lifestyle, parenting

Kemenangan Sejati, Pasca (Nyaris) Depresi

follow me on twitter: @nurulrahma

Tak terhitung artikel parenting yang saya jadikan pijakan dalam membesarkan anak. Judulnya pun beragam: How to Raise a Diligent and Smart Kid?; 10 Kiat Agar Anak Disiplin; Tips Jitu Anak Secemerlang Einstein; seabrek artikel lainnya. Aneka buku yang ditulis pakar parenting juga saya lumat. Semuanya membuat saya “ekstra-pede” dalam mengarungi sebuah pengalaman baru: Menjadi orangtua.

ganteng

Tapi, sepertinya saya over-pe-de. Artikel-artikel tadi seolah tak membekas, manakala harus saya aplikasikan pada satu organisme yang kini ada di hadapan saya.

Ya, makhluk itu bernama Sidqi. Dan, ia anak saya.

 

Bocah yang dulu saya gembol kesana kemari selama 9 bulan lamanya, tiba-tiba saja, bertransformasi menjadi “monster”.

Sedikit saja saya mengucapkan hal yang agak ‘sensitif’, Sidqi langsung mengeluarkan berondongan kata-kata ‘ajaib’. “Aku nggak suka Ibu! Aku benci Ibu! Ibuku jahaat!”

Setengah mati, saya berupaya untuk menghentikan amuknya. Sayang, api itu tak lantas padam jika hanya terkena cipratan air sekedarnya.

“Mas Sidqi, dengerin Ibu dulu….”

“Aku nggak mau dengerin Ibu!!!”

“Ibu minta Mas Sidqi sekolah, karena Ibu sayang Mas Sidqi….”

“Ibu nggak sayang sama aku!!!”

“Sekolah ya Nak… Sekolah itu demi masa depan Mas Sidqi…”

“NGGAK!!! Ibu nyuruh aku sekolah, demi kepentingan IBU!!”

***

Saya tak tahu persis apa yang membuat Sidqi berubah. Ia bukan lagi anak manis yang sopan, penurut, selalu tersenyum, dan bertingkah laku elok di hadapan semua orang. Sidqi menjadi garang. Mudah tersulut marah. Gampang emosi jiwa. Dan ia siap memporakporandakan barang apapun yang ada di depan matanya.

Kuat dugaan, Sidqi jadi korban bully.

Mewek saban denger kata "sekolah"
Mewek saban denger kata “sekolah”

Ya, saat itu kami daftarkan Sidqi di sekolah yang terletak cukup jauh dari kompleks bermukim. Sidqi kami “terjunkan” langsung untuk bergaul dengan bocah-bocah yang berbeda latar belakang dari dia.

Barangkali, Sidqi mengalami “gegar budaya”. Bullying tak terelakkan. Dan pada akhirnya, Sidqi melampiaskan semua “emosi” yang ia pendam di sekolah, lalu ia “ledakkan” ketika sudah tiba di rumah.

Saya memang kerap baca blog ibu-ibu yang mengisahkan bullying yang menimpa anak mereka. Jujur, awalnya saya men-judge mereka ini ibu-ibu yang lebay. Bukankah saling gencet antar siswa sudah sering terjadi sejak dulu kala, dan toh,everybody survive kan?

Ternyata, bullying memang tidak sesederhana itu. Ternyata, saya baru tahu, bahwa bullying sangat bisa mengubah kepribadian seorang anak, plus orangtuanya. Nyaris tiap malam, mata saya bengkak. Sembari menangis, saya memohon pada bocah ini agar menghentikan setiap amuk yang ia lancarkan.

“Ibu Pergiiiii sanaaa!!! Aku nggak mau Ibuuu!!!”

“Mas Sidqi nggak boleh ngomong begitu….”

“Aku nggak suka Ibu!! Kalau Ibu nggak mau pergi, aku aja yang pergiiiii, biar Ibu nggak punya anak lagiii!!!”

