hari Blog Challenge, Bikin Notebook 30% Lebih Tipis” yang diselenggarakan oleh Kumpulan Emak Blogger (KEB) dan Acer Indonesia.”