Uncategorized

Fakir Kosakata

“Mbak, mbak. Belakangan ini, aku mengalami masalah nih, kalo mau nulis.” 

“Kenapa?”

Aku menggeser pantatku sejenak. Mencoba mendekat pada si maestro penulisan yang bolak/i menang kontes ini.

“Nggak tahu nih… Perasaan stok vocabulary-ku itu-itu saja. Nggak ada improvement sama sekali. Sedih deh, rasanya mbak.” 

“Waaah, sama! Aku juga gitu. Eh, malahan, pas aku pulang dari Swiss itu loh, tau sendiri lah ya, kan cari makanan yang bener-bener halal lumayan susah di sana. Eh, begitu sampe Indonesia, rasa malaaasss banget menjangkiti aku! Jadi nggak pengin nulis sama sekali.”

“Hmmm, gitu ya? Waah, itu ide menulis yang ciamik loh Mbak… Betapa urgensi makanan halal untuk jiwa/ ruhani kita…”

“Iya yaaa… Ternyata ada hubungannya yaaa…”

“Ho’oh. Balik lagi nih mbak. Kalau mengatasi kosakata yang rasanya makin terbatas itu, piye ya mbak? Duuuh, aku tuh pengiiin bisa menciptakan efek ala-ala Agus Noor. Tapi, vocab yang aku pakai itu-itu saja. Enggak kreatif sama sekali.” 

“Banyak baca buku aja! Novel-novel…”

“Itu dia, mbak. Somehow, aku tuh bingung, mbedain apakah kita sedang ‘terinspirasi’ atau ‘memplagiasi’. Kan, kadang, saking ngefansnya kita sama satu penulis tertentu, kita jadi punya kecenderungan untuk mengikuti gaya bahasa dia, konflik-konflik, alur, karakter yang diciptakan dalam fiksi… Aku juga enggak mau dicap sebagai plagiator mbaak…”

Mbak berjilbab yang santun, anggun, sekaligus trengginas ini manggut-manggut. Hmmm… Dilema. Sebagai penulis (entah fiksi/non-fiksi/blogging/kolumnis) kita beberapa kali terjerembab dalam kasus seperti ini. Mengalami fakir kosakata. Bingung mau memanfaatkan ‘komponen kata’ yang presisi, mak nyus, dan emotionally correct.

Pada akhirnya, ini (menurut saya) jadi beban. BANGET. Kita ingin melahirkan tulisan-tulisan yang membahana (tuh kaaan, saya seriiing banget pake kata ini. Atau ‘cethar’ hiks) Kita ingin bisa menghadirkan karya yang bikin pembaca manggut-manggut dan bergumam, “Ya ampuuun, bener banget iniiih…”

Wis. Pokoke iki cita-cita mulia deh. Kalau pada level tertentu, kita belum bisa menggapainya? Yaaah, bisa ditebak. Kita malah terperangkap dalam “galau tak berujung” mengalami “krisis identitas blogger” dan walhasil blog kita sepiiiii krik krik heheheh.

Ada satu blog yang seger banget. Ditulis dengan lincah, trengginas (tuh kan, saya pake kata ini lagi) berisikan tips-tips blogging yang insyaAllah sangat mencerahkan. Silakan, silakan mampir kemari –> http://darinholic.com

Yang ‘ajaib’ adalah, meskipun si mas Darinholic ini jadi “mastaaaah” saya, ternyata doi juga kerap hiatus blogging loh, DAAAANGGG :))

Oke. Sekian chit-chat sore ini. Racauan agak nggak jelas sih. Karena, enggak tahu kenapa, belakangan ini saya ditusuk sebuah rasa ‘ketidaknyamanan’ yang sulit diejawantahkan dalam kata-kata (Haiisssh).

Sebagai foto postingan (biar enggak sepi-sepi amat huehehehe), saya attach beberapa foto berikut 🙂 Ini pas lagi di Villa Toeti, Batu Malang. InsyaAllah review menyusul ya 🙂 Moga-moga udah enggak fakir kosakata lagi 🙂

_DSC0208 IMG_0792 IMG_0877 IMG_0879

Advertisements

23 thoughts on “Fakir Kosakata”

  1. Sekelas mb Nurul merasa miskin kosa kata, lalu “Aku mah apa atuh” baru cuman penulis amatiran yang bikin status facebook dan twitt di twitter.. Hmmmm… Manggut2 lagi, belajar lagii… 🙂

  2. Baru mampir lagi, eh kok udah serba biru ya hehehe. Warna favorit banget, seger di mata.
    Btw, aku juga kadang2 fakir kosakata. Sering malah. Paling kalo udah buntu nulis tp bingung mau pake kosakata apa eh ujung2nya numpuk di draft doang hahahaha:D
    Ditunggu artikel review-nya mbak, keknya keren tuh villa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s