***

Keputusan itu akhirnya saya ambil. Sidqi saya keluarkan dari sekolahnya. InsyaAllah, perlahan tapi pasti, Sidqi akan kembali mengenakan kepribadiannya yang asli. Sidqi yang sopan, perhatian, sabar, penyayang… InsyaAllah.

Sayapun mencoba untuk survive. Tidak mudah memang, menjadi orangtua. Banyak hal yang harus dipelajari dalam satu waktu. Belajar, aplikasikan, evaluasi, belajar lagi, aplikasi lagi, dan begitu seterusnya. Rasanya mulai skeptis dengan beragam teori parenting. Karena bagaimanapun juga, saya pernah mengalami masa suram dalam episode perjalanan sebagai orangtua.

Tapi, sebuah kekuatan dan semangat untuk jadi orangtua lebih baik, begitu membuncah dalam diri saya. Terlebih, ketika beberapa mama muda seumuran dengan saya, mengajak untuk ikut aktif dalam sebuah komunitas orangtua yang bisa menularkan semangat mendidik anak. Well, apa salahnya dicoba?

Sharing session dengan para mamah muda
Sharing session dengan para mamah muda

***

Akhirnya saya gabung di komunitas ini. Walaupun, berjuta rasa masih bergelayut di benak. Antara malu, enggan, dan stok percaya diri yang kandas, terjungkal di dasar jurang,

Saya kan gagal mendidik anak, kok pede amat ikut pelatihan duta parenting?

Apa iya, saya pantas jadi orang yang nyeramahin ibu-ibu tentang bagaimana mendidik anak?

Apa cocok, saya cerita panjang lebar soal gizi, tentang mendidik anak mandiri, tentang mengajak anak bergaul, dan sebagainya itu, padahal anak saya sama sekali jauuuuuh dari istilah anak yang sehat, kreatif, percaya diri, dan gembar-gembor istilah yang mereka sajikan itu?

 

Aaahhh…. Entahlaaahhh…….. Saya cuma ingin melampiaskan depresi yang sempat mampir di benak, ketika Sidqi lagi “pinter-pinternya” memainkan emosi emaknya. Mengikuti workshop duta parenting ini, jadi salah satu muara katarsis saya. Nothing to lose. Saya ikuti saja setiap saran yang disampaikan oleh paratrainer. Saya patuhi saja advise mereka untuk mengadakan acara pertemuan dengan mamah-mamah muda. Saya paparkan bagaimana cara pengelolaan keuangan yang baik untuk rumah tangga kita. Saya jabarkan bagaimana tips mendidik anak supaya jadi anak life-ready (itu istilah yang selalu dipakai panitia).

Padahal, jauh di lubuk hati yang terdalam, saya merasa malu… Karena semua teori itu belum sempat saya praktikkan. Anak saya pun jauuuh dari konsep anak life-ready.

Biarlah. Pantang mundur, kepalang basah, saya maju terus.

Beberapa bunda sudah tidak sanggup meneruskan request para trainer. Tapi, saya terus komitmen jalankan program ini. Saya kreasikan acara outbound untuk anak-anak.

Kami bersenang-senang, membagikan hadiah, dan berbagi informasi tentang pendidikan anak. Semua gembira. Semua bahagia. Kecuali…..anak saya. Ya, saya belum berani mengajaknya ikut acara ini, karena ketakutan apabila tantrumnya kambuh di depan khalayak ramai.

Outbound for Kids
Outbound for Kids

***

Waktu terus berjalan. Hingga sebuah pengumuman yang amat mengejutkan singgah di suatu pagi.

“Selamat ya, Ibu Nurul jadi salah satu finalis duta parenting. Silakan disiapkan presentasinya, karena Ibu harus ikut karantina finalis di Jakarta.”

Subhanallah. Saya dilanda keterkejutan yang amat sangat.

Saya, seorang Ibu yang masih diliputi (semi) depresi lantaran emosi anak, terpilih jadi finalis duta parenting?

Saya, seorang ibu yang nyaris putus asa, dan selalu membanjiri diri dengan air mata, akan ikut kompetisi duta parenting?

Saya???

Ahhh…. Rasanya seperti mimpi…

Tapi, sebagaimana kisah-kisah dalam cerita fiksi, saya coba untuk mencubit kulit, dan persis!! Rasanya sakit.

Ya sudah, saya jalani “takdir (seperti) mimpi” ini. Saya berangkat ke Jakarta untuk sebuah asa: bahwa ternyata bunda yang nyaris apatis tetap bisa berjuang untuk sebuah konsep parenting yang idealis. Bismillah!

***

“Daaan….. dua besar kompetisi duta parenting tahun ini adalah…. Ibu Nurul Rahmawati dan Ibu Aryzana Maharany…!!!”

Suara MC Asty Ananta, seolah laksana guyuran air hujan yang membasahi kemarau nan panjang. MasyaAllah…. Siapa menyangka, saya bisa sejauh ini…. Saya menjadi DUA BESAR kompetisi duta parenting!

 

Segala tantrum anak saya menari-nari di benak. Segala air mata, kesedihan, nestapa dan jiwa nelangsa yang selama ini saya rasakan, seolah kembali berputar… Semua ini terasa mimpi….

Baru beberapa hari lalu, saya didera ketakutan yang amat sangat, bahwa saya terlampau lemah menjadi orangtua…

Baru bilangan hari, saya diterpa galau tak berujung… bahwa saya sosok yang terlalu picik, tak punya nyali, dan tak punya energi untuk menjadi orangtua yang baik dan bisa membesarkan anak saya…

Dan, hari ini… di panggung Duta Parenting, di venue megah di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta… tiba-tiba, saya mendapat anugerah yang luar biasa….

Saya dipercaya jadi Duta Parenting.

“Juara satu diraih oleh…..”

ya Allah, saya malu ya Allah…. Saya payah sekali jadi seorang ibu… Saya gampang berkubang dalam keluh…. Saya lemah… Saya nyaris tak punya daya…. Apa iya, saya pantas jadi Duta Parenting?

“…..tahun ini, duta Parenting adalah….”

Saya malu, ya Robb… Saya benar-benar malu…. Sepertinya, saya belum pantas….. 

“……..Ibu Aryzana Maharany dari Jogja….”

 

Awarding Night

Dimuat di Majalah Ayahbunda
Dimuat di Majalah Ayahbunda

"The Big Three" at Majalah Ayahbunda

***

Allah memang sesuai persangkaan hamba-Nya. Hari itu, saya merasa belum siap dan tidak pantas menjadi si Juara 1.

Dan, pada akhirnya, saya meraih gelar Juara 2. Ini lebih dari cukup. Sangat lebih dari yang pernah saya bayangkan. Tidak pernah saya berani mencanangkan mimpi untuk bisa mencapai predikat ini. Toh, kemenangan ini seolah menjadi kado penyemangat, sebuah pensugesti jiwa, bahwa saya bisa melampaui segala rintangan yang menghadang.

Kalaupun saya pernah terjerembab dan merasa tak punya nyali untuk meneruskan jejak jadi orangtua; maka kemenangan ini seolah menjadi jawaban Yang Maha Agung: “Kamu Bisa, Nurul!! Kamu Pasti Bisa!!! Jangan putus Asa!! Sesudah kesulitan PASTI ada kemudahan!!”

Sungguh, indah nian, skenario dari Sang Maha Sutradara….

***

Saya pulang ke Surabaya dengan jiwa yang lebih sehat. Bahwa ketika saya berhasil menaklukkan rasa rendah diri, maka saya akan keluar sebagai pemenang. Ketika saya bisa mengalahkan ketakutan, maka saya lahir sebagai maestro.

Menjadi orangtua ibarat pelayaran seumur hidup. Kadang, badai nan kencang menghadang. Tak jarang, kita terlena tatkala ombak tetap tenang.

Jangan lupakan ilmunya. Jangan turunkan nyalinya. Jangan putus doanya. Berserahlah pada Yang Maha Segala. Libatkan Dia dalam setiap milestone, perjalanan ketika jadi orangtua. InsyaAllah, kita akan senantiasa menjelma sebagai SANG JUARA.

Dan, kemenangan ini terasa begitu paripurna, manakala saya tiba di rumah, dan disambut oleh paras Sidqi yang tersaput rindu, “Ibu…. aku kangen Ibu…. Ibu jangan pergi lagi yaaa… Aku kangen…..”

fountain

 

(*)

Advertisements

105 thoughts on “Kemenangan Sejati, Pasca (Nyaris) Depresi”

      1. tapi saya nggak bagian meriksa koq. cuma saya bisa ngecek apakah mbak punya NPWP dan sudah melaporkan bukti pajak hadiahnya. sebab saya di bagian IT
        😀

        aamiin.

  1. periiiiih rasanya denger anak ngmng gitu ya mbk…anakku yg no 2 kalo lagi marah kadang juga suka ngomong gitu, bunda ga sayang ya sama alea..justru karena bunda sayang sama alea makanya bunda slalu ingetin alea, bunda ga marah bunda cuma ga suka sama sikap alea..kalo bunda ga sayang, pasti bunda bakalan cuekin alea…
    kadang suka bingung udah bener ga sih aq jawabnya gitu, takut salah ngomong dan makin memperparah keadaan.. 😦
    btw selamat ya mbk atas 2nd winner nya…

    1. Yang saya pelajari dari peristiwa ini adalah: saat itu saya tengah lalai, dan agak “jauh” dari Allah, mbak. Ibadah sunnah saya kedodoran. Sholat wajib, rasanya juga sekedar menggugurkan kewajiban. Mungkin, ini salah satu cara Allah menunjukkan kasih-sayang-Nya pada saya.
      Semoga Allah menjaga hati kita, hati anak-anak kita, semoga kita semua selalu dalam lindungan-Nya, ya mak…

      Thank you, thank you… kemenangan ini suatu kado luar biasa untuk saya 🙂 Abis sedih, langsung diguyur kemenangan. Unpredictable.

  2. Ada dua -kalau tidak salah – dari 5 anak saya yang pernah tantrum. Ternyata resepnya, dibiarkan saja sampai capek, setelah itu dipeluk sambil dibacakan al ma’tsurat. Ajaib, tiba2 dia bicara biasa lagi seperti baru bangun dari mimpi. Sambil napasnya masih terengah-engah dan badannya banjir keringat. *nostalgia* Btw, selamat atas kemenangannya. Hadiahnya buat Sidqi tuh

    1. Halo, dokter cantik. Betul banget dok, luar biasa ya.. Firman Allah sungguh bisa menjadi syifa (obat) baik jasmani maupun rohani. Waktu masa2 “krisis” itu, saya juga sering membiarkan Sidqi dalam amuk. Lalu saya mojok ke kamar/ruang sholat, baca Al-Qur’an, sambil mewek… atau sholat sunnah, teteup sambil mewek… dan Subhanallah… miracle does happen. Amuknya mereda. Lalu, sama sekali hilang. Maha Benar Allah.

      Hadiahnya? Iya mak, bisa utk modal sekolah Sidqi. Kalau nggak di Kedokteran, ya di Fakultas Teknik. Aamiiin…

      1. Hihi… ini mah “ambisi” emaknya dok, hehehe… Tapi, Sidqi kalo ditanyain “Ntar kalo gede mau jadi apa?”

        Seringnya jawab, “Mau bikin robot.” –> efek Transformers nih kayaknya.

        Plus, kita kan ada sodara dosen ITB sama dosen FK Unpad, jadinya, kepikir aja gitu, ntar kuliah di Bdg biar diajar om atau tantenya, hihihi…. *shallow reason*

  3. Terharu membacanya..
    Allah memberikan kejutan dengan melunakan kembaali hati Sidqi untuk kangen ama mba, karena selama ini mba telah berusaha keras jadi ibu yang baik. Apalagi mba juga banyak membantu para ibu muda lain dalam bidang parenting. tentu ada doa doa yg terselip dari para ibu itu untuk kebaikan mba sekeluarga. 🙂

  4. membacanya saya jadi terbawa arus, antara senang, gelisah, haru, beban campur aduk. Selamat ya mak…
    menjadi org tua memang berat, tapi itu adalah tantangan yg harus dihadapi.

  5. merinding membaca tulisan ini. memang tak ada ibu yang sempurna. mengalirlah air mata cinta untuk anak, yang bisa jadi kadang terlambat disadari oleh sang anak. selamat ya mak…aku mau dong ditraktir…
    semoga sidqi istiqomah dalam kebaikan amiin

    1. Masya Allah, emak favoritku main di mari 🙂 *terharu*
      Betul Mak Ida… Allah memang menguji cinta ‘ibu dan anak’ dengan beragam cara. Ikhlas dan sabar adalah kombinasi yang pas utk bisa mengarungi dunia orangtua ya.
      Hayuk, hayuk, kalo Mak Ida ke Sby, pls let me know yaa… insyaAllah bisa kopdar dgn emak2 KEB lainnya juga… Amin, amiiin, makasi doanya mak Ida… Doa yang baik PASTI akan kembali pd yang mendoakan, insyaAllah….

    1. Sidqi skrg kelas 2 SD.
      Kapan hari, emaknya sidqi nyap2 di Jawa Pos soal matematika kelas 2 SD itu loh. 4×6 atau 6×4.

      Dan, skrg Sidqi ngalamin sendiri pelajaran perkalian ga jelas itu. Hiks —> ini “pura-pura”-nya yang jawab sidqi, mak. Hihihi.

    1. Ma’acih Mak Rina udah bikin GA inspiratif ini. Bully yg diterima Sidqi macam2 mak.

      Maaf kalo penjelasan saya terdengar rada jumawa.

      Jadi begini, Mak. Kami sekeluarga Alhamdulillah ditakdirkan Allah tinggal di kompleks perumahan keluarga menengah.

      Nah, karena ingin Sidqi lebih “merakyat”, saya masukkan ke sebuah SD Islam yang lumayan “jadul”, dengan harapan Sidqi dpt pelajaran Bhs Arab, dll dan bisa gaul ama anak2 yang (mohon maaf) tinggal di kampung.

      Nah, di sinilah masalah bermula. Satu kelas berisikan 40 siswa (yang semuanya SUPER-duper-AKTIF) dengan 1 guru. IMHO, gurunya nyaris ga peduli dgn kondisi personal siswa. Jadi, namanya bocah yang ada saling pukul/berantem/ledek/main ludah, dll
      Aduh, gimana ya, mungkin itu cara mereka “bercanda”… Tapi bagi Sidqi, itu semua
      “mengerikan” 😦

      Karena anak kompleks kan (mohon maaf) cara bercandanya ga kayak gitu.

      Walhasil, yaa begitulah. Sidqi jadi penakut di sekolah dan jadi “liar” amat sangat “monster” di rumah.
      Beberapa kali, dia menirukan gaya macan kalo marah. Dan ini, nightmare banget utk saya, mak.

      Duh, jadi panjang banget nih. Bisa utk postingan dewe ini, kayaknya, hihihi.

  6. Subhanallah.. Ceritanya mengharukan hati sekaligus membanggakan, menginspirasi aku banget, tugas ortu memang ga mudah ya, banyak seninya.. Makasih udh berkunjung dan follow blog aku, tersanjung euy.. Karena blog ini keren bingit hehe…

  7. Selamat dulu Mak, panitia aja bisa melihat kalau emaknya mampu jadi duta, Sidqi yang hatinya masih polos pasti lebih merasakannya. Akhirnya momen itu terlewati ya.
    Sukses untuk GA yang sekarang 🙂

    1. Anak itu ujian buat kita, emang.
      Kalau anak pintar banget –> ujian apakah ortunya bisa terhindar dari sombong atau ndak.

      Kalo anak lagi “nakal” banget –> ujian apakah kita bisa sabar & ikhlas atau justru mengeluh

    1. Makasi mak Erlina.

      Kurasa, saran dari dr Prita di komen sebelumnya, HARUS BANGET kita praktikkan. Sering2 baca al-Ma’tsurat (doa2 Rasul)
      insyaAllah, saling menguatkan ya mak. *hugs*

  8. Ternyata dirimu banyak prestasi, aih padahal suka merendah 🙂
    Senang deh.
    Btw, kata mamaku almarhumah, nggak ada sekolahan untuk menjadi orang tua yang baik. Anak adalah sekolah itu 😀

  9. Masya Allah, selamat ya, Mbak. Sungguh sosok ibu adalah sosok yang tidak pernah berhenti belajar. Salam sayang buat Sidqi. 🙂

  10. Anakku juga pernah jadi korban Bully. Alhamdulillahnya sekolah kooperatif. Jadi anak segera teratasi walaupun sampai sekarang pun semua sedang berproses. Semoga menang ya mbak ngontesnya. Artikel e apik ^^

    1. Aku beberapa kali baca artikel mak Ika soal parenting. Dan, aku belajar banyak dari sana. Ma’aciiih banget ya Mak.
      Memang, kunci “terapi” untuk korban bully ada di ortu dan guru. Sayang banget, gurunya Sidqi di sekolah itu sama sekali enggak kooperatif. Ya sudah. hanya ALLAH termpat saya bergantung. Alhamdulillah, keputusan utk me-“resign”-kan Sidqi dari sekolah itu, insyaAllah tidak salah.

  11. Aku terharu bacanya mak..semoga mas sidqi jadi anak pinter en makin sayang sm ibunya ya…ngga kebayang klo aku di teriak2in tayo pasti jg sedih..btw prestasi mak nurul hebat-hebat ya:) keren

  12. seneng bisa mampir di blog mba nurul. Bisa dapat ilmu parenting banyak dari duta parenting.. 😉
    bisa konsultasi seputaran bully anak di sekolah mba? anakku juga kls 2 SD kayaknya kemaren sempat di bully teman sekelas. Efeknya memang anak jadi mudah sekali marah dan berteriak kepada saya tanpa alasan. Saya udah ngadep gurunya, minta si anak yang nge-bully itu diberi arahan. Saya juga nyoba kasih tahu anak saya bagaimana cara survive kalau ada yang mulai nge-bully.
    Pengen sharing aja dengan pengalaman mba nurul..

    makasih, salam kenal dari jogja

  13. Congratulation mak Nurul, Sketsa yang kadang kok kelihatan bundet tapi ALLAH merajutnya dengan Indah. Kejadian yang mungkin dialami beberapa orang tua, bahkan trauma juga akan berpengaruh besar dalam perjalanan mencari jati diri dari seorang anak. Menjadi orang tua memang harus selalu berlajar ya mak, dan sekarang saya juga bisa belajar lewat kisah mak Nurul. Saya yg notabene masih minyik2 menjadi orangtua, jadi semakin bersemangat untuk menjadi panutan terbaik bagi anak2 saya kelak.

    1. Aaamiiin, aamiiin, insyaAllah, selama kita menggantungkan harapan hanya kepada ALLAH, maka jalan keluar akan SELALU terbuka, meskipun dari arah, cara dan metode yang sama sekali tdk kita sangka2 ya Mak….

  14. Aku merinding bacanya, Mak >.<
    Gimana Sidqi sekarang? Apa udah ketemu akar permasalahannya di sekolah yang dulu?
    Sekarang sekolah di mana? Sudah lebih baikkah?
    *memberondong dengna banyak pertanyaab* 😛

    1. Mak Ekaaa….. *peyuuuk, sodorin teh manis, pasti capek banget abis memberondongiku dengan segabruk pertanyaan, hahaha…*

      Aku jawab satu2 ya.
      1. Kejadian ini berlangsung tahun 2012. Setelah menyaksikan perubahan kejiwaan yang drastis banget, saya me-resign-kan Sidqi dari SD itu, setelah ia 3 bulan bersekolah.

      Akar masalahnya, karena guru dan Kasek sama sekali enggak peduli, ya akhirnya kami selesaikan internal keluarga aja. (Bahkan, ketika kami bilang mau “udahan sekolahnya” si guru sama sekali enggak berbasa basi apaa gitu kek, menghalangi Sidqi keluar gitu kek, enggak blasss… *palm face*)

      2. Skrg, Sidqi sekolah di SD Negeri deket rumah, yang ga bisa aku sebutin namanya, karenaaa… gurunya HOROR juga… hihihi… *puk puk Sidqi* gurunya tuh disiplin dan demanding, doyan marah2. Tapi, sisi baiknya adalah, beliau perhatian, suka telpon2, sms ngabarin ada acara/perkembangan Sidqi, dll. Jadinya, sampe sekarang Sidqi insya Allah survive sekolah di sana. Plus, anak2nya relatif enggak “nakal”.

      3. InsyaAllah, Sidqi jauuuh lebih baik. Sabar, telaten, dan enggak mau bolos loh, Nte. Suatu ketika, pernah aku panas2in buat nonton pilem “Tenggelamnya Kapal Van der Wijk” Jumat jam 12 siang (emak sesat nih ya, hihihi…)

      Lah, karena dia masih sekolah (skrg masuk siang), Sidqi bilang, “Kita nontonnya malam aja, gpp.”
      —> good boy…

  15. Salam kenal Mba Nurul. Selamat sdh jd duta parenting 🙂
    Anak sulung sy jg pernah dibully sampe segan ke sekolah. Kalo stres, Aa suka (maaf) kecepirit di celana. Stl sy tanya2, trnyata Aa dibully di sekolahnya. Sy bicarakan dg gurunya. Gurunya kooperatif n anak yg membully minta maaf. Beres.
    Tahun berikutnya pas naik kelas 4, di kelas baru, Aa kembali dibully. Saya bicarakan dg wali kelas barunya. Masalah sdh ditengahi. Mereka pun disuruh berdamai. Rupanya si anak yg membully ini tdk terima n kerap membully Aa di luar kelas. Aa sdh melapor spt yg saya suruh jika dia dibully lg. Sayang, gurunya cuek bhkan sering kewalahan krn murid2 di kelasnya bnyk yg nakal.
    Drpda anak sy tdk bahagia, akhirnya sy pindahkan sekolahnya dan sy kembali ke kampung halaman. Aa pun bahagia sampai skr.
    Gimana Sidqi jg skr sdh hepi2 saja dg sekolahnya kan?
    Oia, moga sukses buat GAnya ya mba ^_^

    1. Hai, Mak Inna… makasiii yaa sudah mampir di sini 🙂

      Emang yang namanya bullying itu komplekkss banget ya Mak. Dulu pas aku masih SD, seingatku, aku juga beberapa kali deh, di-bully ama temen. Tapi, emang kadarnya ‘enggak gawat’ dan… ga sampe yang bikin aku trauma sekolah.

      Makanya, waktu awal2 Sidqi “mogok sekolah” aku juga sempat yang “menggampangkan masalah”. Wah, ternyata zaman sudha berubah. Jauuuuh. Sekarang sih, Alhamdulillah Sidqi saya pindahkan ke SD Negeri deket rumah…. insyaAllah temen2nya (relatif) baik dan insyaAllah Sidqi lumayan krasan di sekolah (walopun kalo disuruh milih, sebenernya dia lebih suka belajar-di-rumah, hehehe)

    1. Ishhh… isshhh… isshhh… *cubit Isyana*
      Hihihi, makasiii doanya ya darling…
      Jadi ortu memang “kontrak kerja” seumur hidup.
      Ga bisa ambil cuti, ga ada jam istirahatnya juga say.
      Modalnya? Ikhlas dan sabar *ngomong kayak begini karena aku juga kudu ningkatin stok sabar sih, hehehe*

      1. iya Mbak. Makanya klo sekarang aku nakal-nakal sama Mama langsung mikir, “ntr kalau aku jadi Mama bagimana ya kalau anak aku begini..”
        *ceritanya mulai bijak hahahaha*

      2. Hahahah… bener….benerrr banget…
        Baru ngerasain tuh, terutama kalo pas melahirkan! Doh, jadi begini ya, rasanya kontraksi, pembukaan, dll…

        Sakiiiiitnyaaa tuh di siniiii… *nunjuk ke area bawah* hahaha… Sekarang aku juga berusaha banget buat baik ke ibu, karena sikap kita ke ibu nantinya SANGAT BISA ber-impact pd sikap anak ke kita.

        Gitu siy 🙂

  16. mbak nurul, aku nangis bacanya… aku juga sempat gak pede menjadi ortu bagi anak2ku. banyak kekurangan diriku ini. tulisan ini begitu menyentuh & menyadarkanku tuk tetap berjuang mjd ortu yg baik. tanpa kenal putus asa. biarpun apa yg kulakukan selama ini nggak ada mirip2nya sama buku2 parenting yg kupelajari selama ini. selamat ya mbak, mbak nurul emang pantas jadi juara duta parenting. barakallah. semoga tulisan ini jadi pemenang 😀

    1. MasyaAllah…. Mbak Hani cantiiiiik….. welcome, welcome… selamat datang di blog acakadut ini, hehehe…

      Iya mbak, saling menyemangati yaa… Aku tuh juga seriiing jadi ortu yg “hipokrit” kok. Selalu minta anak untuk sabar, tapi aku dewe?? Hahaha…

      Tengkiu, tengkiu mbaa.. Ikutan kirim juga yuk. Repost gpp kok

  17. Mbaak.. merinding bacanyaa… Subhanallah banget bisa menghadapi anak korban bullying gitu. semoga Sidqi terus menjadi anak yang sopan, perhatian, sabar, dan penyayang yaa. Selamat jugaa, saya baca lhoo itu majalahnya.

    waktu itu mah asing banget mukanya, gak taunya satu komunitas blogger, hihihi ^^

  18. Udah pernah baca, tapi pingin baca lagi. Jujur aku juga sering mengalami apa yang jeng Nurul alami, tidak pede menjadi orangtua, apalagi kalau menyangkut amanah anak special ku, Hasan. Hiks, kadang pede kadang tidak pede. Tapi dikala tidak pede aku semangatin diri sendiri, Allah ngasih aku amanah ABK, berarti Allah percaya aku bisa mendidik Hasan agar bisa menjadi anak yang shalih dan mandiri. Saling mendoakan ya jeng Nurul sayang. Jujur aku bangga banget bisa kenal sama sosok seperti jeng Nurul yang selalu menginspirasi :-*

    1. Laa tahzan, innallaha ma’ana!
      Aku juga seriiiing mbak, ngerasa ngelangut, duuuh bisa gak ya, aku mengemban amanah jadi emaknya Sidqi… Tapi ya sud, kita berserah diri pada ALLAH ya mbak. Kita enggak bisa jadi supermom, sama sekali engga bisa 🙂

      Mbak, mbak, naskah SAKINAH December bisa tentang kak Hana dan dek Hasan loh *kode hahahaha

      1. Hiks iya mbak. Kadang sedih, kadang tegar. Kadang pede, kadang kebanting. Jatuh bangun jadi seorang ibu. Baik jeng Nurul yang cantik dan ciamik. Siap laksanakan. Maaf kan td malam nggak jadi kirim krn Hana demam. Alhamdulillah siang ini uda sembuh dia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s